Magister Seni Rupa Angkatan-1998

Abdul Sobur, NIM. 27098001

Makna Ragam Hias Tradisional Sebagai Ungkapan Jati Diri pada Karya Kriya Masa Kini

Dalam tradisi kesenian Indonesia kehadiran seni hias yang ditampilkan dalam berbagai media ekspresi relatif sangat dominan apabila dibandingkan dengan karya seni tradisional lainnya. Perwujudan bentuk yang beraneka ragam itu, dijadikan sebagai idiom untuk mengungkapkan nilai estetik dan simbolik yang berlandaskan pada kosmologi asli budayanya. Demikian pula kehadirannya di masa kini dalam pola hidup masyarakat sekuler, peranan dan fungsi ragam hias tradisional masih terlihat dan tampil sebagai ungkapan estetik yang menunjukkan kekayaan budaya bangsa serta menjadi salah satu ciri utama dari karya-karya seni tradisional Indonesia yang mencerminkan identitas asli.

Berubahnya tatanan sosial yang terjadi pada sebagian besar masyarakat di Indonesia sebagai akibat dari berkembangnya pengaruh kapitalisme Barat, di satu sisi telah mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi sebagai dampak dari meningkatnya aktivitas usaha termasuk di dalamnya para kriyawan yang menekuni usahanya dengan tujuan niaga. Namun apabila diteliti dengan seksama disisi lainnya pertumbuhan usaha khususnya pada bidang kriya yang terjadi di Indonesia seperti di Cirebon, sebenarnya masih terbatas pada pertumbuhan dengan daya serap pasar lokal. Karya kriya yang dihasilkan belum banyak yang bisa dijadikan sebagai komoditas unggulan di pasar internasional. Diantaranya hal itu disebabkan karena karya-karya kriya yang dihasilkan belum memiliki keunggulan kompetitif yang dapat dijadikan sebagai modal utama guna menghadapi persaingan ketat di pasar bebas. Atas dasar pengamatan komprehensif yang ditunjang dengan pengalaman di lapangan sebagai praktisi, uraian di atas merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri sebagai gejala yang menyeluruh. Maraknya bisnis kriya di Indonesia belum mencerminkan kualitas yang dapat dijadikan sebagai landasan kekuatan budaya dan ekonomi bangsa Indonesia di tengah arus globalisasi.

Dalam rangka menciptakan karya kriya masa kini yang memiliki keunggulan kompetitif sebagai modal utamanya, diperlukan pemahaman menyeluruh dari semua aspek yang dapat menunjang terciptanya karya unggul tersebut. Diantaranya adalah dengan cara mengembangkan gagasan karya, konsep karya dan citra karya. Kesemuanya itu harus terangkum melalui perwujudan kriya yang memiliki tingkat keunikan dan kekhasan pada produk kriya masa kini. Untuk mencapai maksud tersebut sangat mungkin apabila kita mengambilnya dari nilai-nilai seni tradisional yang selalu tampil dengan citranya yang khas dan telah teruji sebagai produk yang memiliki jati diri. Studi lapangan mengenai karya seni ukir dan batik Cirebon secara khusus, merupakan langkah awal dalam upaya pengkajian secara mendalam mengenai hakekat keberadaan seni hias tradisionalnya guna dapat dijadikan sebagai acuan estetik dalam rangka mencari kemungkinan bisa ditampilkan kembali dalam perwujudan bentuk yang baru sebagai kriya masa kini. Pengkajian tersebut juga merupakan upaya identifikasi dan penggalian kembali nilai-nilai tradisional yang tercermin pada karya seni hias tradisional dalam rangka pelestarian nilai-nilai budaya bangsa agar dapat dikembangkan dan ditampilkan kembali sebagai nilai tambah terpenting pada karya kriya masa kini.

Asep Kadarisman, NIM. 27098002

Ungkapan Peribahasa Air Sebagai Inspirasi Karya Seni Rupa Dengan Teknik Marbling

Sistem simbol yang disepakati dan didukung oleh lingkungan sosial masyarakat, serta dijadikan sarana komunikasi guna merefleksikan kebenaran secara moral terungkap lewat bahasa verbal, selain itu terdapat pula rangkaian simbol-simbol dalam bentuk pemahaman interpreative ini merupakan pengolahan manusia sebagai makhluk yang berbudaya.

Tema air dalam ungkapan peribahasa merupakan salah satu tema yang terbanyak di antara tema-tema ungkapan peribahasa di Nusantara, hal ini tentu saja berkaitan dengan keberadaan kondisi dan kebudayaan yang terdapat di Nusantara. Dengan kenyataan tersebut penyusun memperoleh stimuli tentang tema dan makna ungkapan peribahasa air sebagai latar belakang. Di samping kenyataan tersebut penyusun tertarik dengan watak air yang ditemukan keselarasan dengan sebuah teknik yang menstimuli eksperimen-eksperimen, baik kecenderungan teknik maupun bentuk.

Kesadaran tentang menyusun bentuk pada karya merupakan hal tersendiri, sedangkan menyusun hal yang dialami sebagai catatan konsep dan proses adalah hal lain. Menikmati sebuah karya seni rupa berbeda dengan memahami makna dan isi karya tersebut, maka penyusun berkewajiban melakukan dua hal sekaligus, yakni berkarya dan menuliskan konsep pertanggungjawaban.

Perupaan air yang dijadikan sebagai ide pada proses berkarya merupakan sifat dari keberadaan hakekat air secara alamiah. Air terdapat dan berhubungan dengan unsur alam lainnya. Sedangkan makna ungkapan peribahasa air diangkat dari metafor dan personifikasi dari keberadaan sifat manusia, yang dipahami secara interpretatif guna menemukan pemaknaan baru dari suatu simbol peribahasa.

Berdasarkan pada konsep atau pemahaman terhadap stimuli makna ungkapan peribahasa, penyusun melakukan penafsiran ulang mengolah metafor bahasa baru guna menghasilkan pendekatan antara konsep dan penampilan pada rupa karya. Kesesuaian antara tema air dan teknik marbling ini memunculkan bentuk-bentuk bahasa rupa melalui teknik marbling, yakni mengangkat efek-efek yang terjadi pada permukaan air yang bermuatan cat minyak. Namun pada proses ini penulis bukan semata-mata tertuju pada kemampuan teknik semata, yang terpenting bagaimana memunculkan perasaan-perasaan yang diabstraksikan dari realitas guna memunculkan bentuk esensi yang berkesesuaian dengan tema, ide dan gagasan.

Dikdik Sayahdikumullah, NIM.27098003

Telaah kritik Seni Rupa Indonesia Periode Tahun 1990-2000 Melalui Pendekatan Ideologi Kritikus

Kritik seni rupa di negara-negara dunia ketiga memperlihatkan proses untuk menandai tampilnya kesadaran dan semangat pencarian nilai-nilai pluralitas, tampak sejak sepuluh tahun terakhir 1990-2000. Perubahan seperti ini tidaklah segera menunjukkan gejala ke arah penyusunan teori maupun pemikiran kritik seni rupa di tengah perubahan zaman. Dunia kritik seni rupa di Indonesia memiliki kosekuensi logis bagi penyusunan fondasi seni rupa yang hendak dibangun sang kritikus seni rupa di Indonesia. Permasalahan identitas kritik seni rupa di indonesia dilihat dalam entitas kebudayaan modern sudah sedemikian given memiliki batas-batas perbedaan. Identifikasi ideologi kritikus tampak dari kedudukan dan kontribusi pemikirannya pada sistem medan sosial seni rupa modern. Kritik seni memiliki kedudukan dalam struktur pranata seni rupa modern sebagai media perbincangan dan perdebatan, penafsiran dan penilaian karya seni rupa. Pemahaman kritik seni rupa kontemporer membuka kata dan bahasa sebagai komponen tafsiran dalam menetapkan suatu nilai, makna, peringkat dan entitas budaya modern.

Kegiatan kritik seni rupa adalah gejala empiris untuk membuka ruang pemahaman baru bagi audiens melalui mediasi lewat penulisan kritik seni. Membaca perubahan medan kritik seni rupa indonesia bukan pada penyingkiran kesalahpahaman metode pendekatan kritik yang diasumsikan tidak sesuai dengan kenyataan seni rupa modern Indonesia. Melainkan bagaimana mengidentifikasi kecenderungan ideologi kritikus yang berbeda di setiap zaman. Identifikasi atas pemikiran kritis yang diperdebatkan dalam skema pemahaman medan sosial seni rupa di Indonesia dapat dilakukan melalui pendekatan analisis diskursif pada teks kritik. Kenyataan bahwa pemikiran ideologi kritikus seni rupa di Indonesia tidaklah diikuti sebagai satu-satunya metode pendekatan yang mewarisi kecenderungan penulisan kritik di masa berikutnya. Itulah kondisi tanpa tradisi kritik seni rupa di Indonesia.

I Dewa Alit Dwija Putra, NIM. 27098004

Kajian Pergeseran Fungsi Bentuk Simbolis Topeng Tradisional Topeng Pajegan Bali

Topeng sebagai bentuk karya seni tradisional di Bali lebih dikenal dengan sebutan tapel, dalam aktivitas berkeseniannya lebih dikenal lewat seni pertunjukan tari maupun dramatari. Keberadaan topeng dalam masyarakat sangat berkaitan erat dengan upacara-upacara keagamaan Hindu, karena kesenian luluh dalam agama dan masyarakat.

Kajian penelitian ini lebih menitik beratkan pada pergeseran perupaan tapel yang ada dalam Topeng Pajegan. Pergeseran meliputi bentuk perupaan tapel, simbol dan fungsi karya seni tersebut dalam masyarakat, sebagai akibat dari pengaruh industri pariwisata yang dikembangkan di Bali. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan maksud menggambarkan apa adanyaa rupa topeng Bali, baik perkembangan dan perubahannya. Dengan menggunakan pendekatan sosial budaya dan sejarah, guna mengetahui pergeseran-pergeseran tata nilai masyarakat Bali pada tiap jamannya.

Topeng Bali atau tapelnya merupakan kesinambungan dari karya seni manusia prasejarah yang mencapai kesempurnaan bentuk pada masa budaya Hindu di Bali atau Bali klasik serta mendapatkan fungsi baru, sebagai dramatari dengan membawakan lakon babad dan sejarah. Adapun kesenian Topeng tersebut seperti Topeng Pajegan dan Sidhakarya, Topeng Panca, Topeng Sapta, Wayang Wong, Barong, Rangda dan jenis topeng lainnya.Tapel-tapel yang terdapat pada Topeng Pajegan hanya merupakan simbolisasi dari perwatakan umum manusia biasa, yang dibentuk melalui perpaduan unsur-unsur bentuk dan nilai perlambangannya. Tapel-tapel tersebut tidak pernah menggambarkan tokoh siapapun kecuali dalam pementasannya, baru diberikan penokohan seperti Raja, Patih, Permaisuri, Abdi dan yang lainnya. Demikian pula pada tapel Sidhakarya merupakan simbol dari sifat manusia yang dualisme yang tercermin pada perwujudan tapel berupa setengan manusia dan bhuta.

Pergeseran-pergeseran bentuk, simbol dan fungsi topeng dapat ditelusuri dari latar belakang sejarah, dan sosial budaya masyarakat Bali yang tercermin pada perupaan tapel dari jaman ke jaman. Pergeseran tersebut dapat disebabkan oleh adanya tingkat pemahaman pakem, daya kreativitas, ketrampilan, bakat dan sarana, yang menciptakan keragaman kreasi pada bentuk tapel. Masuknya unsur modernisme yang dibawa oleh industri pariwisata membawa pergeseran nilai-nilai sosio-budaya Baali, dari masyarakat tradisional komunal yang lebih mementingkan semangat kebersamaan dan menjaga keseimbangan antara alam maya (Niskala) dan dunia (Sekala) bergeser kepada masyarakat individualistik dan materialistik. Memberi peluang kebebasan sangging berkreasi dalam menentukan gaya tapelnya, walaupun masih menampakan perwujudan dari tapel tradisinya. Aspek ekonomi sangat mendorong terciptanya tapel jenis baru yang meninggalkan tradisinya seperti pada tapel-tapel bergaya pop.

Pergeseran dari masyarakat religius magis ke masyarakat yang lebih bersifat sekuler. Proses sekularisasi dalam kesenian topeng terjadi, tapel-tapel yang dahulu dianggap sakral dan hanya dapat ditarikan pada waktu-waktu tertentu atau pada hari suci sekarang sudah dapat dinikmati setiap saat. Demikian pula pada Topeng Pajegan yang dahulu sebagai pelengkap dan sarana upacara sekarang sudah dapat dipertunjukan kapan saja. Dalam pementasannya pun sering tidak lengkap yang dipentingkan adalah unsur estetis gerakan tarinya. Proses pergeseran ini terus berlangsung sampai saat ini, dan masyarakat dalammasa transisi.

I Ketut Murdana, NIM. 27098005

Nilai-Nilai Estetik Seni Lukis Bali Modern

Penulisan thesis ini bermaksud mengkaji masalah transformasi budaya, dalam bidang seni lukis yang dimulai di daerah Ubud sekitar tahun 1930-an. Wujud transformasi melibatkan dua unsur estetika antara estetika Bali klasik dengan unsur estetika Barat, yang dilakukan oleh pelukis-pelukis Bali melahirkan corak baru yang disebut seni lukis Bali modern. Seni lukis Bali modern merupakan perubahan dari seni lukis Bali klasik menjadi corak baru yang menjadi mazhab baru dalam perkembangan seni lukis Bali. Kenyataan ini sering menimbulkan isu yang mengatakan bahwa dalam perkembangan seni lukis telah merosot akibat pengaruh komersial. Untuk mengetahui secara mendasar perlu diadakan penelitian. Tulisan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan penelitian yang dimaksud dengan mengambil judul Nilai-nilai Estetik Seni Lukis Bali Modern. Mengingat luasnya permasalahan maka akan dibatasi pada periode tahun 1930-1980-an. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan nilai-nilai estetika dengan latar sosial budaya dan kesejarahan. Kajian-kajian dipaparkan menurut penulisan kritik seni rupa secara deskriptif analisis. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mencari data secara konseptual tentang perubahan wacana seni lukis Bali, akibat masuknya estetika Barat yang dimulai dengan hadirnya Walter Spies dan Rudolf Bonnet serta Arie Smit. Berkenaan dengan itu obyek penelitiannya adalah karya seni lukis Bali klasik, karya Walter Spies dan Rudolf Bonnet serta para pelukis Bali yang tergabung dalam Pita Maha maupun karya-karya pelukis dalam perkembangan berikutnya.

Masalah-masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah menekankan pada proses adaptasi estetika Barat yang dibawa oleh Walter Spies dan Rudolf Bonnet dan Arie Smit terhadap pelukis-pelukis Bali yang dilatari estetika klasik sebagai acuan dalam mengadakan perubahan-perubahan yang terjadi selanjutnya. Faktor-faktor apa yang dapat memacu motivasi kreatif dan inovatif bagi pelukis-pelukis Bali untuk melahirkan ekspresi pribadi dalam corak dan gaya baru yang berkembang secara massal. Bagaimana ciri-ciri nilai estetik yang muncul dari perubahan corak dan gaya yang terjadi pada masing-masing kelompok.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka teknik pengumpulan data dipergunakan : studi kepustakaan, observasi, dan wawancara. Model analisis data menggunakan metoda kaji banding yang disajikan secara deskriptif, interpretatif dan evaluatif, kemudian dirangkum untuk menarik kesimpulan-kesimpulan.

Penulisan thesis ini terdiri 5 bab, yakni: bab I pembahasan latar belakang dan metodologi penelitian, bab II pembahasan landasan teoritik, bab III pembahasan tinjauan data empiris, bab IV kajian nilai estetik seni lukis Bali modern dan bab V merupakan kesimpulan dan saran-saran.

Hasil yang dicapai berupa pokok-pokok kesimpulan, sebagai berikut :

1. Konsep estetika Bali yang terbuka bagi kebudayaan luar, membuat pelukis Bali selalu adaptif terhadap kesenian luar dalam memperkaya identitas kebaliannya.

2. Masuknya estetika Barat membawa perubahan corak dan sikap berkesenian pelukis Bali. Lahirnya corak baru merupakan pergeseran kodifikasi gambar pewayangan ke arah penggambaran obyek secara realistis. Hal ini ditandai dengan masuknya kaidah anatomi realistis, perspektif sinar dan bayang-bayang. Perubahan sikap berkesenian dari sifat kolektif religius ke arah individual sekular.

3. Penekanan pada kebebasan kreatif yang disodorkan Arie smit menghasilkan seni lukis Young Artists, namun unsur perupaannya dipengaruhi oleh gaya Ubud dan gaya Batuan.

4. Akibat dorongan untuk selalu mencari identitas diri yang selalu didengungkan Rudolf Bonnet, sebagian pelukis membangun kreativitasnya lewat estetika seni lukis Bali klasik secara murni. Konsep-konsep perubahan tersebut membaur saling mempengaruhi membentuk kepribadian masing-masing.

5. Akibat merebak dan tenarnya gaya-gaya ini ke percaturan seni dunia dapat memacu sikap profesional dan mendorong tumbuhnya sektor jasa lainnya, seperti : art shop, galeri, museum-museum seni lukis dan lembaga-lembaga formal. Secara internal dapat memacu motivasi kreatif dan inovatif bagi pelukis-pelukis muda, sehingga lahirlah seni lukis flora dan fauna berdasarkan pengembangan tema post card dan kulit telor berdasarkan pengembangan material.

6. Nilai-nilai estetik seni lukis modern tercipta dari perluasan tema keseharian, disajikan secara dekoratif realistis dengan sifat kegarisan yang sangat kuat. Warna-warnanya menunjukkan identitas kelompok yang sangat kuat. Penampakan pola komposisi ruangnya menampilkan kecenderungan pada gaya klasik dengan memanfaatkan perspektif realistis.

Nilai-nilai estetik seni lukis Bali modern terdiri dari identitas masing-masing gaya yang didukung oleh ekspresi individu yang beragam. Secara umum ditandai dengan perkembangan tema-tema keseharian, yang mengakibatkan kecenderungan penggambaran obyek semakin realistis. Kuatnya pakem-pakem perupaan seni lukis Bali klasik mengakibatkan obyek selalu disajikan secara dekoratif (“dekoratif realistis”). Secara teknis memiliki sifat kegarisan yang sama sebagai kekuatan berlanjut dari seni lukis bali klasik, sehingga identitasnya berbeda dengan seni lukis modern lainnya di Indonesia.

Dari paparan itu muncul suatu thesis, bahwa “kekuatan pemahaman pakem-pakem estetika Bali klasik bagi pelukis-pelukis Bali dapat menyaring pengaruh estetika Barat, yang melatari setiap perubahan yang terjadi. Hal ini merupakan wujud kesinambungan tradisi masih terjaga dengan baik”. Akibat pemahaman itu “seni lukis Bali modern telah menemukan pakem perupaan yang telah menjadi tradisi baru dalam perkembangan seni lukis Bali”. Berkenaan dengan itu apabila melakukan penelitian terhadap seni lukis Bali modern sudah sepantasnya memahami konsep estetika bali secara baik.

Ismoerdijahwati Koeshandari, NIM.270999502

Seni Hias Damarkurung dan Lukisan Kaca di Jawa Timur

Seni Hias Damar Kurung dan Lukisan di Jawa Timur” merupakan Suatu Kajian Seni Rupa Tradisional yang berupa penelitian yang berorientasi pada metode kualitatif, dengan menggunakan paradigma (model) Konstruktivis. Yang artinya menggunakan berbagai sudut pandang dari beragam data (misalnya : Damar Kurung sebagai benda lampion, beragam seni hias dari Damar Kurung, senimannya, lingkungan yang berhubungan dengan Damar Kurung. Kemudian Lukisan kaca, beragam lukisan kaca, senimannya, lingkungan yang berhubungan dengan lukisan kaca dan sebagainya). Strategi penelitian pada model konstruktivis yang digunakan sangat beragam, tetapi karena dalam strategi penelitian lapangan banyak memodifikasi konsepsi interaksi ungkapan pemaknaan, maka strategi pengumpulan data sebagian besar menggunakan etnometodologi dan etnografi teks . Etnometodologi menekankan pada komunikasi timbal balik, sedangkan etnografi teks menekankan pada konteks pembahasan. Prosedur kajiannya, sebagaimana penelitian kualitatif yang lain, pada umumnya meliputi daur hubungan (1) penggambaran fokus, (2) pengumpulan data, (3) analisis data. Sedangkan landasan teori yang digunakan penelitian kualitatif tersebut dengan menggunakan pendekatan phenomenologi.

Penelitian yang mengangkat kembaali nilai tradisi karya-karya senirupa sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa yang nyaris punah, sangat penting diupayakan. Beragam kekayaan seni rupa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, salah satu diantaranya berasal dari Jawa Timur, yakni Seni Hias Damar Kurung dari Gresik dan beragam lukisan kaca dari Jawa Timur. Ungkapan seni rupa tradisional yang dimilikinya, yang berupa makna simbolik dan bahasa rupa, berikut makna sosialnya, berbeda dari daerah lain di Jawa khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Sedangkan sebagian besar keberadaannya sudah sangat sulit untuk dilacak asal usulnya karena ketiadaan data yang tersimpan baik dalam sumber tertulis, artefak, data rekaman dan peninggalan sejarah.

Penelitian “Seni Hias Damar Kurung dan Lukisan Kaca di Jawa Timur”, sebagai Suatu Kajian Seni Rupa Tradisional”, terdapat beberapa aspek masalah yang perlu dikemukakan dalam pembahasannya lebih lanjut. Antara lain, aspek latar belakang keberadaan budaya Damar Kurung, aspek keberadaan agama Islam di Gresik, aspek budaya tradisional, dan aspek budaya lukisan kaca dan ragamnya yang terdapat di Jawa Timur. Aspek-aspek tersebut penting untuk mengetahui beragam makna yang berupa simbol dan bahasa rupa dari seni hias Damar Kurung dari Gresik dan beragam lukisan kaca dari Jawa Timur.

Setelah mengetahui beragam makna yang berupa simbol dan bahasa rupa tersebut, hasil analisis yang didapat diperlukan untuk mengkaji ciri-ciri bentuk seni hias Damar Kurung dari Gresik melalui (1) pengaruh-pengaruh simbol dan ungkapan bahasa rupanya, (2) kekhususan sebagai karya 2 dimensi pada teknik, metoda dan material. (3) elemen seni yang meliputi, warna, gaya, peralihan rupa, garis, tekstur, kekurangan-kekurangan akibat adanya benturan-benturan kehidupan, (4) prinsip-prinsip dan pengorganisasian format. Setelah itu mengkaji pemahaman makna yang ditinjau dari kelelapan isi, dan bentuk dari seni hias Damar Kurung dari Gresik dan lukisan Kaca Jawa Timur, disertai faktor nilai yang disepakati yang telah mempengaruhi perkembangan seni hias Damar Kurung dari Gresik dan lukisan kaca Jawa Timur. Sekaligus mengkaji pula perubahan yang terjadi dan fungsinya. Lalu yang terakhir mengkaji tentang hubungan dengan adanya akulturasi budaya, hubungan antara seni hias Damar Kurung dari Gresik dan ragam lukisan kaca dari Jawa Timur, berikut tingkat/kategori kehidupan manusia yang sejalan dengan pengaruh yang dibawanya.

Kajian-kajian inilah yang nantinya dapat diambil manfaat dan kegunaannya, antara lain untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, terutama bidang seni rupa sebagai bagian dari kajian ilmu-ilmu humaniora. Dan dapat dipakai sebagai salah satu sumber informasi untuk penelitian-penelitian berikutnya. Disamping itu kajian dari penelitian ini, untuk mengetahui makna bahasa rupa dan simbolik sebagai realitas dan nilai ideologis melalui persepsi historis, lingkungan kehidupan, dan sosial budaya. Dengan demikian dari penelitian ini pula dapat diketahui tentang identitas budaya dari bangsa Indonesia, yang merupakan substansi dari eksistensi karya-karya seni rupa tradisi dengan konsep mono dualisme, dualisme dwi tunggal dan tri tunggal yang mempersatu budaya bangsa. Karya-karya tersebut masih memperlihatkan “local genius” dengan adanya ciri tradisional yang masih bertahan dan bahkan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar serta mengintegrasi dalam kebudayaan asli. Penelitian seni rupa tradisi diperlukan untuk mengetahui konsep seni rupa tradisi sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia, untuk kepentingan masa depan seni rupa Indonesia.

I Wayan Suardana, NIM. 27098006

Studi Komparatif Gambar dan Tulis Seni Prasi Wayang Dengan Komik Cerita Wayang Klasik di Indonesia

Thesis ini disusun berdasarkan hasil penelitian terhadap kajian rupa, terhadap gambar dan tulis seni Prasi wayang dan Komik berceritakan wayang klasik Indonesiaa. Penelitian ini membandingkan antara hasil karya yang tradisional (prasi) dengan karya modern (komik), ditinjau dari isi wimba dan cara wimba. Topik ini menarik untuk diteliti karena sama-sama mengangkat cerita wayang, dengan gaya ungkap yang berbeda dan mempunyai wilayah pembuatan berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga muncul pertanyaan sebagai permasalahan dalam penelitian ini yaitu adakah persamaan dan perbedaan yang terdapat pada prasi dengan komik cerita wayang klasik Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikaan secara mendalam tentang persamaan dan perbedaan tersebut. Disamping itu ingin menggali dan memperkenalkaan nilai-nilai lokal tradisional Bali dengan harapan untuk bahan masukan bagi perkembangan komik di Indonesia.

Sebagai bahan kajian analisa dalam penelitian ini penulis tekankaan pada hal-hal yang berkaitan dengaan bahasa rupaa prasi dengaan komik, yaitu menyangkut masalah isi wimba yaitu : bentuk wimbaa wayang, busana, perhiasan, atribut, binatang, bangunan, komposisi, ruang, tulisan dan cara wimba.

Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Pengertian deskriptif (Descriptive research). Dengan memanfaatkan sumber daata dari karya prasi dan komik cerita wayang klasik Indonesia, dan didukung pendapat para responden yang terdiri para seniman seni prasi dan komik juga dari pengamat seni yang paham terhadap permasalahan yang diambil. Dalam pengambilan sampel disesuaaikaan dengan sampel yang digunakan yaitu dari : sumber kepustakaan, nara sumber yang dipilih secara proporsional dan “purpossive sampling” dan hasil pencatatan sumber data historis, juga pencatatan di lapangan langsung.

Guna mendapatkaan data yang objektif, maka penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan dataa, yaitu : Observasi yang didukung dengaan alat pendokumentasian foto, teknik dokumentasi, teknik wawancara.

Untuk menganalisa karya digunakan studi komparatif yaitu membandingkan antara bahasa rupa prasi dengan komik, sehingga ditemukan persamaan dan perbedaan yang terdapat pada prasi wayang dengan komik yang berceritaa wayang klasik Indonesia. Sedangkan model analisa data dalam proses ini ada tiga hal utama yaitu reduksi data, penyajian dataa, dan penarikan kesimpulan/verifikasi sebagai suatu yang jalin menjalin pada saat sebelum, selama dan sesudah pengumpulan data berlangsung.

Dari hasil penelitian dan kaji banding yang dilakukan, terhadap isi wimbaa dan cara wimba gambar dan tulis seni prasi wayang dengaan komik cerita wayang klasik Indonesia, terdapat suatu persamaan dan perbedaannya. Persamaan ditinjau dari isi wimba wayang ada kemiripan-kemiripan, sesuai dengan unsur-unsur yang diteliti yaitu mengenai bahasa rupa atau secara visualisasi bentuk menyangkut wimba busana seperrti kain ada suatu persamaan yaitu semua tokoh kesatria memakai kain (jarik) dengan cara dililitkan di pinggang dengan lipatan kancut ada di depan dan menjulur ke bawah, sedangkan tokoh putri menggunakan kain (jarik) tanpa kancut, tapi semua menggunakan kain panjang sampai menutupi pergelangan kaki. Penggunaan asisoris (perhiasan) seperti : kalung, gelang tangan, gelang kaaki, anting-anting semua tokoh pada umumnya menggunakan Penggunaan atribut seperti gelungan yang biasanya untuk membedakan tokoh satu dengan yang lainnya, bisa dilihat dari atribut gelungan (mahkota) yang dikenakannya, tampak ada persamaan yaitu sama-sama menggunakan gelungan mengikuti pakem tradisional.

Mengenai perbedaan terdapat pada penggambaran bentuk/figur wimba wayang/manusia, dimana pada seni prasi masih terikat dengan aturan-aturan (pakem) wayang dekoratif tradisional,sedangkan pada komik sudah mengarah kebentuk manusia (realis dan anatomis). Pada wimba binatang, tumbuh-tumbuhan, bangunan yaitu penggambaran prasi cenderung dekoratif jarang menggunakan perspektiof. Pada komik lebih naturalistik dan sangat memperhatikan perspektif.

Lisa Widiarti, NIM. 27098007

Analisis Karya Seni Lukis Modern Seniman Asal Sumatera Barat di Yogyakarta

Yogyakarta adalah salah satu kota tempat berkumpulnya sejumlah seniman asal Sumatera Barat, yang telah membuka cakrawala baru bagi mereka untuk mengembangkan berbagai kemungkinan dalam aktivitas berkesenian. Hampir semua perupa asalSumatera Barat yang berada dan datang ke kota Yogyakarta berawal dengan tujuan yang sama yaitu melanjutkan studi ke Institut Seni Indonesia (ISI) yang dulu bernama Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Pembauran budaya Minangkabau yang dibawa dari kampung halaman dan telah melekat dalam diri mereka sejak kecil, dengan budaya perkotaan dan budaya Jawa, memberikan pengaruh yang berbeda bagi setiap seniman. Dalam perkembangannya, mengakibatkan terjadinya beberapa hal yang berkaitan dengan masalah perubahan dan kebertahanan budaya pada karya-karya yang mereka ciptakan, khususnya disini adalah karya seni lukis modern.

Untuk menghadapi keadaan seperti itu orang Minangkabau selalu kembali merujuk kepada tata nilai adat mereka yang mengajarkan “alam takambang jadi guru”. Alam adalah guru yang patut dipelajari, dipahami, dan dipatuhi. Melalui alam manusia dapat belajar tentang maknaa kehidupan itu sendiri. Pemahaman yang mendalam terhadap konsep itu, akhirnya pasti akan membawa manusia ke ujung kesadaran akan kehadiran Tuhan, sang pencipta alam ini.

Secara garis besar, nilai budaya Minangkabau yang menjadi dasar moral mereka dalam berkarya ternyata tidak sampai melekang dan tidak melapuk dalam proses pencarian yang dilakukan. Ini memunculkan wujud pada makna simbolik yang direfleksikan ke dalam karya-karya mereka.Dengan bertapak di Yogyakarta, meraka berusaha menangkap dan memaknai “alam terkembang jadi guru” itu.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ternyata antara nilai adat dan agama sudah membaur dan menjadi satu dalam karya-karya mereka. Perubahan atau tepatnya pergeseran dalam nilai budaya yang terdapat dalam karya-karya mereka hanya terkait dalam masalah adat, bukan masalah agama. Pergeseran tersebut terjadi karena dalam berkarya mereka cenderung lebih menyesuaikan diri dengan keadaan dan kondisi lingkungan sekarang yang meraka hadapi, sehingga ada hal-hal yang menjadikan mereka untuk harus berjalan mengikuti arus zaman. Hal tersebut cocok sekali dengan sebuah falsafah adat Minangkabau yang mengatakan “syara’ babuhua mati, adat babuhua sentak” (syara’ bersimpul mati, adat bersimpul sentak ). Jadi adat itu memang hidup dan akan terus berkembang.

Sem C. Bangun, NIM. 27098503

Tradisi Etnik Batak Dalam Karya Seni Rupa Kontemporer

Seni rupa tradisional Batak adalah warisan seni budaya Indonesia yang tidak mengenal perbedaan antara kria dan seni murni. Sedangkan seni rupa kontemporer bersifat pluralistik dan konseptual, terbuka luas bagi semua kemungkinan kreatif.

Dalam pembentukan visi kreatif dipergunakan metode deskriptif dan studi tindakan untuk menghasilkan karya-karya seni rupa kontemporer. Dari hasil pengkajian ditemukan adanya tiga prinsip estetika Batak, yakni : rumbang (sepadan), metunggung (pantas), dan mehaga (megah dan kharismatik).

Konsep visi kreatif yang ditemukan adalah visi independenisme, suatu konsep kreativitas yang mengutamakan ungkapan seni yang bernilai filosofis, alegoris, estetis, dengan penyajian teknik artistik baru. Visi ini merupakan kristalisasi dari tiga komponen yakni, paradigma pluralisme seni, paradigma filsafat estetika Batak,dan paradigma teknologi menjadi satu konsep terpadu.

Menghargai kebebasan dalam proses kreatif, kemerdekaan berekspresi, estetika alternatif adalah basis utama visi kreatif independenisme. Satu konsep yang memprioritaskan pemahaman ilmiah terhadap subject matter, sehingga melihat masa lalu sebagai sumber ilham kreativitas dengan cara pandang dan rasa hormat baru. Untuk itu digunakan metode eksperimen menyajikan wujud seni dalam bentuk pilar silindris dalaam menghasilkan karya-karya alternatif. Karya seni rupa kontemporer yang berakar dari nilai-nilai non fisik seni-budaya Batak. Diharapkan kegiatan eksperimen ini bermakna bagi kemajuan seni rupa Indonesia masa kini, dan memiliki kontribusi dalammenyongsong kemungkinan seni masa depan.

Syafwandi, NIM. 27098504

Seni Rupa Dalam Falsafah Pendidikan Sjafei dan Sejarah Pendidikan INS Kayutanam Serta Relevansinya Bagi Pendidikan di Masa Depan.

INS adalah sebuah sekolah yang didirikan oleh seorang tokoh Sumatera Barat yaitu M. Sjafei pada tanggal 31 Oktober 1926. Sekolah ini berada di sebuah desa dengan nama Kayutanam, Sumatera Barat, oleh karena itu sekolah ini lebih dikenaal dengan sebutan INS Kayutanam. Sekolah ini berawal dari sebuah rumah yang disewa sebagai kelas belajar, namun kemudian, dengan sebuah tekaat dan cita-cita kuat, INS berkembang menjadi sebuaah kampus dengan fasilitas yang lengkap. Sampai sekarang kampus INS masih berdiri di Kayutanam Sumatera Barat.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan, INS memiliki falsafah pendidikan yang berorientasi kepada bakat serta sifat aktif, kreatif dan produktif, yang berlandaskan kepada alam yang terkambang. Salah satu program pendidikan yang dikembangkan di INS adalah program pendidikan seni rupa dan kerajinan. Program ini bertujuan untuk menciptakan manusia-manusia yang mandiri, aktif, kreatif dan produktif sesuai dengan bakat dan kemampuan. Dengan bekal kemandirian itulah kemudian murid dapat menentukan arah selanjutnya, apakah meereka akan melanjutkan ke perguruan tinggi atau akan terjun ke masyarakat dengan membuka usaha sendiri dalam bidang seni rupa dan kerajinan.

Satu hal yang sangat menonjol dalam sistem pendidikan INS adalah strategi pembelajaran yang menempatkan murid menjadi sentral pendidikan. Semua sistem yang diciptakan selalu berorientasi kepada kepentingan anak didik. Memberikan kesempatan kepada murid untuk memilih bidang studi sesuai dengan bakat dan keinginan, memberikan peluang kepada murid untuk berkreasi sesuai dengan gaya atau karakter masing-masing, serta pengadaan asrama untuk melaksanakan pendidikan total secara terus menerus.

Pada dasarnya, program pendidikan seni rupa dan kerajinan dalam sistem pendidikan INS berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan apresiasi serta sebagai media pendidikan. Dengan demikian, pendidikan seni rupa INS memberikan pengaruh yang besar terhadap usaha menciptakan manusia yang mandiri sesuai dengan bakat.

Oleh karena itu, sistem pendidikan sebagaimana yang telah dikembangkan oleh INS, kiranya dapat dijadikan bahan rujukan dalam menata sistem pendidikan nasional. Bahwa sesungguhnya seni rupa hendaklah ditempatkan menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan kita. Baik pada tingkat sekolah dasar, menengah, serta pada sekolah menengah kejuruan.

Tri Karyono, NIM.27098505

“Azimat Berwafak” Ekspresi Simbolik Masyarakat Islam di Cirebon

Azimat sebagai lokalitas dan warna lokal seni tradisi merupakan karya yang termarjinalkan oleh arus informasi yang menyeret perubahan-perubahan pola berfikir masyarakatnya. Azimat berwafak ini menampilkan ciri lokal khas Cirebon sekaligus juga memiliki citra spiritualitas seni Islam yang kuat pula. Kaligrafi, geometrik dan pengulangan yang menjadi ciri khas seni Islam nampak pada azimat berwafak ini. Tapi bila kita analisa ternyata kekhasan seni Islam pada azimat berwafak ini tidak sepenuhnya meniru dari kekhasan seni Islam. Ini terbukti adanya simbol binatang realistik, tokoh pewayangan senjata, bahkan menciptakan simbol-simbol abstrak yang unik. Ini membuktikan apapun yang datang dari luar ke Indonesia akan selalu mengalami proses alkulturasi. Alkulturasi itu akan menimbulkan suatu bentuk seni budaya yang berakarkan pada ciri-ciri kebudayaan asing dan kebudayaan sendiri atau disebut hibridisasi.

Penelitian ini merupakan penelitian pertama (original) yang mengkaji dan menganalisa azimat berwafak dari segi bahasa rupa. Pada penelitian ini akan diteliti berbagai hal yang berkenaan dengan identitas (local genius) baik bentuk, filosofi, simbol maupun konsep estetik azimat. Azimat berwafak ini memiliki ungkapan rupa berupa simbol-simbol mulai dari bentuk, warna, material dan huruf-huruf magis. Ungkapan rupa azimat ini tentu merupakan special case of meaning dimana hanya orang-orang tertentu saja yang mengerti. Dalam hal ini peneliti ingin mengungkap lebih dalam tentang hal-hal tersebut di atas, sebab peneliti meyakini bahwa manifestasi tradisi azimat berwafak ini tidak semata estetik belaka namun menitipkan ungkapan simbolis, filosofis, kosmologi serta nilai-nilai luhur yang erat kaitannya dengan konsep atau alam fikiran pembuatnya dan masyarakat pendukungnya. Masyarakat Cirebon yang membuat, memakai azimat kebanyakan masih memegang tradisi leluhurnya, dunia idenya kuat lekat dengan konsep religi, oleh sebab itu pada azimat berwafak ini tercermin dan memancarkan budaya mitis kuat. Kendala subject matter penelitian ini karena bagi sebagian masyarakat Cirebon terutama pemakai azimat maupun pembuat azimat masih menganggap azimat berwafak ini benda suci, regalia yang dihormati dalam statusnya tabu untuk dijamah sembarang orang.

Betapapun sulitnya penelitian ini, penulis sangatlah disadarkan oleh dua pernyataan bijak mengenai budaya Indonesia dari Prof. Dr. Primadi Tabrani dan Jacob Oetomo :

§ “Janganlah sampai atas nama modern seni tradisi tergusur”

§ “Kita harus punya pandangan dan keyakinan bahwa Indonesia modern akan tetap bersosok Indonesia”

Zubaidah, NIM. 27098506

Kajian Budaya Rupa Terhadap Benda Upacara Adat Carano pada Masyarakat Minangkabau

Masyarakat Minangkabau memperingati peristiwa-peristiwa penting dengan upacara adat. Peristiwa-peristiwa yang diperingati dengan upacara adat adalah, Batagak Pangulu, sidang musyawarah pemuka-pemuka adat, upacara adat perkawinan dan upacara adat lainnya. Upacara adat dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan adat yang telah berlaku dalam masyarakat tersebut. Pelaksanaan upacara adat selalu memiliki perlengkapan-perlengkapan, salah satu perlengkapan yang selalu hadir dalam upacara adat disebut carano.

Carano merupakan wadah diisi dengan kelengkapan sirih, pinang, gambir, dan kapur sirih, serta dulamak atau kain penutup carano. Keberadaan carano dan kelengkapannya dalam upacara adat sangat penting sekali. Tanpa menggunakan carano dan kelengkapannya tersebut, maka upacara adat belum dapat dilaksanakan. Carano memiliki makna yang khusus dalam upacara adat, yaitu keindahan carano, bentuk, motif-motif ukirannya, serta kelengkapan carano, disanjung dengan kata-kata perumpamaan yang disampaikan oleh orang-orang tertentu.

Carano dan kelengkapannya, memiliki makna yang kompleks dalam budaya masyarakat Minangkabau. Di dalamnya terkandung berbagai makna yang erat kaitannya dengan ajaran-ajaran dan falsafah adat yang bersendikan kepada syariat Islam. Dalam sidang musyawarah pengukuhan Pangulu, Carano melambangkan kekuatan kata mufakat anggota dihasilkan melalui musyawarah, dan disahkan dengan carano. Begitu juga dalam adat perkawinan, carano mencerminkan kemuliaan bagi kaum wanita, ia merupakan lambang kekerabatan di Minangkabau.

Bentuk dan kelangkapan carano memiliki perlambangan yang erat hubungannya dengan falsafah adat Minangkabau.Makna yang tersimpan dalam kelengkapann carano merupakan simbol komunkasi dalam masyarakat yang sesuai dengan ajaran adat. Maknaa bentuk carano merupakan simbol falsafah adat alam takambang jadi guru bagi masyarakat Minangkabau, yang berlandaskan syariat Islam.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Carano adalah lambang adat Minangkabau, ia merupakan himpunan pokok-pokok pikiran yang dilekatkan ke dalam simbol-simbol yang terdapat dalam Carano.