Magister Seni Rupa Angkatan-2001

1. DENI YANA, NIM. 27001009
-ABSTRAK-
PERANAN BUDAYA TRADISI DALAM KRIYA KERAMIK F. WIDAYANTO
Penulisan tesis ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis pada kriya keramik F. Widayanto yang mampu menampilkan unsur–unsur budaya tradisi tanpa kehilangan identitas personal perupanya sebagai perupa keramik modern. Era globalisasi sekarang ini menuntut tiap negara untuk mampu menampilkan ciri khas budayanya, demikian juga dengan perupa sehingga mereka berupaya untuk menampilkan identitas personal dan kebangsaan melalui karya-karyanya. Keadaan ini telah mendorong penulis untuk meneliti lebih jauh mengenai kriya keramik F. Widayanto yang banyak menampilkan unsur-unsur budaya tradisi didalamnya.
Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah kajian budaya yang dilengkapi dengan pendekatan Sosiologi, Antropologi, dan Estetika. Adapun obyek penelitian ini dibatasi pada karya-karya kriya keramik F. Widayanto yang berupa figur yang dibuat dari tahun 1993 sampai dengan 2003 yakni : Ganesha-Ganeshi (1993), Ukelan (1995), Golekan (1997), Ibu dan Anak (2000), dan Dewi Sri (2003). Sebagai rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi : motivasi dan ketertarikan F. Widayanto untuk menampilkan budaya tradisi dalam kriya keramiknya, serta bagaimana F. Widayanto menginterpretasi dan menampilkan unsur-unsur budaya tradisi dalam karyanya.
Metoda deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisa dasar pemikiran, konsep berkarya, serta karya-karya F. Widayanto yang ditampilkan dalam bentuk figur meliputi tema dan perupaannya. Berdasarkan analisa terhadap hal-hal tersebut di atas dapat diketahui bahwa budaya tradisi lokal Indonesia menjadi sumber inspirasi F. Widayanto dalam upaya untuk memunculkan identitas personal dan kebangsaan. Budaya tradisi tersebut diinterpretasikan oleh F. Widayanto sebagai perupa modern untuk kepentingan subyektif dalam mengkritisi fenomena sosial yang terjadi di dalam kehidupan masyarakatnya.
Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa budaya tradisi yang telah diinterpretasikan oleh F. Widayanto dalam karya-karyanya memiliki peranan selain untuk memunculkan identitas personal dan kebangsaan juga dapat menjadi wahana untuk menyampaikan tanggapan sosial serta sebagai sarana penyadaran tentang pentingnya budaya tradisi dalam perkembangan seni rupa Indonesia dulu, kini, dan masa yang akan datang.
2. Ramlan
-ABSTRAK-
Peranan Gambar Sebagai Media Illustrasi Dalam Proses Pembelajaran Matematika
(Studi Eksperimen penggunaan Media Gambar Seni Rupa untuk meningkatkan pemahaman Pembelajaran Matematika pada anak usia Sekolah Menengah Pertama)
Persoalan-persoalan yang ada di lembaga-lembaga pendidikan (sekolah-sekolah) cukup mengkhawatirkan, persoalan yang timbul sejak lama dan selalu timbul kembali sampai sekarang, seolah-olah tidak ada pemecahannya.
Di antara sekian banyak persoalan, yang cukup krusial adalah tentang hasil evaluasi siswa dalam mata pelajaran matematika ,dari tahun ke tahun selalu rendah. Laporan Kanwil Depdiknas Jawa Barat, mulai tahun 1994/1995 sampai dengan tahun 2001/2002 hasil Ebtanas siswa SMP tidak mencapai nilai rata rata 5 (lima),sehingga hal ini menjadi persoalan yang sangat sering dibicarakan di masyarakat maupun dikalangan pendidikan, matematika sudah dianggap sebagai ilmu yang sulit, tidak disenangi bahkan mungkin dibenci.
Dan berbagai studi literatur menyimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran matematika akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Selain itu, bahwa dengan menggunakan media pembelajaran, proses belajar dan pembelajaran matematika akan termotivasi baik murid maupun guru, terutama murid, minatnya akan terbangun yang pada akhirnya akan menimbulkan sikap positif pada mata pelajaran matematika.
Persoalannya, di lapangan terutama di tempat penelitian bahwa media pembelajaran yang digunakan untuk pembelajaran matematika itu kualitasnya diragukan.
Penelitian ini melakukan eksperimen pada pembelajaran matematika , apabila media gambar yang biasa digunakan guru diberikan tambahan nuansa Seni Rupa.
Gambar-gambar tersebut dibuat oleh peneliti sendiri, sebagai instrumen utama dalam penelitian ini.
Hasil dari penelitian adalah sebagai berikut : (1) Agar gambar seni rupa yang digunakan untuk media pembelajaran matematika dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, harus memenuhi peryaratan-persyaratan, antara lain illustrasi gambar harus erat kaitanya dengan kehidupan sehari-hari, diproduksi bagus, menyatu dengan teks, ukuranya besar ,komposisi yang baik, berwarna dan bervariasi ; (2) Apabila gambar seni rupa digunakan sebagai media pembelajaran matematika, akan melahirkan aktivitas pada proses pembelajaran; (3) Pembelajaran matematika dengan menggunakan media gambar seni rupa dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar; dan (4) Media gambar seni rupa apabila digunakan untuk pembelajaran matematika akan berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa.3. Wahidin Loekman, NIM. 27001018
-A B S T R A K-
UNSUR UNSUR ARAB PADA ARTEFAK SENI RUPA TRADISIONAL CIREBON
Artefak seni rupa tradisional Cirebon yang mengandung unsur kaligrafi Arab seperti hiasan dinding, lukisan kaca, ukiran kayu, batik, isim, merupakan bagian dari kekayaan ragam budaya di Indonesia. Seni kaligrafi Arab turut andil memberikan kontribusinya terhadap kesenian tersebut, bahwa dengan masuknya unsur kaligrafi dan berakulturasi dengan kesenian tersebut, menjadikannya bernilai sakral yang tinggi, bahkan ada yang berlebihan : dianggap memiliki kekuatan magis dan mistis. Dari sisi bahasa rupa, pada artefak tersebut terdapat unsur-unsur asing, namun diklaim sebagai milik Cirebon. Bagaimana hakikat yang sebenarnya dari fenomenon tersebut ? itulah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna, baik secara visual seperti unsur estetik dan makna simboliknya, maupun dari sisi kaligrafi Arab yaitu untuk meneliti keabsahan bunyi teksnya. Artefak yang menjadi objek penelitian diperoleh dari berbagai lokasi, seperti dari Cirebon : museum Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, warga masyarakat, seniman pelukis kaca, dan yang diperoleh dari luar Cirebon, yaitu dari Bandung seperti : koleksi Haryadi Suadi, Haji Abay, dari Jakarta seperti koleksi Joop Ave, Museum Tekstil, dan yang diperoleh melalui referensi lainnya, seperti buku-buku, tesis, dan informan serta tokoh masyarakat Cirebon yang diwawancara langsung di lapangan.
Adapun proses analisisnya, dengan menggunakan metode deskriptif analisis penulis secara khusus memilih dan memilah artefak yang mengandung kaligrafi Arab. Kemudian meneliti berbagai unsurnya dengan menyisir satu persatu huruf demi huruf, titik demi titik dengan cara memperoleh kata kunci sebagai pembuka isi teks yang terkandung di dalam unsur kaligrafinya, dan menghubungkannya dengan makna simbolik dari unsur-unsur visual karya tersebut. Dari hasil penelitian, penulis memperoleh temuan-temuan yaitu : dari sudut bahasa rupa, bahwa masih eksisnya warisan pra Islam (seperti wayang) dan unsur luar pada kesenian tersebut yang digubah oleh seniman menjadi bentukan baru sebagai hasil akulturasi dengan kebudayaan lokal. Dan sisi kaligrafi Arab, secara umum penulis melihat bunyi teksnya berisi kalimat tawhid dan kutipan dari ayat-ayat Alquran. Selain itu, ditemukan kesalahan, kekurangan dan kelebihan, dalam penulisan teks Alquran, dan hal-hal lain yang bisa menyesatkan, seperti penampilan gambar yang tidak proporsional, menempatan lafazh Allah yang kontroversial, dan sebagainya.4. Dheni Harmaen
-ABSTRAK-
ANALISIS TERHADAP PERKEMBANGAN ESTETIK KRIA ANYAM MENDONG DESA CIBEUREUM TASIKMALAYA
Menganalisis mengenai perkembangan estetik kria anyam mendong di desa Cibeureum Kabupaten Tasikmalaya, merupakan tujuan penulis dalam penelitian ini, mengingat kria anyam mendong masih mampu memposisikan dirinya sebagai salah satu kria anyam di Indonesia yang masih dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya secara turun temurun. Oleh karena itu penulis mencoba dalam penelitian ini mengambil judul Analisis terhadap Perkembangan Estetik Kria Anyam Mendong Desa Cibeureum Tasikmalaya, dengan menggunakan metode Deskriptif-Kualitatif, adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosial budaya. Data penelitian diproleh dengan cara observasi langsung di lapangan, wawancara, literatur, serta melakukan pencatatan-pencatatan yang dianggap perlu dan yang berhubungan dengan penelitian ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan nilai estetik kria anyam mendong yang terkandung di dalamnya. Di samping itu, kegiatan penelitian ini dimaksudkan pula untuk menempuh salah satu syarat ujian sidang akhir di Program Studi Seni Murni Fakultas Seni rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.
Hasil dari penelitian ini, memperlihatkan gambaran yang jelas tentang perkembangan dan estetik kria anyam mendong. Kedudukan kria anyam tersebut telah terjadi perubahan-perubahan dari segi fungsi, bentuk, tampilan, bahkan dari segi maknanya. Perubahan ini tentunva akan nampak pula pada perubahan estetik yang terdapat pada hasil produk kria anyam mendong. Perkembangan dan perubahan-perubahan yang terdapat pada kria anyam mendong sangat dipengaruhi oleh perkembangan sosial budaya setempat, bersama pandangan hidup yang dianutnya, termasuk dipengaruhi oleh alam sekitar yang berkesinambungan dari waktu-waktu sebelumnya, yang banyak sekali menentukan keberlangsungan dan kelestarian kria anyam di desa Cibeureum Tasikmalaya. Salah satu permasalahan dalam perkembangan kria anyam mendong adalah pasar dan ketersediaan bahan baku, yang perlu perhatian secara khusus dari pihak-pihak luar Cibeureum.
Dari uraian tersebut di atas, dapat memberikan gambaran yang jelas bahwa, perkembangan dan estetik kria anyam mendong Cibeureum Tasimalaya, merupakan sebuah mata rantai yang saling mempengaruhi antara aspek yang satu dengan aspek yang lainnya, dan selalu berkaitan unsur estetik yang satu dengan yang lainnya.5. Prie Ernalia, NIM.27001014
-ABSTRAK-
“PENGGUBAHAN MOTIF BATIK MYASTHENIA GRAVIS SEBAGAI TERAPI”
Berkarya batik merupakan profesi penulis yang telah ditekuni dan dijadikan dasar acuan perupaan dalam proses pembentukan karya. Gagasan karya dilatarbelakangi pula oleh gagasan pengalaman subyektifitas penulis mengenai pengalaman hidup berupa kecemasan, ketakutan yang sangat mengganggu perasaan terhadap penyakit mata yang penulis derita. Menurut ilmu kedokteran penyakit tersebut disebut, Myasthenia Gravis.
Sensasi-sensasi pergolakan batin dalam situasi diatas yang dialami penulis dicarikan ungkapan bahasanya dalam ragaan bentuk karya. Canting cap batik yang merupakan inspirasinya, dikembangkan, dieksplorasi serta diolah pada sebuah alas yang terbuat dari kayu lapis. Lahirlah perwujudan karya-karya 2 dimensional (dwimatra) menyerupai karya seni relief dan karya 3 dimensional yang monumental, mengambil bentuk dasar limas segi empat.
Dalam proses berkaya ada 3 tahapan pengembangan. Dimulai dari eksplorasi motif Sekar Jagad. Penggubahan ini dimaksudkan untuk mencari makna baru terhadap motif batik Sekar Jagad itu sendiri. Kemudian penulis menciptakan bentukan pola motif mata sebagai simbol penderitaan yang dialami yaitu Myasthenia Gravis. Paduan bentukan mata dan motif batik Sekar Jagad dalam satu bidang berpadu dalam komposisi yang padat dan ritmis. Sedangkan unsur kaligrafi dalam karya sebagai ungkapan rasa syukur penulis akan limpahan karuniaNya. Dengan merangkai 99 nama indah Allah ( al-asma al-usna) kedalam paduan unsur-unsur bentuk di atas pada wujud karya trimatra semuanya akan menampakkan keharmonisan.
Hasilnya adalah karya akhir penulis yang berawal dari konsep pengalaman pribadi penyakit “Myasthenia Gravis” yaitu penyakit yang diderita penulis sejak sebelum mengikuti pendidikan S2 Seni Rupa ITB hingga diterima mengikuti pendidikan S2 Seni Rupa ITB, ternyata menjadi pembuktian bagi penulis bahwa berkarya seni rupa dapat menjadi terapi, dan penyakit yang penulis derita itulah justru menjadi titik tolak perupaan dengan dimunculkannya karya-karya penulis dengan berbagai karya seni. Karya akhir ditampilkan dalam bentuk 2 dimensional dan 3 dimensional.
6. Djuli Djatiprambudi
-ABSTRAK-
SENI RUPA MODERN DI SURABAYA 1967-1994 KAJIAN WACANA MELALUI PENDEKATAN SOSIOHISTORIS
Seni rupa modern di Surabaya sering dikatakan tumbuh dan berkembang tanpa basis wacana. Padahal sejak awal abad ke-20 bersamaan dengan adanya kontak dengan budaya Barat (Eropa), di Surabaya telah muncul gejala pertumbuhan seni rupa modern sebagai keniscayaan mulai tumbuhnya budaya modern. Keberadaan medan sosial seni (art world) semacam galeri, perupa, sanggar dan kolektor terbukti telah menunjukkan aktivitas cukup dinamis, dan semuanya secara sinergis sebagai penyangga pertumbuhan seni rupa modern di Surabaya. Pertumbuhan seni rupa modern semakin menemukan arah kecenderungan wacana terutama setelah berdiri Akademi Seni Rupa Surabaya pada 1967.
Penelitian ini dirancang untuk menelusuri wacana historis seni rupa modern di Surabaya. Desain penelitian didasarkan pada metode penelitian sejarah analitik dengan pendekatan sosiohistoris. Dengan metode dan pendekatan ini memungkinkan eksplanasi wacana historis seni rupa modern di Surabaya yang dilatarbelakangi variabel-variabel sosial berlapis-lapis. Penelitian ini pada hakekatnya bertujuan memahami, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi kecenderungan wacana historic, seni rupa modern di Surabaya selama dekade ’70 — ’90-an. Penelitian ini juga didorong oleh kenyataan bahwa sampai sekarang belum ada kajian komprehensif, baik dalam bentuk tesis, desertasi atau buku, yang bertujuan membuat pemetaan perkembangan wacana historis seni rupa modern di Surabaya.
Dari data yang terkumpul, baik data tekstual maupun visual dapat dikemukakan beberapa hal sebagai temuan dari kajian ini. Pertama, generasi Aksera muncul bersamaan lahirnya Aksera. Generasi ini didominasi oleh cita dan citra berkesenian yang secara filosofis dan estetik mengacu pada modernisme yang universal dan Tinier. Namun, dalam konteks sosial generasi Aksera secara ideologis berorientasi pada wacana nasionalisme dengan pencarian identitas sebagai bahasa ekspresi individu yang khas dan unik. Kedua, generasi pasca Aksera muncul dalam latar sosial budaya kapitalisme dan posmodernisme. Pada latar kapitalisme muncul generasi ’80-an yang diwarnai oleh euforia booming seni lukis yang menggejala sejak akhir dekade ’80-an. Wacana pasar sangat dominan dalam era ini dengan ditandai kecenderungan berkarya yang market oriented, instant, artifisial. Pada latar posmodernisme dengan isu wacana seni rupa kontemporer muncul generasi ’90-an. Kredo generasi ini menggejala kuat mulai 1994 dengan ditandai kemunculan kelompok seni rupa alternatif Kelompok ini memiliki kecenderungan kuat mengambil posisi sebagai perupa pemberontak. Mereka aktif mencari medium alternatif untuk merespons hadirnya isu seni rupa kontemporer yang berbasis pada pluralitas dan mengeksplorasi multi-media, serta media baru. Mereka mengangkat isu seni rupa sebagai gerakan kebudayaan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dalam konteks isu sosial, politik dan persoalan kemanusiaan.
Kelangsungan dan perubahan wacana historis dari generasi Aksera hingga generasi pasca Aksera membuktikan adanya basis wacana yang signifikan yang mendasari perkembangan seni rupa modern di Surabaya selama tiga dekade. Basis wacana itu bertolak dari wacana global yang berlangsung pada setiap kurun perkembangan. Basis wacana tersebut terbukti berpengaruh kuat pada praksis seni rupa dan kecenderungan estetik seni rupa modern di Surabaya. Seni rupa modern yang berkembang dalam entitas tertentu pada dasarnya menunjukkan historiografi yang khas, parsial, baik dalam konteks ruang dan waktu, serta kecenderungan estetiknya.
7. Bambang Witjaksono
-ABSTRAK-
FENOMENA MURAL DI YOGYAKARTA TAHUN 2002 – 2003
Pada tahun 2002 – 2003, terdapat pembuatan mural di Yogyakarta yang sangat marak, melebihi kota lain di Indonesia. Hal ini merupakan sebuah fenomena, karena sebelumnya pembuatan mural sebatas gerakan sporadis beberapa seniman. Selain itu, sebelum tahun 2002 pembuatan mural kurang marak karena alasan kondisi sosial-politik di Indonesia (termasuk Yogyakarta) yang menjadikan mural sebagai sarana penyampaian slogan-slogan pembangunan dari pemerintah. Fenomena inilah yang perlu untuk diteliti.
Proyek Mural Kota yang dilaksanakan pada tahun 2002 dikoordinir oleh Apotik Komik (sekelompok seniman yang memfokuskan kegiatannya pada seni publik dan membangun dialog dengan masyarakat). Proyek mural kota ini berjudul `Sama-Sama’yang kemudian menginspirasi masyakarat untuk juga membuat mural sehingga melahirkan sebuah `fenomena mural’ yang menjadikan tembok-tembok Kota Yogyakarta penuh dengan lukisan dinding. Pada tahun 2003, Apotik Komik kembali mengkoordinasi proyek mural kota yang diberi judul “Sama-samalYou’re Welcome” dengan melibatkan seniman mural dari San Fransisco, Amerika Serikat.
Penelitian ini dilakukan di Kota Yogyakarta, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai bulan September 2002 sampai dengan Juni 2004. Penelitian ini memfokuskan pada fenomena mural di Yogyakarta, yang terdiri dari dua Proyek Mural Kota, yaitu proyek mural kota “Sama-sama” yang dikerjakan seniman Indonesia dan proyek mural kota “Sama-sama/You’re Welcome” yang dikerjakan oleh seniman Amerika Serikat, serta mural yang dibuat oleh masyarakat umum (non seniman) Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ide dasar munculnya mural, untuk mengetahui gejala baru dalam perkembangan seni rupa di Yogyakarta, untuk mengetahui struktur perupaan mural yang dibuat di Yogyakarta serta untuk mengetahui efek atau akibat dari fenomena mural tersebut
Untuk mempertimbangkan hal-hal. ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu dengan mengumpulkan data-data tertulis maupun visual seperti wawancara dan observasi.
Hasil dari penelitian ini adalah perlunya mural sebagai salah satu alternatif bagian dari elemen ruang publik di Yogyakarta, dimana sebelumnya ruang publik hanya dipakai untuk kepentingan iklan dan kampanye partai politik, padahal esensi ruang publik adalah milik publik. Mural dipakai sebagai instrumen untuk penetrasi otoritas. Selain itu, dibuktikan bahwa peran seniman sebagai representasi publik dapat dicapai lewat pembuatan mural. Fenomena mural di Yogyakarta juga merupakan sebuah inovasi perupa dalam menyikapi perkembangan wacana seni rupa, dimana seni hadir langsung di tengah-Yogyakarta masih menggunakan simbol maupun ikon yang berkaitan dengan kondisi sosio kultural serta lingkungan Yogyakarta sebagai bagian dari kebudayaan Jawa pada umumnya.
Fenomena mural di Yogyakarta juga menunjukkan bahwa secara gradual terjadi perubahan yang sehat di alam masyarakat Yogyakarta, karena pemerintah setempat menanggapi masyarakat yang semakin vokal dan berdaya. Tekanan dari dalam dan luar agar terjadi reformasi politik menunjukkan tanda-tanda dihilangkannya dinamika pendekatan top down yang sudah membudaya sebagai ciri era Orde Baru.