Magister Seni Rupa Angkatan-1994

1. DWI BUDIWIWARAMULJA, NIM. 27094002
-Abstrak-
“Gerabah Kasongan
“Tinjauan visual tentang perkembangan produk gerabah hias di Kasongan sejak tahun 1960 hingga 1997″
Penelitian ini diadakan berdasarkan adanya hasil penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa masyarakat Kasongan kurang berfikir jauh dalam menciptakan gerabah. Fenomena ini dikemukakan oleh Gustami melalui hasil penelitian yang berjudul “Seni Tradisional Pola Hidup dan Produk Kerajinan Keramik Kasongan Yogyakarta” pada tahun 1985. Empat tahun kemudian pendapat yang sama diungkapkan juga oleh “Pusat Penelitian Perencanaan dan Pembangunan Nasional Universitas Gajah Mada” Yogyakarta yang bekerjasama dengan “Dinas Pariwisata” Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Fakta ini dapat menggambarkan bahwa sejak tahun 1985 hingga tahun 1989 laju perkembangan produk gerabah Kasongan mengalami kemandegan.
Berangkat dari kondisi tersebut, maka dapat digambarkan adanya permasalahan yang perlu dikaji, diantaranya adalah bagaimana gerabah Kasongan berkembang secara luas sejak tahun 1960-an hingga tahun 1985, dan bagaimana perkembangan produk Kasongan selanjutnya sejak tahun 1985 hingga tahun ini atau akhir tahun 1997 ?
Berdasar dari kedua permasalahan ini maka dapat diangkat pertanyaan tentang “sejauhmana perkembangan produk ggerabah Kasongan sejak tahun 1960 hingga tahun 1997” sebagai pokok masalah penelitian yang harus diuraikan.
Tujuan diadakan penelitian ini antara lain adalah untuk mengetahui sejauhmana perkembangan produk gerabah hias pada tahun 1960-an hingga 1997-an ditinjau dari bentuk rupanya. Sedangkan manfaat yang dapat diambil dari peneltian ini antara lain adalah : 1] Dapat dijadikan sebagai sumber informasi pada dunia pendidikan tentang pentingnya kreativitas dalam menciptakan produk kerajinan pada masyarakat Kasongan, 2] Dapat dijadikan sebagai sumber informasi pada dunia usaha tentang kemampuan masyarakat Kasongan dalam mencuiptakan gerabah hias atau gerabah non terap, 3] Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintahan daerah terutama dalam usahanya melestraikan nilai-nilai budayanya, mengembangkan budaya daerah, meningkatkan pemanfaatan potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya masyarakat desa melalui media kerajinan tangan.
Tahun 1960 adalah merupakan tahun perkiraan bahwa gerabah Kasongan mulai diproduksi dan dipasarkan (- berkembang) secara luas sejak tahun 1966. Sedangkan alasan hingga tahun 1997 merupakan tahun peluang masyarakat Kasongan yang telah mendapat berbagai bimbingan dan kemudahan dari pemerintah dalam meningkatkan produk kerajinan sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Oleh karenanya diperkirakan pada tahun 1997 masyarakat Kasongan telah mendapatkan kemajuan dan keuntungan dari usaha pada masa-masa sebelumnya.
Perolehan data untuk menggambarkan perkembangan produk Kasongan pertanyaan penelitian diperoleh berdasar hasil survei lapangan, wawancara langsung dengan para perajin. Nara sumber yang ditunjuk sebagai responden diantaranya adalah para perajin seperti Punjul, Buang, Bejo, Sarijo dan Timbul Raharjo; para peneliti; Gustami, O.K. Amiruddin, P.J. Suwarno, Ety Larasati Suliantoro Sulaiman, Wisnu Broto, Himan Prastanto, Indah dkk.; para usahawan; Ety Larasati Suliantoro Sulaiman dan studi pustaka tentang hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan atau perubahan gerabah Kasongan.
Selanjutnya data yang sudah diperoleh digambarkan secara deskriptif kualitatif dengan pendekatan kronologis yaitu dengan menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi secara periodik –terutama pada masalah perubahan bahan dasar, teknik pembuatan gerabah, desain, dan tema yang menyertainya sejak tahun 1960-1997.
Berdasar data lapangan, dan fakta, kaji pustaka, data tersebut dianalisis berdasar fakta perubahan yang etrjadi produk gerabah yang diperoleh di lapangan maka ditemukan bahwa produk gerabah Kasongan mengalami perkembangan sejak akhir tahun 1960 hingga akhir tahun 1980. Pada tahun berikutnya terdapat perubahan yang menonjol meliputi bentuk desain, penerapan beberapa material lempung, serat, logam serta teknik penggabungannya. Ditinjau dari akar tradisi sebelumnya, bentuk gerabah Kasongan telah mengalami perubahan yang menggambarkan hilangnya keunikan gerabah Kasongan.

2. MINARSIH, NIM. 27094009
-ABSTRAK-
“Korelasi Antara Motif Hias Songket dan Ukiran Kayu di Propinsi Sumatera Barat. Studi Kasus Daerah Pandai Sikek, Silungkang dan Kubang”
Songket dan Ukiran merupakan dua produk terkemuka yang direkayasa secara tradisional (turun temurun) oleh seniman pekria Sumatera Barat. Tidak ditemukan bukti tertulis tentang awal dimulainya kegiatan menyongket. Yang pasti, bahwa proses menyongket identik dengan bertenun. Dimulainya kegiatan bertenun hampir bersamaan dengan awal keberadaan manusia, telah ada semenjak manusia mengenal peradaban menutup bagian tubuh. Artinya, kegiatan ini bertujuan awal lebih kepada fungsi terpakai; yaitu melindungi tubuhnya dan fungsi keindahan berada pada posisi sampingan. Berbagai pengaruh luar yang mamsuk ke wilayah Sumatera Barat (terutama dilihat pada tenunan, serta ditambah dengan budaya tradisi setempat telah berakulturasi membentuk budaya tradisional yang dikenal dengan istilah songket (menyongket).
Latar-terbentuknya jenis budaya tradisional ukiran kayu (pada dinding rumah gadang) tidak jauh berbeda dengan proses menyongket yang telah dibicarakan di atas. Kalau pada tenunan awal pembuatannya untuk maksud melindungi tubuh dan kemudian beralih fungsi sebagai media yang bernilai estetis, pada ukiran fungsi estetisnya adalah menghiasi rumah.
Maksud dibuatnya sebuah hiasan tidak saja sekedar memperindah penampilan benda yang dihias. Namun, hiasanpun mampu dijadikan sebagai media komunikasi; yang menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada pengamat atau masyarakat di sekitarnya. Melalui motif hias yang ada pada songket dan ukiran kayu suatu rumah gadang dapat diketahui status keluarga pemilik/pemakai kedua jenis barang tersebut; bahwa pada dasarnya songket dan ukiran hanya dimiliki oleh pihak-pihak tertentu saja dan bukan untuk semarangan pakai. Jadi, fungsi dari kedua jenis produk ini bersifat sakral. Namun, akhir-akhir ini peranan benda yang disebutkan di atas telah bergeser kepada fungsi yang bersifat profan, yang bisa dimiliki oleh segala lapisan masyarakat dimana ia mampu untuk memperolehnya. Perkembangan fungsi ini dapat dilihat dari munculnya berbagai bentuk songket dan ukiran di Minangkabau selain dari pada struktur songket pada pakaian manusia dan struktur ukiran pada eksterior/interior rumah gadang.
Daerah-daerah pada awalnya dikenal sebagai pusat kerajinan songket dan ukiran adalah Pitalah, Pandai Sikek dan Sungayang untuk wilayah luhak (kabupaten) Tanah Datar; Koto Gadang untuk luhak Agam; Koto nan Ampek dan Kubang untuk wilayah luhak 50 Koto. Daerah yang sampai saat ini dinyatakan produktif dalam kegiatan menyongket serta sekaligus dijadikan sebagai daerah pemangku budaya tradisional ini adalah Pandai Sikek, Silungkang dan Kubang. Ketiga daerah di atas merupakan wilayan obyek disamping daerah lain sebagai pembanding perolehan data penelitian.
Beberapa hasil penelitian telah memberikan gambaran mengenai motif-motif yang ada dalam desain songket dan ukiran di suatu daerah. Gambaran yang dimaksudkan menunjukkan terdapatnya kesamaan dalam beberapa nama motif hias. Penelitian ini merupakan permasalahan yang memerlukan kajian lanjut dengan rumusan permasalahan tentang adanya hubungan antara motif hias songket dan ukiran, dan adanya faktor yang menyebabkan terjadinya hubungan maupun perbedaan. Sejarah keberadaan manusia dengan peradaban akan hal kebutuhan untuk melindungi diri dari serangan/gangguan alam dan lingkungan menjadi titik tolak teori yang melahirkan hipotesa; bahwa sebahagian motif hias songket telah mempengaruhi ukiran.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif-kuantitatif yang mendeskripsikan (menggambarkan) kenyataan yang ada dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan hubungan antara motif hias songket dan motif hias ukiran rumah gadang di Sumatera Barat. Permasalahan dibatasi pada perbedaan dan kesamaan poin penamaan, struktur motif menurut penempatan dan perulangan posisi dan pola motif. Untuk melihat perkembangan dan pembuktian hipotesa, diperlukan bandingan antara motif hias produk lama dan baru di setiap jororng dan daerah penelitian.
Perkembangan budaya Minangkabau tidak terlepas dari sejarah masuknya pengaruh-pengaruh budaya luar yang telah ikut mempengaruhi adat dan seni kreasi para seniman pekria Minangkabau. Penyebaran, kedatangan dan kolonialisme bangsa lain memperlihatkan masing-masing pengaruhnya melalui wujud ornamentik seperti jenis tumbuhan, hewan, manusia dan geometris. Masuknya pengaruh Islam di alam ini adalah sangat dominan dan banyak sekali dijumpai pada motif hias tekstil; dengan bentuk motif yang bersifat geometris atau dominasi bentuk tanaman. Manusia dan binatang sebagai sumber obyek motif diolah menjadi sandi-sandi yang abstrak.
Dua kemungkinan fungsi motif hias songket dan ukiran adalah menghias /mempercantik menjadi indah dan memberikan/mengkomunikasikan makna atau simbol (social expression).
Asas perancangan atau pembuatan songket dan rumah gadang, terutama untuk motif hiasnya didasari oleh perpaduan estetika Islam dan Minangkabau yang ditunjang oleh beberapa unsur seperti ajaran dan pandangan hidup “alam takambang jadi guru”, pola pikir yang dirumuskan dalam “tigo tungku sajarangan”, prinsip adat “adat basandi syara, syarak basandi Kitabullah”. Seniman pekria mengambil alam sebagai sumber gagasan; diwujudkan dalam bentuk sandi visual sebagai pengejawantahan dari representasi objek, representasi abstrak dan simbol nonrepresentasi abstrak. Pengejawantahan bentuk didasari oleh adat dan agama. Hal ini terlihat dari usaha menghindari meniru bentuk bernyawa ciptaan Tuhan; yang bertentangan dengan ajaran Islam dan perbedaan adat di setiap daerah; yang memperlihatkan perbedaan karakter produk ukiran maupun songket.
Pola pikir tiga tungku sajarangan disalurkan melalui prinsip pengaturan alua dan patuik (penempatan dan penonjolan), raso jo pareso (keserasian dan keseimbangan) dan barih balabeh (kesatuan ide, garis dan bentuk). Pola pikir seperti ini terlihat jelas dalam proses mengukir dan menyongket. Pengaturan pola motif ukiran kayu disesuaikan dengan struktur dan ukuran bangunan (susunan kayu), sedangkan pengaturan pada songket adalah berdasarkan struktur benang dan ukuran bidang dasar (jumlah benang lungsi dan pakan). Dengan terlebih dahulu mengetahui ukuran panjang, lebar dan posisi susunan bahan; maka diaturlah pengulangan pola motifnya. Pengulangan pola terjadi karena pola pikir matematis yang terjadi akibat adanya ukuran bidang obyek. Struktur bangunan identik dengan struktur pakaian, tampak pula pada struktur motif hias yang berposisi horizontal-vertikal dan diagonal.
Songket dan Ukiran merupakan dua produk terkemuka yang direkayasa secara tradisional (turun temurun) oleh seniman pekria Sumatera Barat. Tidak ditemukan bukti tertulis tentang awal dimulainya kegiatan menyongket. Yang pasti, bahwa proses menyongket identik dengan bertenun. Dimulainya kegiatan bertenun hampir bersamaan dengan awal keberadaan manusia, telah ada semenjak manusia mengenal peradaban menutup bagian tubuh. Artinya, kegiatan ini bertujuan awal lebih kepada fungsi terpakai; yaitu melindungi tubuhnya dan fungsi keindahan berada pada posisi sampingan. Berbagai pengaruh luar yang mamsuk ke wilayah Sumatera Barat (terutama dilihat pada tenunan, serta ditambah dengan budaya tradisi setempat telah berakulturasi membentuk budaya tradisional yang dikenal dengan istilah songket (menyongket).Latar-terbentuknya jenis budaya tradisional ukiran kayu (pada dinding rumah gadang) tidak jauh berbeda dengan proses menyongket yang telah dibicarakan di atas. Kalau pada tenunan awal pembuatannya untuk maksud melindungi tubuh dan kemudian beralih fungsi sebagai media yang bernilai estetis, pada ukiran fungsi estetisnya adalah menghiasi rumah.Maksud dibuatnya sebuah hiasan tidak saja sekedar memperindah penampilan benda yang dihias. Namun, hiasanpun mampu dijadikan sebagai media komunikasi; yang menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada pengamat atau masyarakat di sekitarnya. Melalui motif hias yang ada pada songket dan ukiran kayu suatu rumah gadang dapat diketahui status keluarga pemilik/pemakai kedua jenis barang tersebut; bahwa pada dasarnya songket dan ukiran hanya dimiliki oleh pihak-pihak tertentu saja dan bukan untuk semarangan pakai. Jadi, fungsi dari kedua jenis produk ini bersifat sakral. Namun, akhir-akhir ini peranan benda yang disebutkan di atas telah bergeser kepada fungsi yang bersifat profan, yang bisa dimiliki oleh segala lapisan masyarakat dimana ia mampu untuk memperolehnya. Perkembangan fungsi ini dapat dilihat dari munculnya berbagai bentuk songket dan ukiran di Minangkabau selain dari pada struktur songket pada pakaian manusia dan struktur ukiran pada eksterior/interior rumah gadang.Daerah-daerah pada awalnya dikenal sebagai pusat kerajinan songket dan ukiran adalah Pitalah, Pandai Sikek dan Sungayang untuk wilayah luhak (kabupaten) Tanah Datar; Koto Gadang untuk luhak Agam; Koto nan Ampek dan Kubang untuk wilayah luhak 50 Koto. Daerah yang sampai saat ini dinyatakan produktif dalam kegiatan menyongket serta sekaligus dijadikan sebagai daerah pemangku budaya tradisional ini adalah Pandai Sikek, Silungkang dan Kubang. Ketiga daerah di atas merupakan wilayan obyek disamping daerah lain sebagai pembanding perolehan data penelitian.Beberapa hasil penelitian telah memberikan gambaran mengenai motif-motif yang ada dalam desain songket dan ukiran di suatu daerah. Gambaran yang dimaksudkan menunjukkan terdapatnya kesamaan dalam beberapa nama motif hias. Penelitian ini merupakan permasalahan yang memerlukan kajian lanjut dengan rumusan permasalahan tentang adanya hubungan antara motif hias songket dan ukiran, dan adanya faktor yang menyebabkan terjadinya hubungan maupun perbedaan. Sejarah keberadaan manusia dengan peradaban akan hal kebutuhan untuk melindungi diri dari serangan/gangguan alam dan lingkungan menjadi titik tolak teori yang melahirkan hipotesa; bahwa sebahagian motif hias songket telah mempengaruhi ukiran.Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif-kuantitatif yang mendeskripsikan (menggambarkan) kenyataan yang ada dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan hubungan antara motif hias songket dan motif hias ukiran rumah gadang di Sumatera Barat. Permasalahan dibatasi pada perbedaan dan kesamaan poin penamaan, struktur motif menurut penempatan dan perulangan posisi dan pola motif. Untuk melihat perkembangan dan pembuktian hipotesa, diperlukan bandingan antara motif hias produk lama dan baru di setiap jororng dan daerah penelitian.Perkembangan budaya Minangkabau tidak terlepas dari sejarah masuknya pengaruh-pengaruh budaya luar yang telah ikut mempengaruhi adat dan seni kreasi para seniman pekria Minangkabau. Penyebaran, kedatangan dan kolonialisme bangsa lain memperlihatkan masing-masing pengaruhnya melalui wujud ornamentik seperti jenis tumbuhan, hewan, manusia dan geometris. Masuknya pengaruh Islam di alam ini adalah sangat dominan dan banyak sekali dijumpai pada motif hias tekstil; dengan bentuk motif yang bersifat geometris atau dominasi bentuk tanaman. Manusia dan binatang sebagai sumber obyek motif diolah menjadi sandi-sandi yang abstrak.Dua kemungkinan fungsi motif hias songket dan ukiran adalah menghias /mempercantik menjadi indah dan memberikan/mengkomunikasikan makna atau simbol (social expression).Asas perancangan atau pembuatan songket dan rumah gadang, terutama untuk motif hiasnya didasari oleh perpaduan estetika Islam dan Minangkabau yang ditunjang oleh beberapa unsur seperti ajaran dan pandangan hidup “”, pola pikir yang dirumuskan dalam “”, prinsip adat “, Seniman pekria mengambil alam sebagai sumber gagasan; diwujudkan dalam bentuk sandi visual sebagai pengejawantahan dari representasi objek, representasi abstrak dan simbol nonrepresentasi abstrak. Pengejawantahan bentuk didasari oleh adat dan agama. Hal ini terlihat dari usaha menghindari meniru bentuk bernyawa ciptaan Tuhan; yang bertentangan dengan ajaran Islam dan perbedaan adat di setiap daerah; yang memperlihatkan perbedaan karakter produk ukiran maupun songket.Pola pikir tiga tungku sajarangan disalurkan melalui prinsip pengaturan (penempatan dan penonjolan), (keserasian dan keseimbangan) (kesatuan ide, garis dan bentuk). Pola pikir seperti ini terlihat jelas dalam proses mengukir dan menyongket. Pengaturan pola motif ukiran kayu disesuaikan dengan struktur dan ukuran bangunan (susunan kayu), sedangkan pengaturan pada songket adalah berdasarkan struktur benang dan ukuran bidang dasar (jumlah benang lungsi dan pakan). Dengan terlebih dahulu mengetahui ukuran panjang, lebar dan posisi susunan bahan; maka diaturlah pengulangan pola motifnya. Pengulangan pola terjadi karena pola pikir matematis yang terjadi akibat adanya ukuran bidang obyek. Struktur bangunan identik dengan struktur pakaian, tampak pula pada struktur motif hias yang berposisi horizontal-vertikal dan diagonal.

3. IRA ADRIATI, NIM. 27094007
-ABSTRAK-
“Kajian Hiasan Perahu Nelayan di Pantai Utara dan Pantai Selatan Jawa Barat”

Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji hiasan perahu nelayan di pantai utara dan pantai selatan Jawa Barat. Dalam peneltian ini dilakukan pengkajian hiasan perahu, meliputi : jenis hiasan, motif hiasan, pola hiasan, dan nilai simbolik hiasan perahu.
Penelitian ini bersifat kualitatif, dengan metode deskriptif-komparatif. Teknik pengumpulan data penelitian dilakukan dengan wawancara, pengamatan langsung, dan studi literatur.
Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa jenis perahu yang terdapat di pantai utara Jawa Barat lebih banyak dan lebih rumit bentuknya dibanding di pantai selatan. Selain itu, perahu di pantai utara juga lebih banyak menggunakan hiasan. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara tingkat budaya masyarakat setempat dengan kebiasaan membuat dan menghias perahu.
Perahu Jegong, perahu Kolek, perahu Dogol dan perahu Compreng di pantai utara Jawa Barat mempunyai motif dan pola hiasan yang khas yang sudah digunakan secara turun temurun. Sedangkan pada jenis-jenis perahu lain sudah banyak menggunakan hiasan kontemporer.
Para nelayan umumnya tidak mengetahui secara pasti nilai simbolik dari hiasan yang dibuatnya. Namun demikian, dapat diyakini terdapat nilai-nilai simbolik pada motif-motif yang sudah digunakan secara turun temurun.

4. HENRI CHOLIS, NIM. 27094005
-ABSTRAK-
“Ulas Rupa dan Lambang Pada Kumpulan Candi Sukuh.”
“Pendekatan Sosial Budaya Perkembangan Seni Rupa Indonesia-Hindu”

Berdasarkan dari fenomena latar belakang problematik yang berkaitan dengan perupaan dan lambang Candi Sukuh, menyangkut beberapa aspek. Aspek pertama : latar belakang sejarah dan budayanya yang merupakan perpaduan budaya Indonesia (asli) dengan India, hal ini merupakan konsnep historis dan filosofi yang mendasari berdirinya Candi Sukuh. Aspek kedua : menyangkut masalah karakter perupaan kumpulan Candi Sukuh yang berkaitan dengan bentuk bangunan candi, bentuk susunannya, denahnya sebagai buah hasil arsitektur tahap akhir dari zaman Hindu dengan ditandai munculnya secara menonjol unsur-unsur “local jenius”. Aspek ketiga : adalah berkaitan dengan keterkaitan perupaan Candi Sukuh dengan perlambangan yang tersirat didalamnya, serta mengkaitkan dengan garap teknis dan estetisnya. Tujuan penelitian difokuskan untuk memahami sebuah konsep bangunan candi dari perkembangan Jawa-Hindu, memahami gaya pahatan secara teknik estetis dengan nilai-nilai lambangnya, memahami latar belakang budaya atau konsep kosmologis pembangunan Candi Sukuh. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi generasi yang akan datang, bagi dunia pengetahuan, lembaga pendidikan, dan bagi dunia pariwisata Indonesia.
Jenis penelitian ini adalah kualitatif, obyeknya adalah kumpulan bangunan Candi Sukuh. Teknik Sampling yang digunakan adalah purposive dengan sampel bandingan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, analisis kepustakaan, analisis dokumentasi, analisis benda fisik dan hasil wawancara. Untuk memperoleh keabsahan data dengan cara memperpanjang kegiatan penelitian di lapangan, melakukan triangulasi sumber data dan metode, pengamatan yang terus menerus, kecukupan referensi. Teknik analisis data menggunakan model interaktif.
Hasil penelitian, yaitu bahwa konsep dasar pembangunan kumpulan Candi Sukuh didasari oleh konsep filosofis Indonesia asli, yaitu mendasarkan pada religi atau kepercayaan asli, yang mengacu pada religi pemujaan roh leluhur. Agama Hindu yang datang dari India berakulturasi dengan budaya setempat yang setia pada religi asli, pendukung tradisi Megalithik seputar Gunung Lawu. Karakter yang kemudian muncul dari perupaan dan lambang kumpulan Candi Sukuh adalah merupakan sinkritisme dari kedua latar budaya tersebut. Akan tetapi perlu diingat bahwa “local jenius” tak pernah mati, hal ini menjelaskan bahwa budaya asli (pribumi) dengan kelenturannya selalu dapat bertahan terhadap pengaruh budaya luar, dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ciwatantra (Hindu) memanglah sangat cocok atau sesuai dengan budaya religi asli yang berorientasi pada budaya agraris dengan tradisi pemujaan rohnya. Namun demikian Ciwatantra hanyalah bentuk “wadag”, religi asli adalah esensi atau hakekat yang sebenarnya. Karakter perupaan yang muncul disamping menyiratkan religi Tantrayana, juga mengacu pada karakter “local jenius” atau budaya asli. Gaya pahatan perupaan merupakan perpaduan gaya Majapahit dan gaya prasejarah (Megalithik) dan gaya perupaan suku-suku asli seperti Nias, Batak, dan suku lain di daerah Sumatra, Suku Dayak di Kalimantan dan suku di Sulawesi. Karakter yang nampak adalah halus dan detail, karakter teknis Majapahit, kasar, global (tidak detail), pasif, kaku mewakili karakter teknis prasejarah.
Perlambangan mengacu pada nilai-nilai makna dan lambang local jenius, lambang asli Indonesia, meskipun dalam ujud luarnya adalah tanda-tanda lambang dengan dasar dari mitologi Hindu (Ciwatantra). Dengan kata lain agama Hindu Ciwatantra menyesuaikan nafas perlambangan agama asli, nampaknya Ciwatantra mampu menampung konsep-konsep dari perlambangan religi asli. Perlambangan tertuju pada orientasi kosmologi asli agraris, yang mengacu pada perlambangan “kesuburan”, “keselamatan”. Akhirnya dapat diketahui fungsi Candi Sukuh adalah tempat pemujaan roh atau dewa, upacara “kesuburan”, upacara lepasi (keselematan kosmos), dan upacara inisiasi.
Perupaan dan lambang yang ada pada kumpulan Candi Sukuh agaknya tidak berhenti sampai di situ, kenyataannya unsur-unsur elemen estetis dan filosofisnya masih berlanjut terutama di Surakarta dan sekitarnya, demikian juga dengan adat istiadatnya, seperti upacara selamatan, khitanan, bersih desa, upacara wiwit, ruwatan, sadranan dan lain sebagainya.

5. SUMARSONO, NIM. 27094006
-ABSTRAK-
“Studi Banding Busana Pengantin Gaya Kraton Yogyakarta dan Perkembangannya di Luar Kraton”

Busana atau pakaian adat merupakan salah satu keanekaragaman budaya Indonesia. Busana merupakan ekspresi, citra dan kepribadian bangsa, karena dari busana dapat tercermin norma dan nilai-nilai budaya suatu suku bangsa. Pemakaian busana di lingkungan Kraton Yogyakarta, pemakaiannya selalu didasarkan atas status sosial atau faktor keturunan si pemakainya. Apalagi busana kebesaran adat perkawinan Kraton Yogyakarta, bagi masyarakat umum yang bukan dari kalangan bangsawan atau kerabat kraton pada awal mulanya tidak diperbolehkan untuk mengenakan busana kebesaran milik Kraton.
Dengan adanya perkembangan sosial yang terjadi di Yogyakarta, baik itu disebabkan adanya perubahan kekuasaan (politik), sistem ekonomi, sistem pendidikan dan pranatan sosial di masyarakat, kedudukan busana kebesaran adat perkawinan Kraton Yogyakarta dalam kurun waktu puluhan tahun, mungkin saja berubah, kiranya ini dapat dimengerti. Bahkan pada akhirnya arti suatu barang, perlengkapan maupun tata upacara adat Kraton bisa menjadi kabur dari aslinya.
Dari masalah-masalah perubahan yang terjadi tersebut menarik untuk dikaji, baik dari segi aspek pola kehidupan masyarakatnya, bentuk busananya maupun makna simbolisnya. Oleh karena itu metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif kualitatif, dan pendekatannya menggunakan pendekatan komparatif dan semiotik. Instrumen pengumpulan data menggunakan dokumentasi (pemotretan), kaji pustaka, observasi dan wawancara.
Dari hasil penelitian studi banding antara busana pengantin gaya Kraton dan busana pengantin di luar Kraton dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut :

  • Busana pengantin Kraton sebagai produk budaya tradisi Jawa yang mencerminkan lambang status kebangsawanan.
  • Jenis budaya pengantin tradisional Jawa yang meliputi ; bentuk busana, motif kain dan tata riasnya memperlihatkan lambang dari status tersebut.
  • Ada pengaruh perubahan sosial di Yogyakarta terhadap perkembangan busana pengantin gaya Kraton Yogyakarta.
  • Ada perbedaan antara busana pengantin gaya Kraton Yogyakarta dan di Luar Kraton.