Magister Seni Rupa Angkatan-1993

1. MAMAN NURJAMAN, NIM. 27093007
-Abstrak-
Telaah Kritik Jurnalistik Seni Rupa di Indonesia dan Ajuan Metoda Pendekatan Kritik Seni rupa Berdasarkan Penghayatan Kosmologis

Kritik seni rupa modern di Indonesia sebagai perbincangan seni rupa selalu menjadi perdebatan di berbagai forum (seminar dan diskusi panel) dan media massa. Namun dari beberapa pernyataan di berbagai forum dan media massa tersebut, sesungguhnya kritik seni rupa modern di Indonesia belum memiliki suatu bentuk pemahaman yang jelas sebagai landasan teoritik. Sehingga pada dasarnya, hingga saat ini pemahaman kritik seni rupa modern di Indonesia mengadaptasi dan menggunakan dasar teori kritik dari seni rupa Barat. Dasar-dasar teori pemahaman kritik meliputi jenis, metode pendekatan, dan paparan kritik. Pemanfaatan dasar teori kritik dari seni rupa Barat pada kenyataannya telah menimbulkan permasalahan, terutama pada metoda pendekatan yang tidak sesuai dengan kenyataan seni rupa modern di Indonesia dan paparan kritik jurnalistik yang bersifat menghakimi.
Teori-teori seni rupa Barat yang selama ini diterapkan dalam proses pendekatan kritik jurnalistik seni rupa di Indonesia tidak sesuai dengan kenyataan seni rupa modern di Indonesia. Kritik jurnalistik seni rupa modern yang dikategorikan berita masih disalahpahami oleh para seniman. Bahkan pengertian mengenai kritik seni rupa pun masih didapati adanya kerancuan-kerancuan pemahaman, selalu ditafsir dan diartikan sebagai kecaman dan celaan. Di samping itu, kalangan seniman (seni rupa) atau perupa di Indonesia belum siap menerima kritik sebagai pertimbangan untuk mengadakan penilaian dan penghakiman.
Atas dasar permasalahan itu, proses penelitian ini dilakukan, terutama dalam rangka untuk memperoleh data dan fakta tentang timbulnya permasalahan yang dimaksud. Metodologi penelitian yang digunakan dalam proses penelitian ini adalah Metodologi Penelitian Kualitatif beserta perumusan masalah, tahap dan teknik penelitian, serta analisis dan penafsiran data. Lingkup penelitian dibatasi terhadap jenis kritik jurnalistik di media massa cetak yang ditulis oleh kritikus Indonesia terhadap seniman Indonesia dan terbit di Indonesia antara tahun 1950 hingga 1997.
Setalah mengkaji dasar teori kritik secara literatur, mengumpulkan data lapangan, dan menganalisis hubungan keduanya, diperoleh beberapa kesimpulan. Kesimpulan pertama menunjukkan adanya data dan fakta, bahwa batasan pemahaman kritik seni rupa modoern diadaptasi dari dasar teori dari seni rupa Barat. Kesimpulan ini khususnya diperoleh dari pernyataan tertulis maupun lisan dari para pengamat seni rupa. Kesimpulan kedua, diperoleh data dan fakta yang menunjukkan pula adanya suatu kenyataan bahwa, tulisan-tulisan kritik jurnalistik seni rupa di Indonesia tidak dimengerti oleh sebagian besar kalangan seni rupa, apallagi bagi masyarakat umum.
Salah satu peranan kritik seni rupa adalah menjembatani proses apresiasi masyarakat (kalangan penekun seni rupa maupun awam) terhadap seni rupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakmengertian kalangan penekun seni rupa maupun masyarakat umum disebabkan oleh metoda pendekatan kritik dan isi serta materi yang dipaparkan kritik jurnalistik. Metoda pendekatan kritik jurnalistik seni rupa di Indonesia, yang hampir sepenuhnya memanfaatkan metoda pendekatan berdasarkan teori seni rupa Barat, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan seni rupa modern di Indonesia. Kesimpulan ini dikaji melalui proses telaah terhadap hasil jajak pendapat dari kalangan penekun seni rupa dan awam. Maka dapat disimpulkan pula bahwa kritik jurnalistik seni rupa modern di Indonesia belum menjadi media untuk menjembatani maupun meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni rupa.
Kesimpulan demi kesimpulan dikumpulkan dan dikaji dalam proses penelitian. Thesis ini, selain merupakan proses penelitian, mencoba mengajukan suatu usulan alternatif pemikiran mengenai metoda pendekatan kritik, khususnya kritik jurnalistik seni rupa di media massa cetak di Indonesia. Metoda pendekatan kritik tersebut pelingkupi pendekatan terhadap seniman, proses kreasi, dan karya seni rupa. Pendekatan terhadap kenyataan yang mempengaruhi seniman, proses kreasi dan karya seni rupa modern di Indonesia berkenaan dengan unsur-unsur yang berada di balik hal-hal yang bersifat fisik. Kesulitan utama dalam rangka menemukan hal-hal yang melingkupi unsur-unsur pendekatan bersifat non-fisik itu terletak pada penyodoran istilah. Salah atu kunci pembuka terhadap penemuan istilah itu adalah unsur spiritualitas. Unsur spiritualitas yang menandai adanya pengaruh kepada tiga komponen (seniman, proses kreasi dan karya) bersifat dua dunia, yakni dunia dalam atau dunia kecil : mikrokosmos dan dunia luar atau dunia besar : makrokosmos.
Setelah melalui berbagai kajian literatur (sesungguhnya berlangsung sejak tahun 1990), ditemukan istilah Kosmologi sebagai perangkum makna dari pendekatan dunia kecil (jagat alit : mikrokosmos) dan dunia besar ( jagat ageng : makrokosmos). Penggunaan istilah Kosmologi telah ditelusuri melalui pustaka kosmologi metafisika dan penerapannya berkenaan dengan dunia kesenian pada umumnya dan khusus mengenai dunia seni rupa. Paradigma pemahaman tentang kosmologi metafisika dinilai tepat untuk diterapkan dalam metoda pendekatan kritik seni rupa. Untuk itulah, ajuah (proposal) pemikiran tentang metoda pendekatan kritik seni rupa dalam thesis ini menggunakan Metoda Pendekatan Kritik Seni Rupa Berdasarkan Penghayatan Kosmologis.
Sebagai upaya untuk melengkapi pengujian terhadap metoda pendekatan kritik seni rupa berdasarkan penghayatan kosmologis ini disertakan data kajian kritik dan eksperimen kritik, berupa satu contoh tulisan kritik. Penerapan metoda ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan pikiran terhadap seni rupa modern di Indonesia pada umumnya dan khususnya dalam dunia kritik seni rupa modern di Indonesia.

2. BUDIHARDJO WIRJODIRDJO, NIM. 27093002
-ABSTRAK-
“Keris Sebagai Ungkapan Seni Rupa”

“Kajian tentang Keris sebagai Perwujudan Konsep Estetik pada Kelompok Penggemar Keris “Pamertriwiji” di Yogyakarta.
Thesis ini mencoba mengungkapkan permasalahan mengenai Keris sebagai Ungkapan Seni Rupa atau keris sebagai suatu perwujudan konsep estetik melalui suatu prosedur penelitian atau kajian di bidang seni rupa. Dengan suatu prosedur penelitian yang dijalankan, dimaksudkan agar bisa diperoleh pengetahuan serta pemahaman yang jernih mengenai hal-ikhwal keris sebagai karya seni rupa. Secara khusus penelitian ini akan memfokuskan perhatiannya pada masalah keris sebagai perwujudan konsep estetik pencipta dan masyarakat pendukung budaya keris. Kemudian hasil penelitian atau kajian ini, diharapkan akan bisa memberikan kontribusi bagi tumbuhnya suatu wawasan budaya yang dapat digunakan sebagai landasan untuk mengembangkan seni rupa Indonesia di masa selanjutnya.
Dalam hal ini, persoalannya muncul ke permukaan karena adanya pandangan dari pengamat Barat (Garret dan Solyom) bahwa keris sangat lekat dengan, atau merupakan perwujudan dari suatu konsep estetik yang canggih. Walaupun pandangan tersebut dengan jernih telah menempatkan keris secara layak sebagai perwujudan konsep estetik, namun ternyata di dalam dunia keris sendiri dihadapkan dengan adanya tiga kelompok pandangan yang berbeda. Pandangan pertama yang berkembang paling belakangan beranggapan bahwa keris adalah hasil kebudayaan, kagunan, atau kesenian. Kemudian pandangan kedua yang telah sejak lama berkembang di kalangan masyrakat (Jawa), secara umum lebih meyakini bahwa keris merupakan senjata pusaka dikarenakan daya gaib atau tuah yang dimilikinya. Sedangkan menurut pandangan ketiga yang berkembang di kalangan yang sangat terbatas, keris merupakan pusaka dengan berbagai variasi pemaknaannya dan dinyatakan dengan istilah-istilah yang hanya dikenali oleh kalangan tersebut. Terutama makna-makna sosial, historis, filosofis, etis dan religius-mistis. Kemudian bersamaan dengan adanya ketiga pandangan tersebut, dalam teks-teks tradisi mengenai keris dapat dikatakan hampir sama sekali tidak terdapat adanya keterangan-keterangan yang secara eksplisit menyatakan bahwa keris adalah hal seni ataupun estetik. Terkecuali apabila mengacu pada teks-teks di bidang lain (sastra) atau pada teks-teks yang muncul pada era sekarang dengan interpretasi yang mungkin telah dipengaruhi pandngan Barat. Karena itu, ‘seberapa jauh dan apakah memang benar bahwa di dalam dunianya sendiri keris memang merupakan perwujudan konsep estetik’ adalah merupakan suatu pokok masalah yang peneliti anggap perlu – mengingat manfaat hasilnya bagi dunia seni rupa dan keris – untuk dikaji dan diklarifikasikan keadaannya di lapangan.
Selanjutnya sebagai langkah awal penelitian ini, yaitu dalam rangka memperoleh jawaban sementara tentang masalah yang sedang diteliti, dikemukakan suatu tinjauan teoritis mengenai : sejarah keris dan permasalahannya, fungsi keris dalam masyarakat Jawa, dan keris sebagai karya seni rupa. Dengan berdasarkan tinjauan teoritis tersebut, selanjutnya dapt ditarik suatu kesimpulan yang bisa digunakan sementara untuk menjelaskan masalah yang sedang diteliti. Kesimpulan yang masih bersifat hipotesis tersebut tersusun dalam suatu model teoritis yang menggambarkan jalinan variabel-variabel penelitian dalam suatu pola hubungan saling menentukan atau saling mempengaruhi satu sama lain. Variabel-variabel tersebut adalah : konsep estetik pencipta keris (empu) dan pengguna sebagai pemesan ataupun penikmat keris, pakem paduwungan atau sistem tanda keris, budaya Jawa, dan kekrisnya sendiri. Model teoritis ini selanjutnya difungsikan sebagai hipotesa penelitian yang dicoba dicocokkan dengan keadaan sebenarnya di lapangan. Dalam hal ini, lapangan yang dipilih adalah perkumpulan penggemar keris Pamertriwiji. Perkumpulan ini merupakan suatu perkumpulan keis yang mengkhususkan perhatiannya pada keris gaya Yogyakarta; yaitu salah satu gaya dalam dunia pakerisan Jawa selain gaya Surakarta dan Madura.
Mengingat bahwa ternyata hal pokok yang terkait dalam kajian atau penelitian ini adalah konsep estetik sebagai aspirasi kolekstif dan kenyataan yang berlokasi di dalam alam pikiran serta perasaan subjek – yaitu yang hanya bisa diketahui berdasarkan ketarangan para narasumber dan yang tidak mungkin dikuantifikasikan karena bersifat historis dan subjektif -–maka metode penelitian kualitatif dengan dasar-dasar metodologis yang bersifat humanistic-culturalistic dicoba dijalankan. Untuk itu suatu ‘pengamatan berpartisipasi sepenuhnya’ dilakukan dalam penggalian keterangan-keterangan mengenai situasi objektif yang diperlukan. Terutama mengenai keadaan alam pikiran, perasaan, dan produknya (keris), serta perilaku para narasumber dalam suatu tatanan budaya keris. ‘Pengamatan berpartisipasi sepenuhnya’ pada dasarnya dimaksudkan guna mempermudah peneliti untuk memperoleh pengalaman dan pemahaman mengenai keadaan di lapangan yang seasli-aslinya.
Data yang diperoleh selajutnya dianalisa dengan menerapkan penggunaan teori-teori yang dipinjam dari berbagai disiplin ilmu yang sesuai seperti estetika, sejarah, semiotik, serta hermeneutik atau teori menafsirkan teks yang dalam hal ini diangkat dari dunia tradisi. Analisa berdasarkan teori estetika ataupun struktur kerupaan keris sangat diperlukan karena penelitian ini menyangkut data-data mengenai pandangan estetik para narasumber serta wujud keris yang mereka miliki. Selain itu, analisa sejarah diperlukan karena menyangkut variabel yang bersifat diakronik, yaitu pandangan para narasumber sebagai subjek maupun sebagai kelompok yang daplam rentang sejarahnya bisa berubah. Kemudian karena keris meupakan tanda bermakna, maka analisa berdasarkan paradigma strukturalis – dalam hal ini semiotik – juga digunakan untuk memperoleh gambaran yang sebaik-baiknya mengenai sistem tanda keris, sehingga dengan itu akan menjadi lebih mudah mengetahui pemaknaannya. Selain itu, semacam teori hermeneutik yang diangkat dari Serat Tembung Andhupara karangan R. NG.. Suradipura dikembangkan pula menjadi suatu perangkat analisa guna memahami apa yang sebanarnya terjadi dan ada dalam percaturan di dunia keris yang sangat diwarnai dengan dongeng.
Dengan perangkat atau cara analisa semacam itu akhirnya dapat diperoleh suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya keris memang merupakan perwujudan konsep estetik (Jawa: kewangunan) empu dan pengguna keris yang ada di bawah naungan kosmologi Jawa serta norma (Jawa: pakem) atau pengetahuan tentang keris (Jawa: Kawruh paduwungan) yang sama. Jadi hipotesa penelitian ini cenderung terbukti, namun dengan catatan atau koreksi yang selengkapnya dikemukakan di sini adalah bahwa konsep estetik keris atau yang disebut dalam istilah aslinya sebagai kewangunan, merupakan suatu konsep estetik yang diintegrasikan – secara parsial maupun seluruhnya – dengan berbagai tujuan atau orientasi pemilikan keris selain estetik. Suatu tujuan atau orientasi yang bersifat praktis, pragmatis, magis, sosial, historis, filosofis, etis, serta religius-mistis. Konsep estetik atau kewangunan semacam itu adalah yang selanjutnya diwujudkan dalam reka-rupa keris, dan hasilnya berupa bentuk keris yang tersusun dari unsur-unsur kerupaannya seperti dapur, pamor, guwayaning tosan, condong leleh, dan lain-lainnya.
Kemudian perlu dicatat bahwa dari semua data-data yang telah diperoleh, terdapat petunjuk yang secara umum cenderung mengindikasikan adanya suatu stratifikasi sosial budaya yang berpengaruh terhadap orientasi pemilikan keris. Hal tersebut dapat dijadikan dasar untuk menyusun suatu hipotesa baru yang akan membuka peluang bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian di bidang sosiologi seni. Suatu hipotesa yang mengkaitkan stratifikasi sosial budaya dengan pemahaman estetik dalam pemilikan keris.

3. CAECILIA TRIDJATA S.,NIM. 27093005
“Mainan Pendidikan Sebagai Media Ekspresi Kemampuan Kreatif Anak”
Caecilia Tridjata S. Mainan Pendidikan Sebagai Media Ekspresi Kemampuan Kreatif Anak (Studi Korelasi antara Kemampuan Kreatif Bermain Balok Konstruksi dengan Kemampuan Berpikir Kreatif pada Anak Usia Sekolah di SD Tarakanita – Jakarta Selatan). Tesis. Bandung : Fakultas Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung, Agustus 1998.
Hasil suatu survey nasional pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa sistem pendidikan formal di Indonesia pada umumnya masih kurang memberi peluang bagi pengembangan kreativitas. Di sekolah yang terutama dilatih adalah ranah kognitif yang meliputi : pengetahuan, ingatan dan kemampuan berpikir logis dan penalaran. Sementara perkembangan ranah afektif (sikap dan perasaan) dan ranah psikomotorik (keterampilan) serta ranah lainnya kurang diperhatikan dan dikembangkan. Hasil suatu penelitian seorang psikolog Amerika, E.P. Torrance (1974) menyimpulkan bahwa ada indikasi penurunan kemampuan berpikir kreatif pada anak usia 6 tahun, yaitu saat anak masuk kelas satu sekolah dasar.
Dalam rangka mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki anak pada masa pertumbuhannya, khususnya pada masa kanak-kanak hingga usia sekolah maka perlu diperhatikan bagaimana cara anak memanfaatkann mainannya dan bagaimana mainan mempengaruhi dirinya. Hal ini dipandang relevan mengingat naluri anak dalam meningktkan kemampuannya selalu berdasarkan unsur bermain. Disamping itu banyak studi membuktikan bahwa mainan dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan, termasuk pula di dalamnya meningkatkan kemampuan kreatif anak. Melihat kenyataan tersebut, para guru sebagai tokoh yang paling berpengaruh pada anak didiknya khususnya di tingkat pendidikan dasar, hendaknya merasa lebih tertantang untuk membimbing anak didiknya mencapai kemampuan yang optimal.
Pokok permasalahan penelitian ini adalah : apakah ada hubungan antara kemampuan kreatif bermin balok konstruksi dengan kemampuan berpikir kreatif pada anak usia sekolah. Maka penelitian ini mengkaji hubungan di antara beberapa variabel, yakni : kreativitas bermain balok konstruksi, kognitif kreatif (berpikir kreatif), afektif kreatif (perilaku efektif).
Penelitian ini adalah suatu penelitian kasus. Ruang lingkup penelitian hanya meliputi daerah dan subyek yang relatif sempit atau kecil jumlahnya. Subyek penelitian kasus ini sebanyak 29 orang siswa. Mereka adalah anak-anak usia sekolah yang berada pada periode operasional konkret berusia 8 tahun hingga 10 tahun dengan taraf kecerdasan rata-rata (IQ 90-109) hingga taraf superior (IQ 120-139).
Hasil penelitian ini tidak berlaku general melainkan hanya mewakili kelompok anak yang termasuk dalam periode ‘operasional konkret’, khususnya anak-anak usia 8 tahun hingga 10 tahun.
Penelitian ini dilaksanakan di SD Tarakanita I – Jakarta Selatan. Data-data diperoleh dari dokumen, kuesioner, catatan lapangan, hasil pengamatan dan hasil tes yang dilaksanakan oleh peneliti. Instrumen penelitian berupa kuesioner bobot variabel kreativitas bermain balok konstruksi, tes kreativitas yang dibuat oleh tim pakar psikologi dan rancangan tes kreativitas bermain balok konstruksi (perlakuan I dan II) yang dibuat oleh peneliti. Sebelum dipakai instrumen tersebut diuji cobakan dahulu pada studi perlakuan pendahuluan (pra-penelitian).
Hipotesis penelitian yang diajukan 3 buah. Untuk menguji hipotesis. Data yang terkumpul dianalis dengan menggunakan analisis statistik. Korelasi Product Moment (Pearson) dengan taraf signifikansi 5%.
Dengan taraf signifikansi 5% penelitian ini menyimpulkan bahwa : dari 3 buah hipotesis alternatif yang diajukan, 2 hipotesis diterima, sementara 1 hipotesis ditolak. Kedua hipotesis yang diterima adalah :

  • Hipotesis Alternatif I : Pada taraf signifikasi 5% : Korelasi positif antara kemampuan kreatif bermain balok konstruksi pada anak usia sekolah diperlakuan I dan II ada hubungan/dipengaruhi oleh kemampuan berpikir kreatif anak tersebut, sekalipun korelasi positif itu tarafnya cukup saja.

Hasil analisis statistik : r xy atau r o (Tabel 8 a) = 0,400, r t pada t.s 5% = 0,367

  • Hipotesis Alternatif III : Pada taraf signifikasi 5% : Korelasi positif antara kemampuan kreatif bermain balok konstruksi pada anak usia sekolah di perlakuan II ada hubungan/dipengaruhi oleh kemampuan berpikir kreatif anak tersebut, sekalipun korelasi positif itu tarafnya cukup saja

Hasil analisis statistik : r xy atau r o (Tabel 8a) = 0,389, r t pada t.s 5% =0,367

Dengan terbuktinya dua hipotesa alternatif yang diajukan dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa : alat permainan balok konstruksi dapat disetarakan fungsinya dengan media ekspresi lainnya seperti : gambar, lukisan dan patung, sebagai media ekspresi dari kemampuan kreatif anak.
Disarankan perlu diupayakan suatu penelitian lanjut atau penelitian lain yang mengkaji masalah kreativitas seni baik melalui media dwi matra maupun tri matra. Hal ini dipandang sangat penting mengingat sampai saat ini belum ada alat tes kreativitas di bidang seni yang terstandard (baku) bagi anak-anak maupun orang dewasa.