Magister Seni Rupa Angkatan-1991

1. JAJANG S., NIM. 27091005
-ABSTRAK-
Kajian Tentang Raut Wayang Golek Sunda Ditinjau dari Latar Belakang Watak Tokoh
Pada BAB IV TAP MPR No. II/MPR/1988 mengenai Pola Umum Pelita Kelima termaktub :

“… kesenian daerah perlu dipelihara dan dikembangkan untuk melestarikan dan memperkaya keragaman budaya bangsa Indonesia. Bagi para budayawan termasuk seniman yang berprestasi perlu diberikan penghargaan. Tradisi dan hasil-hasil pembangunan yang mempunyai nilai perjuangan bangsa, kebangsaan dan kemanfaatan nasional perlu dipelihara dan dibina untuk menumbuhkan kesadaran sejarah, semangat perjuangan dan cinta tanah air serta memelihara kelestarian budaya dan kesinambungan pembangunan.”
Perhatian Pemerintah terhadap kesenian daerah dalam pelaksanaannya di lapangan baru sebatas perhatian tersurat. Pada kenyataannya, masih banyak kesenian tradisi pada 2-3 dasawarsa ini yang punah tanpa sempat terdokumentasikan secara lengkap. Untuk menyebut penyebab kepunahannya secara pasti, perlu suatu penelitian khusus.
Wayang merupakan salah satu jenis kesenian peninggalan masa lalu yang hingga kini masih hidup dan mendapat dukungan sebagian masyarakat. Wayang banyak jenisnya. Sebagian di antaranya telah punah. Jenis wayang yang masih dikenal namanya, serta tinggalan jenis wayang tersebut masih ada, diantaranya terkumpul di Museum Wayang Jakarta Kota. Jenis-jenis wayang yang masih tumbuh dan didukung oleh masyarakat pencintanya antara lain wayang kulit purwa, wayang golek purwa dan wayang wong. Jenis wayang lain seperti wayang beber, wayang klitik, wayang dangkluk, wayang golek menak, wayang pakuan, wayang dupara, wayang kulit menak, wayang madya dan banyak lagi yang lain, sebagian besar sudah tidak dipertunjukkan lagi (lihat TABEL 2.1). Tetapi di antaranya seperti wayang klitik, belum lama ini (akhir tahun 1994) dicoba “dihidupkan” kembali di daerah Jepara. Begitupun wayang rumput yang unik, pada tanggal 1 September 1995, dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, hasil kerja sama Bentara Budaya Yogyakarta dengan Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda “Karta Pustaka”.

Wayang telah begitu lama tercatat dalam sejarah Nusantara, merupakan hasil karya yang menggambarkan sistem gagasan manusia Indonesia (tentang sistem gagasan, lihat GAMBAR 1.1). Dalam prasasti tembaga (840 M/762 Caka), disebut jenis pekerjaan yang mengandung arti tukang wayang, dalang (aringgit). Begitu pun dalam prasasti Ugracena (896 M), tercatat kelompok kesenian yang disebut parbwayang (pertunjukan wayang) dan dalam prasasti Balitung (907 M/829 Caka) tertera kalimat “Sigaligi mawayang buat Hyang, macarita Bhima Kumara” (nas tebal miring oleh pengutip) (Buku Panduan Pameran Wayang Kulit Koleksi Museum Bali, 1979 : 2). Kata Bhima Kumara bisa dijadikan sebagai kunci bahwa cerita Mahabharata telah dimainkan dalam pertunjukan wayang sejak tahun 907-an Masehi, atau lebih awal. Juga dalam Kakawin Arjunawiwaha yang terkenal, gubahan Mpu Kanwa sekitar abad ke 11, tercatat adanya pertunjukan wayang kulit yang berhasil menggugah penontonnya (Wibisono, 1983 : 59; Mertosedono, 1990: 7; dan LRKN-LIPI, 1986 : 143).
Tentang kehadiran wayang ini di Nusantara< sejumlah ahli dari berbagai latar belakang keilmuan yang berbeda, memperkirakan asal-muasal wayang sambil mengajukan sejumlah bukti yang bisa mendukung perkiraannya. Ada dua kelompok ahli yang memperkirakan secara berbeda tentang asal-muasal wayang: kelompok jawa yang menganggap bahwa wayang adalah hasil olah gagasan asli masyarakat Jawa tanpa bantuan bangsa Hindu (India), dan kelompok India yang beranggapan adanya pengaruh langsung kebudayaan India terhadap lahirnya wayang. Tulisan ini tidak mempersoalkan darimana benih atau akar wayang berasal. Yang menjadi inti persoalan tulisan ini adalah kehadiran wayang sebagaimana adanya saat ini, yang secara pasti menampilkan paduan antara unsur kebudayaan Indonesia asli dengan unsur luar yang pernah mempengaruhi (perjalanan perkembangan) kebudayaan Indonesia.
Cerita wayang mengandung unsur penghormatan terhadap arwah nenek moyang, terbukti dengan berlangsungnya kegiatan Ngruat, ngaruat, yang melengkapi sebuah pertunjukan wayang. Sejumlah atribut (sifat, perlengkapan) kedewaan, seperti kesaktian, ciri jasmani, dan senjata yang melengkapi tokoh-tokoh wayang bersumber dari cerita wayang yang utama yaitu Mahabharata atau Ramayana. Raut wayang yang menampakkan hasil pergayaan dan pemiuhan raut manusia tidak bisa terlepas dari usaha para wali yang secara penuh perhatian memanfaatkan wayang untuk keperluan pendidikan umat. Persitindakan nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia secara sinambung terus berlangsung dan memperkaya ragam wayang. Munculnya jenis wayang wahyu yang digunakan untuk menyebarkan agama Kristen, juga lahirnya wayang Pancasila untuk keperluan propaganda pembangunan, serta lahirnya aneka jenis wayang baru, merupakan bukti lain yang menggambarkan kesinambungan budaya Indonesia.
Wayang golek purwa mulai lahir di Priangan secara pasti ada kaitan langsung dengan wayang golek menak Cirebon yang biasa disebut wayang golek papak atau golek cepak. Tetapi, kaitan tersebut hanya sebatas kesamaan raut golek yang trimatra, unsur cerita golek yang secara langsung akan menentukan raut tokoh golek, sama sekali berbeda. Golek menak bercerita tentang Wong Agung Menak, Raja Menak atau Amir Ambyah, yang berunsur cerita Islam, sedangkan golek purwa tentang cerita yang bersumber dari agama Hindu, yaitu Mahabharata dan Ramayana.
Golek, sebutan khusus untuk mmenyebut wayang golek purwa sesuai dengan yang biasa disebut oleh kebanyakan masyarakat Sunda, adalah wayang dengan latar belakang cerita Mahabharata dan Ramayana. Jenis wayang trimatra ini merupakan hasil paduan antara gagasan Dalem Karang Anyar, pada akhir masa jabatannya sebagai Bupati Kabupaten Bandung tahun 1840-an, dengan Ki Darman seorang juru wayang kulit asal Tegal yang tinggal di Cibiru, Kabupaten Bandung. Pada awalnya, hasil ciptaan Ki Darman berupa golek gepeng meniru pola raut wayang kulit (Somantri, 1989: (). Dalem Karang Anyar (Wiranata Koesoemah III) berperan menyempurnakan raut golek awal itu hingga bulat-torak seperti yang ada pada masa kini.
Keturunan Ki Darman sampai kini masih terus menghidupkan kegiatan pembuatan golek. Tersebarnya pusat kegiatan pembuatan golek di kawasan Jawa Barat, seperti di Jelekong, Ciparay, Salacau, Cimareme, Sukabumi, Bogor, Karawang, Indramayu, Cirebon, Garut, Ciamis, dan di tempat lainnya, ditunjang oleh keturunan dan murid-murid Ki Darman yang mengembangkan kegiatannya di luar Cibiru.
Cibiru tetap sebagai “kiblat” pembuatan golek yang melahirkan gaya Cibiruan. Selanjutnya, Giriharja (kelompok dalang keluarga yang tinggal di Jelekong dan Ciparay) pun menjadi “kiblat” kedua, yang melahirkan gaya Giriharjaan, terutama setelah “Gebrakan Tahun 1980-an”. “gebrakan”, seperti yang disebut oleh kelompok Giriharja yang dimotori dalang Ade Kosasih Sunarya ini adalah upaya para dalang Giriharja dalam menghadirkan pola dan isi pertunjukan golek yang berbeda dengan pola pertunjukan yang telah mapan tetapi mulai kurang disukai masyarakat pada saat itu. Gaya Giriharjaan tetap menginduk gaya Cibiruan, tetapi dengan memperketat upaya meniru setepat-tepatnya ciri-ciri raut yang ada dalam wayang kulit. Dalam gaya Cibiruan yang asli pun muncul usaha baru yang dimotori M. Duyeh, untuk mencoba menyempurnakan raut golek Cibiruan yang ramping menjadi raut yang lebih membulat, serta menambahkan pola hias bunga dengan warna meriah. Gaya Cibiruan yang asli dan Giriharjaan dianggap oleh M. Duyeh kurang menampilkan ciri Jawa Barat, dan hanya sebagai pengekor wayang kulit.
Objek Penelitian ini adalah golek dengan cerita Mahabharata (alat pengumpul data dan alur kegiatan penelitian bisa dilihat pada BAGAN 1.2 dan BAGAN 1.3). Cerita ini lebih akrab dengan masyarakat Sunda daripada cerita Ramayana, karena dalam setiap pertunjukan golek, cerita Mahabharata lebih banyak ditampilkan daripada cerita Ramayana.
Wayang kulit purwa sudah banyak dibahas orang. Sejumlah buku yang mengupas sejarah, asal-muasal, ciri-ciri, jenis, raut, cara pembuatan dan segala hal yang berkaitan dengan wayang kulit, bisa dengan mudah didapatkan di toko buku maupun di perpustakaan. Sebaliknya, buku yang membahas golek (purwa maupun menak), begitupun tulisan atau kupasan yang ditampilkan dalam media massa, sulit didapatkan. Perpustakaan Negeri Jawa Barat, Perpustakaan Museum Sri Baduga Jawa Barat, Perpustakaan Museum Wayang Jakarta Kota, juga perpustakaan pusat pada perguruan-perguruan tinggi negeri di Bandung, belum memiliki buku yang khusus membahas golek.Pada Perpustakaan Negeri Jawa Barat hanya ada dua judul buku yang membahas wayang golek purwa, tetapi dengan bahasab selintas, yaitu buku Pedalangan (1986, 2 julid) karya Mas Adung Salmun, dan Pagelaran Wayang Golek Purwa Gaya Priangan (1984) tulisan Atik Soepadi. Buku hasil tulisan Mas Adung Salmun tersimpan pula pada bagian perpustakaan Museum Jawa Barat. Perpustakaan Jurusan Seni Murni dan Desain, Institut Teknologi Bandung, cuma memiliki sebuah laporan hasil penelitian tahun 1968 tentang wayang golek Sunda yang disusun Djauhari Sutarman. Kenyataan tadi menjadi tantangan bagi penulis untuk menambah dan mengisi kekosongan tersebut melalui penelitian ini.
Golek, seperti juga wayang jenis lainnya, merupakan alat komunikasi yang lengkap, yaitu alat komunikasi pandang dengar, yang telah akrab sejak lama dengan masyarakat pendukungnya. Aneka tuntutan dikemas dalam tuturan para dalang. Semua jenis wayang, sejak awal berfungsi sebagai wahana penyampaian tuntutan disamping sebagai tontonan. Oleh karena itu, para penonton pertunjukan golek bisa menikmati dua sajian; sajian yang berupa nilai-nilai (melalui tuntunan) dan hiburan (melalui tontonan).
Bonek Golek baru dunikmati sebagai alat perupaan cerita. Raut golek yang secara visual melambangkan watak para tokoh cerit, belum bisa dinikmati oleh semua pecinta golek. Hanya segolongan orang tertentu saja yang bisa menikmatinya. Sikap Kepala, warna wajah, pola garis alis, pola mata, pola hidung, pola garis kumis, dan pola mulut, pada dasarnya menunjukkan watak dan ciri golongan golek tertentu. Lebih khusus lagi, watak dan ciri golongan golek tadi ditampilkan dalam keutuhan rautnya (lihat Gambar 1.2).
Raut golek bisa dipilah berdasarkan :

  • peranan tokoh (raut peranan, golongan satria, ponggawa buta dan panakawan)
  • tampang tokoh (raut tampang : seperti Arjuna, Gatot Kaca, Arimba dan Semar)
  • wanda tokoh (raut Wanda yaitu raut peranan dan raut tampang yang secara khusus menggambarkan suasana hati, keadaan jasmani, atau lingkungan tokoh tertentu yang populer, banyak ditampilkan dalam aneka cerita).

Wanda bukan hanya sebatas raut yang bisa dicerap secara visual. Wanda mengandung arti menyeluruh, yang menunjukkan suasana hati, keadaan fisik dan lingkungan tokoh golek. Secara visual ciri-ciri wanda bisa dilihat dalam unsur-unsur raut golek. Para juru golek mengolah unsur visual menjadi raut golek yang menunjukkan wanda tertentu. Golek ini hanya digunakan oleh dalang dalam lingkungan cerita khusus saja. Tampilan golek ketika dimainkan dalang dihidupkan dengan antawacana dan sabetan yang sejalan dengan wanda golek tersebut, juga dilengkapi gending dan kawih pengiring. Penikmatan golek yang utuh hanya bisa dilakukan pada tampilan ini (lihat BAGAN 3.1 dan BAGAn 5.1).
Raut golek pada dasarnya sudah ditentukan dalam pakem. Juru golek harus mengikuti aturan-aturan pola raut wayang yang telah disepakati dan diakui dalam dunia perwayangan. Pakem pembuatan golek yang menginduk pada pakem wayang kulit, pada kenyataannya mengatur raut secara umum. Misalnya, bagaimana raut satria Puntadewa, ponggawa Dursasana, Putri Srikandi, panakawan Semar dan buta Arimba. Tetapi, juru golek bisa saja mengikutsertakan sejumlah ciri sesuai dengan keinginan pribadinya, sejauh ikatan pakem tetap dipertahankan. Walaupun aturan raut sudah mengadat, terpola, dan pasti, namun sulit bagi kita untuk mendapatkan yang tersurat tentang pembuatan golek.
Arah kecenderungan penggunaan ciri raut yang ditampilkan para juru golek dalam karyanya, bisa dijadikan satu gambaran pasti tentang pakem. Untuk mendapatkan rumusan pakem raut yang lengkap, terutama diperlukan pemeriksaan karya para juru golek. Sejumlah ciri raut yang menunjukkan kesamaan dianggap sebagai dasar pakem. Ciri lain di luar kesamaan tersebut, bisa dianggap sebagai unsur tambahan, hiasan, atau ciri pribadi juru golek. Dengan demikian, penelitian ini lebih bersifat mengumpulkan data mengenai pakem pembuatan golek berdasarkan pengkajian unusr-unsur raut ditinjau dari latar belakang watak tokoh, yang pada akhirnya diharapkan bisa dibahas dari segi estetika.
Pakem bisa disebuit sebagai gambaran sistem gagasan. Sistem gagasan ini merupakan sumber gagasan mendasar yang mempengaruhi unsur simbolis dan estetis pada golek. Pertimbangan nilai simbolis dan estetis ditampilkan dalam unsur-unsur visual raut golek. Nilai simbolis tampaknya lebih diutamakan daripada nilai estetis. Dalam pembuatan raut golek nilai simbolis dipenuhi lebih dahulu, baru pertimbangan estetis melengkapinya (Duyeh, 1995 ; Prijatna, 1995; lihat juga GAMBAR 1.3). Oleh karena itu, golek adalah merupakan susunan unsur visual untuk dilihat. Sambil melihat, pemerhati golek atau penonton bisa mengerti suatu makna tertentu, karena golek memiliki nilai nonfisik di samping nilai fisik.
Seperti dalam patokan estetika umum, suatu benda seni rupa trimatra yang dianggap memiliki nilai estetis, bisa dijelaskan berdasarkan susunan unsur-unsur seperti garis, bidang, barik, warna, terang gelap, dan proporsi yang bersifat estetis. Pakem raut golek mengatur persyaratan raut tokoh golek yang ideal sesuai dengan latar belakang sistem gagasan yang disepakati masyarakat pendukungnya melalui bahasa rupa.
Pendekatan estetis Barat yang mengacu ideal Yunani dan Romawi tidak akan bisa diterapkan secara tepat dalam mengkaji unsur estetis yang terkandung dalam raut golek. Dalam tulisan ini, pendekatan estetis dimaksudkan sebagai pendekatan yang mengacu kepada aturan-aturan pakem pembuatan golek dalam hubunagnnya dengan pertimbangan-pertimbangan estetis. Bagi orang Indonesia, terutama orang Jawa dan Sunda, raut golek bisa dikatakan estetis bila semua unsur rautnya, seperti tunduk-tengadah kepala, warna wajah, pola alis, pola mata, pola hidung, pola kumis dan pola mulut, tetap mengacu satu kesatuan yang taat-pakem, mengikuti aturan pakem pembuatan dan cerita golek.
Kata Indah diterapkan pada raut golek yang menunjukkan suatu nilai fisik dan nonfisik yang tampil melalui unsur-unsur seni rupa tertentu. Misalnya, sebuah golek yang menggambarkan peranan tokoh buta dikatakan indah karena unsur0unsur raut yang menyertai buta tersebut menunjukkan keutuhan gambaran tokoh raksasa yang ebrwatak buruk, garang, menakutkan dan serakah. Keberhasilan menggambarkan karakter buta dan segala cirinya melalui susunan unsur raut yang demikian utuh sehingga bisa disebut indah, dapat dilihat dan dirasakan memancarkan pengaruh tertentu kepada pengamat. Pengaruh tersebut sulit dijabarkan secara lengkap dalam kata-kata, karena nilai keindahan terlalu mujarad, tidak selalu menunjukkan ukuran yang pasti bagi semua orang. Mungkin raut tokoh Arjuna lebih mudah disebut indah oleh banyak orang, sedangkan buta dengan segala ciri rautnya yang menyeramkan, secara pasti sulit untuk disebut indah.
Raut golek umumnya tidak menampakkan nilai “estetis” (versi Barat). Pergayaan dan pemiuhan bidang dalam raut golek cenderung lebih mementingkan penyampaian tujuan perlambangan. Nilai ideal dalam golek adalah penggambaran (bayangan) manusia sebenarnya, seadanya : menampilkan watak yang mewakili tokoh tertentu. Sekalipun tokoh raja yang digambarkan sebagai tokoh sakti, pada saat tertentu bisa kalah dan bisa salah. Berbeda dengan ideal Yunani dan Romawi yang menjadi dasar estetis Barat, nilai idealnya menuntut penggambaran manusia sempurna sehingga melahirkan kaidah hukum anatomi.
Pada kenyataannya, semua jru golek yang menjadi narasumber penelitian ini memiliki ikatan yang erat dengan aturan yanga da dalam pakem. Raut golek buatan mereka menunjukkan keseragaman penggunaan ciri pakem, khususnya dalam pembuatan raut tokoh golek utama. Unsur-unsur raut yang mereka gunakan, walaupun dengan penyebutan istilah yang agak berbeda, tetap menunjuk hal yang sama. Misalnya, dari lima orang dalang dan enam orang juru golek, 4 narasumber menyebut mata golek satria dengan sebutan mata sipit, mata gubahan (5) dan mata jaitan atau mata tulis (2) (lihat lampiran). Bagian hiasan dan pakaian golek tidak termasuk unsur raut yang diatur oleh pakem. Para juru golek memiliki kebebasan dalam mennentukan penggunaan hiasan dan pakaian tokoh golek. Hal ini berbeda dengan yang dipegang para juru wayang kulit: pada wayang kulit, hiasan dan pakaian merupakan bagian yang terikat ketat oleh aturan pakem.
Untuk menggambarkan watak tokoh golek satria santun, lemah lembut dan jujur, ditampilkan dalam sikap kepala golek yang menunduk dengan memperpanjang leher, warna wajah putih, alis tulis, mata sipit, hidung mancrit bangir, tanpa kumis, dilengkapi mulut luwes. Tokoh golek ponggawa yang gagah, sembada, digambarkan dalam ukuran tubuh golek yang tinggi-kekar, alis ageung yang dilengkapi rerengon (kerut dahi), mata kedondong, hidung bangir, kumis turih, serta mulut ageung lebar.
Tokoh-tokoh golek yang berwatak garang, pemarah, tamak dan watak jelek lainnya, digambarkan dengan warna wajah merah : kualitas warna merah disesuaikan dengan tingkat keburukan watak tokoh (penggunaan warna sebagai lambang, sebagai bahan perbandingan, bisa dilihat pada GAMBAR 3.9-3.11), sikap kepala tengadah, alis tebal dengan rerengon turih, mata melotot, hidung besar, kumis turih serta mulut menyeringai (gusen, dan sebagian bertaring). Tokoh buta yang menggambarkan individu abnormal, ditampilkan dengan unsur raut yang berlebihan ukurannya. Warna wajah merah, alis ageung dengan rerengon bertingkat, mata melotot berbiji mata warna merah, hidung medang, nyanthik palwa, gendul (dan jenis hidung “aneh” lainnya), kumis turih besar, serta mulut cewaw gusen lengkap dengan taring yang mencuat. Tokoh golek panakawan Pandawa (Semar, Cepot, Dewala dan Gareng) digambarkan dengan raut yang jenaka, sesuai kelucuan watak dasar mereka. Keempatnya tidak bisa disegolongkan untuk menyebut ciri umum kelompok panakawan Pandawa ini, karena masing-masing memiliki ciri khas.
Sejumlah raut tampang tokoh golek buta panakawan kini banyak ditemukan dalam setiap kali pementasan golek. Menampilkan buta panakawan pada setiap pagelaran merupakan kecenderungan baru. Hiburan, tampaknya semakin dibutuhkan oleh masyarakat. Tokoh-tokoh buta panakawan yang digunakan untuk menampilkan acara sisipan berupa banyolan, dagelan, lelucon, kehadirannya selalu mendapat sambutan penonton golek. Sejak awal penciptaannya tujuan pembuatan raut-peranan golek buta panakawan ini untuk keperluan heureuy (bermain-main, hiburan). Oleh karena itu, tokoh-tokoh yang ditampilkan lepas dari ikatan pakem, bahkan sama sekali tidak bisa ditelusuri darimana sumbernya. Raut golek buta panakawan ini tidak termasuk ke dalam pertimbangan kajian dalam tulisan ini, karena kehadirannya hanya dianggap sebagai sebuah gejala sosial yang muncul sewaktu-waktu saja.

2. NOORYAN BAHARI, NIM. 27091001
-ABSTRAK-
Pelapukan Kayu Sebagai Sumber Inspirasi
Dalam Penciptaan Karya Seni Rupa Dengan Bahan Kertas.
Memanfaatkan Karakteristik Kertas Buatan Tangan untuk Menampilkan Nilai-nilai Seni Rupa

NOORYAN BAHARI. Pelapukan Kayu Sebagai Sumber Inspirasi dalam Penciptaan Karya Seni Rupa dengan Bahan Kertas, sub judul : Memanfaatkan Karakteristik Kertas Buatan Tangan untuk Menampilkan Nilai-Nilai Seni Rupa. Laporan Proyrk Tugas Akhir. Bandung : Program Pascasarjana Institut Teknologi Bandung, Juli 1993.
Latar Belakang masalah Pelapukan Kayu sebagai Sumber Inspirasi danam Penciptaan Karya Seni Rupa dengan Bahan Kertas adalah adanya suatu anggapan penulis bahwa penciptaan karya seni merupakan sikap, penegrtian dan tanggapan terhadap aspek kehidupan yang melingkupinya. Karya seni yang diciptakan dapat merupakan ranggapan terhadap manusia, alam dan lingkungan.
Dasar pemikiran penciptaan karya adalah mengacu pada sikap tanggap penulis terhadap manusia, alam dan lingkungan,melalui perhatian terhadap pelapukan kayu pada khususnya. Hal ini disebabkan ketertarikan penulis pada keindahan wujud batang kayu lapuk yang kaya tekstur alami dengan susunan yang tampak tidak berarturan, tetapi masih terlihat teratur sesuai dengan struktur serat batang pohon yang searah. Kayu adalah benda yang mempunyai pengertian pohon yang batang-batangnya keras; bagian batang (cabang, dahan) pokok yang keras.
Sebagai benda hidup, pohon merupakan organisme yang merupakan bagian ekosistem yang berinteraksi dengan lingkungannya dan secara lamiah (otomatis) mengakibatkan keseimbangan yang dinamis.
Kertas buatan tangan dipilih sebagai media penciptaan karya seni rupa karena wujudnya masih menampakkan serat-serat alami denganm demikian telah mengandung unsur-unsur estetis. Tujuan yang ingin dicapai adalah menciptakan karya seni rupa dengan bahan kertas, yang menampilkan unsur-unsur seperti tekstur, garis, bidang, warna dan sosok gumpal (relief), yang disusun dalam satu kesatuan guna menghasilkan bentuk batu yang bermutu seni. Olahan bahan tersebut diharapkan dapat menghadirkan kesan yang dinamis sekaligus bersifat harmonis dan lebih jauh ingin mencerminkan konsep yang menyatakan bahwa hubungan manusia dengan alam harus seimbang dan selaras.
Metodologi yang dipergunakan adalah metode eksperimental dalam membuat kertas dengan tangan sebagai bahan atau media untuk kemudian mencari pendekatan estetik dalam pembentukan kertas guna menciptakan suatu karya seni.
Maksud metode eksperimen disini adalah percobaan membuat kertas dengan tangan dari beberapa baha,n mentah yang berbeda, seperti batang padi (oryza sativa), kulit batang pohon pisang (musa paradisiaca), daun pohon enau (arenga pinnata), batang alang-alang (imperata cylindrica) dan kertas bekas.
Lembaran-lembaran kertas yang dihasilakan disusun (dengan cara yang bebas) melalui pendekatan estetik. Hal ini diharapkan menghasilkan suatu perbandingan dari sifat masing-masing lembaran kertas karena perbedaan tekstur serat-seratnya dan disusun dengan cara atau pertimbangan berbeda, guna menghasilkan suatu karya.
Analisa karya menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu dengan cara mendeskripsikan karya secara keseluruhan untuk mendapatkan pemahaman seobyektif mungkin dengan dilengkapi data teknisnya, menafsirkan karya, menyatakan nilai karya dengan pendekatan estetika dan semiotika. Sebagai pelengkap disertakan analisa hasil pengujian kekuatan dan derajat putih kertas buatan tangan pada karya, yang telah dilaksanakan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Selulosa Bandung,
Ide penciptaan dilandasi pengalaman visual di lingkungan alam kemudian dirumuskan menjadi konsep, seperti ketertarikan terhadap keindahan tekstur yang tampak pada kulit pohon dan kayu yang lapuk.
Proses kreasi seni manusia merupakan proses perluasan alami. Keanekaragaman bentuk yang diciptakan adalah merupakan hasil paduan dari beberapa unsur dasar, dan hasilnya akan tampak bagus jika dalam keadaan seimbang. Hal ini disebabkan adanya kebutuhan proporsi yang tepat seperti pada keberhasilan struktur alam dalam mencapai keseimbangannya.
Secara visual, bentuk-bentuk atau soso gumpal yang dihadirkan dalam karya adalah bertekstur, bergelombang dan timbul seperti relief. Hal ini melawan pengalaman sehari-hari dimana kertas dalam bentuk lembaran adalah datar dan licin sehingga dapat digunakan sebagai alas menulis, menggambra dan mencetak.
Unsur tambahan seperti benang yang selama ini dikenal untuk menjilid buku, disini fungsinya diubah, dihadirkan sebagai unsur garis untuk menggantikan bentuk garis yang biasanya merupakan hasil dari goresn pena, pinsil dan kwas.
Garis dapat disebut aktif seakan-akan merupakan kekuatan yang bergerak, dan garis dapat pula bersifat tak aktif seperti batas semu antara dua sosok gumpal; ruang, antara warna dengan warna.
Garis vertikal dan horisontal yang bersilang dalam karya yang dibuat dengan benang atau kertas transparan dimaksudkan untuk menghadirkan unsur yang teratur supaya mengimbangi sifat tidak beraturan dari tekstur, sebagai unsur kontras, sehingga kedua sifat saling menonjolkan. Selain itu, kehadiran garis tersebut akan mempersatukan bagian-bagian yang belum diintegrasikan dalam bidang karya.
Penempatan garis yang bersilang tidak tepat di tengah-tengah bidang karya (porosnya), untuk menghindari kesan formal atau resmi. Persilangan tersebut menimbulkan pemusatan pada titik persimpangan dan diharapkan dapat menghadirkan masalah perbandingan (proporsi) antara bidang di sebelah kiri dan kanannya, bidang sisi atas dan bawah serta bidang-bidang tersebut dengan bidang karya secara keseluruhan.
Pembagian bidang karya yang tidak sama antara atas dan bawah, kiri dan kanan, dimaksudkan untuk menghadirkan gaya berat yang berbeda, sehingga mengakibatkan kesan dinamis pada karya (dan sekaligus bersifat harmonis).
Warna-warna yng digunakan diperoleh secara alami dari warna-warna bahan mentah pokok untuk membuat kertas, yaitu warna putih, krem (kuning gading), nada warna kuning kecoklat-coklatan dan coklat, dimaksudkan memberi kesan lembut dan netral untuk mengimbangi sifat kacau dari tekstur.
Hasil akhir pelaksanaan Proyek Akhir menunjukkan karakteristik kertas buatan tangan dapat dimanfaatkan sebagai media untuk menampilkan nilai-nilai seni rupa, karena wujudnya masih menampakkan serat-serat alami dan kertas tersebut dapat dihadirkan secara utuh sebagai bahan yang telah mengandung unsur-unsur estetis (paper art).
Unsur garis lurus vertikal pada karya secara kualitas menunjukkan kekokohan, kekuatan dan kestabilan; garis lurus horisontal memperlihatkan ketenangan, kedamaian dan keluasan; garis diagonal menandakan dalam keadaan tidak seimbang sehingga memberi kesan bergerak, hidup dan dinamis; garis lengkung menyiratkan keluwesan dan kelincahan. Tekstur pada karya kualitasnya menunjukkan sifat kasar, keras, kasap dan sekaligus bersifat halus serta lembut.
Warna putih pada karya secara qualisign menunjukkan sesuatu yang terang, ringan, bersih dan netral; warna krem (kuning gading) menandakan sedikit kehangatan dan keramhan; nada warna kuning kecoklat-coklatan memperlihatkan kelapukan, kuno, rapuh dan usang. Hasil akhir dari karya yang telah dibuat merupakan hasil dari penambahan-penambahan maupuin pengurangan-pengurangan dari ide atau gagasan semula, karena pada saat proses berkarya sedang berlangsung, terjadi pengembangan ide atau gagasan.
Sebagian besar karya yang telah dibuat pada Proyek Tugas Akhir ini telah menggambarkan kesan dinamis dan sekaligus harmonis sesuai dengan gagasan atau ide penciptaan.
Karya-karya yang dibuat cenderung terbuka bagi interpretasi, karena setiap orang yang melihat akan menggunakan persepsinya masing-masing, yang dipengaruhi faktor pengalaman (experience) dan faktor intelektualitas (intelligence).