Magister Seni Rupa Angkatan 2004

1. NADYA SAVITRI, NIM. 27004007
In the realm of object’s

Dunia kebendaan sebagai salah satu bagian terdekat dari kehidupan manusia secara tidak disadari mempengaruhi proses pembentukan identitas manusia. Hal itu dipengaruhi bagaimana kita terbiasa berhadapan dengan benda-benda di sekeliling kita. Manusia dalam proses pembentukan identitas dirinya membutuhkan beberapa perangkat, salah satunya perangkat yang kita kenal adalah bahasa, baik lisan dalam bentuk suara, non lisan dalam bentuk gerak, maupun tulisan dalam bentuk kode-kode dan simbol. Perangkat ini menjadi salah satu sarana berkomunikasi dan berinteraksi.
Perangkat lainnya yang berfungsi seperti bahasa adalah benda-benda. Seperti juga bahasa Benda-benda tersebut sebenarnya memiliki tata acuan dan konvensi. Tata acuan tersebut bisa dalam bentuk taksonomi benda. Tata acuan dan konvensi tersebut bisa pula bersifat hirarkis, seperti bahwa benda-benda dalam penggunaanya terdapat aturan-aturan tidak tertulis yang memperuntukaan penggunanya dari kalangan ekonomi tertentu. Artinya untuk berinteraksi dan mempergunakan benda dibutuhkan pemahaman akan tata acuan dan konvensi tersebut. Benda-benda kemudian tidak hanya dilihat hanya memiliki aspek fungsional tapi juga aspek simbolik.
Salah satu bagian dari identitas diri manusia adalah identitas gender. Identitas ini kemudian dikondisikan salah satunya melaui penggunaan dan pemahaman akan makna kegunaan benda-benda yang dipergunakan sehari-hari. Kondisi- kondisi seperti ini kemudian menghasilkan benda-benda yang distereotipekan untuk jenis kelamin tertentu dengan bentuk-bentuk dan sifat material yang khas.
Pada karya Proyek Akhir ini, fenomena ini oleh penulis digunakan sebagai stimuli dalam berkarya. Penulis tertarik untuk meninjau ulang seberapa jauh stereotipe gender yang dilabelkan kepada benda-benda yang merupakan sebuah konstruksi, dengan menyelami kemungkinan- kemungkinan dari berbagai macam aspek makna simbolik dari benda-benda yang distereotipekan untuk gender tertentu tersebut.
Kata kunci : Dunia benda, benda, identitas, stereotipe gender, interpretasi ulang.

2. M. A. Rahim, NIM. 27004005
Relartivity ( Batik Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Rupa Kontemporer )

Relativitas dalam seni rupa, lebih khusus Seni Rupa Kontemporer,terlegitimasi dengan konsep yang digemborkan di dalam perkembangan wacananya yang mengutamakan dan mendukung perbedaan dan keberagaman dengan menunjukkan karakter pluralistik, eklektisitas serta keterbukaan dalam proses bagi semua kemungkinan kreatif, yang akhirnya menunjukkan pula bahwa segalanya dapat menjadi alternatif. Adalah terdapat linierisasi konsep dengan ‘Seni Rupa Tradisional’ ( Indonesia ) yang tidak mengenal perbedaan antara hasil ciptaan yang, di dalam wacana ( seni rupa ) modern, umum disebut seni murni ( art ), desain ( design ) atau kriya ( craft ). Batik sebagai salah-satu idiom ‘seni rupa tradisional’ yang telah dianggap dapat menegaskan identitas tertentu ( dalam hal ini ‘ ke-nasional-an’ atau ‘ke-etnik-an’ ) dijadikan media utama berkarya berdasar pemahaman tentang konsep eklektik, yaitu dengan menggabungkannya secara konseptual dan praktikal dengan idiom seni rupa modern beserta turunannya. Seni yang mana proses, hasil, wujud serta apresiasinya menunjukkan keberagaman nyatanya memang tidak mudah ditentukan aspek kebaruan apalagi kebenaran mutlaknya, karenanya secara ekstrim dapat dirangkum dalam satu konsep yang—seperti dilakukan dalam Proyek Tugas Akhir ini sebagai tema-judul—sejauh ini dianggap tepat, yaitu ‘Realtivitas’. Sebagai satu konsep yang mengutamakan keterbukaan akan sudut-pandang yang beragam dalam menghargai kebebasan proses kreatif, relativitas, merupakan basis utama prinsip pluralis. Pengulangan, atau pembacaan ulang, sejarah/ masa lalu pun menjadi dimungkinkan dalam rangka menjadi subject matter ‘pembicaraan’ di masa kini serta sumber inspirasi bagi masa depan. Untuk mendukung perwujudan konsep ( perbedaan-keberagaman-pengulangan-relativitas ) tersebut di atas secara visual dibuatlah unsur repetitif pada natar karya yang diciptakan. Penggunaan metode dengan pendekatan ekplorasi-eksperimentasi dianggap tepat demi keterbukaan alternatif proses-wujud kreativitas. Diharapkan kegiatan eksperimen ini memberi kontribusi praktikal dan konseptual dalam perhelatan seni rupa di Indonesia sesuai perkembangannya.

3. A. Erwan Suryanegara, NIM 27004008
“ARTEFAK PURBA DARI PASEMAH”
NALISA UNGKAP RUPA PATUNG MEGALITIK DI PASEMAH

Peninggalan budaya prasejarah khususnya tradisi megalitik banyak ditemukan di dataran tinggi Pasemah. Temuan artefak megalitik yang tersebar di Pasemah ini beragam jenisnya, dan patung megalitik merupakan satu jenis temuan di Pasemah yang terbanyak jumlah satuannya. Namun sampai sekarang informasi tentang artefak purba di Pasemah ini masih sangat langka, baik dalam bentuk data visual maupun yang berupa tulisan. Oleh karena itu maka pendeskripsian dan pendokumentasian tentang bagaimana keberadaan, perupaan, objek, gaya ekspresi, simbol, dan atribut, termasuk juga nilai-nilai yang melingkupi patung megalitik di Pasemah itu perlu dilakukan melalui penelitian ini. Patung megalitik Pasemah belum pernah diteliti dan dikaji dengan keilmuan seni rupa, karenanya penelitian ungkap rupa atas patung megalitik di Pasemah ini menjadi penting dan harus segera dilakukan, penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan multidisiplin Dari hasil penelitian ini diketahui, bahwa manusia pendukung budaya megalitik di Pasemah cenderung sudah mengenal dan bahkan sudah memanfaatkan alat kerja dari bahan logam (perunggu). Mereka sudah memiliki kemampuan yang baik dalam memahat patung dari batu besar jenis batuan andesit, dengan sudut yang tajam juga runcing. Patung megalitik Pasemah secara perupaan wujud fisiknya tampak bersifat dinamis-piktorial dengan gaya ekspresi yang cenderung realistik, tidak mengenal adanya pengulangan bentuk yang sama atau disebut sebagai “tunggal-jamak”, memiliki sikap tubuh yang cenderung condong ke depan, kepala atau wajah sedikit menengadah, dan kaki selalu ditekuk atau dilipat. Sosok objek yang divisualkan cenderung jamak berupa manusia ras austronesoid dan binatang, serta dilengkapi pula dengan simbol maupun atribut. Berdasarkan ungkap rupa simboliknya diketahui, bahwa patung tersebut adalah representasi dari arwah nenek moyang sesuai kosmologi masyarakat Pasemah di kala itu, dan sebagai bagian tidak terpisahkan dari upacara maupun ritual mistis dalam rangka pemujaan terhadap arwah leluhur. Ciri khas patung megalitik Pasemah adalah pada gaya perupaannya yang bersifat dinamis-piktorial dan cenderung realistik, merupakan karya patung megalitik terbaik di zamannya khususnya yang berada di wilayah Pasemah, karena telah memvisualkan seluruh anggota badan (kepala, badan, kaki, dan tangan) dari sosok objeknya secara lengkap, baik berupa manusia dengan tipe ras austronesoid maupun binatang. Patung-patung megalitik Pasemah juga merepresentasikan suatu masyarakat yang berbudaya mistis – agraris dengan pola peladang, dan berjiwa patriotik.
Kata kunci:Pasemah, prasejarah, megalitik, budaya megalitik, patung megalitik, ungkap rupa.

4. Alpha Febrianto, NIM: 24004004
PENGARUH LINGKUNGAN SOSIAL TERHADAP BAHASA RUPA DAN OBJEK GAMBAR KARYA ANAK-ANAK KAMPUNG DI KOTA BANDUNG

Permasalahan utama dalam tesis ini adalah pengkajian pengaruh lingkungan sosial terhadap bahasa rupa anak dan objek gambar dalam karya anak-anak kampung kota di Kota Bandung. Kampung kota merupakan daerah-daerah hunian padat penduduk yang saat ini menjadi sebuah ciri khas kota-kota besar di negara dunia ketiga. Fenonema umum yang terjadi dalam kota adalah heterogenitas manusia dan budayanya. Dalam keragaman tersebut kemudian muncul pola yang didukung oleh masyarakat yang kemudian menjadi sebuah budaya bersama. Kebudayaan kemiskinan merupakan sebuah pola kehidupan yang didukung oleh masyarakat kampung kota, terlepas dari keragaman tingkat kesejahteraan penduduknya. Kebudayaan kemiskinan ditandai dengan praktek ekonomi subsistensi, bentuk hunian yang padat, kekurangpedulian terhadap pendidikan tinggi serta pengetahuan umum. Kebudayaan kemiskinan inilah yang diasumsikan membentuk pola bahasa rupa dan objek gambar anak-anak kampung kota sebagaimana kebudayaan selalu mempengaruhi kehidupan individu.Penelitian diawali dengan pendalaman materi yang berhubungan dengan pokok permasalahan yaitu teori-teori bahasa rupa, pengaruh lingkungan terhadap perkembangan gambar anak, kebudayaan kemiskinan dan masyarakat perkotaan, serta pembacaan makna gambar anak.
Gambar anak yang diteliti adalah gambar representatif yang dikumpulkan dari kegiatan menggambar yang diadakan di tiga daerah kampung kota di Kota Bandung. Tiga daerah tersebut adalah Kampung Babakan Irigasi, Kampung Kebon Gedang dan Kampung Pelesiran. Dari kegiatan menggambar tersebut terkumpul 122 karya yang dijadikan sampel penelitian.Analisa dimulai dengan menguraikan satu persatu bahasa rupa dan objek gambar karya anak-anak kampung kota. Analisa disajikan dalam bentuk tabulasi dan uraian korelasi guna melihat pola yang ada dari keseluruhan sampel. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan makna gambar anak melalui pendekatan psikologis. Hasil pembacaan makna tersebut kemudian dikorelasikan dengan analisa keadaan lingkungan sosial budaya di kampung kota.Hasil yang diperoleh adalah interpretasi makna gambar karya anak-anak kampung kota yang dikorelasikan dengan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi perkembangan pemikiran serta psikologis anak-anak tersebut. Hubungan yang terlihat pada umumnya terkait dengan faktor kekurangan ekonomi yang kemudian berimbas pada pengasuhan, pendidikan dan kepribadian. Hasil analisa menunjukkan bahwa anak-anak kampung kota menggambarkan gerak dengan garis-garis ekspresif namun jarang terlihat adanya ciri gerak yang khas. Anak-anak kampung kota jarang menggambar objek manusia. Ketidakhadiran objek manusia dalam sebuah gambar representatif bertema lingkungan sekitar merupakan sebuah gejala kurangnya kepercayaan diri yang disebabkan perasaan tidak mampu. Kurangnya imajinasi juga terlihat dari keragaman objek yang menghiasi bidang gambar mereka meskipun tema yang muncul hampir seluruhnya sama yaitu lingkungan sekitar berupa pemandangan alam. Pemandangan alam yang cenderung muncul adalah gunung dan pegunungan yang dihiasi, sawah, rumah, pohon, atau terkadang perairan. Analisa psikologi dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa peletakan objek pohon dan rumah, cara anak-anak kampung kota mementingkan objek yang mereka gambar merupakan cerminan kepribadian anak yang terbentuk oleh budaya masyarakat kampung kota. Dengan demikian kesimpulan yang ditarik adalah bahwa bahasa rupa anak memang serupa dengan perkembangan awal pemikiran manusia. Sistem Ruang-Waktu-Datar yang diperkenalkan Primadi Tabrani dalam kajian terdahulu memang digunakan oleh anak-anak kampung kota. Pengaruh lingkungan, sosial budaya masyarakat kampung kota yang kurang peka terhadap pentingnya pendidikan seni rupa dan perkembangan kognitif anak terhadap bahasa rupa gambar anak terlihat dari minimnya ragam objek yang digambar oleh anak-anak kampung kota.
Kata kunci: Bahasa Rupa, Objek Gambar, Anak-Anak Kampung Kota, Lingkungan Sosial Budaya Kampung Kota.

5. WUJUD VISUAL TATO MODERN SEBAGAI IDENTITAS TUBUH ETNIS STUDI KASUS TOXICTATTOOPARK
Yustinus Ardhitya NIM. 27004002

Tato adalah salah bentuk ornamentasi tubuh, keberadaannya ditemukan dalam berbagaikebudayaan tradisional suku bangsa di dunia. Tubuh Manusia yang merupakan mahluk multidimensional sebagai media spesifik tato, tidak hanya sekedar fenomena fisik namun juga bentuk konstruksi kultural. [ Selanjutnya ... ]

6. RUMAH TRADISIONAL SUNDA
KAJIAN TENTANG MAKNA DAN BENTUK RUMAH TRADISIONAL SUNDA DESA SUKAHAYU KECAMATAN RANCAKALONG KOTA SUMEDANG
D e n y – 2 7 0 0 4 0 0 3

Eksistensi sebuah bangunan rumah telah mengalami perubahan di berbagai aspek akibat arus modernisasi yang melanda seluruh pelosok Indonesia . Adanya pengklasifkasian bentuk dan tipe rumah menjadi rumah tradisional, rumah semi modern , dan rumah modern merupakan salah satu contoh bukti perkembangan eksistensi rumah berdasarkan kurun waktu perkembangan peradaban manusia serta teknologi yang menyertainya. [ Selanjutnya ... ]

7. IMAJINASI ANGKA
BELINDA SUKAPURA DEWI – NIM 27004006

Imajinasi angka diangkat sebagai tema dalam Tugas Akhir, merupakan respons terhadap kemajuan teknologi dan ekonomi yang bertujuan untuk mensejahterakan umat manusia, telah berdampak dalam kehidupan. Dengan terkotak-kotak dalam bagian yang telah terstruktur, terukur, melalui adanya pengkodean dan pengangkaan dimana angka dilihat sebagai alat ukur objektif, sehingga tatanan kehidupan terdiri dari kode dan angka. [ Selanjutnya ... ]