Magister Seni Rupa Angkatan 2003

Joko Dwi Avianto NIM : 27003004
AIR MENGGENANG JAUH DIATAS TANAH
GAMBARAN REALITAS MENARA AIR DARI MASA LALU
Menara air yang terdapat di seluruh wilayah Indonesia peninggalan Belanda ini cukup populer keberadaannya, disamping bangunan lain seperti perkantoran dan bangunan lain, bangunan ini termasuk pelengkap (utility) dari bangunan intinya. Disamping bentuknya yang artistik, menggambarkan fungsinya sebagai penampungan sementara air dalam kota dan wilayah-wilayah kependudukan masyarakat tinggal. Ide dasar dan konsep dasar kekaryaan ini bertolak dari objek fisik dan non fisik dengan lingkup wilayahnya kota Cimahi (bhs Sunda; cai-mahi=cukup air), yaitu bertolak dari permasalahan dibalik bentuk fisik bangunan, misalnya permasalahan arsitektural, kependudukan, sosiologi, dan antropologi, wilayah seni yang terkadang luput dari pemikiran masyarakat secara umum, diimplementasikan berupa karya model atau maket, gambar, lukisan dan fotografi. Kenyataan bahwa seni dapat merambah wilayah sosial budaya dalam masyarakat, dalam hal ini infrastruktur pengairan yang terkadang tidak terpikirkan oleh masyarakat umum. Menara air hanya sudut pandang permasalahan pada permasalahan yang lebih luas, bahkan universal. Perdebatan pascakolonial menjadi salah satu transmisi kepada permasalahan kesenian dan pencarian nilai dalam ruang urban. Kini bagaimana kita sebagai masyarakat perkotaan yang peduli terhadap lingkungan, menyikapi setiap cagar budaya yang terkadang kita lewatkan keberadaannya, minimal kita menyadari nilai-nilai yang hadir di sekitar kita sebagai manusia yang utuh.
Triyadi Guntur Wiratmo, NIM: 27003009
MEMPERTANYAKAN KEMBALI NARASI BESAR SEJARAH
MELALUI EKSPERIMENTASI CLOSURE
DALAM KARYA SENI RUPA
Era postmodern yang ditandai dengan dipertanyakannya kembali teori-teori dan wacana modernisme yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya kebenaran obyektif telah membukakan berbagai peluang dekonstruksi di berbagai bidang keilmuan. Dalam bidang sejarah, salah satu tandanya adalah kecenderungan untuk mendekontruksi sejarah. Sejarah tidak dipandang sebagai suatu hal yang bergerak linear, obyektif, dan mempunyai tafsir yang tunggal, tetapi dilihat sebagai suatu yang bersifat dinamis, interpretatif disertai kebenaran yang relatif. Hal ini mendorong lahirnya berbagai macam tafsir untuk satu fakta sejarah dan tiap orang dapat dengan bebas menafsirkan sejarah secara subyektif. Subyektifitas dalam menafsirkan sejarah memberikan kesempatan bagi tiap orang untuk melihat suatu fakta sejarah berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Di samping itu fakta-fakta sejarah yang terungkap dalam buku-buku sejarah seringkali hanya menyajikan hal-hal yang dianggap penting. Ruang-ruang yang tersisa di antara fakta tersebut adalah tempat kita berimajinasi untuk membuat fakta sejarah menjadi sesuatu yang utuh. Kemampuan akan ‘keutuhan’ ini dikenal dengan istilah closure. Dengan adanya closure inilah tiap individu bebas untuk berimajinasi dan menginterpretasikan segala hal sesuai dengan kehendaknya. Pada karya proyek akhir ini, fenomena closure dimanfaatkan untuk mengkritisi penulisan sejarah yang selama ini dianggap mempunyai kebenaran yang obyektif dengan tafsir bersifat tunggal, terutama penulisan sejarah di masa Orde Baru. Ketika Orde Baru berkuasa, pemerintah dengan ketat mengawasi penulisan sejarah, sehingga tidak dimungkinkan menafsirkan sejarah berbeda dengan tafsir pemerintah. Selain itu pendidikan sejarah yang diajarkan di intitusi pendidikan cenderung menghilangkan sebagian fakta-fakta penting sejarah Indonesia, salah satunya mengecilkan peran Soekarno dalam perjuangan Indonesia dan membesarkan peran dan jasa Soeharto dalam membangun Indonesia. Pada masa ini sejarah dijadikan alat pemerintah untuk mempertahankan kekuasaan dan membangun citra buruk bagi penguasa sebelumnya. Intervensi penguasa dalam penulisan sejarah akhirnya berhasil menanamkan pemahaman atas ‘kebenaran sepihak’ yang bersifat permanen. Kenyataan inilah yang mendorong untuk membuat karya dengan menghadirkan sosok Soekarno dalam ruang-ruang ‘musuhnya’ yang diwakili oleh berbagai pencapaian yang telah dilakukan oleh Soeharto dalam membangun Indonesia. Melalui pendekatan seni intrumentalis dan gaya yang cenderung realis dalam berkarya diharapkan karya dapat lebih mudah dipahami, yang akhirnya mampu memberikan penyadaran tentang penulisan sejarah yang bersifat relatif dan multi tafsir serta tidak dapat dilepaskan dari subyektifitas penulisnya. Dengan demikian secara tidak langsung dapat menghargai berbagai macam tafsir atas suatu fakta sejarah sebagai upaya manusia untuk selalu tumbuh dan berkembang.
Kata Kunci: Closure, Sejarah, Postmodernisme, Dekonstruksi, Interpretasi.
Wahyudi Pratama, NIM : 27003003
‘EMERGENCY – WARNING SIGN’
(Refleksi Identitas Individu dalam Budaya Populis)
Perubahan dan perkembangan teknologi, terutama dalam konteks media dan perupaan dalam kesenian sendiri, tidak saja sekedar menawarkan perkembangan yang terbaru dalam hubungan manusia. Muncul juga berbagai kemungkinan dalam memahami realitas waktu dan ruang. Lebih dari itu, perkembangan ini menghendaki suatu respon manusia terhadapnya. Menunjuk pada kehendak bagaimana realitas waktu dan ruang, disikapi dengan mengeksplorasinya menjadi sebuah medium pengucapan kesenian itu sendiri. Sesuai dengan tema kekaryaan dalam hal ini, Emergency-Warning Sign (Refleksi Identitas Individu dalam Budaya Populis), yang kemudian diwujudkan dalam proses karya. Meliputi berbagai macam aspek seperti pengamatan akan simbol tanda baik dalam masyarakat ataupun dalam media, dan praktik langsung di lapangan. Dengan perwujudan akhir proses kekaryaan ini, meminjam elemen-elemen publik yang bersifat kombinasi, seperti video, neon box dan poster cetak promo. Kesemuanya pada akhirnya menjadi kesatuan karya yang terdiri dari berbagai macam seri. Kesatuan karya yang akan bercerita tentang filosofi dan makna dari tema yang telah dipilih ini.
AGUNG HUJATNIKA, NIM. 27003010
PEMETAAN PARADIGMA SENI RUPA KONTEMPORER
DI ASIA PASIFIK MELALUI TELAAH TERHADAP
‘ASIA-PACIFIC TRIENNIAL OF CONTEMPORARY ART’ 1993 – 2002,
DI QUEENSLAND ART GALLERY, BRISBANE, AUSTRALIA
Dalam lingkaran praktik seni rupa regional Asia Pasifik, identifikasi istilah dan praktik ‘seni rupa kontemporer’ muncul menyertai dari berbagai gelombang perubahan. Dalam tataran teoritis, serangan para posmodernis terhadap prinsip-prinsip modernisme menyebabkan penggunaan istilah ‘seni modern’ menjadi dihindari. Dalam tataran praktik, muncul upaya-upaya untuk menegaskan praktik seni rupa regional sebagai alih-alih dari ‘Pusat’ (Barat: Eropa – Amerika) yang dinyatakan ‘runtuh’. Dalam tataran politik internasional, menyurutnya dampak Perang Dingin di wilayah Asia Pasifik menjadi momentum untuk mendefinisikan ulang sejarah modernisasi dan dampak globalisasi terhadap negara-negara di kawasan tersebut.
Asia-Pacific Triennial of Contemporary Art (APT) di Queensland Art Gallery (QAG), Brisbane, Australia, merupakan kegiatan pameran berkala tiga tahunan yang digagas dan diselenggarakan dengan latar belakang situasi-situasi di atas. Dalam empat kali penyelenggaraannya (1993, 1996, 1999, 2002), APT menjadi forum yang terus meningkat reputasinya dan dianggap sebagai barometer yang paling sah untuk melihat perkembangan seni rupa kontemporer di Asia Pasifik. Diikuti oleh negara-negara Asia Pasifik yang notabene berada di luar jangkauan geografis pusat seni modern (Barat: Eropa – Amerika), APT menegaskan kecenderungan-kecenderungan praktik seni rupa kontemporer yang mengacu pada bingkai posmodern.
Penelitian ini merupakan pemetaan terhadap paradigma seni rupa kontemporer Asia Pasifik melalui APT sebagai sampelnya. Dengan cara menelaah pameran APT I – IV, penelitian ini tidak hanya sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang terkait dengan kecenderungan-kecenderungan dalam praktik seni rupa kontemporer di Asia Pasifik, tapi juga menyingkap relasi-relasi diskursif pameran APT sebagai politik representasi yang terkait dengan kepentingan dan kuasa suatu negara dalam praktik kebudayaan di lingkaran regional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pergeseran yang ditunjukkan dalam seleksi kuratorial APT 2002 menimbulkan tafsir politik tentang kembalinya hubungan mesra antara Australia dan Barat.
Kata kunci:
paradigma, seni rupa kontemporer, posmodernisme, Asia-Pacific Triennial of Contemporary Art (APT), Analisis Tekstual, representasi, museology, multiculturalism
AMINUDIN TH. SIREGAR M:27003005
SENIRUPA MODERN INDONESIA
Identifikasi Permasalahan dan Analisis Wacana-nya
Seni rupa modern Indonesia mengalami perkembangan yang siknifikan pada kurun akhir 1930an hingga akhir 1950an. Perkembangan tersebut terjadi pada masa revolusi fisik dan ditengah kondisi sosial masyarakat yang masih berada dalam kemiskinan. Konteks sosiologi inilah yang akan menjelaskan latar sosial seni rupa modern Indonesia sekaligus mempengaruhi seluruh tema dan kecenderungan estetik para seniman.
Berbeda dengan pandangan umum yang meletakkan posisi Affandi, Hendra Gunawan dan S. Sudjojono sebagai trio pelopor seni rupa modern Indonesia, sesungguhnya kepeloporan tersebut ditandai pula oleh sosok-sosok lain yang berperan besar bagi perkembangan estetik maupun wacana. Sosok-sosok itu adalah Trisno Sumardjo dan Ries Mulder.
Trisno Sumardjo adalah kritikus yang berperan dalam penggalian latar sosiologis seni rupa modern Indonesia. Di lain pihak, Ries Mulder sangat berjasa dalam perbincangan seni lukis abstrak dan kubistik di Bandung. Melalui pengaruhnya, pada kurun 1950an, Bandung dikenal sebagai markas pelukis abstrak, dan dengan istilah lain: estetika yang dipengaruhi oleh Barat.
Penelitian ini merupakan tinjauan terhadap perjalanan seni rupa modern Indonesia dengan cara menelaah arsip-arsip yang selama ini jarang ditempatkan sebagai bahan utama dalam perbincangan seni rupa modern di Indonesia. Dalam penelusurannya, penelitian ini menganalisa pelbagai kekurangan dalam penulisan sejarah seni rupa modern melalui metode analisis wacana. Penelusuran tersebut ditujukan untuk mengidentifikasi beberapa permasalahan seni rupa modern Indonesia.
Kata kunci: seni rupa modern Indonesia, S. Sudjojono, Trisno Sumardjo, revolusi kemerdekaan
Ellen R Tunggono, NIM: 270 03 001
Kajian Rumah Tradisional di Flores
Rumah tradisional Flores telah lama menjadi perhatian para peneliti dari luar Indonesia. Menurut para ahli itu rumah tradisional dikategorikan dalam boat communities karena adanya kemiripan dengan bentuk tertentu dari bagian perahu, seperti beberapa rumah tradisional Flores di Lio Moni,Ende dan Manggarai.
Tesis ini mencoba membahas Rumah Tradisional di Flores, untuk melihat apakah terdapat bukti sejarah kebudayaan maritim pada rumah tradisional di Flores? Apakah kebudayaan maritim justru tercermin pada unsur arsitektural lainnya?
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan metode deskriptif analitis yang dilakukan selama periode Januari-Juni 2005. Pengumpulan data terutama dilakukan dengan studi literatur, untuk mendapatkan landasan teoritis agar mempermudah kerangka fikir pada tesis. Untuk mendapatkan pengetahuan tentang keadaan di lapangan diadakan wawancara terstruktur dengan nara sumber.
Penulis melakukan penelitian dengan memperhatikan topografi, lokasi, legenda yang hidup di masyarakat, mata pencaharian serta memperhatikan bentuk arsitektural rumah rumah tradisional di Flores, lalu mencoba mencari kemiripan yang ada dengan perahu. Kemudian penulis mencoba membandingkan rumah-rumah tradisional lainnya yang menurut para peneliti asing mempunyai hubungan dengan kebudayaan perahu.
Dari perbadingan-perbandingan tersebut, terlihat bahwa rumah tradisional yang terdapat di Lio Moni, daerah dataran tinggi yang jauh letaknya dari laut, serta tidak mempunyai sejarah maupun legenda yang menunjukkan hubungan dengan laut atau perahu, hanya mempunyai kemiripan dengan perahu dalam hal bentuk saja. Hal tersebut terjadi bukan karena adanya hubungan dengan budaya laut. Sedangkan pada rumah tradisional di daerah pesisir, ditemukan adanya legenda tentang nenek moyang mereka yang memang dahulu adalah pelaut. Pada masyarakat demikian memang ada pencitraan perahu, misalnya yang nampak pada bentuk dan penamaan bagian-bagian tertentu rumah, penyebutan tokoh pemuka kampung yang diambil dari sebutan yang dikenal di perahu, keletakan serta orientasi kampung yang meniru perahu.