Magister Seni Rupa Angkatan 2002

Bambang Witjaksono, NIM: 27002001
FENOMENA MURAL DI YOGYAKARTA TAHUN 2002 – 2003
Pada tahun 2002 – 2003, terdapat pembuatan mural di Yogyakarta yang sangat marak, melebihi kota lain di Indonesia. Hal ini merupakan sebuah fenomena, karena sebelumnya pembuatan mural sebatas gerakan sporadis beberapa seniman. Selain itu, sebelum tahun 2002 pembuatan mural kurang marak karena alasan kondisi sosial-politik di Indonesia (termasuk Yogyakarta) yang menjadikan mural sebagai sarana penyampaian slogan-slogan pembangunan dari pemerintah. Fenomena inilah yang perlu untuk diteliti. Proyek Mural Kota yang dilaksanakan pada tahun 2002 dikoordinir oleh Apotik Komik (sekelompok seniman yang memfokuskan kegiatannya pada seni publik dan membangun dialog dengan masyarakat). Proyek mural kota ini berjudul ‘Sama-Sama’yang kemudian menginspirasi masyakarat untuk juga membuat mural sehingga melahirkan sebuah ‘fenomena mural’ yang menjadikan tembok-tembok Kota Yogyakarta penuh dengan lukisan dinding. Pada tahun 2003, Apotik Komik kembali mengkoordinasi proyek mural kota yang diberi judul “Sama-sama/You’re Welcome” dengan melibatkan seniman mural dari San Fransisco, Amerika Serikat. Penelitian ini dilakukan di Kota Yogyakarta, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai bulan September 2002 sampai dengan Juni 2004. Penelitian ini memfokuskan pada fenomena mural di Yogyakarta, yang terdiri dari dua Proyek Mural Kota, yaitu proyek mural kota “Sama-sama” yang dikerjakan seniman Indonesia dan proyek mural kota “Sama-sama/You’re Welcome” yang dikerjakan oleh seniman Amerika Serikat, serta mural yang dibuat oleh masyarakat umum (non seniman) Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ide dasar munculnya mural, untuk mengetahui gejala baru dalam perkembangan seni rupa di Yogyakarta, untuk mengetahui struktur perupaan mural yang dibuat di Yogyakarta serta untuk mengetahui efek atau akibat dari fenomena mural tersebut. Untuk mempertimbangkan hal-hal ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu dengan mengumpulkan data-data tertulis maupun visual seperti wawancara dan observasi. Hasil dari penelitian ini adalah perlunya mural sebagai salah satu alternatif bagian dari elemen ruang publik di Yogyakarta, dimana sebelumnya ruang publik hanya dipakai untuk kepentingan iklan dan kampanye partai politik, padahal esensi ruang publik adalah milik publik. Mural dipakai sebagai instrumen untuk penetrasi otoritas. Selain itu, dibuktikan bahwa peran seniman sebagai representasi publik dapat dicapai lewat pembuatan mural. Fenomena mural di Yogyakarta juga merupakan sebuah inovasi perupa dalam menyikapi perkembangan wacana seni rupa, dimana seni hadir langsung di tengah-Yogyakarta masih menggunakan simbol maupun ikon yang berkaitan dengan kondisi sosio kultural serta lingkungan Yogyakarta sebagai bagian dari kebudayaan Jawa pada umumnya. Fenomena mural di Yogyakarta juga menunjukkan bahwa secara gradual terjadi perubahan yang sehat di alam masyarakat Yogyakarta, karena pemerintah setempat menanggapi masyarakat yang semakin vokal dan berdaya. Tekanan dari dalam dan luar agar terjadi reformasi politik menunjukkan tanda-tanda dihilangkannya dinamika pendekatan top down yang sudah membudaya sebagai ciri era Orde Baru.
Khairun Nisa NIM : 27002004
ANALISIS VISUAL PADA LUKISAN KALIGRAFI ARAB
PADA KARYA AMANG RAHMAN DAN SYAIFUL ADNAN
Seni kaligrafl yang berakar dalam tradisi Nusantara digali untuk diolah dalam lukisan yang memiliki bahasa visual modern, yang kemudian menjadi lukisan kaligrafl Arab modern sejak tahun 1970-an, dirintis oleh para pelukis Bandung, dan selanjutnya dikeinbangkan oleh sejumlah pelukis lain diantaranya Amang Rahman dan Syaiful Adnan. Tesis ini berusaha menganalisis visualisasi kaligrafl Arab pada karya Amang Rahman dan Syaiful Adnan. Obyek penelitian ditujukan pada karya-karya pelukis Amang Rahman (tahun 1970-2001) dan Syaiful Adnan (tahun 1979-2004). Analisis berfokus kepada visualisasi kaligrafl Arab karya Amang Rahman dan Syaiful Adnan, dilihat dari latar visual, teks Arab yang bersumber dari ajaran Islam, dan bentuk kaligrafl yang digunakan. Dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif dalam bentuk deskriptif-analitis, dengan pendekatan interdisiplin, yang mencakup pendekatan historis dan pendekatan teori kritik seni, maka penelitian ini berusaha menjelaskan riwayat hidup dan proses kreatif Amang Rahman dan Syaiful Adnan, dan menganalisis visualisasi kaligrafl Arab pada karya kedua pelukis itu. Penelitian ini menyimpulkan, bahwa visualisasi kaligrafl Arab pada lukisan karya Amang Rahman dan Syaiful Adnan dibangun dari kehendak untuk mengolah kekayaan artistik dan maknawi seni tradisional kaligrafl Arab dalam bahasa visual yang modern. Hal itu mengantarkan keduanya kepada proses eksperimentasi kaligrafl yang panjang. Bentuk awal kaligrafl Amang Rahman menyerupai gaya Naskhi dan Kufi antara 1970-1980, kemudian menyerupai gaya Farisi antara 1980-1990, dan akhirnya menemukan bentuk khas Amang antara 1990-2001, yang memiliki garis huruf yang dibentuk berdasarkan pendekatan cahaya-bayangan yang seolah timbul-tenggelam, dengan ujung-ujung huruf yang diolah fleksibel sesuai tuntutan estetika dan pemaknaan. Latar visual bercorak surrealis dengan menghadirkan khazanah mistis Islam-Kejawen. Bentuk awal kaligrafl Syaiful Adnan mirip dengan huruf Hieroglyph Mesir kuno antara 1979-1980, kemudian mirip gaya Sudani antara 1980-1990, dan terakhir menemukan gayanya sendiri yang khas Syaiful 1990-2005, yang dilukis dengan pengaruh tulisan pena yang memiliki batang huruf. Ujung-ujung huruf diolah secara fleksibel dengan irama yang dibangun dari ukuran besar dan kecilnya huruf. Latar visual bercorak abstrak-dekoratif, dengan warna-warna pastel yang monokrom.
Rosikin W.K NIM: 27002006
“Menapak Langkah” sebuah karya koreovisual
“Menapak Langkah” adalah sebuah karya koreovisual yang merupakan penyusunan atau komposisi dari kesatuan koreografi dan unsur perupaan, yang diharapkan sebagai salah satu karya alternatif. Garapan ini merupakan bentuk karya garapan koreovisual kontemporer yang bersifat konseptual, terbuka luas dalam memperluas wawasan kreativitas dan apresiasi masyarakat. Judul karya “Menapak Langkah” berisi tentang berpijak dalam kehidupan, bahwa manusia dalam perbuatannya harus bersikap dan tindak tanduk yang baik dan harus tegas dalam menghadapi masalah, serta harus tuntas dalam melakukan perbuatan suatu pekerjaan jangan sekali dihentikan sebelum tercapai. Adapun pijakan tema yang dijadikan sebagai bahan garapan koreovisual “Menapak Langkah” adalah mengangkat tentang perjalanan hidup manusia yang mengalami tiga proses periode kehidupan, pertama menggambarkan embrio dalam rahim, kedua gambaran tentang ritual dalam mencari keseimbangan hidup, dan yang ketiga adalah pencarian dan penemuan jati diri yang sejati. “Menapak Langkah” dibentuk, berdasarkan visi kreatif dan metode deskriptif dengan study tindakan yang diharapkan dapat menghasilkan koreovisual. Maka dari hasil eksperimentasi ditemukan beberapa kekuatan visual dalam “Menapak Langkah” ini. Konsep penggarapan “Menapak Langkah” secara kreativitas, lebih mengutamakan ungkapan ekspresi koreografi dan visual, dalam bentuk penyajian koreovisual artistik baru. Konsep karya ini dibentuk dari beberapa komponen diantaranya, aspek koreografi yang merupakan susunan gerak dengan elemen dasar ruang, waktu,’dan tenaga; aspek seni rupa yang merupakan bentuk visual atau bentuk perupaan, yaitu kesatuan dari unsur-unsur rupa, dan aspek musik atau seni suara yang dihasilkan oleh bunyi. Adanya kebebasan ungkapan ekspresi dan suatu penghargaan terhadap kebebasan proses kreatif, kemerdekaan berekspresi adalah sebuah konsep yang harus dipahami dengan cara melihat pengalaman masa lalu sebagai ilham kreativitas untuk menatap masa depan karya yang lebih baik. Maka dengan demikian metode eksperimentasi dengan melakukan tindakan dilapangan, diharapkan mampu menghasilkan karya alternatif dalam bentuk penyajian koreovisual. Harapan penggarap, proses penciptaan karya koreovisual ini akan memberikan arti penting bagi kemajuan perkembangan seni tan dan seni rupa dalam bentuk pertunjukan di Indonesia.
R. Gilang Cempaka, NIM: 27002003
TELAAH PENGOLEKSIAN DAN PENGINVESTASIAN LUKISAN
DALAM KAITANNYA DENGAN MOTIVASI DAN ORIENTASI,
SERTA PERAN KOLEKTOR DALAM MEDAN SOSIAL SENI DI INDONESIA
Penelitian ini mengambil kajian praktek pengoleksian dan penginvestasian lukisan dalam kaitannya dengan motivasi dan orientasi, serta peran kolektor dalam medan sosial seni (art world) di Indonesia. Objek yang ditelaah dalam penelitian ini adalah para kolektor yang berada di kota besar di Indonesia, yang memiliki motivasi dan orientasi yang berbeda dalam mengoleksi lukisan. Perbedaan tersebut terlihat dengan adanya kepentingan berinvestasi, yang menciptakan pula perbedaan pandangan mereka terhadap nilai-nilai lukisan. Praktek pengoleksian dan penginvestasian oleh kolektor adalah kegiatan dalam medan sosial seni yang aktivitasnya melibatkan dukungan komponen-komponen terkait yaitu seniman, kurator, kritikus, dan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri praktek pengoleksian dan penginvestasian lukisan oleh kolektor di Indonesia. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk memaparkan motivasi dan orientasi kolektor dalam praktek tersebut, serta mengetahui pandangan-pandangan mereka mengenai nilai lukisan. Penelitian ini diharapkan memberi pemahaman tentang kegiatan pengoleksian dan penginvestasian lukisan oleh para kolektor, serta peran mereka dalam lingkup medan sosial seni di Indonesia Rancangan penelitian menggunakan metode penelitian kualitiatif, dengan pendekatan sosial budaya. Dengan metode dan pendekatan ini memungkinkan untuk memahami kegiatan pengoleksian dan penginvestasian lukisan yang dipraktekkan oleh sebuah kelompok masyarakat, yang saling berhubungan, dan mempengaruhi. Landasan teori yang mendukung ialah yang memiliki keberkaitan dengan kegiatan medan sosial seni, koleksi dan investasi lukisan. Dari data-data yang terkumpul baik tekstual maupun visual, dapat dikemukakan beberapa temuan dari kajian ini. Pertama, berdasarkan motivasi dan orientasinya kolektor dibagi berdasarkan tiga kriteria umum yaitu kolektor murni, kolektor-art dealer, dan kolektor-pedagang yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap nilai seni yang memiliki relasi dengan nilai ekonomi. Kedua, para kolektor berperan dalam medan sosial seni masing-masing, yang lingkupnya terkait dengan praktek mereka dalam pengoleksian dan penginvestasian lukisan. Peran tersebut diwujudkan dalam pembangunan infrastruktur museum pribadi, galeri, dan art shop. Fenomena pengoleksian tak dapat dilepaskan dari praktek penginvestasian lukisan pada saat ini, yang dilakoni oleh para kolektor, namun praktek ini dilandasi motivasi dan orientasi yang berbeda, yaitu dari yang murni mengoleksi, mencari keuntungan, maupun kedua-duanya. Lingkup medan sosial seni dan pasar adalah wilayah yang berbeda dalam gugusan nilai. Pasar adalah sebuah ekses dari keberadaan nilai seni lukis, di luar nilai ekonomi. Namun pasar tak bisa dipisahkan dari medan sosial seni, karena para pelaku pasar yang diantaranya kolektor, adalah bagian dari komponennya. Oleh karena itu diharapkan agar para pelaku pasar khususnya kolektor turut mementingkan apresiasi terhadap nilai seni, disamping nilai-nilai ekonomi dan investasi.
Kata kunci dalam penelitian ini : kolektor, lukisan, koleksi, investasi, dan medan sosial seni.
Mizuho Matsunaga, NIM: 27002008
Gambaran identitas
Saya telah membuat karya berdasarkan isu identitas selama beberapa tahun. Dalam hal ini, sekarang, saya masih didalam labirin, belum menemukan jalan keluarnya. Seperti perjalanan yang tiada akhir. Tetapi dilain sisi, saya menyadari bahwa diri saya tidak menghendaki jalan keluar itu, karena jika saya menemukan jalan keluarnya, inilah waktunya untuk menyelesaikan karya seni saya. Serangkaian bendera nasional, karya disini menggunakan motif bendera nasional yang merupakan salah satu tema karya yang saya kerjakan selama beberapa tahun. Pada kesempatan ini, saya mencoba mengekspresikan ide-ide saya dalam proyek akhir program master di ITB. Hasilnya serangkaian bendera nasional merupakan suatu perpaduan karya-karya lainnya, dan merupakan suatu kesempatan yang baik untuk menyusun karya-karya ini. Tapi saya ingin menjelaskan bahwa tulisan ini hanya sebuah teks untuk saya, juga dapat berubah secara dramatis beberapa tahun akan datang. Melalui buku ini, Anda dapat mengetahui garis besar tentang visi saya, tentang identitas, karya-karya saya dan konsep latar belakang, pengalaman-pengalaman dan segala sesuatu yang mempengaruhi karya-karya saya dan memorandum karya-karya serangkaian bendera nasional.
Sabar Simamora, NIM: 27002007
KOMPOSISI MUSIK SEBAGAI SUMBER INSPIRASI
PENCIPTAAN BENTUK KARYA SENI VISUAL
MELALUI MEDIUM DAN PEMAHAMAN BARU I-DET TEMAMEI
I-det dan Temamei adalah metode pemahaman baru berupa proses penanggapan terhadap dua dimensi seni yang berbeda secara bersamaan dengan mengaktifkan sejumiah panca indera kita yakni indera penglihatan (binocular) dan indera pendengaran (binaural) melalui pemusatan pikiran dan perasaan pada komposisi musik sebagai sumber inspirasi bagi penciptaan karya seni visual yang memiliki pola tertentu dan dengan karya seni visual sebagai hasil kreasinya, dimana selama proses penanggapan keduanya akan terjadi interaksi dan serapan yang berbeda-beda diantara para penanggapnya dan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing, yakni berupa integrasi keseluruhan dari hasil proses penanggapan. Kemudian dilanjutkan dengan mengikutsertakan para partisipan secara aktif untuk memvisualisasikannya antara lain dengan mengaktifkan indera peraba dan koordmasi mala melalui gerakan menekan ibujari tangan kanan atau kiri yang disebut ‘I-det’ pada medium kanvas keberbagai arah seperti menyilang, berlawanan, vertikal. horizontal, naik, turun, terbalik, tumpang tindih dan berlapis-lapis, dengan terlebih dahulu dibubuhi cat dari hasil pengolahan ibu jari tangan. Eksperimen ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan memori yang telah diperoleh dengan komposisi musik dan juga karya seni visual melalui metode pemahaman baru sehingga melalui musik ataupun karya seni visual para penanggap dapat menentukan pilihan medium yang tepat selama proses penanggapan, serta mengaktifkan seluruh potensi inderawi dengan mengintegrasikan fisik berupa gerakan lewat medium ibujari tangan (‘gesture”) sekaligus melibatkan rasio, intuisi, kreatif secara total sehingga bukan sebagai unit-unit yang terpisah atau kreativitas parsia! semata, selanjutnya diperlihatkan dari segi struktur komposisi musik disaat integrasi beriangsung secara simultan, memori setiap individu dibawa kembali untuk mengenal ke fase awal perkeiribangan dengan ciri-ciri pengenalan langgam atau nada suara melalui aneka warna (timbre) instrumen musik, cara mengucapkan yang biasa dan kalimat melodi yang merupakan gema untuk mengenal kembali ciri-ciri akar tradisi baik itu melalui suara seseorang yang dikenal ataupun nada-nada yang berasal dari daerah tertentu. Struktur atau bentuk di dalam komposisi musik “walking in the light” merupakan pengganti (substitute) jalan untuk menuntun menuju jejak tradisi dan rangkaian bunyi yang didengar membawa kembali memori individu kepada akar tradisi yang terintegrasi dengan bentuk karya seni visual. Pengenalan medium baru I-det berguna untuk mengeluarkan langsung energi kreatif penanggap seni tanpa dibatasi oleh jarak antara subjek dan objek yang akan dikreasikan dan merupakan teknik penyampaian langsung, sedangkan pemahaman baru melalui metode Temamei adalah bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kreatif dengan menggabungkan kerjasama semua indera sehingga menciptakan bentukkan baru, memori dan keutuhan baru, selain itu juga sebagai terapi bagi peningkatan kemampuan kreatif berupa amplifikasi dari kreativitas parsial atau sektoral menuju integrasi kreatif pada dimensi yang lebih luas.