Magister Desain Angkatan 2002

Yanita Indrawati, NIM : 27102013

ABSTRAK
PERGESERAN KONSEP GENDER PADA RUMAH TRADISIONAL JAWA JOGLO

STUDI KASUS: RUMAH TRADISIONAL JAWA JOGLODI KOTAGEDE, YOGYAKARTA

Secara umum, perbincangan mengenai gender tidak dapat terlepas kaitannya dengan relasi antara pria dan wanita, dimana pada dewasa ini perbincangan tersebut menghangat seiring dengan adanya kesadaran akan terjadinya ketimpangan dalam hubungan dan kedudukan antar gender. Pada masa dulu masih banyak terdapat realitas yang ditemui di masyarakat memberikan gambaran tentang kedudukan pria yang lebih tinggi dibanding dengan wanita, beserta dengan implementasinya dalam segala bidang kehidupan. Hal ini juga dapat diamati di Indonesia, khususnya dalam masyarakat Jawa.

Kebudayaan Jawa memiliki sistem kekerabatan yang unik, yang memperlihatkan kedudukan dan peran seseorang di dalam kehidupan bermasyarakat dan beikeluarga, tennasuk di dalamnya memperlihatkan sistem kekerabatan antara pria dan wanita, dirnana dalam penelitian ini disebut sebagai relasi gender. Masyarakat Jawa merupakan masyarakat patriarki yang memiliki pembatasan-pembatasan tertentu dalam relasi gender yang memperlihatkan kedudukan dan peran pria yang lebih dominan dibanding wanita. Wanita Jawa diharapkan dapat menjadi seorang pribadi yang selalu tunduk dan patuh pada hegemoni kekuasaan seorang pria, yang pada masa dulu terlihat dalam sistem kekuasaan kerajaan Jawa (kraton).

Secara historis, relasi gender dalam masyarakat Jawa tersebut juga direpresentasikan melalui ruang arsitektur, dalam penelitian ini diperlihatkan dalam konsep tata ruang rumah tradisional Jawa pada masa dahulu dimana konsep ruangnya masih dipengaruhi oleh pembatasan gender. Arsitektur sebagai salah satu produk budaya manusia adalah implementasi dari kondisi kultural sosial dan psikologis masyarakat, demikian pula halnya pembagian gender yang terbentuk dari lingkungan sosial dan psikologis masyarakat. Terjadinya pergeseran kedudukan dan relasi gender masyarakat Jawa pada masa sekarang yang disebabkan antara lain oleh modernisasi, emansipasi wanita, dan masuknya pengaruh budaya Barat, telah menggeser pola relasi gender mengarah kepada persamaan derajat dan kedudukan.

Pergeseran pola relasi gender tersebut, khususnya yang terjadi dalam keluarga Jawa, secara perlahan telah menggeser konsep gender dalam rumah tradisional Jawa. Pergeseran konsep gender tersebut dapat digeneralisasi dan terpola dalam suatu pola pergeseran konsep gender yang signifikan, yang kemudian dapat dilihat dari pergeseran fungsi dan organisasi ruang, peruntukan ruang, dan orientasi; dimana pada masa sekarang pergeseran tersebut telah menggeser pola penataan ruang menjadi lebih netral.

WINWIN WIANA, NIM. 27102011

ABSTRAK

KAJIAN PERAN DESAINER PADA INDUSTRI GARMEN DI BANDUNG

idang garmen sebagai salah satu fenomena yang memfasilitasi berbagai perkembangan dalam dunia fesyen, eksisitensinya tidak dapat dilepaskan dari profesi desainer sebagai perencana pertama dalam proses menghasilkan produk fesyen. Desainer sebagai salah satu fihak yang mempunyai peluang cukup baik untuk berperan datam hat ini, terutama berkaitan dengan potensi yang dimiliki seperti kemampuan kreativitas, keterampilan, citarasa seni serta kemampuan memanfaatkan nilai–nilai estetis dan sumber yang tersedia. Apapun bentuknya, performance suatu busana lahir dari kreativitas dan kerja keras seorang desainer.

Selain berkiprah sebagai perencana awal pada proses pembuatan produk fashion, secara ideal desainer seyogyanya pula bertanggung jawab terhadap mekanisme manajemen desain yang di dalamnya terkait dengan proses pengambilan kebijakan desain/design policy (strategi desain, sasaran strategi dalam manajemen desain, langkah-langkah strategi pendesainan dan pelaksanaan proses pendesainan).

Melalui observasi yang dilakukan kepada 10 industri garmen yang berlokasi di wilayah Bandung didapat data bahwa kenyataan di lapangan tidak seluruhnya area profesi desainer dapat dijalani desainer/tim desain secara maksimal. Hal ini disebabkan karena pada sebagian besar industri garmen di Bandung proses pengambilan kebijakan desain/design policy Iebih banyak dilakukan oleh pimpinan/top manajemen perusahaan. Apabila perusahaan memberikan peluang pada desainer untuk berkiprah secara luas sesuai deskripsi kerja ideal seorang desainer, maka hat tersebut setalu dalam kendali pimpinan/top manajemen perusahaan. Kecenderungan seperti ini banyak disebabkan oleh penentuan kebijakan manajemen (termasuk manajemen desain) yang menjadi otoritas pimpinan tertinggi perusahaan, sedangkan desainer lebih banyak berperan sebagai pelaksana teknis.

Hendriana Werdhaningsih
NIM: 27102006

ABSTRAK
KAJIAN FUNGSI ALAT BAWA TRADISIONAL MASYARAKAT JAWA

Penelitian ini adalah sebuah penelitian tentang alat bawa tradisional yang masih digunakan oleh masyarakat Jawa pada saat ini. Wilayah penelitian dibatasi pada daerah Jogja dan Solo yang secara antropologis dianggap sebagai pusat kebudayaan Jawa. Penelitian ini lugs dan tidak mendalam untuk kemudian dapat menjadi dasar bagi penelitian berikutnya yang lebih mendalam mengenai alat bawa tradisional Jawa.

Titik berat penelitian ini adalah pada penggunaan produk alat bawa secara praktis (fungsi utilitasnya) dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan fungsi lain seperti fungsi sosial dan ritual produk tidak menjadi objek penelitian ini. Alat bawa yang dimaksud di sini adalah produk yang termasuk dalam pola distribusi tradisional Jawa; atatih (dinaikan ke kendaraan), pinukul dagang (dipikul) dan gendhongan (digendong). Dengan metode etnografis (field work) dan tipologis, penelitian ini bertujuan untuk membuat klasifikasi alat bawa dan menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan praktis alat bawa tradisional Jawa seperti bentuk dan isi alat bawa, cara bawa dan fungsi ergonominya, hubungan berat beban dan jarak tempuh, kegunaan­kegunaan lain dan pembedaan gender pengguna, yang sesungguhnya selalu terkait dengan berbagai nilai estetis dan simbolik transendentalnya.

Penelitian berangkat dari pengamatan terhadap pengguna dan cara penggunaannya secara khusus pada pusat-pusat perdagangan tradisional (pasar dalam kota), area sekitar pasar dan perumahan dalam kota dan daerah pinggiran kota Jogja dan Solo. Dari basil pengamatan dan wawancara kepada pengguna disusun peta kategori alat bawa yang terbagi atas produk alat bawa berbahan dasar anyaman bambu dan produk alat bawa yang berbahan dasar tekstil, dan dibedakan pula atas cara penggunaannya. Alat-alat bawa tersebut juga kemudian dianalisis berdasar bentuk dan objek yang dibawanya, cara bawa dan fungsi ergonominya yang tak terlepas dari material dan cara pembuatannya, hubungan berat beban dan jarak tempuh, kegunaan-kegunaan lain dan pembedaan gender pengguna. Hasil analisis menjadi kesimpulan penelitian.

Ada lima kesimpulan penelitian. Pertama bahwa alat bawa yang berbentuk terbuka digunakan untuk jenis isi yang beragam (serbaguna), sedangkan alat bawa berbentuk tertutup digunakan untuk satu jenis barang (khusus). Kedua adalah bahwa cara bawa tradisional mengurangi resiko terjadinya cidera tulang dan otot. Ketiga bahwa beban dan jarak tempuh menentukan jenis alat bawa yang digunakan serta bentuk simpul selendang yang digunakan. Keempat, terdapatnya kegunaan lain dari alat bawa membuat alat tersebut menjadi produk yang multiguna. Kelima bahwa terdapat pembedaan alat bawa berdasar gender pengguna, selain sesuai dengan jenis pekerjaan juga sesuai dengan adat Jawa; segendhong sepikul.

H. Supandi, NIM. 27102010

ABSTRAK

KAJIAN TERAPAN PENGARUH RAGAM HIAS BATIK TRADISIONAL PADA BATIK MODERN IWAN TIRTA

Ragam hias batik pada awalnya tidak hanya dibuat untuk sekedar indah dilihat, tapi juga memberi makna yang erat hubungannya dengan falsafah kehidupan. Makna yang terkandung dalam ragam bias batik, menjadi peninggalan sejarah, seperti pads tulisan kuno Pararaton atau penafsiran batik dari relief dinding candi atau patung.

Sejalan dengan perkembangan kebudayaan di Indonesia, simbol ragam bias batik berangsur-angsur menjadi sekedar gambar pads kain, terutama setelah batik digunakan bahan busana seluruh lapisan masyarakat tidak hanya pribumi tapi juga para pendatang.

Pasca kemerdekaan Indonesia, pemerintah berupaya melestarikan batik melalui lembaga yang telah terbentuk sejak tahun 1919, sebagai hasilnya batik tidak pernah surut dari kehidupan bangsa Indonesia. Kemudian muncul para pembatik yang dihargai oleh pemerintah dan oleh kalangan adat yaitu dari kalangan keraton Surakarta dan Jogyakarta.

Mulai tahun 1960an dikenal para pembatik modern, diantaranya Ivan Tirta sebagai pembatik, penulis buku dan desainer busana batik. Iwan Tirta berupaya melestarikan batik dalam kehidupan modern dan menghasilkan berbagai karya desain batik yang diwujudkan dalam berbagai diversifikasi produk melalui perusahaannya PT Rama Craft. Iwan Tirta membuat perubahan yang sangat berani, baik dalam tata warna maupun bentuk dan ukuran ragam bias. Citra dan gayanya seringkali menjadi faktor yang berpengaruh terhadap desain batik modern.

Iwan Tirta telah mendokumentasikan lima ribu lebih desain batik Indonesia dan karya batiknya diterbitkan oleh berbagai media intemasional. Desain batiknya telah diperagakan di lebih dari 38 negara dan di tingkat nasional Iwan Tirta mendesain busana berbagai perusahaan, terutama mendesain busana batik bagi para kepala negara pads konferensi APEC di Jakarta.

Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh ragam hias tradisional dalam batik modem dengan studi kasus batik modern Iwan Tirta. Maksud penelitian ini untuk mengidentifikasi batik modern Indonesia dalam hal ini batik karya Iwan Tirta, walau berbentuk modern, tapi masih dapat digolongkan batik Indonesia karena masih berpatokan pads aturan batik tradisional.

Metoda penelitian dengan mengamati upaya pelestarian batik oleh Iwan Tirta dalam bentuk batik modern ini, dianalisa kaitannya dengan ragam hias tradisional. Dan tinjauan karya batik modern Ivan Tirta, diketahui bahwa ragam bias batik tradisional menjadi sumber inspirasi seluruh karya batik modernnya yang diwujudkan dalam diversifikasi produk batik tidak hanya kain tradisional, tetapi busana modern, desain interior, upholstry, tapestry dan bentuk selain tekstil, diantaranya keramik dan kerajinan perak.

Dari analisa pendekatan estetika sebagai dasar kajian desain, karya batik Iwan Tirta ternyata menggunakan unsur desain berupa titik, garis, bidang, warna dan tekstur serupa dengan ragam hias batik tradisional, tetapi dengan ukuran, variasi, jenis bahan dan warna yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dalam kehidupan masa kini_

Analisa deskripsi desain batik karya Iwan Tirta, membuktikan terdapat relevansi yang nyata antara ragam hias batik tradisional dengan ragam hias pada desain batik modern karya Iwan Tirta, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif.

Gerry Rachmat

NIM : 27102014

ABSTRAK
UNSUR-UNSUR GAYA LUAR PADA PEMBENTUKAN GAYA
KURSI BETAWI

Bentuk Kursi Betawi ternyata merupakan hasil percampuran dari berbagai gaya-gaya desain kursi dari luar yang masuk ke Indonesia kemudian berpengaruh pada pembentukan gaya desain kursi sebagai pelengkap kebutuhan hidup, baik yang berkaitan dengan bentuk, fungsi, nilai estetik, serta muatan simbolisnya.

Penelitian dilakukan pada beberapa daerah di Jakarta dan Bandung yang meliputi : Kampung Tugu & Kampuig Muara Angke (sebagai daerah pesisiran), Kampung Condet, Kampung Jembatan Lima dengan pola hidup masyarakat kota dan pinggiran yang mengandalkan sektor perikanan, perdagangan sebagai penunjang perekonomian sebagai daerah pinggiran kota.

Teknik Pengumpulan Data menggunakan pendekatan studi lapangan yang terdiri dari survei, wawancara dengan nara sumber dan dokumentasi. Penelitian menggunakan pendekatan. historis, pendekatan budaya dan pendekatan tipologi visual desain. Teknik analisa data yang digunakan adalah analisis bentuk secara deskriptif, dengan melakukan pernahaman dan pembacaan bentuk dasar terhadap kursi Betawi serta perkembangannya dari jaman kursi Betawi tersebut masuk hingga sekarang, yang terdiri dari pengumpulan. data, reduksi data, analisa data dan penarikan kesimpulan.

Dari temuan di lapangan didapatkan beberapa hal tentang desain kursi Betawi. Perkembangan desain kursi Betawi dipengaruhi oleh beberapa gaya-gaya desain luar (gaya-gaya Eropa diantaranya: Gaya Portugian, Gaya Kompenian, Gaya Perancisan, Gaya Rafflesan, dan Gaya Yankee/Jengki). Pada masa pemerintahan dan kerajaan di Pulau Jawa sebelum abad-17, diantaranya Kerajaan Majapahit dengan (Gaya Majapahitan), Pemerintah Portugis, Pemerintah Belanda dan Persekutuan Dagangnya (VOC) abad ke-16 hingga awal abad ke-20. Bangsa­bangsa lain yang mempengaruhi perkembangan desain kursi Betawi adalah Bangsa Cina.

Salah satu faktor yang berperan dalam pembentukan gaya tersebut adalah sikap terbukanya budaya Indonesia terhadap pengaruh budaya asing yang didukung kemampuan untuk mengolah dan mengembangkan semua unsur yang ada dengan dasar kebudayaan lokal daerah. Gaya yang berkembang pada desain kursi Betawi meliputi gaya kedaerahan, gaya Cina, dan gaya Eropa.

Dari analisa yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi pergeseran bentuk kursi Betawi adalah aspek budaya yang terdiri dari : asimilasi / akulturasi / inkulturasi budaya yang mendorong terciptanya gaya bentuk kursi Betawi, interaksi produsen yang semakin luas dapat memperluas wawasan produsen, cita rasa produsen dan konsumen yang semakin beragam dan kompetitif yang semakin ketat mendorong produsen untuk menghasilkan produk yang lebih beragam.

Aspek komponen bahan, yang meliputi: perkembangan bahan baku yang beragam, penyediaan bahan baku yang- semakin murah .dan mullah didapat di Indonesia, aspek komponen alat, aspek komponen produksi, aspek cumber daya manusia juga berpengaruh pada perkembangan desain kursi Betawi di masa sekarang.

Perkembangan bentuk kursi Betawi di perkotaan lebih cepat berkembang dibandingkan daerah pedalaman dan pesisir, karena daerah perkotaan lebih terbuka terhadap pengaruh budaya asing. Dahulu perkembangan bentuk serta budaya di daerah pesisir lebih maju dibanding daerah pedalaman, tetapi sekarang daerah perkotaan berkembang lebih cepat. Bentuk kursi Betawi mengalami perubahan fungsi simbolis aristokrasi ke simbolis eklektik. Perubahan aspek desain kursi Betawi dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang juga semakin beragam.

Uraian di atas sangatlah menarik untuk dikaji lebih lanjut bahwa perkembangan de,;ain kursi tidak sebatas dilihat dari tipologi visualnya saja, tetapi banyak faktor yang mempengaruhi terciptanya sebuah desain kursi yang didalamnya meliputi kompleksitas sistem nilai-nilai dari politik, ekonomi, sosial, budaya, bahan, ,eknik, metode, estetik dan konsep/filosofi.

Sangayu Ketut Laksemi N, NIM : 27102001

ABSTRAK

TAKSU DALAM KESENIAN BALI
(KAJIAN ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL BALI )
(studi kasus – “GRIYA”)

Kegiatan seni bagi masyarakat Hindu Bali merupakan suatu refleksi kehidupan dalam upaya mengungkapkan esensi suatu karya yang mengandung kualitas keindahan, rasa bhakti yang berpedoman kepada nilai-nilai budaya tradisi. Kegiatan seni terwujud dalam bentuk tarian, arsitektur tradisional, patung atau artifak, sastra, lukisan, dan sebagainya. Sedangkan makna dari kegiatan seni adalah sebagai wujud persembahan (Yadnyrz) kepada Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud karya seni.

Masyarakat Bali (Hindu) mengenal adanya suatu pedoman mengenai pencapaian kualitas untuk menghasilkan suatu karya bermutu, disebut taksu. Taksu sebagai landasan pencapaian kualitas seni lebih mudah dilihat, dirasakan dan dijelaskan melalui bentuk tarian, karena perwujudannya tampak secara visual. Berdasarkan hasil survey, taksu ternyata ada pada setiap bidang kegiatan.

Berdasarkan keterangan diatas, maka fokus penelitian ini untuk mengungkapkan pencapaian kualitas taksu pada bidang arsitektur rumah tradisional Bali, yaitu griya sebagai studi kasus. Penelitian tesis ini mempergunakan metoda penelitian kualitatif, tujuannya untuk memperoleh pandangan secara holistik dari mereka yang diteliti. Penelitian meliputi komposisi rumpun bangunan, pekarangan, natah (halaman), dan karakteristik penghuni.

Temuan-temuan yang diperoleh, taksu pada dasamya merupakan landasan berpikir dalam upaya mengungkapkan nilai-nilai dan makna keindahan yang tertinggi. Berdasarkan keterangan di stag ditemukan tiga unsur penting yang saling mempengaruhi untuk tercapainya pemahaman nilai-nilai taksu, yaitu : undagi (arsitek), griya (karya), dan masyarakat umum (penghuni griya). Undagi dengan karyanya bila mendapatkan suatu pengakuan, penghargaan dari masyarakat dikatakan sebagai undagi metaksu dan griya metaksu. Metaksu adalah basil apresiasi masyarakat sebagai penikmat karya, karena secara kreatif seniman tersebut telah mampu menghasilkan dan menyampaikan suatu karya yang memenuhi nilai-nilai yang hendak dikomunikasikan, berupa pesan-pesan estetik.

Inti dari pencapaian taksu menjadi metaksu, adalah didalam suatu karya tersembunyi subjektivitas undagi, dan masyarakat melihat sebagai suatu karya yang utuh (manunggal). Maka taksu dapat dikatakan semacam “ideologi” bagi masyarakat Hindu Bali; dalam pengertian’ sebagai suatu kumpulan nilai-nilai budaya ash daerah yang dijadikan landasan pemikiran, pendapat yang memberikan arah tujuan untuk mencapai kualitas dalam kehidupan.

Pencapaian pemahaman nilai-nilai taksu merupakan sesuatu yang sangat penting bagi undagi karena akan berdampak dalam upaya menjaga kualitas keharmonisan dan keserasian antara bhuwana alit dan bhuwana agung, sesuai tujuan akhir hidup orang Bali, yaitu : mencapai kesejahteraan jagad dan mencapai moksa (keabadiw akhirat).

Kata kunci : taksu, metaksu, undagi, griya, dan masyarakat (penghuni).

Isma Iskandar
27102004

ABSTRAK

PERGESERAN VISUALISASI DESAIN DARI MANUAL KE DIGITAL

Kajian pengaruh sistem CAAD terhadap perancangan arsitektural

Gambar dapat digunakan sebagai media komunikasi,disamping itu mempunyai nilai ekspresi daya cipta dan visualisasi cara pikir rasional manusia, sehingga dalam perjalanan sejarahnya sudah sangat lama gambar dimanfaatkan dalam perancangan. Teknik visualisasi perancangan semakin meningkat selaras tuntutan zaman yang semakin menuntut peningkatan rasionalisasi perancangan. Perkembangan alat, metoda, dan media visualisasi perancangan memperlihatkan usaha manusia baik dalam peningkatan rasionalisasi perancangan ataupun pencitraannya.

Rasionalisasi operasi perancangan semakin menimbulkan banyak kebutuhan baru, dan perkembangan teknologi alat untuk membantu perancangan adalah merupakan salah satu usaha pemenuhan kebutuhan tersebut. Biro-biro konsultan desain memerlukan perubahan pada bidang operasional dan ekonominya. Begitu pula lembaga pendidikan seringkali merubah sistemnya untuk mengantisipasi setiap perubahan yang ada. Dalam perkembangan komputer sebagai alai bantu desain menuju kesempurnaan alai dimana CAD (Computer Aided Design) bukan lagi hanya sebagai alai untuk menggambar tetapi mempunyai kemampuan yang bermanfaat hampir pads keseluruhan proses perancangan. Perkembangan sistem CAD 3D memperlihatkan kemampuan yang dapat dimanfaatkan baik pada rasionalisasi perancangan ataupun pencitraannya. Sistem CAD untuk arsitektur mulai dapat memenuhi kebutuhan perancangan dalam hampir seluruh tahapan prosesnya, dimana komputer sudah mempunyai perangkat lunak yang bisa menghadirkan keseluruhan suatu proyek desain. Pada sisi lain kebiasaan yang sudah sangat lama dalam praktek perancangan dengan peralatan manual yang sangat jauh berbeda dengan karakteristik peralatan digital memberi kemungkinan kesulitan untuk menentukan sikap. Apa yang dapat dilakukan dengan media baru ini mempunyai suatu pengaruh besar pada para pendesain untuk menetpkan sikap. Pergeseran visualisasi perancancangan dari manual Ice digital menimbulkan sejumlah pertanyaan yang menjadi masalah, terutama permasalahan tentang implikasi akibat pengintegrasian teknologi alai baru terhadap visualisasi perancangan.

Dengan pendekatan historis tulisan ini mengkaji perkembangan visualisasi perancangan untuk melihat latar belakang yang berkaitan dengan kemunculan CAD sebagai sistem baru dalam perancangan, dan kajian secara khusus ditujukan pada pengaruhnya terhadap rasionalisasi serta pencitraan dalam perancangan arsitektural baik pada praktek profesi juga pendidikan. Kajian menghadirkan simpulan bahwa pada pokoknya pemanfaatan CAAD (Computer Aided Architectural Design) dapat meningkatkan efektifitas dan efesiensi perancangan arsitektural. CAAD sekarang sudah menjadi suatu wadah interaksi informasi, melancarkan jalinan proses kreasi dengan teknologi dalam perancangan arsitektural Kemampuan CAAD tersebut sudah menjadi kebutuhan yang semestinya dimanfaatkan dalam praktek perancangan baik pada profesi ataupun pendidikan arsitektural.

Kata kunci : rasionalisasi perancangan, pencitraan, CAD 3D, CAAD.

R. Moh Wisnu Ibadi, NIM. 27102003

ABSTRAK

KAJIAN ESTETIKA IKLAN MEDIA RUANG LUAR SEBAGAI ELEMEN WAJAH KOTA
Kajian Kritis Pengaruh Iklan Media Ruang luar Terhadap Wajah dan Citra Kota

Saat ini penggunaan media ruang luar dalam kampanye periklanan terlihat semakin berkembang dengan pesat dan marak di berbagai kota-kota di Indonesia, dalam berbagai bentuk dan wujud. Namur tanpa melihat pengaruh dan dampaknya terhadap penataan estetika visual perkotaan, pemerintah kota yang lebih mengutamakan sisi pendapatan daerah semata, memberikan ijin (komersialisasi) lokasi-lokasi strategis ruang kota sebagai lokasi penempatan periklanan media ruang luar. Padahal ruang kota merupakan area milik ruang publik yang berperan dalam membentuk wajah dan citra suatu kota. Penelitian dalam tesis ini kemudian menunjukkan bahwa kontribusi ekonomi iklan media ruang luar dalam hal retribusi dan pajak daerah sebenarnya tidak sebanding dengan dampak yang ditimbulkannya terhadap penataan estetika visual kota. Hal lain yang menarik perhatian peneliti adalah permasalahan penataan iklan media ruang luar yang tanpa memperhatikan estetika visual ini ada disuatu wilayah yang `terabaikankan’, karena sedikitnya pembahasan dalam ilmu arsitektur maupun perkotaan mengenai hal ini. Sehingga diharapkan penelitian dalam tesis ini, yang mengkaji ikian media ruang luar dari permasalahan lokasi, unsur, keberadaan, dan estetika yang didukung semiotika, dapat memberi masukan bagi penelitian lain lebih lanjut, terutama dari segi pengaruh periklanan media ruang luar terhadap warga kota dan kebudayaan. Kesimpulan kajian ini adalah nilai dan prinsip estetika hares

menjadi bagian dalam perencanaan kota.

Kata Kunci :Iklan media ruang luar, citra kota, lokasi, unsur, keberadaan sebagai tanda, dan estetika.

Dian Cahyadi, NIM 27102009

ABSTRAK

PEMBERDAYAAN POTENSI DESAIN PERHIASAN KANDAWARIK

DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA DI SULAWESI SELATAN

(Studi Kasus pada Pengrajin Perhiasan Emas/Perak di Borong, Kota Makassar)

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi perhiasan emas Kandawarik untuk dikembangkan sebagai sebuah aset yang kaya akan nilai-nilai tradisi, sekaligus sebagai aset ekonomi yang dapat dijadikan salah satu kekuatan bagi perekonomian di Indonesia dari sektor informal. Dalam penelusuran dari aspek sejarahnya, banyak hal yang terungkap, seperti latar belakang sejarah Kandawarik sebagai sebuah benda artefak basil dari kebudayaan, sosial budaya, citarasa keindahan, teknologi dan keterampilan, dan lain sebagainya. Penelusuran yang menarik mengenai konsepsi pemikiran yang melatari, kandungan nilai-nilai dan potensinya, gagasan pengembangan, arah pengembangan yang diharapkan banyak memberikan masukan bermanfaat pada upaya pemberdayaan dan pengembangan perhiasan emas Kandawarik khususnya dan ragam produk perhiasan Indonesia pada umumnya.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, mengambil studi kasus di sentra industri pengrajin perhiasan emas/perak Borong, Makassar. Serta di beberapa kelompok-kelompok lainnya yang tersebar di Kota Makassar dan di daerah lainnya yang dinilai masih terkait dan merupakan daerah asal-usul pengrajin perhiasan di Sulawesi Selatan.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi lapangan dengan terlibat langsung kepada prosesnya dari hulu ke hilir dan studi kepustakaan. Teknik analisis dan penyajian datanya menggunakan metode desain disertai analisis sejarah dan strategi desain setelah terlebih dahulu melalui proses interpretasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (I) perhiasan Kandawarik merupakan suatu warisan yang dihasilkan melalui perjalanan panjang dalam sejarahnya, sebagai potensi yang memiliki nilai-nilai tradisi; (2) sebagai sebuah produk, perhiasan Kandawarik memiliki potensi besar sebagai aset budaya dan aset ekonomi; (3) arah pengembangan desain yang dihasilkan diharapkan mampu bersaing di pasar perhiasan dunia; (4) kekayaan ragam bias dan ragam produk yang dihasilkan memiliki kandungan nilai-nilai dari tradisi lokal dengan bentuk-bentuk yang universal menjadi kekuatan utama untuk mampu berkompetisi dan mengembangkan diri.