Magister Desain Angkatan 2001

Saftiyaningsih Ken Atik, NIM. 27101032

Abstrak

KAJIAN UNSUR METAFORA DALAM FASHION KONTEMPORER DI INDONESIA

Metafora adalah sebuah model hubungan tanda yang di dalamnya sebuah tanda dari sebuah sistem digunakan untuk menjelaskan makna tanda yang lainnya. Dalam hal ini yang menjadi pijakan mendasar metafora adalah adanya keserupaan, kiasan retorikal (rhetorical trope) atau peribahasa (figure of speech). Fashion di Indonesia jika diperhatikan memiliki banyak muatan metafora pada unsur-unsur visualnya. Akan tetapi kehadiran metafora tidak diberikan penjelasan berarti mengenai alasan kemunculannya oleh perancangnya.Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah terdapat sebuah ‘kesadaran’ dalam proses kreativitas dan pedoman seorang perancang dalam memunculkan peran metafora, sebagai satu konsep berkarya untuk meluaskan cara pandang yang dapat menghantarkan pada penggalian imajinasi, dan visi. Atau apakah tidak disadari dan tanpa sengaja metafora hadir sebagai unsur visual dalam rancangannya.

Penelitian akan menjawab permasalahan penggunaan metafora yang muncul dalam fashion. Secara lebih khusus penelitian ini akan memberikan pemahaman tentang berbagai prinsip, elemen, dan jenis metafora; mendapatkan pemahaman tentang berbagai aspek visual dari metafora sekaligus mampu mengklasifikasikan metafora visual pada fashion di Indonesia. Manfaat yang dihasilkan dari penelitian ini untuk memahami aspek metafora dalam fashion di Indonesia serta memberikan cakrawala baru mengenai konsep visual metafora.

Penelitian ini menggunakan metode semiotika, yaitu menganalisis penggunaan unsur-unsur metafora dalam fashion sebagai fenomena tanda. Secara lebih khusus penelitian ini mempelajari fenomena peminjaman tanda (the borrowing of sign), yaitu bagaimana unsur-unsur seperti; tekstur, bidang, garis, warna, bentuk dari sebuah sistem tanda yang berasal dari flora, fauna, pakaian tradisional, bangunan rumah (arsitektur), ornamen, tatto/rajah, atau fenomena dan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan politik, sosial, dan budaya, digunakan sebagai unsur-unsur visual dalam fashion, dalam rangka meningkatkan imajinasi, fantasi, dan visi sebuah fashion.

Penelitian ini menemukan bahwa fashion di Indonesia tidak seluruhnya menggambarkan hal-hal yang disebutkan di atas. Jenis metafor yang muncul dalam fashion di Indonesia cenderung lebih banyak mengadopsi ide-ide yang diambil dari alam; flora, fauna, ornamen tradisional, gaya pakaian daerah atau negara tertentu. Pada umumnya representasi bentuk dari sumber ide dipindahkan secara langsung ke dalam fashion tanpa pengembangan ide lebih jauh. Melalui penelitian ini disarankan agar para perancang lebih terbuka atau membuka diri untuk penelitian, sekaligus lebih kreatif dalam memunculkan gagasan / ide dalam karya rancangannya.

Nita Trismaya, NIM 27101031

Abstrak

KAJIAN DESAIN RAGAM HIAS BATIK INDRAMAYU

Indramayu merupakan daerah pesisir dengan pengaruh berbagai budaya mulai dari Hindu, Islam dan Cina, berlatar budaya nelayan dan petani. Di masa dahulu merupakan kota pelabuhan yang menjualbelikan barang-barang dari berbagai tempat Kedatangan bangsa Cina terkait dengan sejarah nusantara yang terletak dalam lalu lintas perdagangan India-Cina. Lewat kontak budaya dan politik dengan berbagai bangsa, masyarakat Indonesia memiliki seni tradisi yang kaya salah satunya adalah batik pesisir. Ragam hias batik Indramayu termasuk batik pesisir kategori batik rakyat dan berbeda dengan batik Cirebon yang berlatar budaya kraton dan banyak memiliki perlambangan. Cirebon sebagai daerah terdekat ikut menyumbang dalam pembentukan budaya pesisir Indramayu, lewat hubungan dagang dan politik. Budaya Cirebon itu sendin terbentuk lewat akulturasi budaya lokal, Hindu, Islam dan Cina dengan latar seni istana serta memiliki komunitas masyarakat peranakan Cina. Pengaruh budaya Cina yang datang langsung ke Indramayu lewat perdagangan maupun lewat jalur Cirebon dapat dilihat dari penggunaan motif-motif simbolis Cina seperti funiks, kilin, banji, meander, dimana dalam prosesnya motif Cina tidak ditiru begitu saja tapi diolah ke dalam nilai-nilai lokal konvensi masyarakat Indramayu sehingga menghasilkan berbagai perubahan bentuk. Kedatangan barang-barang keramik dan kain sutera Cina ke pelabuhan Cimanuk Indramayu diperkirakan bersamaan juga dengan kain batik indigo Cina dimana terdapat kesamaan ragam hias dan warna dengan batik Indramayu.

Dalam penelitian ini, digunakan tinjauan historis dan komparatif secara deskriptif analisis untuk mendapat identitas batik Indramayu dan sampai sejauh mana perkembangan seni hias Cina dalam batik Indramayu. Ragam bias batik Indramayu tersebut kemudian dianalisis memakai pendekatan estetis lewat unsur rupa (titik, garis, bentuk, warna) dan prinsip dasar desain (keseimbangan, irama, harmoni) sebagai satu kesatuan serta konvensi yang berlaku karena seni bias Cina sarat dengan pemaknaan sedangkan ragam bias batik Indramayu yang berlatar budaya nelayan dan petani tidak banyak memiliki perlambangan.

Analisis menghasilkan kesimpulan bahwa seni bias Cina lewat keramik dan kain batik indigo banyak mempengaruhi batik Indramayu dilihat dari kesamaan unsur garis, bentuk, tata warna dan komposisi keseluruhan. Identitas batik Indramayu merupakan hasil akulturasi berbagai budaya yang terbentuk lewat perjalanan panjang sejarahnya, serta mencerminkan batik berciri khas

Christine Claudia Lukman, NIM: 27101026

Abstrak

HUBUNGAN ANTARA BUDAYA KORPORAT DENGAN TANDA VISUAL DARI IDENTITAS KORPORAT

(Studi Kasus: Bank Mandiri, Bank Niaga, dan BPR Karyajatnika Sadaya)

Bank Mandiri, bank Niaga, dan BPR Karyajatnika Sadaya adalah tiga buah bank yang memiliki identitas korporat (perilaku, komunikasi, dan desain korporat) yang berlainan karena adanya perbedaan pada budaya korporatnya. Budaya korporat adalah sistem nilai yang diyakini oleh semua anggota organisasi dan yang dipelajari, diterapkan, serta dikembangkan secara berkesinambungan, berfungsi sebagai sistem perekat, dan dapat dijadikan acuan berperilaku dalam organisasi untuk mencapai visi dan misi perusahaan. Budaya korporat yang tidak kasat mata dijadikan terlihat melalui identitas korporatnya, termasuk pada desain logonya.

Untuk mengetahui makna semantikal ketiga logo bank tersebut, serta hubungan antara budaya korporat dengan tanda visual dari identitas korporatnya dilakukan penelitian kualitatif deskriptif melalui studi kasus 3 bank (embedded case study research) dalam kurun waktu 1 tahun (April 2003 – April 2004). Sumber data berasal dari informan, lingkungan kerja dan perilaku karyawan, serta media desain komunikasi visualnya. Data dikumpulkan melelui wawancara mendalam, observasi langsung, mencatat dokumen, serta dokumentasi fotografis dan digital. Kajian semantik terhadap data dilakukan melalui beberapa tahap, yakni deskripsi, analisis, interpretasi (secara hermeneutic), dan penilaian.

Dari hasil pengkajian tersebut disimpulkan bahwa desain logo yang tepat dirancang berdasarkan pemahaman terhadap budaya korporat, target audience, dan semantic-demand. Desain logo yang ‘estetis’ tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan/ketepatan. Bagi masyarakat yang terpelajar, citra adalah hal penting, yang turut diperhitungkan dalam memilih suatu bank. Logo bukan hanya alat identitas dan legalitas saja, tetapi bagian dari citra, karena itu desainnya harus sophisticated dan estetis. Berbeda dengan nasabah dari golongan menengah ke bawah yang tidak mempermasalahkan citra. Pemilihan bank didasarkan alas an pragmatis, seperti dapat dipercaya, bunga tinggi, mudah memperoleh kredit, dan pelayanan yang memuaskan. Logo berperan sebagai alat identitas dan legalitas saja, karena itu desainnya harus sederhana dan informative (menuliskan secara lengkap jati dirinya).

Desain logo yang sophisticated acapkali memakai metafora. Pita pada logo Bank Mandiri merupakan metafora pengikat 4 bank yang dimerger. Logo tersebut merupakan metafora dari budaya korporat yang berorientasi ke dalam (menggalang persatuan agat menjadi bank yang kuat dan dapat dipercaya). Sedangkan logo Bank Niaga merupakan metafora dari budaya korporatnya yang berorientasi ke luar, yakni memberikan pelayanan yang terbaik kepada nasabah. Metafora hanya sesuai digunakan pada logo yang target-audience-nya dari golongan menengah ke atas.

Yunita Setyoningrum, NIM 27101020

Abstrak

PERUBAHAN ARSITEKTUR DAN INTERIOR GEREJA KATOLIK DI YOGYAKARTA

PADA MASA KOLONIAL BELANDA :

SEBUAH KAJIAN INKULTURASI BUDAYA

Penelitian ini dilakukan karena ketertarikan penulis terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada arsitektur dan interior beberapa gereja Katolik di Yogyakarta yang didirikan pada masa awal penyebaran dan perkembangan agama Katolik. Perubahan-perubahan itu terjadi akibat persinggungan antara konsep dan nilai agama Katolik dengan budaya Jawa setempat. Yang menarik dari perubahan arsitektur dan interior gereja ini adalah bahwa perubahan tersebut dipengaruhi oleh keadaan misionari agama Katolik, situasi politik serta sosial budaya masyarakat Yogyakarta pada masa itu dan kemudian menghasilkan wujud fisik gereja yang berkarakter Jawa. Ini berarti bahwa perubahan-perubahan wujud gereja terjadi dengan pola tertentu yang mengindikasikan proses inkulturasi dengan budaya lokal Jawa. Inkulturasi dalam agama Katolik sendiri diartikan sebagai proses inkarnasi, kontekstualisasi, atau indigenisasi dimana nilai-nilai iman Katolik diakarkan atau dimasukkan dalam konteks kebudayaan setempat untuk membantu penghayatan umat terhadap Kristus. Oleh karena itu dalam penelitian ini digunakan teori inkulturasi pada agama Katolik sebagai kajian teoritis dan dasar analisa perubahan bangunan gereja.

Untuk menganalisa perubahan-perubahan yang terjadi, digunakan ketentuan dari Konsili Vatikan II yang berisi tentang perwujudan arsitektur dan interior gereja Katolik berpola umum barat berdasarkan pada makna teologi yang kemudian mengarah pada ketentuan dasar fisik sebagai perwujudan visualnya. Ketentuan dasar fisik yang dianalisa disini meliputi tata letak kompleks gereja, orientasi bangunan, bentuk fasade bangunan, denah bangunan, bagian-bagian bangunan (atap, badan, dan kaki), organisasi ruang, sirkulasi ruang, orientasi ruang, dan penggunaan ornamen serta simbol. Sebagai rujukan visual gereja berpola umum barat dalam memperbandingkan perubahan yang terjadi pada studi kasus digunakan Katedral St. Petrus, Bandung.

Hasil analisa perubahan elemen arsitektur dan interior yang diperbandingkan dengan Katedral St. Petrus itu kemudian dikaitkan dengan latar belakang masyarakat dan lingkungan di sekitar bangunan gereja tersebut, meliputi keadaan fisik lingkungan, konsep sosial budaya masyarakat Jawa pada studi kasus ketika itu, metode misionari agama Katolik yang digunakan pada studi kasus, dan teori inkulturasi pada agama Katolik. Dari sinilah kemudian penulis menyimpulkan pola inkulturasi agama Katolik yang diterapkan di kota Yogyakarta yang memiliki latarbelakang budaya Jawa yang kuat, dimana dalam agama Katolik inkulturasi tidak akan mencapai tahap akhir atau sinkretisme karena agama Katolik sendiri memiliki nilai tertentu.

Yuliarma, NIM 27101019

Abstrak

KAJIAN DESAIN BUSANA ADAT MINANGKABAU DAERAH KOTOGADANG

(TINJAUAN PERKEMBANGAN DESAIN KAIN-KAIN)

Penelitian ini merupakan fenomena yang terjadi pada seni tradisi busana pengantin adat Minangkabau, Nagari Kotogadang, berkaitan dengan perubahan desain kain-kainnya. Pengaruh dinamika masyarakat, fleksibilitas adat Minangkabau, perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan kondisi ekonomi menimbulkan perubahan fungsi dan estetik pada desain kain busana adat Kotogadang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan, mendeskripsikan, menganalisis dan mendokumentasikan nilai fungsi, ciri estetik dan simbolik pada desain kain-kain busana adat. Analisis perubahan estetik difokuskan pada perubahan struktur busana (siluet, bahan, cara pemasangan) dan perubahan ornamen (motif, warna, dan teknik hias).

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, data primer diperoleh dari observasi langsung pada kain-kainan busana adat Kotogadang yang dimiliki masyarakat, ke museum, dan pengamatan proses upacara. Data sekunder diperoleh melalui wawancara dengan nara sumber, kajian literatur yang relevan kepustaka.

Temuan penelitian ini : (1) ada tujuh ungkapan desain busana adat pengantin yang berbeda fungsi sosial, adat, estetis dan simbolik pada prosesi; (2) Ciri estetik desain baju pengantin pria: destar batik ditata berkerut, baju kurung longgar (gunting cina) dari bahan sutra bersulam terawang dibahu untuk baju gadang dan bersulam kepala peniti, suji, suji calf Untuk baju tarewai, celana gembrong bahan sohgket motif bunga manggis, salempang baju gadang bahan songket motif sayik galamai kombinasi motif kaluak paku dan itik pulang patang, salempang tarewai bahan songket tujtth lapis motif batatak dan kambang cinb, ujurig salerhpahg befjumbai renda palembang atau renda bangku; (3) Ciri estetik desain baju pengantin wanita: tutup kepala bersulam suji, suji cair, kepala peniti dan terawang motif kecil, baju kurung longgar bahan sutra bermotif pada balui bersulam terawang dan tempelan emas pada baju kurung bludru, kodek kain batapi dari salempang bahan songket motif sayik galamai, belah ketupat, bunga manggis, sisik tenggiling, kombinasi itik pulang patang, kaluak paku. Ciri warna pria dan wanita dominan merah, lembayung, hitam dan hijau; bahan sutra, motif sulam : bunga peony, burung hong, kupu-kupu dan mawar; motif renda bangku pisang-pisang; (4) Desain baju berciri pengaruh Cina, Islam Arab, India; (5) simbolik baju kurung bermakna tertutup; tiga deret sulaman terawang pada bahu bermakna sejumlah tanggung jawab; simbolik warna bermakna; tahan uji, keagungan, kehormatan, kepemimpinan, pengetahuan dan perdamaian; (6) tahun 1935-1970 desain busana disederhanakan, 1980-1992 desain busana berciri kemewahan, 1998-2003 desain busana kembali disederhanakan dengan kualitas menurun. Perubahan selama tiga priode pada desain kain-kain busana tradisi di Kotogadang menunjukkan perkembangan: struktur busana asli cendrung disederhanakan (penyederhanaan pada tujuh lapis kain tarewai menjadi enam lapis palsu; teknik sulaman terawang benang makau diganti dengan renda minsie dan jumlah hiasan dikurangi dari tiga menjadi dua, kain kambang cino difimgsikan untuk salempang baju gadang) teknik hias milijc seni pribadi untuk persyaratan adat tetap dipertahankan, perkembangan pada bahan dan warna cendrung mengikuti zaman; motif asli pada songket cendrung beralih kemotif Pandaisikek; (7) Kini busana pengantin merupakan image masa lalu, estetika disesuai masa sekarang.

Yanty Hardi Saputra, NIM 27101026

Aabstrak

KAJI BANDING BAHASA RUPA GAMBAR ANAK USIA PRA SEKOLAH (2-4 TAHUN) DI EMPAT KOTA:

JAKARTA, BANDUNG, YOGYAKARTA DAN SURABAYA

Gambar anak adalah sebagai media ekspresi bagi anak. Media dimana mereka dapat mengungkapkan perasaan, suasana hati dan keinginannya. Juga merupakan media komunikasi yang lebih efektif baginya, karena keterbatasan mereka dalam menguasai bahasa kata terutama pada anak-anak usia pra sekolah yaitu 2-6 tahun serta ada artefaknya. Anak-anak yang masih belum menguasai bahasa kata dan bahasa tulisan dengan baik, mereka dapat dengan mudah berkomunikasi dengan bahasa rupa yang memang dianugerahkan padanya oleh Tuhan sejak sekitar usia 2 tahunan.

Gambar anak termasuk dalam salah satu bagian dari bahasa rupa pendahulu, bersama gambar prasejarah dan primitip. Belum banyaknya penelitian mengenai bahasa rupa karena semula bahasa rupa Barat dianggap universal, jadi untuk apa diteliti, juga secara khusus diakibatkan oleh adanya anggapan ‘adi luhung’ bagi bahasa kata dan bahasa tulisan yang dapat lebih cepat dan jelas ditangkap maksudnya. Hal ini menyebabkan pula dominasi Barat baik pada kesenian maupun teknologi dan lainnya.

Pada kesenian seni rupa pada khususnya, Barat menggangap hanya berlaku sistem Naturalis-Prespektip-Momenopname (NPM). Gambar yang hanya mempunyai satu waktu, satu ruang dan satu arah, pengambilan gambar seperti memotret pada sebuah single frame. Padahal pada bahasa rupa berlaku juga sistem Ruang-Waktu-Datar (RWD) yang mempunyai matra waktu, matra ruang dan matra arah seperti yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak zaman prasejarah, kemudian berlanjut pada masa primitip dan tradisi.

Pada penelitian ini akan dikaji bandingkan bahasa rupa gambar anak usia pra sekolah 2-6 tahun di empat kota yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya, apakah terdapat kemiripan antara satu kota dengan kota lainnya, juga apakah ada kemiripan dengan hasil penelitian mengenai bahasa rupa gambar pendahulu yang telah diteliti sebelumnya oleh Primadi Tabrani.

Diketahui pula bahwa faktor lingkungan di mana anak itu berdomisili dapat mempengaruhi pilihan objek yang digambar dan latar belakang budaya dapat mempengaruhi pula pengalaman apa yang akan diceritakan anak dalam gambarnya.

Metode penelitian yang dipakai adalah metode penelitian kualitatip dengan interpretasi-interpretasi yang dikandung dalam gambar anak usia pra sekolah ini dianalisa dengan tabulasi. Hasil tabulasi bukan untuk pembuktian tapi sebagai indikator saja, lalu ditafsirkan menurut pemikiran penulis.

Sumber data didapat dari anak-anak usia pra sekolah di empat kota di atas, sebanyak 48 gambar di tiap kota yang terbagi atas 24 gambar usia 2-4 tahun dan 24 gambar usia 5-6 tahun. Latar belakang sosial ekonominya kebetulan dari golongan menengah ke atas. Setiap gambar dianalisa lalu dimasukkan ke dalam tabel dan dihitung jumlah keseluruhan penggunaan bahasa rupanya, baru dibandingkan dengan bahasa rupa gambar anak di kota-kota lainnya.

Dari hasil tabulasi maka didapatkan hasil bahwa bahasa rupa yang digunakan oleh anak usia pra sekolah 2-6 tahun di empat kota tersebut adalah benar mempunyai kemiripan dengan bahasa rupa gambar pendahulu dan mempunyai kemiripan pula antara satu kota dengan kota lainnya. Beberapa perbedaannya hanya terletak pada objek yang digambar dan berdasarkan pengalaman apa anak menggambar. Hal ini memang disebabkan oleh faktor lingkungan dan latar belakang budaya yang menjadi pengalaman anak mengenai sesuatu dan faktor terpenting pula adalah latar belakang sosial ekonomi anak-anak yang menjadi informannya, yaitu berasal dari golongan menengah keatas.

Seruni Kusuwardhani, NIM 27101016

Abstrak

VERNAKULARISME PADA DESAIN PERANGKAT JUAL PEDAGANG MAKANAN KELILING DI BANDUNG

Perangkat jual PMK merupakan hasil dari suatu pemikiran desain khas yang muncul dari kalangan grassroot yang telah berkembang dari generasi ke generasi tanpa kehadiran seorang desainer terdidik (design without designer) namun tetap memiliki konsep desain. Perubahan dan perkembangan desain perangkat jual PMK di Bandung merupakan salah satu bentuk adaptasi PMK pada kehidupan modern perkotaan dari waktu ke waktu. Konsep desain yang timbul dari kalangan masyarakat itu sendiri sesuai dengan nilai-nilai yang berkembang disana dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut disebut pula sebagai proses desain vernakular. Namun pada saat ini perkembangan desain perangkat jual PMK mengalami kesulitan untuk menghadapi perkembangan jaman. Percepatan perkembangan jaman yang tinggi tidak diimbangi oleh kemajuan cara berpikir para PMK. Hal ini mengakibatkan solusi desain yang digunakan seringkali tidak tepat. Permasalahan ini membutuhkan suatu solusi untuk membantu para PMK dalam rangka menghadapi laju perkembangan jaman. Interfensi desainer terdidik diharapkan dapat membantu ”mengarahkan” proses yang selama ini berjalan. Hasil penjabaran kembali secara deskriptif analitis atas konsep desain tersebut dapat memperlihatkan vernakularisme pada perangkat jual PMK. Dengan dijabarkannya vernakularisme pada perangkat jual PMK tersebut diharapkan pada akhirnya dapat ditemukan suatu pendekatan/produk intervensi seperti apa yang efektif sehingga dapat membantu meningkatkan potensi PMK di Kota Bandung.

Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan sosio-budaya dengan metode etnografi. Pendekatan dengan metode ini merupakan yang paling tepat karena kajian dilakukan dengan cara proses pengumpulan data lapangan melalui pengamatan kepada objek penelitian dan wawancara pada para pelaku (PMK dan supplier), informan, pakar, maupun sumber-sumber yang terlibat langsung dan tidak langsung pada proses desain. Metode yang dilakukan adalah: Pertama, method of “seeing the thing” untuk menentukan rumusan masalah dan pertanyaan penelitian dikaitkan dengan studi kasus. Kedua, method of data collection yang menghasilkan data awal dan data turunan yang akan digunakan pada tahapan analisis. Ketiga, method of analysis and study yang menganalisa vernakularisme pada perangkat jual PMK melalui bagan vernacular- function matrix. Keseluruhan metode berdasarkan landasan teori desain produk secara umum, desain vernakular, dan desain pada masyarakat miskin kota.

Pada tahap pengumpulan data, melalui survei pendahuluan ditemukan bahwa dari sekitar 60 jenis PMK (gerobak dorong dan tanggungan) dengan bahan olahan di Kota Bandung terdapat 35 PMK (58,33%) disajikan panas (berkompor) yang kemudian akan diamati lebih lanjut pada survei lapangan. Dari 35 jenis PMK yang disajikan panas ini terdiri dari 40% menggunakan perangkat jual tanggungan, 97,1% menggunakan gerobak dorong, dan 37,1% menggunakan keduanya. Artinya, sebagian besar PMK yang menggunakan perangkat jual tanggungan, juga menggunakan gerobak dorong pada jenis makanan yang sama.

Pada tahap analisis, ditemukan bahwa karakteristik perangkat jual PMK memiliki semangat vernakularisme dimana dalam pengerjaannya menggunakan konstruksi sederhana yang mengalami perkembangan teknologi, sumber daya terbatas yang diperoleh di lingkungannya, ekonomis, mampu menerima perubahan dan penambahan bersifat aditif yang selaras antar elemennya, skala manusia, serta kontinyu dengan tujuan untuk mencapai kesempurnaan dalam konteks ruang dan waktu. Dalam pengertian tersebut, tersirat bahwa desain vernakular pada masyarakat miskin: pertama, merupakan pedoman hidup yang berfungsi sebagai blue print mendasar dan menyeluruh bagi kehidupan warga masyarakat miskin pendukungnya, yaitu PMK; kedua, merupakan strategi adaptif untuk melestarikan dan mengembangkan kehidupan dalam menyiasati lingkungan dan sumber daya di sekelilingnya yang serba terbatas. Berbagai keterbatasan yang membelenggu PMK, baik secara ekonomis, politik, maupun sosial-budaya, telah mendorong mereka untuk berorientasi pada pemenuhan kebutuhan primer; suatu kebutuhan mendasar yang senantiasa menjadi persoalan yang harus dihadapi dalam kehidupan rutinitas orang miskin, dalam hal ini PMK. Desain vernakular pada PMK, pada dasarnya merupakan bagian dari desain yang lebih luas, yang diinterpretasi melalui cara-cara hidup orang miskin.

Penulis berkesimpulan, bahwa interfensi yang dilakukan oleh desainer terdidik hendaknya tetap mengacu pada konsep desain vernakular yang digunakan oleh para PMK selaku masyarakat miskin di Kota Bandung. Sejumlah temuan dalam penelitian ini sedikit banyak diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk sumbangan dalam rangka mengembangkan potensi pariwisata dan budaya Kota Bandung lewat keragaman dan eksotisme perangkat jual PMK-nya yang menarik. Hal ini merupakan suatu upaya meningkatkan penghargaan masyarakat terhadap profesi PMK. Dimulai dari usaha peningkatan mutu/kualitas desain perangkat jual PMK yang mampu menghadapi/menyesuaikan dengan perkembangan jaman, yang pada akhirnya dapat diikuti dengan peningkatan mutu/kualitas makanan yang dijual sehingga semakin memikat konsumennya serta meningkatkan penghasilan PMK.

Oktarina Prasetyowati, NIM 27101012

Abstrak

PERGESERAN RAGAM HIAS KEWATÉK MÉAN DAN KETAHANAN KEBERADAAN TENUN IKAT DI DESA MUDAKEPUTU, FLORES TIMUR.

Desa Mudakeputu, merupakan sebuah desa kecil yang terletak di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, yang baru mengenal tradisi menenun ikat lungsi, setelah bangsa Gujarat datang ke wilayah tersebut pada abad XIV, di masa perdagangan cendana, dimana cendana dipertukarkan dengan Patola, kain yang diproduksi dengan teknik tenun ikat ganda dan berbahan bakukan sutera. Pada masa itu, Patola memiliki kedudukan yang tinggi dalam adat desa Mudakeputu, terutama dalam adat perkawinan. Namun karena mahal dan langkanya Patola, maka masyarakat setempat mulai meniru kain tersebut, dengan teknik yang berbeda, yakni teknik tenun ikat lungsi, dan bahan baku yang berbeda, yakni kapas. Salah satu kain tenun ikat lungsi desa Mudakeputu yang terinspirasi dari patola adalah : Kewaték Méan, yang juga memiliki status yang tinggi dalam adat di Desa Mudakeputu.

Keterampilan menghias tenunan dengan ikat lungsi kemudian diturunkan oleh seorang perempuan, kepada anak dan cucu, demikian secara terus menerus. Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran-pergeseran terhadap ragam hias dan konsep hias Kewaték Méan, terutama karena kemampuan dan kreartivitas pengrajin dalam bertenun ikat berbeda-beda.

Program pemerintah untuk menunjang keterampilan bertenun ikat di Mudakeputu ini, terlihat dengan adanya sosialisasi bahan baku yang dapat dikatakan baru di desa tersebut, yakni mengganti bahan baku serat kapas alami dengan serat katun nonalami, serta mengganti zat pewarna, dari pewarna alami tarum dan mengkudu, menjadi zat pewarna non alami, yaitu direk dan naftol.

Setelah semua hal yang dialami oleh keterampilan bertenun ikat lungsi di Desa Mudakeputu ini, kini terjadi kecenderungan berhentinya aktivitas menenun ikat, karena masyarakat lebih memilih untuk mencari peluang penghasilan yang lebih besar, dan dapat dikatakan lebih mudah, yakni dari sector pertanian. Dan regenerasi keterampilan ini pun cenderung menghilang, karena anak muda di desa setempat enggan meneruskan tradisi ini; dengan berbagai macam alasan, seperti kesibukan pribadi, ketidak praktisan, dan ketidak modernan tenun ikat sendiri.

Dalam penelitian ini, akan dipaparkan pergeseran-pergeseran bentuk ragam hias pada Kewaték Méan, dan juga prediksi-prediksi ketahanan keberadaan tradisi menenun ikat di desa Mudakeputu.

Nining Tristantie, Nim 27101011

Abstrak

KAJIAN PENCITRAAN PADA SERAGAM POLANTAS

(Studi Kasus Polisi Lalu Lintas dengan Pendekatan Semantik)

Bermula dari cermatan penulis akan gejolak sosial yang terjadi dalam masyarakat maupun secara iimuiTi kondisi bangsa, yang sedang mengalami proses demokratisasi, kepada pencapaian perbaikan dalam segala hal. Maka penulis memaparkan salah satu proses tersebut dengan mengambil suatu kasus yang terkait erat dengan kekuasaan Negara yang bersentuhan langsung akan interaksinya dengan masyarakat yaitu Poin. Keterkaitan akan alat kekuasaan mi dengan problematika desain adalah ketika suatu benda desain, yakni seragam sebagai barang pakai, bersifat fungsional pada satu sisi, seketika itu pula pada sisi lainnya benda tersebut menjadi bermakna berbeda dan sekaligus mepengaruhi pemaknaan lain diluar tampilan visualnya. Dan, hal ini dipaparkan dalam kajian mengenai seragam polisi lalu lintas.

Kesenjangan antara harapan dengan kenyataan dalam penelitian ini adalah melihat bagaimana seragam diharapkan mampu mengakomodir konsepsi-konsepsi korps polri dalam meningkatkan kinerja dilapangan dengan mengambil langkah bijak dirubalinya seragam tersebut sebagai upaya pencapaian kepada citraan yang lebih positif melalui tampilan visualnya. Namun semuanya ini bergantung pada pandangan masyarakat sebagai pihak ‘pengguna’ kedua dalam konteks komunikasi seragam polantas yang dikenakan aparat sebagai arahan, untuk penciptaan ketertiban. Dalam hal ini masyarakat memiliki keberagaman latar belakang, menjadi bagian dalam proses sosialisasi interaksi, sehingga implikasinya adalah terjadi suatu interpretasi atas persepsi terhadap seragam polantas yang turut puia menentukan citraan tersebut. Fokus analisis benda desain dalam penelitian ini adalah seragam dmas harian lapangan polantas pria dan wanita.

Bagaimana pemaknaan tersebut, secara studi kualitatif dilihat dari kacamata ilmu semiotika, yakni untuk meliiiat suatu komunikasi yang terjalin antara benda desain dengan pengamat adalah memahami sistim tanda dan kode yang terkemas dalam pakaian seragam dan kaitannya dengan kesesuaian aspek fimgsi maupun bentuk. Selanjutnya membandingkan hasil analisis serniotika dilakukan dengan analisis persepsi masyarakat untuk mengetahui bagaimana interpretasi masyarakat dilakukan secara studi kuantitatif dengan pendekatan semantika diferensial, yaitu untuk mengukur prilaku, emosi, rasa yang dimiliki pengamat ketika berinteraksi dengan objek desain melalui kuesioner yang disebarkan.

Hasil akhir dari penelitian ini memaparkan bagaimana kesan masyarakat terhadap seragam dipengaruhi oleh suatu pengalaman, antara lain yakni serangkaian peristiwa yang didokumentasikan oleh beberapa media atas penggambaran tentang aparat kepolisian, hasil yang ditunjukkan dari kuesioner dalam menemukan kata kunci adalah, terdapat kata-kata kunci yang terkait dengan aspek psikologis seperti seram, tidak berwibawa. Hal lain yang ditemukan dalam metode semantik diferensial adalah faktor-faktor preferensi dominan yang terdapat pada tampilan seragam. Dari perclehan rangking angka-angka ini menjelaskan tampiian seragam polantas pria sangat dipengaruhi oleh penggunaan aksesons dan peralatan dengan kesan Ramai. Sedangkan Seragam polantas wanita jika dirangking menjelaskan faktor Praktis menjadi faktor utama pada tampilan seragam sebagai etalase Polri. Dari gambaran umum mengenai seragam polantas berdasarkan gender ini, diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak polri secara khusus d-iiam mengkomunikasikan konsep Polri dengan pendesainan seragam, maupun bermanfaat sebagai pijakan dasar bagi penelitian lanjutan jika dikaji dari sudut ilmu sosiologi, historis maupun politik.

Nanang Yulianto, NIM 27101010

Program Studi Desain

STRATEGI PENGEMBANGAN DESAIN MEBEL BAMBU SEBAGAI PENGEMBANGAN PRODUK

DI KABUPATEN KLATEN, JAWA TENGAH

Pengembangan Desain merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi tuntutan persaingan di pasar global yang semakin tajam. Produk mebel bambu Jambukulon, yang telah memasuki pasar global karena adanya persaingan yang semakin tajam memerlukan strategi untuk memenangkan persaingan tersebut. Berkaitan dengan uraian diatas, maka rumusan permasalahan dalam penelitian dapat dijabarkan dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: aspek-aspek penting apa saja yang berkaitan dengan keberadaan dan perkembangan industri mebel bambu Jambukulon, mengapa perlu dilakukan pengembangan desain mebel bambu Jambukulon, bagaimana strategi pengembangan desain mebel bambu Jambukulon.

Penelitian dilaksanakan di Industri Mebel Bambu Jambukulon. Strategi penelitian menggunakan studi kasus tunggal, dengan menggunakan Pendekatan Strategi dan Pendekatan Pasar, yaitu untuk menentukan strategi pengembangan desain yang bertolak dari kajian pasar produk mebel bambu Jambukulon di pasar global, sehingga diketahui selera dan tuntutan-tuntutan lainnya dari konsumen di pasar global. Pengumpulan data dengan pendekatan etnografl, melalui dokumentasi, wawancara dan pencatatan dokumen. Teknik analisa data dengan menggunakan analisa data model interaktif, terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan.

Dari temuan-temuan didapatkan kesimpulan tentang aspek-aspek penting yang berkaitan dengan keberadaan dan perkembangan industri mebel bambu di Jambukulon, meliputi: karakteristik masyarakat Jambukulon, tuntutan daerah pemasaran dan karakteristik sistem transportasi, potensi yang harus dioptimalkan dan kendala yang diminimalkan, kebutuhan Pengembangan Desain untuk mengantisipasi tuntutan standar kualitas, selera konsumen yang berubah-ubah dan persaingan di pasar global yang semakin tajam.

Model Pengembangan Desain dilakukan dengan menggunakan Model Pendekatan Sosial, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemecahan masalah-masalah sosial yang ada di Jambukulon. Model Pendekatan Partisipasi, diharapkan dapat melibatkan peran serta produsen secara optimal dalam program Pengembangan Desain. Model Pendekatan Pasar, mengkaji jenis produk, dimensi produk, waktu diperlukan, tingkat harga, daya beli, tipe dan gaya desain, jumlah produk dan regulasi-regulasi lingkungan hidup dan keselamatan pemakai di negara tujuan.

Strategi Pengembangan Desain dilakukan dengan meningkatkan keunikan produk-produk mebel bambu Jambukulon. Keunikan berkaitan dengan bahan baku yang menonjolkan karakteristik bahan baku bambu ori, pengembangan teknik produksi yang dapat digali dari tradisi masyarakat dan peningkatan jseralatan produksi, fungsi yang semakin beragam pada satu jenis produk dan inovasi desain yang bersumber dari majalah, desain pesanan buyer, produk mebel yang aihasllkan produsen lain, sehingga dapat menciptakan keunikan desain.

Mochammad Amien, NIM 27101009

Abstrak

PERGESERAN UNSUR VISUAL CERITA ANGLINGDARMA PADA MEDIA KOMIK-ANIMASI-SINETRON

Cerita rakyat Anglingdarma merupakan bagian dari kekayaan budaya tradisi masyarakat di sekitar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini disebabkan oleh muatan spiritual, dan nilai-nilai kultural. Keterkaitan kekuatan magis dan pengaruh mitos pada cerita tersebut menjadi daya tarik dalam penelitian ini. Dari permasalahan tersebut akan terlihat faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran unsur visual pada cerita Anglingdarma, serta mengetahui aspek-aspek yang melatarbelakangi terjadinya pergeseran unsur visual tersebut.

Penelitian ini dibatasi pada perbandingan hasil karya – karya seni modern seperti pada karya komik, film animasi, dan sinetron yang sudah pernah dipublikasikan. Penelitian ini menggunakan studi kasus pada unsur-unsur visual yang terdapat pada ketiga karya tersebut diatas, seperti penggambaran figur, desain busana, dan penggambaran pada seting cerita. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kebudayaan, yaitu mengkaji dari strategi budaya berdasarkan teori Peursen, sedangkan pengumpulan data digunakan berdasarkan pada pengamatan karya sastra Winter yang sudah ditulis berupa naskah cerita Anglingdarma serta pengumpulan dokumentasi dari beberapa karya seni modern dari komik, animasi, dan beberapa serial sinetron Anglingdarma. Teknik analisa data menggunakan analisa model deskriptif,yaitu pemaparan secara jelas, terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan pengambilan keputusan.

Penelitian ini menjadi penting karena banyak diperoleh temuan-temuan yang menarik yaitu munculnya perbedaan unsur visual antara media komik, dengan media-media lainnya, terjadinya pergeseran unsur visual tersebut menyimpulkan adanya perbedaan dalam proses visualisasi terhadap perkembangan teknologi, dan penerimaan masyarakat terhadap suatu cerita dengan latarbelakang budaya daerah sesuai zamannya. Pergeseran tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh media, akan tetapi masalah metodologi, maupun pendekatan yang digunakan dalam proses penciptaan unsur visual.

Pendekatan proses dinamika kebudayaan ternyata melahirkan gagasan baru dalam penciptaan hasil–hasil kebudayaan. Pada kenyataanya produk kebudayaan yang dihasilkan akan mempengaruhi proses penciptaan dan inovasi seiring dengan kecenderungan yang berkembang dengan tingkat pemahaman, pengetahuan, dan penerimaan masyarakatnya.

Melalui penelitian ini diharapkan, hasil kebudayaan tidak saja dapat dinikmati oleh generasi sekarang dan yang akan datang akan tetapi tidak kehilangan esensi dari produk kebudayaan itu sendiri, setidaknya bisa menjadi bahan pelajaran yang berharga bagi kemajuan kebudayaan yang akan datang.

Ivan Christian, NIM 27101033

Abstrak

Pergeseran Nilai Estetis Pada Arsitektur Rumah Tinggal Etnis Tionghoa

(Suatu Kajian Sosio-kultur dan Historis dengan Studi Kasus di Jakarta Kota)

Kebudayaan Cina yang ada di Indonesia adalah salah satu kebudayaan yang merupakan hasil asimilasi budaya Cina dengan budaya tradisional di Indonesia. Masyarakat etnis Tionghoa mempunyai kehidupan sosial dan ekonomi yang cukup berperan penting di Indonesia karena mempunyai sejarah kultural dengan pemerintah kolonial dan masyarakat pribumi di Indonesia. Kehidupan masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia dari waktu ke waktu memperlihatkan adanya pergeseran nilai dari beberapa faktor kehidupan sosialnya yang mengakibatkan perubahan fisik secara arsitektur yang dapat ditinjau dari bentuk fisik rumah tinggalnya.

Terjadinya pergeseran nilai budaya khususnya nilai estetis pada masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia merupakan sebuah fenomena yang akan dikaji pada penelitian ini. Untuk mengetahui pergeseran nilai estetis yang terjadi, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif melalui beberapa pendekatan yaitu; suatu kajian sosio-kultural dan historis dengan pendekatan sistem budaya yang ditinjau dari kurun waktu dan periodisasi yang dibagai menjadi tiga kurun waktu. Kurun waktu pertama; pada saat orang Cina masuk ke Indonesia, kurun waktu kedua; pada saat pemerintahan kolonial dan kurun waktu ketiga; pada saat pemerintahan orde lama, orde baru sampai pemerintahan presiden Megawati Soekarnoputri. Studi penelitian dilakukan melalui studi kasus di Jakarta-kota. Sumber data yang dikumpulkan yaitu dari informan, dokumentasi lapangan dan beberapa referensi berupa karya ilmiah, buku panduan, serta majalah dan lain-lain.

Nilai estetis budaya Cina leluhur yang masuk ke Indonesia masih cenderung kepada nilai estetis yang bersifat simbolis, terlihat dari nilai-nilai kehidupan yang menganut pada ajaran Konfusianisme dan Taoisme, serta menganut prinsip Fengshui (prinsip keseimbangan dengan alam) sehingga nilai-nilai estetis yang bersifat simbolis masih dipegang yang mempengaruhi bentuk fisik bangunan rumah tinggal masyarakat etnis Tionghoa yang tergolong sebagai kelompok minoritas di Indonesia. Namun sekarang ini kehidupan sosial masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia merupakan masyarakat yang ‘global’ dalam arti kelompok mereka bukan lagi sebagai kelompok minoritas, tetapi mempunyai pola pikir yang modern sesuai dengan kemajuan jaman seiring dengan kelompok pribumi di Indonesia. Pola pikir modern ini yang merupakan sebab utama pergeseran nilai estetis simbolis menuju kecenderungan pada nilai estetis formal.

Mohammad Arif Waskito, NIM 27101029

Abstrak

PENGEMBANGAN DESAIN PRODUK DENGAN MEMANFAATKAN POTENSI LIMBAH KULIT DI SENTRA INDUSTRI BARANG KULIT

Keberadaan limbah yang dihasilkan dari segenap aktivitas manusia dengan pembangunan fisik untuk meningkatkan kualitas hidupnya, tidak lepas dari dampak negatif terhadap keseimbangan ekosistem dan kelestarian lingkungan. Kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem telah menjadi isu global yang seharusnya diperhatikan secara serius karena dampak yang ditimbulkan telah berakibat fatal bagi keselamatan dan kesehatan manusia itu sendiri. Usaha untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup ini telah banyak dilakukan dengan pengadakan upaya-upaya pencegahan kerusakan lingkungan yang diakibatkan limbah buangan pabrik seperti dengan mewajibakan pabrik-pabrik untuk membangun instalasi pengolah limbah sebelum membuang limbah tersebut ke lingkungan sekitarnya. Upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan pun setidaknya menjadi perhatian pemerintah dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 tantang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan kemudian disusul dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 yang mengatur keberadaan dan perlakukan terhadap keberadaan limbah industri terutama limbah dengan katagori B3 (bahan berbahaya dan beracun) telah menunjukkan itikad baik dari pemerintah untuk turut menjaga lingkungan.

Dalam dunia industri perkulitan, limbah yang dihasilkan terdiri dari beberapa jenis yang perlakuannya pun beragam. Beberapa limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan barang kulit masih dapat digunakan sebagai bahan pembuat produk tertentu, dan sebagian lagi masih dianggap sebagai sampah yang harus dilenyapkan. Sedangkan pada industri penyamakan kulit, limbah yang masih dapat dimanfaatkan adalah limbah yang berbentuk serat yang dihasilkan dari proses shaving dan limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan chamois.

Pada penelitian ini limbah yang menjadi pusat kajian adalah limbah lembaran yang dihasilkan dari proses pembuatan chamois. Dengan mempelajari karakteristik limbah tersebut dan dengan menggunakan beberapa teknik pembentukan, maka dihasilkan sebuah bahan yang memungkinkan dipakai untuk membuat suatu produk. Secara eksperimental produk yang dibuat dari material limbah tersebut telah berhasil menjadi produk fungsional yang memiliki kelayakan untuk diproduksi dan dijadikan bidang usaha baru, namun tentunya harus ada penelitian lanjutan yang dapat menyempurnakan penelitian ini agar dapat dijadikan bidang usaha yang mampumeningkatkan perekonomian masyarakat, terutama masyarakat yang abergerap dibidang industri kulit.

Irfan, NIM 27101006

Abstrak

PERKEMBANGAN DESAIN GERABAH DESA JIPANG DALAM KONTEKS

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKATNYA

Tradisi pembuatan gerabah telah berlangsung dalam waktu yang lama, namun perkembangan desainnya masih berjaJan lambat sebab adanya berbagai faktor internal dan eksternal yang kurang menunjang. Masalah internal dan eksternal tersebut menjadi bagian dari aspek sosial budaya masyarakatnya yang cenderung mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Penelitian ini dilakukan di Desa Jipang Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, sebab masih kurangnya referensi mengenai desain gerabah tersebut, disamping untuk mengetahui lebih jelas runtut perkembangan desain secara diakronik dalam konteks perubahan sosial budaya masyarakatnya, serta untuk melestarikan nilai-nilai lokal yang dimiliki. Metode penelitian adalah kualitatif dengan metode pembahasan sinkronik dan diakronik. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan estetis dan sosial budaya. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, pencatatan, dan studi literatur. Temuan penelitian dapat diuraikan sebagai berikut:

Aspek-aspek sosial budaya seperti demografi dan letak geografis, kondisi lingkungan alam, sistem teknologi, ekonomi, sistem kelas sosial, sistem kekerabatan, pembagian kerja berdasarkan gender, lingkungan pendidikan dan sistem nilai merupakan aspek yang senantiasa terkait dan mempengaruhi terciptanya desain gerabah. Proses pembuatan gerabah merupakan respon dan adaptasi masyarakat atas lingkungan sosial budaya masyarakatnya. Ketersediaan bahan baku di sekitarnya, serta keterampilan yang diperoleh secara turun temurun menjadi modal utama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan membuat gerabah. Oleh sebab itu terjadinya perubahan sosial budaya berimplikasi pada perkembangan desain gerabah.

Bentuk gerabah tradisional (1960-1980) masih terbatas sebab lebih mementingkan fungsi yang dominan untuk keperluan dapur, sebab tuntutan pengrajin dan konsumen masih sederhana. Gerabah transisi (1980-1990) mengalami perkembangan fungsi seperti kursi dan guci, berkat kesediaan meniru pengrajin lain dan demi tuntutan komersial. Gerabah modern (1990-2003) mengalami perkembangan bentuk, fungsi maupun hiasan yang unik, hal ini karena tuntutan sosial budaya yang lebih kompleks dan adanya pengaruh eksternal seperti pembinaan pengrajin oleh pemerintah dan perguruan tinggi. Meskipun demikian kenyatan saat ini gerabah tradisional paling banyak diproduksi dengan pasar yang jelas, sedangkan gerabah modern kesulitan dalam pemasaran, sehingga perlu upaya alternatif untuk pengembangan desain selanjutnya.

Adriansyah Noor, Nim 27101001

Abstrak

KAJ1AN DESAIN RUMAH DIKAMPUNG NELAYAN DESA MERTASINGA, CIREBON UTARA

Rumah merupakan tempat tinggal yang berfungi untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Bagi neiayan, rumah selain sebagai tempat perlindungan dari cuaca, juga merupakan sarana pendukung aktivitas melaut. Desain rumah neiayan di Desa Mertasinga menunjukkan adanya perubahan yang disebabkan adanya pembauran nilai-nilai budaya yang sudah ada dan masuknya bentuk budaya baru dan menggeser makna simbolis dari rumah di kampung neiayan tradisional.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pergeseran desain rumah tinggal neiayan di kampung neiayan Desa Mertasinga melalui pendekatan budaya, antropologi dan pendekatan tipologi bentuk rumah. Bahan tulisan diperoleh dari literatur dan hasil penelitian yang relevan dan untuk kelengkapan data dilakukan wawancara di lokasi serta pengisian kuisioner, disamping dokumentasi foto yang memperlihatkan fenomena berkaitan dengan desain rumah tinggal kampung nelayan.

Desa Mertasinga merupakan kampung asli dengan mayoritas penduduknya adalah neiayan termasuk dalam letak geografis dan wilayah admintratif Cirebon. Sejarah Bandar Cirebon mencatat selain mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Cina dan Arab juga merupakan pertemuan dari kebudayaan Sunda dan Jawa. Pengaruh tersebut diantaranya berkaitan dengan bentuk rumah tinggal, maupun dalam sistem ekonomi, mata pencaharian, pendidikan dan sistem kepercayaan.

Bentuk rumah neiayan Desa Mertasinga dikelompokkan menjadi Rumah Asal, Rumah Asli dan Rumah Modern, dengan penggunaan ruangan yang mengalami perubahan berdasarkan pada pola aktivitas keluarga dan kebiasaan neiayan sehari-hari, terutama yang lebih spesifik seperti fungsi teras selain untuk kegiatan keluarga juga menjadi penting untuk ruangan bekerja dan tempat penyimpanan peralatan melaut, serta untuk ruangan interaksi antar anggota keluarga ataupun untuk bersosialisasi dengan anggota masyarakat lainnya.

Agus Dody Pumomo, NIM 27101022

Abstrak

SAKA PADA BANGUNAN PENDOPO DIJAWA DARI KERATON-VERNAKULAR

(Studi komparasi estetik antara Yogyakarta dan Cirebon)

Penelitian ini bertujuan mengetahui lebih lanjut mengenai peran dan kedudukan saka pada bangunan pendopo di Jawa dan juga mengkaji dari aspek estetisnya yang meliputi tataletak, bahan, bentuk, dan ragam hiasnya. Dimana saka merupakan salah satu komponen penting dalam arsitektur tradisional yang mempunyai makna struktural dan makna simbolik. Secara struktural saka berfungsi sebagai penumpu atap bangunan dan secara simbolik saka sebagai person ifikasi penumpu kepala manusia. Selain itu penelitian ini juga mendeskripsikan perubahan atau pergeseran nilai estetisnya.

Menurut Koentjaraningrat, wilayah Jawa dapat dibagi berdasarkan etnografis dalam beberapa sub daerah antara lain: Negarigung, Banyumas, Bagelen, Pesisir Kilen, Pesisir Wetan, Mancanegari, dan Tanah Sahrang VVetan. Daerah Yogyakarta merupakan sub daerah Negarigung, sedangkan Cirebon adalah sub daerah Pesisir Kilen. Kedua daerah tersebut secara geografis berbeda sehingga mempengaruhi karakter budayanya. Namun keduanya juga memiliki hubungan secara historis tentu hal ini akan turut berperan dalam perkembangan budaya berikutnya. Yogyakarta dan Cirebon mempunyai kesamaan dan perbedaan karakter budayanya termasuk saka pada bangunan pendoponya.

Penelitian dilakukan melalui studi komparasi antara saka yang berkembang di Yogyakarta dengan di Cirebon. Sedangkan masing-masing daerah juga dilakukan studi komparasi secara vertikal yakni antara saka pendopo di keraton, dengan saka pendopo kabupaten sebagai bangunan formal dan terakhir dengan saka pendopo milik masyarakat (vernakular).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan kosmologi masyarakat Jawa ikut mempenganihi dalam pembentukan estetis saka yang meliputi tatanan, bentuk, bahan maupun ragam hiasnya. Faktor lainnya yang juga turut berperan dalam penvujudan saka yakni mentalitas masyarakatnya yang berbeda antara daerah pedalaman dan daerah pesisir, serta latar belakang perkernbangan kotanya seperti Yogyakarta sebagai daerah pedalaman yang terbatas dalam menjalin kontak dengan dunia luar sehingga perkembangan budaya lebih berorientasi ke keraton. Sementara Cirebon yang lebih terbuka karena sebagai pusat perdagangan sekaligus jalur pelayaran internasional menyebabkan terjadinya interaksi dan kornunikasi dengan beragam budaya.

 

Rachmad Yamin, NIM 27101013

Abstrak

TINJAUAN DESAIN ARSITEKTUR KARYA SOEJOEDI WIRJOATMODJO

(Studi kasus pada Gedung MPR/DPR RI, Gedung Sekretariat ASEAN, dan Gedung Manggala Wanabhakti di Jakarta)

Tinjauan desain arsitektur karya Soejoedi Wirjoatmodjo, adalah topik penelitian yang sedang di kaji ini. Untuk mengungkapkan aspek-aspek desain yang di ciptakan Soejoedi, di pilih obyek penelitian pada tiga gedung karya Soejoedi, yaitu; gedung MPR/DPR RI, gedung Sekretariat ASEAN, dan gedung Manggala Wanabhakti. Ketiganya berlokasi di Jakarta.

Metode penelitian adalah Kualitatif, dengan pembahasan Sinkronik dan Diakronik. Pendekatan yang dilakukan dari berbagai unsur Desain dan Arsitektur, berupa Konsep, Fungsi, Citra, dan Makna. Data data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi literatur.

Konsep dalam perancangan karya Soejoedi dilatar belakangi oleh sosial politik, budaya dan ekonomi pada masa itu, hal tersebut dapat di lihat pada perancangan gedung MPR/DPR RI yang pada awalnya di rancang sebagai gedung Conference of New Emerging Forces (CONEFO) serta merupakan salah satu proyek mercusuar dari pemerintah Indonesia. Sehingga ada kecenderungan menampilkan bentuk-bentuk yang monumental, sculptural dan terdiri dari paduan bentuk-bentuk massa geometris. Namun gedung ini beralih fimgsi ketika kekuasaan berganti. Demikian juga dengan gedung Sekretariat ASEAN yang merupakan wadah kegiatan bagi negara-negara ASEAN. Sedangkan gedung Manggala Wanabhakti lebih mewakili sebagai gedung Departemen Pemerintah, dalam hal ini Departemen Kehutanan. Fungsi dari gedung-gedung karya Soejoedi, dirancang secara maksimal sehingga dapat berfungsi maksimal pula sesuai dengan kebutuhan yang ada. Sedangkan citra dan makna di tampilkan untuk memperoleh image sesuai konsep yang di rencanakan.

Soejoedi adalah figur seorang arsitek Indonesia di bidangnya, disertai pembawaan yang low profile, tekun, dan gigih dalam mencapai obsesi-obsesinya. Soejoedi pernah mengenyam pendidikan arsitektur di ITB, Prancis, Belanda, dan Jerman. Soejoedi sempat pula bekerja di beberapa Biro Arsitektur di Jerman. Selama pendidikan ia sempat pula mengadakan perjalanan keliling ke negara-negara Skandinavia. Pandangan hidup Soejoedi, pengalaman studi, pengalaman bekerja, dan perjalanan keliling ke Skandinavia, memberi warna pada desain arsitekturnya di kemudian hari, setelah Soejoedi kembali ke Indonesia.

Intan Rizky Mutiaz, NIM 27101005

Abstrak

Cara Wimba dan Tata Ungkap Bumper MTV

(Sebuah Kajian Bahasa Rupa Media Rupa Rungu Dinamis)

Permasalahan utama tesis ini menyangkut penggunaan Cara Wimba dan Tata Ungkap pada bumper MTV sebagai sebuah kajian bahasa rupa media rupa rungu dinamis atau iebih populemya media audio visual dinamis. Lebih tegasnya lagi, pertanyaan tesis ini menyangkut persoalan-persoalan tentang : (1) Bagaimanakah bahasa rupa yang digunakan MTV pada setiap bumpemya, ditinjau dari Cara Wimba dan Tata Ungkap; (2) Sejauhmana mengetahui pemanfaatan Naturalis-Perspektif-Momen Opname dan Ruang-Waktu-Datar pada bumper MTV; (3) Bagaimana memahami bumper MTV dapat menjadi identitas dari MTV.

Tujuan utama penulisan tests ini adalah untuk : (1) Mengetahui dan memahami struktur komunikasi visual bumper MTV ditinjau dari Cara Wimba dan Tata Ungkapnya; (2) Mengetahui dan memahami pemanfaatan Naturalis-Perspektif-Momen Opname dan Ruang-Waktu-Datar pada bumper MTV; (3) Memahami Bumper MTV sebagai identitas dari MTV.

Tesis yang diajukan bermaksud menjawab permasaiahan dengan membaca bahasa rupa dari bumper melafui Cara Wimba dan Tata Ungkapnya melafui serangkaian penelitian dan analisis. Pengkajian dilakukan dengan melihat lansung secara gambar hidup dan merujuk ke star/board yang te!ah dibuat sebagai panduan, lalu burner MTV dianalisis dan diuraikan menjadi 2 bagian, yaitu: Pertama, ditinjau dari Cara Wimba bumper MTV tersebut dengan 5 Cara Wimba. Kedua, ditinjau dari Tata Ungkap bumper MTV dengan 4 Tata Ungkap. Seteiah hasii analisis tersebut didapatkan, maka dibandingkan dengan 2 konsep bahasa rupa yaitu :Naturalis-Perspektif-Momen Opname dan Ruang-Waktu-Datar sebagai perbandrngan untuk mencari titik temu sebuah konsep bahasa rupa bumper MTV.

Media adalah sebuah pesan. Ini bukan hanya sekadar konsekuensi social dan personal dari suatu media saja, Ini merupakan hasi! dari acuan baru dalam hidup kita yang diperkenalkan oleh periuasan pemikiran kita atau oleh sebuah teknologi yang baru. Struktur pesan yang dipakai oleh MTV melalui bumper MTV adalah untuk menyamparkan sebuah identrtas. Identitas dibangun MTV dengan konsep non-linear dan menofak hubungan konvensiona! antara masa lalu, rnasa sekarang dan masa depan. Karena MTV rnenempatkan dirinya pada masa sekarang yang tanpa batas.

Fransiska Rachel, NIM 27101004

Abstrak

DESAIN UNDANGAN PERNIKAHAN

( Studi Kasus : Undangan Pernikahan Masyarakat Batak Toba dan Tionghoa di Kota Bandung Tahun 2002-2004 )

Kartu Undangan Pernikahan saat ini telah dianggap sebagai salah satu bentuk kelengkapan yang harus ada dalam peristiwa pernikahan. Fenomena yang terjadi pada saat ini terdapat ribuan bentuk kartu undangan yang tersebar di masyarakat. Variasi bentuk, ukuran, warna, gambar, hiasaan maupun perbedaan teknik cetaknya mewarnai keragaman kartu undangan sebagai salah satu produk cetak.

Mencermati suatu tampilan Kartu Undangan Pernikahan pada saat ini yang semakin beragam seiring perkembangan zaman, menjadi menarik. Muncul keingintahuan untuk mengetahui alasan-alasan terwujudnya bentuk dan visual dari berbagai kartu undangan pernikahan. Terlebih bila menyangkut masalah adat dan budaya yang menjadi latar belakang pengantin yang bersangkutan.

Penelitian dilakukan dengan metode penelitian kualitatif melalui studi kasus dengan analisis secara tipologis dengan menyusuri ciri-ciri simbolik yang ada dengan memahami latar belakang sosio budaya etnis, pola hidup dan pola kekerabatan serta pranata-pranata sosial yang ada pada etnis penyelenggara pernikahan.

Sebagai studi kasus dipilih etnis Batak Toba dan Tionghoa, dua etnis perantau yang berada di kota Bandung yang dikumpulkan dari tahun 2002 hingga tahun 2004. Dari semua tampilan visual kartu undangan yang pernah penulis lihat, terdapat perbedaan mendasar yang mencolok dan menarik untuk diteliti pada tampilan visual kartu undangan pernikahan kedua etnis tersebut, yang secara sepintas mudah dikenali karena memiliki ciri-ciri yang khas.

Kartu undangan pernikahan tidak lagi hanya berfungsi sebagai media penyatnpai informasi, tetapi dapat menjadi penyampai status seseorang, bagaimana pihak pengundang ingin dipersepsi oleh orang lain. Selain itu terdapat pengaruh percepatan teknologi informasi, perkembangan gaya hidup serta perubahan system nilai yang berkembang di masyarakat. Pengaruh-pengaruh dari Internet, media cetak, kemajuan teknologi cetak, kebudayaan-kebudayaan asing, trend mode dan gaya hidup turut pula mewarnai perkembangan visual kartu undangan pernikahan. Selain itu, pengaruh dan kebijakan politis di Indonesia, serta kesadaran warga Tionghoa sebagai masyarakat mayoritas global (global majority) mempengaruhi tampilan undangan pernikahan etnis Tionghoa, kebalikan dari kartu undangan pada Etnis Batak yang semakin mudah dikenali karena berkiblat ke arah tradisi dengan kuatnya tampilan simbol-simbol tradisional.

Eko Haryanto, NIM : 27101023

Abstrak

RAGAM BIAS KURSI KAYU TUNGGAL JAWA TENGAH ABAD KE- 17 – 20.

Ragam bias kursi kayu tunggal Jawa Tengah berkaitan erat dengan berbagai pengetahuan dan nilai-nilai yang terkandung dalam akar budaya masyarakat Jawa. Berbagai pengaruh di luar budaya Jawa telah mempengaruhi perkembangan kursi sebagai pelengkap kebutuhan hidup, baik yang berkaitan dengan bentuk, fungsi, nilai estetik serta muatan simbolisnya.

Penelitian dilakukan pada beberapa daerah di Jawa Tengah, yang meliputi: Semarang, Demak, Kudus, Jepara sebagai daerah pesisiran dengan pola hidup maritim dengan mengandalkan sektor perdagangan sebagai penunjang perekonomian dan Surakarta, Klaten, Yogyakarta sebagai daerah pedalaman dengan pola hidup agraris. Teknik Pengumpulan data menggunakan pendekatan studi lapangan yang terdiri dari survei, wawancara dengan nara sumber dan dokumentasi. Penelitian menggunakan pendekatan historis, pendekatan budaya dan pendekatan tipologi visual desain. Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa data model interaktif, yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, analisa data dan penarikan kesimpulan.

Dari temuan di lapangan didapatkan beberapa hal tentang desain kursi kayu tunggal dan ragam hias yang diterapkannya. Perkembangan desain kursi kayu tunggal dipengaruhi oleh beberapa kebijakan pemerintah pada masa kerajaan di Jawa Tengah sebelum abad-17, kerajaan Islam Mataram pada awal abad ke-17, Pemerintah Belanda dan Persekutuan Dagangnya (VOC) dan R.A Kartini pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Bangsa-bangsa yang mempengaruhi perkembangan desain kursi kayu tunggal adalah Cina dan Eropa. Desain kursi kayu tunggal yang berkembang di Jawa Tengah dinamakan Gaya Portugisan, Gaya Kompenian, Gaya Perancisan, Gaya Rafflesan, Gaya Majapahitan dan Gaya Yankee/Jengki.

Ragam hias yang berkembang di Indonesia cukup beragam. Salah satu faktor yang berperan dalam pembentukan keragaman tersebut adalah sikap terbukanya budaya Indonesia terhadap pengaruh budaya asing yang didukung kemampuan untuk mengolah dan mengembangkan semua unsur yang ada dengan dasar kebudayaan lokal daerah. Corak ragam hias yang berkembang pada desain kursi kayu tunggal Jawa Tengah meliputi: Ragam Hias moth Kedaerahan, Ragam Hias motif Cina, Ragam Hias motif Arabik dan Ragam Hias motif Eropa.

Dari analisa yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi ragam hias kursi kayu tunggal adalah aspek budaya yang terdiri dari: asimilasi budaya yang mendorong terciptanya keragaman ragam hias pada kursi kayu tunggal, interaksi produsen yang semakin luas dapat memperluas wawasan produsen, cita rasa produsen dan konsumen yang semakin beragam dan kompetitif yang semakin ketat mendorong produsen untuk menghasilkan produk yang lebih beragam. Aspek komponen bahan, yang meliputi: perkembangan bahan baku yang semakin beragam, penyediaan bahan baku yang semakin murah. Aspek komponen alat, aspek

Mila Andria Savitri, NIM 27101025

Abstrak

PERAN PENCAHAYAAN BUATAN DALAM PEMBENTUKAN SUASANA DAN CITRA RUANG KOMERSIAL

(Studi kasus : Interior beberapa restoran tematik di Bandung)

Perkembangan jaman, pembangunan kota dan fungsi komersial serta perubahan gaya hidup masyarakat telah menyebabkan terjadinya pergeseran pada fungsi sebuah restoran. Kecenderungan saat ini, suatu restoran tidak hanya sekedar menyediakan makanan dan minuman saja, tetapi juga menjual suasana yang dapat menunjang tugas utamanya. Suasana yang baik dapat membuat makanan, pelayanan dan seluruh pengalaman makan terasa lebih baik, serta membuat pelanggan merasa rileks dan nyaman sehingga dapat membuat pelanggan datang lagi. Dalam persaingan yang semakin ketat, masing-masing restoran akan berusaha untuk membangun budaya, identitas dan citra yang positif untuk menarik konsumennya. Citra sebuah restoran secara utuh dibentuk melalui serangkaian proses yang dijalani oleh pengunjung ketika pengunjung tersebut mengunjungi suatu restoran. Citra merupakan kesan yang ditangkap oleh seseorang melalui stimuli ( rangsangan) kepada indera visual, pendengaran, rasa, penciuman dan perabaan sehingga secara total akan terbangun citra yang utuh dari obyek yang dimaksud. Citra akan ditangkap pengunjung melalui elemen-elemen perancangan restoran, baik perancangan arsitektur maupun interior. Pencahayaan adalah salah satu elemen perancangan interior yang berfungsi sebagai stimuli yang merangsang indera visual yang kemudian akan menghasilkan suasana hati ( mood) pengunjungnya.

Penelitian ini menggunakan metode studi literatur berupa teori pencahayaan, perencanaan I sebuah restoran dan teori persepsi serta studi lapangan berupa wawancara dengan pihak restoran dan pendataan pencahayaan buatan yang digunakan dalam restoran tersebut. [Pengunjung restoran juga berperan dalam memberi pendapat melalui kuesioner. Jawaban mgunjung tersebut akan menjadi indikasi kecenderungan pendapat mereka tentang suasana citra restoran kasus studi tersebut.

hasil penelitian pada studi kasus, sebagian besar restoran menggunakan pencahayaan |buatan dengan sumber cahaya lampu pijar, intensitas pencahayaan yang medium, peralatan perletakan sumber cahaya yang beragam. Sebagian besar restoran sudah memiliki ;anaan yang baik dalam elemen pencahayaan buatannya. Untuk menciptakan suasana citra yang menyenangkan bagi pengunjung, pencahayaan hams memenuhi baik aspek igsional maupun estetika. Pencahayaan juga disesuaikan dengan segmen pasar restoran, ienis restoran, tema restoran serta suasana dan citra yang ingin dibangun oleh pihak restoran.

 

lyus Susila S, NIM 27101028

AbstrakKAJIAN POLA PENGEMBANGAN DESAIN PADA INDUSTRI PRODUK KRIA(Studi Kasus Pada Industri Produk Kria Desa Cibeusi Kecamatan Jatinangor -Kabupaten Sumedang)

Industri produk kria, merupakan salah satu sektor industri yang kini dijadikan andalan perekonomian daerah. Sektor industri ini merupakan bagian dari aktivitas usaha masyarakat kecil menengah yang memiliki kompetensi dalam memacu laju pertumbuhan ekonomi kerakyatan untuk menghadapi persaingan pasar bebas. Hal ini sangat logis karena hampir di tiap propinsi di wilayah Indonesia, masyarakatnya memiliki artefak budaya berupa produk kria yang bernilai etnis, vernacular, unik dan orisinal, kini menjadi suatu komoditi yang memiliki posisi tawar terhadap negara lain dan bernilai ekonomis yang cukup tinggL Konsumen terbesar produk kria ini adalah masyarakat modern, yang sarat dengan berbagai atribut status sosial dan ekonomi. Sehingga, keberadaannya menjadi bagian dari status simbol masyarakat tertentu.

Pemerintah dalam memacu pertumbuhan industri produk kria ini, tampaknya membutuhkan perhatian semua pihak yang berkepentingan, khususnya dalam menjaga aspek kualitas dan kuantitas produk kria yang masih menjadi masalah dalam memenuhi kebutuhan baik pasar global maupun local.

Kajian penelitian ini, mengenai model pengembangan desain pada industri kria, dalam upaya memenuhi tuntutan aspek kualitas pada produk kria. Metode yang diterapkan adalah menggunakan metode deskriptif analisis melalui pendekatan desain, dengan asumsi bahwa kualitas suatu produk hanya dapat dipecahkan melalui pendekatan desain, karena dalam memenuhi kebutuhan konsumen, dalam perancangannya akan mempertimbangkan aspek ekonomi, estetis, dan teknis, sebagai bagian dari pertimbangan-pertimbangan yang terkait dengan bidang desain.

Melalui pola pengembangan desain, dengan mengikutsertakan masyarakat pengrajin secara aktif, sekalipun secara sosial – budaya berbeda, maka diharapkan dapat terwujud sebuah kegi’atan pengembangan interaksi yang produktif, dan pemegang kebijakan, diharapkan menjadi fasilitator utama dalam menentukan orientasi pengembangan desain sesuai dengan kebutuhan pasar bebas.

Didit Pradito, Nim 27101002

Abstrak

KAJIAN CIRI PENGEMBANGAN DESAIN TEKSTIL SUTERA ALAM PADA LINGKUNGAN INDUSTRI KECIL-MENENGAH

(Dengan Studi kasus Kabupaten dan Tasikmalayta)

Sutera alam telah dikembangkan di Indonesia sejak 1718 sampai dengan saat ini. Pengembangan yang dilakukan tersebut karena usaha sutera alam, khususnya kokon, benang, dan kain sutera, memberikan nilai ekonomi tinggi. Di Jawa Barat, Kabupaten Garut, dan Tasikmalaya merupakan produsen sutera alam, mulai dari tahap budidayanya hingga pada tekstil dan produk tekstil. Berbagai kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh pemerintah, maupun lembaga swadaya masyarakat lainnya di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya pada kenyataannya masih terbatas pada pemanfaatan teknologi kria tekstil seperti kain tenun ikat, kain sarung, dan kain polosan/ putihan.

Permasalahan utamanya adalah tidak dilakukannya pengembangan produk sutera alam yang berangkat dari ciri sosial-budaya lokal untuk memperoleh produk yang kompetitif. Padahal, melalui cara itu dapat terwujud sebuah sistem pengembangan produk sutera alam yang berkelanjutan dan menghasilkan nilai kreasi tinggi sekaligus merevitalisasi nilai estetik budaya nusantara, sebagai modal dasar pengimbang hegemoni modal asing di era pasar bebas. Melalui riset desain yang beririsan dengan sisi ekonomi-sosial-budaya sutera alam di daerah tersebut diharapkan dapat tergali berbagai variabel desain tekstil yang dapat dijadikan ciri pengembangan desain di lingkungan IKM di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya.

Pengembangan volume produksi sutera alam di Garut relatif lamban. Tetapi, secara kualitatif menghasilkan varian produk kria benang pintal, kria ikat, dan kria tenun dobby semi jaquard. Sementara di Tasikmalaya, Koperasi Sabilulungan-III berkembang pesat dalam kuantitas dan kualitas produksi yang membuatnya mampu menyerap kokon hasil budidaya Jawa Barat . Dari sisi kualitas, penggunaan jaquard dalam memproduksi kain tenunan menghasikan keragaman kain yang kaya. Sementara penggunaan mesin pintal dan mesin gintir elektrik dapat menghasilkan kualitas benang berdenier sedang dan terukur. Sehingga, dihasilkan kain yang halus, homogen, ringan, dan transparan. Karena itu, maka ciri pengembangan desain di Kabupaten Garut diarahkan pada produk tekstil yang berlatarkan pengalaman dan karakteristik lingkup kondisi yang berlangsung, yakni: berstruktur tenun sederhana – madya (teknologi dobby semi jacquard) pada ATBM, dan produk yang dihasilkan berciri kria ikat warna dan tekstur, kria batik, serta kria tenunan. Sedangkan untuk Tasikmalaya, diorientasikan pada produk tekstil dengan struktur tenun berteknologi madya – tinggi (teknologi dobby semi jacquard) baik pada ATBM maupun ATM, dan produk sutera alam yang dihasilkan berciri kria tenun halus, bercorak anyaman kaya, dan bervolume kuantitas produksi skala menengah.

Lintu Tulistyantoro, Nim 27102018

Abstrak

MAKNA RAGAM BIAS PADA RANA MAKAM RAJA RAJA SUMENEP DIASTA TINGGIMADURA

Kajian budaya terhadap aspek fisik adalah sebuah kajian yang menekankan pada konteks ruang dan waktunya. Konteks ruang menjelaskan dimana objek tersebut berada. Konteks waktu menekankan pada situasi dan keadaan yang terjadi pada masa dimana objek tersebut terjadi. Kajian terhadap aspek fisik budaya seperti aspek pikiran dan perilaku adalah elemen penting untuk menggali makna suatu objek. Aspek Fisik adalah ekspresi dari pemikiran pemikiran dan perilaku masyarakatnya.

Ragam hias rana makam raja raja Sumenep memiliki bentuk yang spesifik dibanding di tempat lain di Madura. Bentuk segiempat dengan ragam yang lebih beragam adalah kekhususan rana tersebut. Ragam Primordial, Hindu-Budha, Cina pada fungsi makam Islam, hadir dengan harmoni. Masing budaya hadir dalam bentuk ragam masing masing tanpa mengalami reduksi. Inilah daya tarik kajian objek, karena berbeda latar budaya, tetapi menyatu dalam desain yang menarik. Kesamaan pandangan kosmologi, karakter terbuka pada masyarakat Ladang-Maritim dan Sufisme Islam yang berkembang saat itu memungkinkan adanya adaptasi terhadap nilai nilai yang hidup pada jamannya.

Ragam hias rana ini menjadi menarik karena makna tidak dapat dilepaskan dari struktur rana itu sendiri, dimana secara struktur, rana adalah medium antara dunia atas dan bawah. Medium ini sangat penting pada kehidupan religi masyarakat Madura. Jadi ragam hias pada rana memiliki kesamaan nilai, sebagai gambaran dunia peralihan atau medium.

Amirul Nefo, NIM 27101027

Program Studi Desain

PERANAN GAMBAR SKETSA FREE-HAND DALAM PROSES PENDIDIKAN DESAIN

Kesempurnaan suatu desain salah satunya dilihat dari kwalitas bentuk yang dihasilkan, untuk menghasilkan suatu bentuk yang sempurna sangat bergantung dari kemampuan ketrampilan dalam mengintepretasikan estetik dengan sempurna pula, untuk mampu pengintepretasikan estetika dengan baik dibutuhkan pula kepekaan dan kecerdasan ruang atau visual-spatial intelligences yang baik pula.

Jadi kemampuan ketrampilan mahasiswa dalam menggambar sketsa free-hand menjadi sangat penting, sehingga mengakibatkan proses penuangan gagasan bentuk dalam media 2 (dua) dimensi tidak mengalami hambatan. Melalui pola pendidikan yang lebih baik, maka kepekaan estetik sebagai prime-knowledge di pendidikan Seni Rupa atau Desain dapat dipahami apabila seseorang memiliki kecerdasan Visual Spatial yang memadai.

Tesis ini akan membahas tentang metoda dan landasan teori dan latar belakang yang berpengaruh dalam perkembangan kemampuan kecerdasan (intelligences) serta perkembangan praktek dilapangan (profesi dan pendidikan) serta faktor yang berpengaruh sehubungan dengan kemahiran atau ketrampilan tangan dalam membuat gambar sketsa, dan secara bersamaan pendidikan tentang kemampuan kecerdasan majemuk atau multiple intelligences dapat diberikan dalam upaya mengembangkan sikap mental untuk memahami estetika dengan baik melalui studi pengamatan terhadap benda alam seperti tumbuhan, hewan dan manusia serta benda artifisial.

Melalui pendekatan tersebut diatas, penelitian ini diharapkan dapat memudahkan dalam memberikan pemahaman estetika bentuk melalui tugas yang diberikan di pendidikan seni rupa, khususnya dalam upaya meningkatkan kemampuan menggambar sketsa dengan carafree-hand pada tahap pendidikan dasar seni rupa.

Azizul Azli Ahmad, NIM 27102015

Abstrak

STUDI KOMPARATIF KONSEP DESAEN MASJID KAMPUNG HULL MELAKA DENGAN MASJID AGUNG DEMAK, JAWA.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbandingan konsep desain pada bangunan masjid tradisi peninggalan kerajaan Islam di Tanah Melayu (Abad XVII) dan kerajaan Islam di Tanah Jawa (Abad XV). Banyak hal yang terungkap didalamnya, dari latar belakang sejarah perkembangan arsitektur Islam, sejarah kedatangan Islam di Alam Melayu, seperti latar belakang kehidupan sosial-budaya, adat istiadat, agama dan kepercayaan, status sosial, teknologi, dan keterampilan arsitektur dan tata ruangnya. Semua hal ini menarik untuk dikaji guna melihat perbandingan dan perbedaan yang terdapat pada konsep desain pada Masjid Kampung Hulu, Melaka dan Masjid Agung Demak, Jawa. Data serta informasi ini diharap dapat bermanfaat sebagai bahan informasi budaya, teknologi, dan seni guna mentranformasikan nilai-nilai yang terdapat dari kedua masjid tradisi tersebut.

Penelitian ini adalah penelitian lapangan, dilakukan pada kedua situs Masjid Kampung Hulu, Melaka dan Masjid Agung Demak, Jawa. Teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui studi lapangan dan studi kepustakaan. Dalam pengumpulan datanya digunakan pendekatan inter-disiplin ilmiL Teknik analisis dan penyajian datanya dilakukan melalui analisis deskriptif-kualitatif setelah diinterpretasi terlebih dahulu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Konsepsi pemikiran yang mendasari rekayasa rancangan-rancangan arsitektur masjid tradisi di Tanah Melayu dan Tanah Jawa, ada hubungannya dengan dengan zaman pra-Islam serta motivasi untuk mengambarkan fenomena sosial-budaya masyarakat setempat-yang juga mengacu pada pandangan kosmologi setempat; (2) Bangunan masjid tradisi di Tanah Melayu clan Tanah Jawa, memiliki karakteristik yang spesifik dan unik sebagai ciri khasnya-yang jarang ditemukan persamaannya di daerah luar Alam Melayu; (3) Bangunan masjid Mazhab Malayu-Indonesia mencerminkan kesinambungan unsur-unsur pra Islam- yang juga tidak lepas dari pengaruh konteks sosial-budaya, ruang dan waktu yang berbeda, serta unsur-unsur budaya luar berbaur dengan unsur-unsur lokal melalui proses tranformasi budaya; (4) Bangunan masjid tradisi, Masjid Kampung Hulu, Melaka dan Masjid Agung Demak, Jawa merupakan ungkapan estetis yang sarat dengan nilai-nilai filosofis serta simbol-simbol filosofis yang diapresiasikan melalui lambang-lambang tauhid, tarekat dan akidah Islamiyah pada kedua masjid tersebut.