Magister Desain Angkatan 2000

Asep Yudi Permana, NIM. 27100501

ABSTRAK

Hubungan Ruang Terbuka dengan Pengembangan Kreativitas Anak (Studi kasus kawasan permukiman Bantaran Sungai Cikapundung Kota Bandung)

Sungai Cikapundung sebagai salah satu ruang terbuka kota, semula menjadi salah satu pemicu tumbuhnya pola ruang kota Bandung. Pada dewasa ini sungai Cikapundung telah mengalami banyak perubahan fungsi maupun peran. Dengan adanya perubahan ini kemungkinan sungai Cikapundung memiliki pola ruang terbuka yang berbeda dengan pola masa lalu. Guna memperoleh gambaran pola ruang terbuka serta bagaimana peranannya saat ini perlu penelitian tentang ragam pola ruang yang ada di bantaran sungai Cikapundung dan faktor yang terkait, khususnya di Kawasan Lebak Siliwangi sampai Kelurahan Braga.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kombinasi antara kualitatif dan kuantitatif, dengan menggunakan metode studi kasus. Untuk membahas tentang ruang terbuka digunakan teori “Place Theory” dari Trancik dan “Genius Loci” dari Garnham, yaitu meliputi setting fisik, setting alami dan penggunaannya. Yang kemudian dibuatkan parameter operasionalnya meliputi : karakter visual element fisik (bentuk, tekstur, skala, dan orientasi), elemen isi (suasana dan sifat), dan aktivitas pengguna. Sedangkan landasan teori tentang kreativitas berdasarkan pada “Limas Citra Manusia” dari Primadi dan teori “Traits of Creativity” dari Guilford. Parameter operasionalnya meliputi ciri berpikir kreatif dan tahapan proses kreativitas. Dari parameter operasional ini dibuatkan instrumen penelitian yang dikonstruk dari “Test Kreativitas Verbal” yang dikembangkan Utami Munandar dengan dibantu Laboratorium Psikologi.

Secara makro, sungai Cikapundung tidak terkait dengan aktivitas di sekitarnya, tetapi terdapat integritas secara visual. Bentuk pola ruang terbuka sebagai ruang sosial yang terdapat dalam wilayah penelitian adalah berbentuk grid, curvelinier dan organik. Secara mikro, pada 4 kelompok lokasi penelitian terdapat 4 jenis ruang terbuka bentaran sungai Cikapundung : (1) jalan di tepi sungai, (2) lorong menuju sungai, (3) ruang antar bangunan di tepi sungai, dan (4) ruang di dalam lingkungan berupa lapang terbuka/taman, dimana di dalamnya terdapat beberapa ragam pola ruang terbuka.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa posisi keberadaan dan fungsi kawasan menentukan ragam pola ruang terbuka bantaran. Pola ruang terbuka pada sungai Cikapundung terkait erat dengan peran atau fungsi daerah sekitarnya. Hal ini terjadi karena ruang terbuka di bantaran sungai Cikapundung merupakan daerah pendukung kegiatan daerah sekitarnya. Pemanfaatan ruang terbuka oleh anak-anak cenderung beraneka ragam sesuai dengan pola ruang dan karakteristik ruang terbuka. Kecenderungaan dalam pemanfaatan sungai dan bantaran sungai pada daerah Hulu anak-anak lebih dominan beraktivitas secara langsung terkait dengan sungai dan bantaran (mandi, mencuci, dll) dibandingkan dengan anak-anak di daerah tengah (pusat). Di daerah pusat aktivitas anak-anak kurang terkait secara langsung dengan sungai, hal ini karena kondisi sungai yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk beinteraksi secara langsung.

Bayu Widiantoro, NIM. 27100509

ABSTRAK

Peranan Proporsi Terhadap Ukuran Ruang Interior Rumah Tradisional Kudus Joglo Pencu

JOGLO PENCU. Ketika seseorang mengatakan kata tersebut, ingatan kita akan segera tertuju pada sebuah rumah tradisional yang berasal dari daerah Kudus (salah satu bagian dari kebudayaan Jawa). Rumah dengan berbagai keindahan dengan karakter khusus yang ditampilkan melalui kerumitan yang cukup tinggi pada ornamen hias yang ada pada hampir setiap ruang yang ada pada rumah Joglo Pencu.

Karekter spesifik yang ada tersebut sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam bangunan tradisional yang ada di Jawa pada umumnya. Perbedaan lain dapat dijumpai pada bentuk ornamen ukir yang diterapkan, pola susunan ruang serta dimensi yang kemudian berdampak pada proporsi ukuran dari masing-masing ruangnya. Meskipun ruang yang digunakan sama, tetapi terjadi perbedaan yang cukup besar pada dimensi-dimensi ruangan yang terjadi jika dibandingkan dengan rumah tradisional Jawa pada umumnya.

Hal tersebut dapat terjadi karena kebudayaan yang berpengaruh besar di dalam masyarakat Kudus bukan hanya kebudayaan Jawa saja. Letaknya di jalur perdagangan serta mata pencaharian sebagian besar penduduknya sebagai pedagang memunculkan bentuk yang sekarang dapat dijumpai pada rumah Joglo Pencu.

Berbeda dengan yang terjadi pada masyarakat di Jawa pada umumnya, masyarakat pedagang ini menginginkan untuk menunjukkan kekuatan sosial ekonominya dengan membuat bentuk rumah yang mewah dan megah. Jika pada masyarakat yang berada di sekitar wilayah pusat kebudayaan bentuk rumah yang digunakan didasarkan pada pola status sosialnya, di dalam masyarakat Kudus dipengaruhi oleh kekuatan ekonominya. Hal ini yang kemudian membuat proporsi dari ruangan yang ada di dalam rumah Joglo Pencu yang sekarang ada menjadi salah satu faktor yang digunakan untuk menunjukkan status ekonominya di samping pertimbangan kenyamanannya.

Ellya Zulaikha, NIM.27100002

ABSTRAK

Kajian Desain Terhadap Hibriditas Dalam Gaya Jilbab di Indonesia ( Studi Kasus: Kecenderungan Busana Pasca Tahun 1999)

Jilbab mengalami perkembangan pesat sejak dekade 90an, baik dari segi kuantitas pemakai maupun ragam jilbab yang tercipta, bahkan penyelenggaraan pergelaran fashion jilbab juga telah sering dilakukan pada periode ini. Jilbab kemudian menjadi bagian dari dunia fashion Indonesia yang juga mengikuti kecenderungan sebagaimana yang terdapat dalam gaya busana umum, yaitu berada diantara pengaruh dari budaya global (khususnya gaya Barat) dan budaya lokal (tradisional). Dialektika yang terjadi antara budaya global, budaya lokal dan prinsip-prinsip penggunaan jilbab menghasilkan fenomena hibriditas dalam gaya desain jilbab.

Hibriditas merupakan perpaduan berbagai sistem atau budaya dalam satu ungkapan tertentu. Dalam konteks desain, hibriditas desain merupakan penggabungan elemen-elemen desain yang berasal dari dua sistem budaya atau lebih (baik sistem atau budaya yang berada dalam kategori oposisi biner maupun tidak) dalam satu karya desain, sebagai akibat proses interpretasi ulang pada suatu batasan tertentu yang ada sebelumnya, dimana elemen-elemen desain tersebut digabung dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menghasilkan bentukan desain yang baru, yang tidak didapati pada masing-masing referensi asalnya.

Hibriditas diawali ketika batasan-batasan yang ada dalam sebuah sistem atau budaya mengalami pelenturan, sehingga kejelasan dan ketegasan mengenai hal-hal yang dapat dilakukan atau tidak dapat dilakukan mengalami pengaburan, yang pada akhirnya menghasilkan suatu ruang baru, suatu sistem tersendiri. Pada kajian mengenai jilbab pelenturan terhadap batasan ini juga terjadi. Jilbab yang semula merupakan representasi ideologi tertentu, dimana keberadaan jilbab semata sebagai simbol keagamaan yang menempatkan esensi atau kedalaman sebagai titik tolak penggunannya, kini memiliki kecenderungan untuk lebih bertitik tolak pada hal-hal yang bersifat permukaan (imanen), dimana elemen-elemen yang membentuk suatu tampilan jilbab merupakan perpaduan dari berbagai unsur sistem/budaya, bahkan juga yang bersifat kontradiktif dengan prinsip-prinsip jilbab itu sendiri.

Melalui studi kasus beberapa desain jilbab dalam penelitian ini dikemukakan desain jilbab yang menerapkan kode estetik unisex, hippy, biker, flower generation, futuristik, pastiche dan kitsch. Kode estetik gaya posmodern yang diambil dalam gaya desain jilbab merupakan penerapan gaya pada tataran permukaan atau visual saja, namun tidak mengandung konsep yang sama dengan konsep awal kode estetik yang dipinjam. Pada studi kasus jilbab yang diketengahkan dalam penelitian ini ditemukan bahwa tipe hibriditas dalam desain jilbab ini sebagian besar merupakan hibriditas lokasional, yaitu perpaduan berbagai unsur dalam membentuk gaya jilbab yang lebih didasari oleh upaya penciptaan varian baru dalam jilbab, yang mengikuti kecenderungan gaya busana umum yang tengah berlaku, tanpa mengandung unsur perlawanan terhadap sistem tertentu.

Faisal Ramadhan, NIM. 27100508

ABSTRAK

Kajian Fungsi dan Makna Desain Eksterior Rumah Tinggal Dalam Konteks Perubahan Sosial Budaya di Daerah Sub Urban

Kebudayaan mempunyai tiga wujud, yaitu suatu kompleks gagasan, ide, nilai, norma, peraturan disebut sistem budaya, kompleks aktivitas manusia dalam masyarakat disebut sistem sosial, dan kebudayaan fisik atau artefak. Ketiga wujud tersebut saling berhubungan satu sama lain, sehingga suatu wujud kebudayaan fisik terbentuk melalui sistem budaya dan sistem sosial itu sendiri.

Eksterior sebagai bagian luar suatu ruangan (bangunan, gedung, rumah) merupakan suatu wujud kebudayaan fisik, karena bangunan, gedung atau rumah selalu mempunyai dua aspek yaitu aspek fungsi dan aspek sosial. Artinya eksterior sebagai bagian dari suatu objek arsitektur selain dirancang untuk kebutuhan fungsi objek arsitektur dan selera penghuninya, selalu berhubungan atau tidak bisa dilepaskan dengan kondisi lingkungan secara fisik maupun sosial dimana objek tersebut berada.

Rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan suatu objek arsitektur juga merupakan wujud kebudayaan fisik yang terbentuk melalui rangkaian sistem budaya dan sistem sosial dari suatu masyarakat dimana penghuninya berada. Sehingga rumah melalui desain eksteriornya, dapat memperlihatkan bagaimana kondisi sosial budaya dari penghuninya berkaitan dengan masyarakat sekitarnya. Daerah sub urban mempunyai karakteristik tertentu secara fisik maupun sosial budaya yang berada diantara karakteristik kota dengan desa. Sehingga desain eksterior rumah di daerah sub urban terbentuk sebagai suatu wujud kebudayaan fisik melalui sistem budaya dan sistem sosial masyarakat yang merupakan perpaduan antara kota dengan desa, dengan nilai-nilai tradisi yang ada serta kemajuan yang diterima.

FP. Sri Wuryani, NIM. 27199010

ABSTRAK

Kain Tenun Lurik : Tinjauan terhadap Sarana Upacara “Bethak” di Keraton Kasunanan Surakarta

Di tanah Jawa, yaitu daerah-daerah yng pernah menjadi kekuasaan Kerajaan Jawa dikenal kain yang disebut lurik. Arti kata kain lurik, kain tradisional yang berkembang di tanah Jawa, bermotif garis-garis kecil malang, mujur dan cacahan (kotak-kotak) yang mengandung makna simbolis sesuai dengan budaya dan ajaran Jawa.

Lurik dicipta selain untuk memenuhi kebutuhan jasmani sebagai busana, juga untuk memenuhi kebutuhan ritual yang dipakai untuk upacara-upacara adat istiadat di dalam maupun di luar keraton. Lurik pada mulanya diproses dengan tenun gendhong, tetapi dengan munculnya ATBM, tenun gendhong semakin tergeser. Perajin kain lurik gendhong dan alat tenunnya semakin berkurang. Untuk memenuhi kebutuhan lurik diproduksi dengan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Penggunaan lurik sampai sekarang masih berlangsung. Di luar keraton Kasunanan lurik masih digunakan sebagai alat untuk menggendong dan sebagai busana, juga untuk upacara adat mitoni. Sedangkan di dalam keraton Kasunanan kain lurik masih dipakai untuk keperluan upacara-upacara adat seperti mitoni, labuhan, adang dan sebagai busana salah satu prajurit, yaitu prajurit baki.

Lurik ditinjau dari unsur-unsur desain modern ternyata ada relevansi. Meskipun unsur-unsur desain lurik yang ada sekarang tidak semua unsur sama dengan lurik sebelum terjadi perkembangan tekstil. Terdapat beberapa yang mengalami perubahan seperti pewarna, proses, teknik, motif tradisional dan lurik modifikasi. Sedangkan pada fungsi terdapat kesamaan demikian pula struktur dasar tenunan dan pengulangan.

Kain lurik untuk bethak banyak menggunakan warna-warna: hitam, putih, merah, kuning atau orange, dan hijau, dimana warna hitam dan putih selalu ada dalam setiap corak lurik. Dalam adat Jawa dikenal lima warna : hitam, putih, merah, kuning dan hijau selalu dipakai dalam sesaji seperti tingkepan (mitoni), atau dalam sesaji pada upacara-upacara lainnya. Hal ini berkaitan dengan keblat papat lima pancer melambangkan Sangkan paraning dumadi (ajaran asal manusia dan kemana akan kembali).

Bethak, upacara menanak nasi oleh Soesoehoenan Pakoe Boewono yang diselenggarakan setiap delapan tahun sekali. Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan, upacara bethak sudah ada pada zaman Hindu. Perkiraan ini berdasarkan pada prasasti yang menyatakan bahwa, pada zaman Hindu telah ditemukan nama-nama tuluh watu, poleng, bangun tulak atau bango buthak. Nama-nama kain lurik yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama dan fungsi yang sama. Kain-kain lurik yang dipakai untuk upacara adat sebagai tolak bala termasuk untuk upacara bethak. Lurik dengklung dipakai sebagai sarana pada pelaksanaan upacara bethak, yang dililitkan pada badan dandang. Lurik dengklung berupa kain polos hitam dengan garis-garis putih di bagian bawah. Sehingga pada dandang terjadi kombinasi warna putih, hitam dan merah. Apabila dikaitkan dengan upacara bethak/adang erat kaitannya dengan simbol kesuburan yang sangat dekat dengan kondisi daerah agraris. Warna putih lambang dari dunia atas yang mendatangkan hujan, hitam lambang tanah atau dunia bawah dan merah lambang dunia tengah.

Ignatius Andhika Prasetya, NIM. 27100515

ABSTRAK

Studi Perbandingan Esai Foto Karya Rama Surya Dengan Sebastiao Salgado.

Fotografi adalah alat komunikasi visual yang bisa merekam obyek secara lebih obyektif dibandingkan media lainnya. Esai foto adalah salah satu cara berkomunikasi lewat gambar (foto), yang diharapkan mampu menggantikan kata-kata dari sebuah (esai) tulisan. Sebastiao Salgado adalah fotografer kelahiran Brasil, penyandang gelar doktor ekonomi dari Sorbonne University, Paris, penerima anugerah W. Eugene Smith Grant dalam karya fotografi humanistiknya. Rama Surya adalah fotografer Indonesia yang menganggap Sebastiao Salgado adalah guru imajinernya. Menurut Carolyn Bloomer (dalam Lester, Paul Martin, 2000) proses penciptaan imaji dipengaruhi oleh aspek kognitif yang antara lain terdiri dari : ingatan/memori, proyeksi, pengharapan, pemilihan, pengharapan, kebiasaan, dan budaya. Boleh jadi Rama membuat esai foto terinspirasi oleh karya Salgado yang dilihat sebelumnya, meskipun berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Asumsinya adalah ada kesamaan rupa dalam esei foto karya Rama Surya dan Sebastiao Salgado dan kesamaan ide/gagasan dalam konsep pembuatannya.

Landasan teori akan membahas kategori foto menurut Terry Barret (2000), cara menganalisis (mendeskripsi) rupa secara visual dan menginterpretasi foto, teori dan sejarah esai foto, dan teori persepsi komunikasi visual, dan teori kaji banding. Tinjauan data akan membahas latar belakang Rama Surya dan Sebastiao Salgado secara singkat. Metode penelitian yang digunakan dalam kaji banding ini adalah analisis rupa meliputi tinjauan kategori foto dan deskripsi foto dengan metode kritik foto Terry Barret (2000) digabung dengan metode kritik Edmund Feldman (dalam Aland, Jenny dan Darby, Max, 19991) serta analisis struktur menurut Henry N. Rasmusen (1950) terhadap rupa esai foto Rama Surya dan Sebastiao Salgado. Ide/gagasan kedua fotografer akan dikaji lewat interpretasi makna rupa dan digabung dengan teori persepsi komunikasi visual Carolyn Bloomer. Akhirnya, kesimpulan akan diambil melalui penilaian secara obyektif kedua esai foto berdasarkan analisis visual rupa dan interpretasi makna.

I Made Pande Artadi, NIM. 27100014

ABSTRAK

Pengaruh Arsitektur Kolonial Belanda Terhadap Arsitektur Tradisional Bali Utara (Sebuah kajian estetik dengan kasus Bale Daja/Meten di Singaraja)

Kebudayaan dalam lingkungan kehidupan sosial manusia akan selalu berkembang, tidak bersifat statis, namun dinamis, ia akan selalu berubah dan terus mengalami modifikasi budaya seiring dengan mobilitas nilai-nilai praktisnya. Perubahan ini oleh para ahli antropologi sering disebut dengan transformasi budaya. Transformasi budaya cenderung terjadi karena ada dialog antar dua budaya; atau ada unsur-unssur kebudayaan dari luar yang diterima (diffusion). Dialog ini dapat dipicu oleh kehadiran invasi atau penjajahan dari masyarakat lain. Kehadiran kolonisasi di Bali Utara (Buleleng) memungkinkan terjadinya pertemuan budaya lokal (tradisional) dengan budaya kolonial (modern), sehingga memberi peluang besar akan timbulnya hasrat dari budaya lokal untuk menyerap nilai-nilai budaya baru hingga mengakibatkan terjadinya pergeseran pada berbagai wujud budaya. Unsur-unsur modern dari budaya kolonial berkembang dan masuk dalam kehidupan masyarakat; memicu mobilitas sistem budaya lokal (cultural system) yang meliputi nilai-nilai, konsep, dan berbagai macam norma; mempengaruhi berbagai aktivitas budaya (cultural activities) hingga bermuara pada transformasi wujud benda budaya (material culture), salah satunya adalah arsitektur tradisional.

Kehadiran politik kolonial membawa berbagai konsep arsitektur Barat, kemudian mengimbas filosofi dan konsep arsitektur lokal yang telah tertata sebelumnya dalam masyarakat tradisional. Berbeda dengan arsitektur kolonial yang sasaran desainnya lebih ditekankan pada produk berupa fisik bangunan (fungsi, konstruksi, dan estetika), namun arsitektur tradisional Bali dalam setiap proses perwujudannya selalu menekankan keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos. Nilai-nilai estetika dalam arsitektur tradisional Bali selalu di integrasikan dengan unsur-unsur transendental dan kepercayaan masyarakat Bali dalam konteks kosmologi. Ekspresi dari wujud fisik arsitektur tradisional Bali adalah keterpaduan unsur-unsur ideal estetis dengan unsur-unsur praktis. Tidak satu pun unsur-unsur dalam bangunan yang terlepas dari nilai-nilai religi masyarakatnya, baik dari pemilihan tapak, pemilihan arah bangunan, letak bangunan sampai pada keterpaduan elemen konstruksi dalam strukturnya. Keindahan arsitektur bagi masyarakatnya dinilai pada sejauh mana undagi Bali dapat menyatukan unsur-unsur transenden ke dalam bahasa arsitektur.

Perkembangan arsitektur tradisional Bali di Buleleng pada masa kolonial mengalami periode yang memiliki karakteristik yang berbeda pada masa sebelumnya. Fenomena ini akan terlihat pada penelitian bangunan tradisional Bale Daja yang semua dijabarkan melalui metoda deskriptif analisis dalam koridor bahasan estetika. Pada perkembangannya di masa kolonial terlihat bahwa prinsip-prinsip estetika tradisional mulai diabaikan, setiap perwujudannya lebih mengacu pada prinsip-prinsip estetika klasik Barat yang mengutamakan bentuk visual bangunan. Nilai-nilai estetika Barat (donor) diterima oleh kebudayaan lokal (acceptor) yang oleh proses integrasi menjadi nilai-nilai baru, sehingga melahirkan bentuk bangunan baru yang berbeda dari bangunan sebelumnya.

John Martono, NIM. 27100008

ABSTRAK

Gaya Busana Punk di Bandung (sebuah kajian semiotik)

Berawal dari situasi rekonstruksi pasca Perang Dunia II yang berakibat pada perbaikan dalam berbagai aspek kehidupan terutama di bidang teknologi. Punk sebagai salah satu gerakan dari sekian banyak gerakan resistensi yang menentang segala bentuk kemapanan yang bersifat penyeragaman di segala lini. Kondisi plural menyebabkan semakin terbukanya berbagai gerakan yang bersifat penentangan, lalu subkultur muncul sebagai konsekuensi logis dari kondisi tersebut. Gaya busana yang khas, simbol-simbol, dan tatacara hidup yang bersifat ironis yang dicuri dari kelompok-kelompok kebudayaan lain yang lebih mapan, merupakan upaya membangun identitas berdasarkan simbol-simbol “curian”. Punk sebagai gerakan kaum muda kelas pekerja. Gaya punk sendiri merupakan bentuk fetisisme, adopsi, dan adaptasi oleh kaum muda yang diwujudkan dalam bentuk gaya busana. Gaya ini mulai masuk di Bandung pada awal 1990an dan mempunyai komunitas sendiri serta sempat marak pada tahun 1997an, sampai kini gaya punk masih ada. Pada awal kemunculan gaya punk, musik impor beraliran punk rock adalah salah satu aspek pemacu maraknya gaya punk di Bandung.

Secara umum masyarakat dapat mengenali remaja bergaya punk yang ada di kehidupan sehari-hari, karena gaya ini sangat khas. Terdapat berbagai unsur visual yang jelas pada gaya punk. Mulai dari rambut bergaya Mohawk warna-warni, baju robek-robek penuh badge, jaket penuh dengan spike, kaos bergambar grup band punk, celana panjang maupun pendek ketat yang kumal penuh dengan badge, peniti, sabuk rantai, sepatu boot, dan berbagai asesoris yang dikenakannya.

Berbagai unsur visual yang digunakan dalam dandanan bergaya punk tersebut merupakan tanda-tanda yang memiliki kode estetik tertentu. Pembahasan secara deskriptif kualitatif dengan kajian semiotika ini, diharapkan dapat memahami gaya punk melalui berbagai unsur visual yang ada.

Komarudin, NIM. 27101008

ABSTRAK

Desain Batik Berorientasi Perdagangan Bebas (Pbjek Studi Ragam Hias : Hewan Filum Moluska Kelas Gasptropoda dan Kelas Bivalvia

Latar belakang Proyek Akhir bermula dari mata kuliah Proyek Desain I dan Proyek Desain II. Dari kedua mata kuliah tersebut penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian dan perancangan kepada sebuah karya desain batik. Setelah melakukan pertemuan dengan pembimbing I, akhirnya pembimbing menyetujui dan mendukung untuk penyelesaian Proyek Akhir dengan membuat perancangan karya dengan mengambil tema biota laut.

Pengambilan tema biota laut, didasari atas desain-desain batik dimasa mendatang tidak lagi pada persoalan desain tradisional yang sudah banyak ragam hiasnya, akan tetapi desain batik modern yang diharapkan mampu bersaing pada era perdagangan bebas diantaranya desain-desain yang bertema global, berkualitas dan dikenal secara universal.

Kemudian penulis segera mencari sumber data biota laut ke Pusat Penelitian Oceanologi di Ancol Jakarta, serta pergi menuju Milo’s Srudio Bali untuk melakukan observasi lapangan tentang dunia fashion non tradisional untuk konsumen dalam negeri dan luar negeri.

Dari data awal yang penulis dapatkan, timbul ide berupa tema untuk perancangan Proyek Akhir ini dengan mengambil obyek hewan filum moluska. Dengan alasan bahwa hewan ini sangat indah bentuk, warna, tekstur kulitnya, serta banyak sekali jumlah jenisnya dan tersebar diseluruh penjuru dunia.

Setelah data-data yang diperlukan terkumpul, penulis melakukan pendataan sker dasar hewan moluska kelas gastropoda dan kelas bivalvia yang dilanjutkan dengan studi bentuk dan studi komposisi dengan menggunakan fasilitas software Photoshop di komputer. Setelah membuat beberapa rancangan, penulis melakukan bimbingan dengan Pembimbing I dan Pembimbing II, dan menyarankan agar langsung dibuat karyanya pada kain. Kegiatan selanjutnya penulis membuat beberapa rancangan dari objek hewan moluska kelas gastropoda dan kelas bivalvia untuk dibuatkan cap batik yang terbuat dari tembaga.

Percobaan dengan cap batik yang sudah jadi dilakukan sesuai dengan konsep dan studi komposisi yang telah dikerjakan dengan software tersebut diatas. Proses selanjutnya penulis melakukan studi warna guna mendapatkan warna-warna yang sesuai, mengacu pada trend warna dunia khususnya untuk bidang fashion. Studi warna dibagi dua, diantaranya pertama mengenai komposisi warna-warna fashion, yang kedua adalah pemilihan jenis cat warna yang bisa digunakan pada perancangan karya batik.

Setelah semua karya selesai, kemudian dilanjutkan dengan mensimulasikan pada foto-foto peragawati untuk melihat desain-desain batik tersebut digunakan sebagai busana yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia yang tidak hanya berfungsi sebagai penutup anggota tubuh, akan tetapi juga dilihat dari sisi keindahan serta estetika yang menyertainya.

Mawardi Hermansyah, NIM. 27100003

ABSTRAK

Kajian Visual Iklan Kampanye Politik PDIP dan Partai Golkar di Masa Pemilu Indonesia 1999 pada Surat Kabar Kompas dan Pikiran Rakyat Terbitan Tahun 1999.

Komunikasi merupakan hal yang mendasar dalam proses sosial dalam suatu masyarakat. Peranan komunikasi merupakan alur lalu lintas komunikasi sosial dalam masyarakat, bertujuan menghubungkan pikiran dan gagasan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya, maka terjadi transformasi informasi antar manusia.

Lau lintas komunikasi sosial dalam masyarakat bertujuan menghubungkan pikiran manusia yang satu dengan lainnya untuk pengembangan gagasan-gagasan dan pola tindak. Pola tindakan dan gagasan baru tersebut bermanfaat untuk memahami, menilai dan mengatur perilaku, nilai-nilai dan rencana bagi pihak-pihak yang terlibat dalam kehidupan sosial di dalam sebuah masyarakat.

Melalui media komunikasi, pihak pemberi informasi secara khusus ingin mempengaruhi dan membentuk pikiran komunikan agar menangkap apa yang dianggap penting untuk diketahui. Berita dan iklan pada surat kabar dan sebagainya mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan sosial politik, ekonomi dan budaya, dalam hal pertukaran informasi antar pribadi di dalam kehidupan masyarakat.

Informasi terdiri dari gagasan atau pesan yang terkandung dalam iklan, merupakan cara berkomunikasi yang efektif dalam menyampaikan informasi kepada khalayak sasaran yang berjumlah banyak dan hetrogen. Informasi disebarluaskan oleh partai politik melalui iklan kampanye politik bersifat verbal dan nonverbal (visual). Proses pemilihan serta penetapan unsur-unsur visual dan komunikasi, yang ditata dan diorganisasikan dengan tepat dapat menimbulkan rangsangan, dan mudah dimengerti, merupakan salah satu tujuan penyampaian pesan pada khalayak sasaran.

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan yang saling mempengaruhi dan saling merubah tingkah laku, pemikiran atau sikap antara komunikator dan komunikan. Demikian pula dalam komunikasi menggunakan unsur-unsur komunikasi visual dan unsur komunikasi iklan, seperti iklan kampanye politik di masa pemilu. Tujuan yang hendak dicapai harus jelas, sebab dengan tujuan yang jelas sangat penting dalam membawa misi yang diemban oleh iklan kampanye politik tersebut. Tanpa adanya tujuan yang jelas sulit bagi seorang komunikator untuk menyampaikan pesannya, apalagi untuk mendapat tanggapan positif dari komunikan yang menjadi khalayak sasaran.

Penyelenggaraan kampanye pemilu merupakan komunikasi politik dari pemrakarsa kepada khalayak sasaran yang dituju. Ssebuah iklan diciptakan partai-partai politik peserta pemilu untuk mengarahkan pola pikir serta tindakan, juga daya pikat iklan dibangun untuk mengingatkan khalayak pada citraan tertentu secara individu maupun kolektif. Kegiatan komunikasi disampaikan dengan pendekatan bahasa verbal dan nonverbal diwujudkan dalam tampilan iklan kampanye politik.

Kampanye pemilu adalah salah satu bentuk komunikasi politik bertujuan mempengaruhi masa pemilih agar menggunakan hak pilih dan berkehendak memilih. Berbagai upaya dalam berkampanye lewat media iklan di surat kabar, majalah, radio, televisi, poster baliho, spanduk dan sebagainya atau pun rapat-rapat umum untuk meningkatkan citra positif partai di tengah masyarakat.

Dalam menciptakan iklan kampanye politik pada surat kabar, setiap unsur-unsur visual mempunyai fungsi dan berkaitan erat dengan unsur tema, pembentuk pesan yang mudah dimengerti dan memiliki daya tarik tersendiri. Satu ide sebagai satu lokal konsep terdiri dari kombinasi kata-kata, gambar, warna sebagai unsur-unsur visual divisualisasikan dan dituangkan dalam iklan. Kata-kata (verbal) menerangkan tentang ide dasarnya dan visualisasi mencerminkan apa yang ada dalam kata-kata, menjadi suatu keserasian dan kesatuan dalam bentuk visual pada tampilan wujud iklan kampanye politik di masa Pemilu.

Dengan demikian aspek desain dalam iklan kampanye politik adalah pada upaya-upaya penyediaan informasi bersifat persuasif, mengingatkan, pemberian jaminan dan disamping mendukung kegiatan lainnya yang dilaksanakan dalam rangka mensosialisasikan keberadaan partai. Sedangkan tujuan iklan kampanye politik ini, merangsang perhatian, mempengaruhi persepsi, menimbulkan ingatan, menumbuhkan sifat positif, merangsang tindakan untuk memilih sesuai dengan kehendak khalayak pemilih dan harapan partai sebagai pengiklan. Namun iklan kampanye politik yang tepat, ketika khalayak membenarkan, mengiyakan apa yang dipesankan oleh sumber iklan dari partai bersangkutan.

Komunikasi visual sebagai suatu sistem pemenuhan kebutuhan manusia di bidang informasi visual melalui lambang-lambang kasat mata. Hampir di segala sektor kegiatan, menggunakan bahasa lambang-lambang atau sandi-sandi visual yang dihadirkan dengan bentuk gambar, sistem tanda, hingga ruang pamer atau display di pusat-pusat pertokoan dengan beragam jenis daya tariknya.

Dalam kegiatan komunikasi, gambar termasuk simbol nonverbal berbeda dengan bentuk simbol verbal, karena memiliki karakteristik tersendiri diantaranya dapat mengungkapkan informasi dengan bahasa tulisan melalui headline, subhead, body teks, dan sebagainya, ditampilkan secara singkat dan bila digabungkan dengan tepat antara bahasa simbol verbal dan nonverbal (visual) merupakan sarana sugesti yang tepat dalam komunikasi visual.

Salah satu kekhasan gambar diantara unsur-unsur visual lainnya sebagai alat ungkap pesan secara visual menawarkan kesempatan luas untuk didayagunakan sebagai alat memperjelas berita, mudah dimengerti, menarik perhatian yang terdapat dalam iklan untuk menawarkan produk, jasa maupun gagasan kepada khalayak.

Sebagai bahasa rupa, desain komunikasi visual merupakan ungkapan gagasan melalui simbol-simbol berwujud gambar, aksara dan angka (tipografi-tulisan), warna, dan unsur-unsur lainnya. Desain menjadi komunikatif apabila penyampaian bahasa rupa enak dilihat, mudah dimengerti, dan jelas yang dimaksud. Komunikasi visual merupakan sebagian kebutuhan manusia di bidang informasi melalui lambang kasat mata khususnya pada media cetak yang dihadirkan dengan bentuk visual dengan beragam daya tariknya sendiri yang ditujukan kepada khalayak sasaran yang dituju.

Gambar merupakan salah satu wujud lambang atau bahasa visual, di dalamnya terkandung struktur rupa seperti garis, warna dan komposisi. Struktur ini dikelompokkan dalam katagori bahasa komunikasi non verbal (visual), dibedakan dengan bahasa verbal yang berwujud tulisan atau ucapan.

Dalam bidang perancangan grafis, kemudian berkembang menjadi desain komunikasi visual, banyak memanfaatkan daya dukung gambar sebagai lambang visual, guna mengefektifkan pesan komunikasi yang terdapat pada iklam kampanye partai politik. Upaya mendayagunakan lambang visual, berangkat dari anggapan bahwa bahasa visual memiliki karakteristik bersifat khas untuk menimbulkan kesan tertentu pada pengamatnya.

Kedudukan gambar cukup penting dalam menarik perhatian khalayak. Gagasan menampilkan tokoh, yang realistis, diharapkan membentuk suasana emosional, karena gambar lebih mudah dimengerti dibang dengan tulisan. Sebagai sarana komunikasi, gambar merupakan pesan non verbal dapat menjelaskan dan memberikan penekanan tertentu pada isi pesan, dan dapat mengarahkan bagian selanjutnya dari isi tema yang terdapat pada iklan kampanye politik. Peran gambar untuk iklan kampanye politik sangat besar pengaruhnya karena lebih mudah diingat daripada kata-kata, dan paling cepat untuk pemahaman dan dimengerti maksudnya, karena terkait maksud pesan yang terkandung dalam iklan dan menampilkan tokoh yang sudah dikenal sebaian besar dari khalayak sasaran.

Penggunaan bahasa fotografi dalam sebuah desain khususnya dalam iklan kampanye politik merupakan salah satu metoda efektif untuk menciptakan komunikasi. Karena pesan yang disampaikan melalui bahasa foto, informasi yang disampaikan mudah ditangkap, dimengerti dan obyek sesuai kenyataan. Dengan demikian komunikasi yang menggunakan tulisan pengertiannya terkadang sukar dipahami dibanding dengan menggunakan bahasa fotografi.

Dalam berkomunikasi melalui bahasa fotografi sangat menentukan dalam komunikasi, seperti menyampaikan suasana sedih, gembira, bersemangat, sedang senyum, usang, bagus, indah, romatis, melankolis dan sebagainya banyak digunakan dalam menciptakan karya-karya desain khususnya dalam iklan dan bahasa karya fotografi, dapat memberikan isyarat tertentu, dan wujud gambar foto memiliki bahasa fotografi sendiri.

Pada umumnya unsur-unsur iklan di media cetak terdiri dari atas; headline, sub head, body teks, splash, closing word, caption, brandname, logo type, gambar (ilustrasi atau fotografi), dan slogan. Kesepuluh unsur itu saling terjalin membentuk satu kesatuan dalam iklan. Namun kesepuluh unsur ini tidak selalu hadir dalam setiap iklan, dan peletakannya tidak selalu berurutan. Dalam sebuah iklan terkadang hanya beberapa unsur saja dimanfaatkan dan disusun, akan tetapi tidak berarti bahwa iklan tersebut tidak memiliki keutuhan, sebab dalam beberapa unsur pun iklan dapat mengkomunikasikan pesan yang utuh. Sehingga urutan unsur dalam iklan tidak menjadi permasalahan pokok, karena utamanya bagaimanapun urutan iklan harus tetap menunjukkan keserasian dan kesatuan dari hasil kreatif desainer dalam menyampaikan berita.

Sedangkan unsur-unsur komunikasi visual diantaranya terdiri dari tipografi (headline, subhead, bodyteks) warna, gambar (teknik tangan dan teknik fotografi), layout (simetris, asimetris).

Tipografi adalah disiplin ilmu yang mempelajari karakter dan fungsi huruf serta adanya pemakaian dalam desain komunikasi visual. Huruf merupakan bagian terkecil dari struktur bahasa tulis dan merupakan elemen dasar untuk membangun sebuah kata dan kalimat. Rangkaian huruf dalam sebuah kata atau kalimat bukan saja mampu memberikan pengertian yang mengacu pada sebuah obyek atau gagasan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyuarakan suatu citra atau kesan secara visual. Desainer komunikasi visual mampu memainkan dan memilih huruf tertentu dalam perancangan iklan kampanye politik.

Rangkaian huruf mengacu pada obyek, tetapi juga memiliki kemampuan dalam menyajikan pesan secara visual, melalui susunan huruf menjadi rangkaian kata-kata selanjutnya kumpulan kata menjadi kalimat dalam tulisan. Tipografi enak dipandang dan dibaca, melancarkan pembaca dalam mencermati informasi, mudah dimengerti dan memahami pesan-pesan iklan.

Headline merupakan bagian terpenting dari sebuah iklan, karena merupakan bagian teks yang pertama kali dibaca. Hal ini bisa terlihat pada iklan kampanye politik berusaha menampilkan headline pada posisi yang tepat, pemilihan tipe huruf disesuaikan dengan tema, juga pertimbangan penentuan ukuran huruf yang sesuai, sehingga mudah dibaca agar menarik perhatian, selain menampilkan unsur-unsur visual lainnya, seperti fotografi.

Subhead dalam desain iklan terkadang memasukkan unsur subhead sebagai lanjutan keterangan dari headline, dan menjelaskan secara singkat hal-hal yang dianggap penting sebagai berita. Subhead dapat lebih panjang dari headline dalam penyajian berita, dengan tujuan untuk penjelasan lebih singkat namun jelas, dari pokok-pokok pikiran, gagasan. Subhead dapat memberi motivasi pembaca untuk terus melanjutkan pada berita berikutnya yang terdapat dalam bodi teks.

Body Teks dalam tampilan headline dalam iklan, jarang disertakan unsur body teks, karena penyajian bodi teks terkadang merupakan kalimat panjang yang menerangkan secara rinci tentang formulasi atau manfaat obyek utama. Tetapi juga diperhatikan dalam perancangan iklan, mengingat bentuk utama body teks merupakan isi berita bersifat penjelasan dari headline, dan subhead yang bersifat faktual, dan imajinatif melalui pendekatan emosional.

Warna peranan warna dalam perancangan iklan sangat berpengaruh pada penampilan wujud iklan, dimaksud agar lebih menarik perhatian. Sebagai media penyampai pesan visual, warna memberikan sugesti bagi khalayak. Warna adalah salah satu unsur yang menghasilkan daya tarik visual, dan kenyataannya warna lebih berdaya tarik secara emosional daripada akal.

Warna juga menjadi unsur penting dalam mempercepat proses komunikasi antara media dengan pembaca. Peranan warna bagi media iklan sangat efektif dalam mendukung proses penyampaian pesan atau gagasan. Warna merupakan sarana ekspresi dan dapat memberi kesan irama pada tampilan fisik media iklan, bila berfungsi mendukung informasi yang disampaikan.

Gambar sebagai salah satu bentuk bahasa, alat untuk mengutarakan gagasan dan informasi secara visual merupakan pokok kajian yang senantiasa penting bagi bidang perancangan grafis dalam rangka mengoptimalisasikannya tujuan komunikasi. Di bidang komunikasi iklan, gambar bukan saja berperan sebagai alat informasi dan identifikasi namun juga persuasi, yakni membujuk, mempengaruhi khalayak ke arah sikap maupun perilaku tertentu sesuai yang diharapkan sumber atau pengiklannya.

Berbagai cara ditempuh untuk mendayagunakan gambar sebagai pendukung pesan iklan yang komunikatif, antara lain dengan memanfaatkan teknik visualisasinya dalam hal ini yang disebut gambar adalah dengan menggunakan teknik tangan dan teknik yang dibantu kamera disebut teknik fotografi.

Penggunaan teknik gambar tangan dan fotografi dalam rancangan grafis iklan mempunyai kaitan dengan perkembangan sistem komunikasi visual. Sebelum ditemukan fotografi, dapat dikatakan bahwa teknik gambar tangan merupakan satu-satunya teknik visualisasi iklan. Dengan kelahiran fotografi maka terjadi pergeseran peran gambar tangan, yakni beberapa tema pendekatan visual iklan digantikan oleh fotografi terutama menyangkut identifikasi visual produk serta rekaman visual untuk meyakinkan isi pesan iklan.

Gambar tangan mempunyai kekuatan berupa fleksibilitasnya yang tinggi untuk menghadirkan bentuk atau perwujudan gambar menurut kebutuhan informasi visual yang diperlukan. Gambar tangan mempunyai peluang yang luas untuk menghadirkan simbol visual dari perbendaharaan bentuk, warna, yang ada pada seorang penggambar untuk meringkas, menyeleksi dan mendistorsinya guna mempertajam karakter ungkapan simbol untuk memperkuat visualisasi pesan.

Pada fotografi, daya komunikatifnya lebih banyak terletak pada kesanggupan teknik untuk dapat dipercaya rekamannya (balievability) dari adegan atau peristiwa sesungguhnya. Selain itu nilai moment yang dibidik kamera fotografi dapat mengungkapkan suasana tertentu bagi pengamatnya.

Permainan teknik fotografi dapat mempertinggi kesan atau efek visual suatu obyek bisa terjadi secara visual, kesan suatu obyek dalam gambar fotografi lebih meyakinkan dan mudah dikenali dan diingat. Karakteristik fotografi tersebut mempunyai daya dukung yang tinggi bagi iklan untuk mempengaruhi khalayak dengan suguhan gambar fotografi yang dalam bahasa visual dapat menggugah emosi. Dari sudut ini fotografi dapat mendukung upaya mengkongkritkan suatu pesan dalam visualisasi yang mudah dimengerti oleh khalayak.

Kesempatan yang ditawarkan teknik fotografi tersebut merupakan pendekatan komunikasi visual yang komunikatif untuk mendekatkan nilai keunggulan tokoh yang ditampilkan. Beberapa tema pendekatan yang sering disentuh oleh fotografi dalam iklan antara lain, daya tarik karakter tokoh politik bersangkutan, sebagai representatif dari partainya, maka gambar teknik fotografi lebih mendukung arah pesan menjual (selling message) secara emosional dalam iklan kampanye politik, dan berdaya guna dalam mempengaruhi khalayak agar tergugah dan menumbuhkan loyalitas untuk memilih berdasar pada anjuran atau himbauan yang ditawarkan dalam berita iklan.

Layout atau tata letak mempunyai peran penting dalam keberhasilan komunikasi visual, karena dengan susunan yang sistematis dan konstruktif akan menciptakan komposisi teratur, konsisten serta memberikan kemudahan bagi pembaca. Dalam dunia desain komunikasi visual, desain iklan bertujuan penyampaian pesan melalui unsur-unsur verbal dan visual sebagai representasi dari isi naskah. Tampilan keseluruhan desain iklan, unsur-unsur visual diolah dan dikonstruksikan dengan tepat, untuk menciptakan komposisi menarik dan berimbang, dalam menyampaikan informasi. Melalui susunan yang sistematis dan keteraturan mengajak publik tertarik, dan menanggapi isi pesan yang terkandung dalam iklan.

Dalam dunia periklanan, penerbitan, majalah, surat kabar, dan media cetak lainnya, desainer umumnya, menggunakan teknik atau cara yang disebut layout simetris dan asimetris, layout simetris, berarti membagi sama besar antara kanan dan kiri, atas dan bawah dari garis poros dalam ukuran bidang. Kemudian dalam menentukan komposisi letak dari unsur-unsur visual yang terpilih, ditata dan diorganisasikan dalam ukuran bidang yang telah ditentukan, keseluruhan itu untuk menciptakan pencapaian sebuah desain yang seimbang, harmonis dan menarik. Layout simetris merupakan pembagian berdasar pertimbangan keseimbangan yang sama besar dan cenderung berkesan menciptakan keseimbangan desain yang formal, konservatif, tenang, kalem, namun terkesan kurang dinamis.

Sedangkan layout asimetris adalah pembagian yang tidak sama besar antara kanan dan kiri, atas dan bawah dari garis poros suatu ukuran bentuk, bangun pada unsur-unsur yang dipilih. Dan cenderung keseimbangan yang dinamis, bergerak, hidup, atraktif dan ritmis. Dan juga memberikan kesan lebih dinamis, mempercepat proses komunikasi dan menyampaikan pesan makna lebih dari sekedar penampilan.

Fungsi dari kedua konsep ini adalah untuk menciptakan alternatif atau variasi dalam pertimbangan desain, juga untuk menangkap keinginan khalayak sasaran.

Dalam rangkaian perolehan data yang dikumpulkan dari beberapa iklan kampanye politik masa Pemilu 99 pada surat kabar yang telah dipilih, penggunaan gambar teknik fotografi ternyata lebih banyak digunakan. Bertolak dari data yang telah diperoleh akan dianalisis karakteristik fotografinya dan unsur-unsur komunikasi visual lainnya dalam mendukung tercapainya tujuan komunikasi efektif melalui media iklan.

Pembahasan dilakukan dengan metode deskriptif analisis, dengan cara melakukan pembahasan berdasar pada data-data deskriptif dari sumber-sumber tertulis. Hal tersebut dilakukan dengan mengamati dan menginterpretasikan iklan kampanye politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golongan Karya (Golkar) yang pernah diterbitkan di harian umum surat kabar Kompas dan Pikiran Rakyat. Metode deskriptif analisis ini atas pertimbangan bahwa nilai daya komunikatif suatu gambar mempunyai segi-segi yang berkaitan dengan konteks tujuan penelitian.

Meitiya Diyah Artati, NIM.27100513

ABSTRAK

Kajian Semantik pada Bangunan Komersial Pusat Perbelanjaan (studi kasus Pusat Perbelanjaan Bandung Supermal)

Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa suatu lingkungan arsitektur memiliki tanda dan makna-makna tertentu, yang digunakan manusia untuk berkomunikasi tentang diri, identitas, lingkungan, dan semua aspek kehidupan. Dalam memahami tanda, manusia dipengaruhi oleh berbagai latar belakangnya, seperti pendidikan, sosial, budaya, dan sebagainya, sehingga perbedaan latar belakang itu dapat menimbulkan perbedaan interpretasi di antara mereka. Pusat Perbelanjaan merupakan fasilitas yang mewadahi aktivitas komersial dan rekreasi masyarakat. Sebagai bangunan komersial, Pusat Perbelanjaan berperan dalam memenuhi kebutuhan pokok, merepresentasikan citra, identitas dan gaya hidup masyarakat. Arsitekturnya, dalam hal ini dapat dipandang sebagai tanda yang dapat mengkomunikasikan fungsi tersebut kepada mereka. Salah satu contohnya adalah Bandung Supermal (BSM). Tiap pengunjung BSM memiliki perbedaan latar belakang, sehingga mereka memiliki perbedaan kesan terhadap arsitektur bangunan tersebut. Penelitian ini merupakan upaya untuk menemukan perbedaan interpretasi makna arsitektur BSM di antara para pengunjungnya yang berbeda.

Dalam semiotika, proses komunikasi bergantung pada relasi antara tanda dan kode. Semantik merupakan bagian dari ilmu semiotika yang memperhatikan hubungan antara tanda dan makna. Dalam konteks arsitektur, semantik bertujuan untuk memahami kesesuaian antara bentuk, fungsi dan makna. Berkaitan dengan itu, Semantik Diferensial merupakan metode untuk mengukur makna yang dipahami seseorang melalui emosi, rasa, dan perilaku. Penelitian ini melakukan studi melalui metode semantik diferensial untuk mengetahui makna yang dipahami pengamat terhadap BSM, dan dibandingkan dengan makna arsitektur melalui studi semiotika.

Hasil dari penelitian ini adalah suatu gambaran umum mengenai kesan pengunjung terhadap arsitektur BSM dan bagaimana relasi antara tanda, kode, dan makna di baliknya. Penelitian ini dapat menunjukkan tingkat konsistensi semantik arsitektur BSM. Temuan-temuan tersebut dapat menjadi dasar pemikiran untuk penelitian selanjutnya, terutama mengenai kesesuaian antara karakter pengunjung, citra arsitektur, dan komunikasi yang paling efektif untuk pengunjung di Indonesia.

Kata kunci : Semiotika, Semantika, Makna Arsitektur, Perbedaan Konotasi.

Noeratri Andanwerti, NIM. 27100001

ABSTRAK

Hubungan Perubahan Sosial Budaya dengan Perubahan Arsitektural Istana (Studi kasus bangunan pada Pagelaran dan Siti Hinggil Utara Keraton Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat).

Perubahan merupakan sebuah proses yang berlangsung pada sebuah kondisi menjadi kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Perubahan tersebut dapat terjadi akibat pengaruh luar maupun pengaruh dari dalam. Pada hakekatnya selama manusia hidup selalu mengalami perubahan. Perubahan dalam masyarakat sebagai suatu proses perubahan yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.

Kebudayaan sebagai buah hasil pemikiran manusia dapat diwujudkan dalam kebudayaan fisik seperti arsitektur. Arsitektur tradisional merupakan sebuah karya manusia di masa lampau yang merupakan wujud kebudayaan fisik yang didasarkan kemampuan berpikir dan adaptasi terhadap lingkungan sekitarnya. Arsitektur tradisional merupakan karya seni bangunan yang mengikuti kaidah-kaidah dan nilai-nilai tertentu untuk memenuhi fungsinya dan hal tersebut telah disepakati oleh sebuah masyarakat tradisional.

Karaton sebagai arsitektur tradisional yang dianggap sebagai bangunan sakral dan luhur yang mana sebagai tempat raja tinggal sekaligus tempat dilangsungkannya kegiatan pemerintahan dan kenegaraan. Karaton sebagai sebuah karya arsitektur merupakan wujud kebudayaan fisik yang lahir melalui ide dan sistem budaya serta sistem sosial masyarakat Jawa di masa itu. Melalui arsitektur Karaton dapat dilihat gambaran budaya masyarakat Jawa pada masa tertentu. Perubahan sosial dan budaya yang terjadi pada masyarakat Jawa yang berlangsung pada rentang waktu tertentu akan tercermin pada perubahan elemen-elemen arsitektur Karaton.

Nugraha M. Irsan, NIM. 27100514

ABSTRAK

Peranan Media Fotografi pada Ruang Interior Publik Komersial (Studi Kaus : Interior retail Giordano dan Interior Café Dakken)

Perkembangan masyarakat posindustri dan kebudayaan posmodern tidak dapat dipisahkan dari perkembangan konsumerisme di dalam diskursus kapitalisme mutakhir. Masyarakat posindustri telah terkait dengan praktik-praktik estetik kontemporer yang disebut estetika posmodern. Perkembangan masyarakat konsumer telah mempengaruhi cara pengungkapan estetik. Kebudayaan visual mempengaruhi cara pandang masyarakat dan mempengaruhi pula produsen.

Media fotografi sebagai salah satu bentuk budaya visual dan sinerginya terhadap interior sebuah fasilitas publik komersial dijadikan bahan penelitian sehingga diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi peranan media ini pada interior komersial. Penelitian ini mengambil contoh kasus pada fasilitas komersial retail dan café (restoran). Media fotografi akan dilihat peranannya pada interior komersial secara fungsional dan peningkatan kualitas interior publik komersial itu sendiri.

Penelitian ini akan melihat makna denotatif dan konotatif dari media fotografi serta konteks eksternal foto tersebut terhadap interior publik komersial. Desain interior akan dilihat dari fungsi yang diwadahi dan pesan yang disampaikan kepada pengamat atau konsumen, sehingga akan terlihat relasi antara media fotografi dengan interior publik komersial. Faktor-faktor yang menentukan sinergi media fotografi dan interior publik komersial menjadi bahan yang dianalisa melalui teori-teori yang berhubungan dengan fotografi dan interior komersial.

Rani Mayasofyarni, NIM. 27100507

ABSTRAK

Pergeseran Nilai-nilai Budaya Dalam Arsitektur Kampung Baduy

Indonesia memiliki begitu banyak kampung tradisional yang terdapat di berbagai pelosok negeri, dan beberapa diantaranya masih memiliki ruang yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dan mempertahankan kebudayaannya, namun tidak sedikit ruang arsitektur kampung tradisional yang sudah berkembang tidak terarah dan lepas dari konsep budaya yang sesungguhnya. Arsitektur Baduy seperti halnya arsitektur etnik di Indonesia, bahkan di Asia, tidak dapat terlepas dari nilai-nilai budaya dan religi serta lingkungan alam sebagai sumber penghidupan sehari-hari masyarakatnya. Arsitektur sebagai artefak kebudayaan dijadikan sarana penyimbolan yang menyiratkan bermacam nilai dan makna. Nilai-nilai budaya yang mengandung pandangan dan sikap hidup masyarakat lokal itulah yang sekarang mulai hilang dan dilupakan oleh praktisi arsitektur dalam setiap perancangan arsitekturnya. Peninjauan kembali nilai-nilai budaya lokal merupakan salah satu upaya pencarian jati diri arsitektur di tengah-tengah derasnya arus bentuk arsitektur asing di Indonesia.

Pada kampung-kampung tradisional yang masyarakatnya masih terus mempertahankan tradisi, dimensi kebudayaan memegang peranan penting sebagai faktor-faktor pembentuk arsitektur kampung. Kebudayaan tersebut mencakup sistem budaya, sistem sosial dan artefak. Kebudayaan suatu masyarakat akan mengalami suatu perubahan, baik itu menjadikan tradisi tersebut semakin kuat atau semakin pudar. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap eksistensi suatu tradisi khususnya pada zaman sekarang ini, adalah intervensi yang datang dari luar tradisi tersebut. Unsur-unsur ini akan menuntut kebutuhan baru di dalam sistem kampung sehingga memunculkan ruang arsitektur baru untuk menampung kebutuhan baru tersebut.

Arsitektur Baduy sebagai artefak budaya, terutama arsitektur di Baduy Dalam, merupakan salah satu contoh arsitektur hasil karya masyarakat lokal, dalam hal ini Sunda, yang masih dipertahankan. Penelitian perubahan pada Arsitektur Baduy dijadikan studi kasus untuk melihat proses perkembangan kebudayaan di kampung tradisional. Studi perubahan dalam arsitektur Baduy Luar dijadikan cerminan untuk melihat perubahan arsitektur yang dapat dianggap masih sesuai dengan nilai-nilai budaya asalnya juga yang dapat dianggap sudah bergeser dari jalur asalnya, yang dilakukan melalui tinjauan historis, kosmologis dan tipologi-morfologi arsitektur.

Perbedaan kondisi lingkungan alam dan lingkungan sosial antara kampung Baduy Dalam dengan kampung Baduy Luar merupakan salah satu faktor perubah bentuk dan ruang arsitektur, di samping kontak-kontak dengan kebudayaan luar. Transformasi arsitektur di kampung Baduy Luar masih mempertimbangkan nilai-nilai budaya yang dianggap paling esensil, sedangkan nilai-nilai budaya yang dianggap sudah berbeda karena faktor lingkungan alam dan lingkungan sosial berbeda, memicu perubahan bentuk dan ruang arsitektur melalui melalui proses akulturasi. Konsep tripartit, tahap mitis kebudayaan dan agama Sunda Wiwitan merupakan faktor pertahanan kebudayaan Baduy yang mengakibatkan perubahan berjalan dengan lambat.

Penelitian lebih lanjut mengenai perubahan pandangan dan sikap hidup secara detil dan menyeluruh yang tercermin pada arsitektur di kesatuan tiga kampung Baduy Dalam (Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo), kesatuan tiga jenis kampung Baduy Luar (Baduy Luar, Baduy Dangka dan Baduy Muslim), serta kesatuan jenis kampung Dangka (Dangka di Baduy Luar dan Dangka di luar Baduy) akan dapat menjelaskan secara menyeluruh mengenai transformasi arsitektur dan konsep arsitektur yang sebenarnya, melalui tinjauan dimensi kebudayaan, yang terdapat di kampung Baduy.

Kata Kunci: pergeseran nilai-nilai budaya, akulturasi, arsitektur kampung Baduy, kampung Baduy Dalam (Kajeroan), Kampung Baduy Luar (Panamping).

Sriti Mayangsari, NIM. 27100010

ABSTRAK

Kajian Warna Interior Taman Kanak-kanaak dalam Kaitannya dengan Aspek Perkembangan Anak dari Segi Evaluasi Belajar (Studi Kasus: TK Pembina, Sadang Serang, TK Salman Al Farisi, Bandung Montessori School di Bandung)

Pada usia prasekolah anak-anak akan mengalami perkembangan yang sangat cepat dari segi fisik, kognitif, emosi maupun sosial. Hal ini akan sangat berpengaruh pada masa depan anak kelak. Taman kanak-kanak sebagai lembaga pendidikan formal pertama merupakan salah satu sarana untuk membantu memberi rangsangan dan dukungan dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan sifat-sifat alam. Fakto-faktor yang berperan dalam menunjang perkembangan anak di taman kanak-kanak adalah kualitas guru, program kegiatan dan lingkungan fisik. Agar program kegiatan dapat berjalan dengan baik dan perkembangan anak optimal, maka perlu didukung oleh ruang kelas sebagai bagian dari lingkungan fisik, yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran warna dalam mendukung kondisi interior kelas yang menunjang program kegiatan belajar sesuai kebutuhan anak agar perkembangan mereka dapat optimal. Dengan memilih obyek penelitian studi kasus tiga buah TK di Bandung yaitu TK Pembina Sadang Serang, TK yang sengaja dibangun pemerintah sebagai TK percontohan, TK Salman Al-Farisi, sebagai pelopor sekolah sehari penuh (fullday School), program kegiatannya berlandaskan agama Islam, dan Bandung Montessori School, program kegiatannya menggunakan metode Montessori.

Hasil analisis studi kasus menunjukkan bahwa peran warna interior kelas pada ketiga kasus TK di atas menciptakan suasana, kesan maupun kondisi ruang yang berbeda-beda dalam mendukung program kegiatan belajar. Walaupun berbeda perkembangan siswa di ketiga kasus tersebut dapat berkembang dengan baik. Peran warna interior kelas tidak dominan dalam menunjang perkembangan anak di TK. Meskipun demikian peran warna tetap penting dalam menciptakan kondisi ruang yang dapat menunjang proses perkembangan anak, sehingga anak dapat berkembang dengan optimal, misalnya sebagai pembentuk suasana ruang, kesan dan identitas.

Dari hasil studi kasus dan literatur warna yang direkomendasikan untuk diterapkan pada interior TK adalah dominan menggunakan warna-warna pastel, warna yang tidak menyilaukan mata, warna yang secara psikologis dapat menimbulkan kehangatan, ketenangan, karena pada anak usia prasekolah ini sangat membutuhkan suasana kehangatan dalam kelas dan untuk mendukung program belajar sambil bermain (porsi belajar lebih besar dari bermain).

Tri Rahayu, NIM. 27101017

ABSTRAK

Pengaruh Estetika Desain Produk Jepang Terhadap Produk Berbahan Kerta di Indonesia

Desain sangat dipengaruhi oleh faktor ideologi, filosofi, budaya, struktur masyarakat dan nilai-nilai yang beroperasi di masyarakat. Akan tetapi satu budaya dapat dipengaruhi oleh budaya yang lain dimana pengaruh itu mencakup juga pada aspek filosofi desain, misalnya desain produk berbahan kertas. Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud mengungkapkan pengaruh estetika Jepang pada pemikiran filosofi dan metodis dalam wacana perkembangan desain produk berbahan kertas di Indonesia. Sasaran penelitian terfokus pada kajian estetis dan gaya desain produk pelengkap interior dan produk konsumer sederhana (misalnya lampu kertas, stationary, dll).

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta mendeskripsikan pengaruh estetika Jepang dan penerapannya dalam desain produk berbahan kertas di Indonesia sekaligus mengungkap persamaan dan perbedaan konsep desainnya. Lewat penelitian ini akan dapat memposisikan gaya desain produk berbahan kertas dalam sejarah perkembangan desain dan budaya masyarakat di Indonesia, sekaligus dapat mengungkap idiom-idiom estetik desain Jepang yang mempengaruhi konsep desain produk di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metodologi studi komparatif analisis produk, dengan upaya pemerolehan data lewat observasi dan wawancara langsung pada ilmuwan kertas, penggagas desain, praktisi dan distributor produk berbahan kertas.

Output yang dihasilkan dari penelitian ini adalah bentuk keterpengaruhan estetika Jepang pada produk berbahan kertas di Indonesia yang lebih banyak didapati pada produk pelengkap interior berupa lampu kertas. Penggayaan desain yang dipakai lebih pada karakter visual produk yang sarat dengan konsep estetika Jepang yang sederhana, natural, selalu bermain dengan keseimbangan yang dinamis dengan permainan garis-garis vertikal, horizontal dan diagonal, dan dalam bentuk yang realistis. Sedangkan pada konsep desain tentang ‘kebermaknaan produk’ sebagai identitas estetika Jepang, didapati perbedaan yang jelas dimana di Indonesia tidak memiliki konsep desain pada akar filosofinya, tapi lebih ke arah nilai ekonomis.

Perbedaan pada pemaknaan produk berbahan kertas ini lebih dilatarbelakangi dari preskripsi pemikiran yang berbeda tentang pemaknaan kertas itu sendiri. Kertas bagi masyarakat Jepang memiliki makna yang bersumber dari ajaran Zen Budhism dan Shinto, dan dijadikan sebagai media yang sangat berharga dalam kehidupan, kertas sekaligus merupakan media kontemplasi tentang makna kesederhanaan dan kefanaan yang sekaligus dianggap sebagai inti dari keindahan. Sedangkan kertas di Indoneesia dipandang sebagai media pendukung komunikasi dan ekspresi seni, kertas sebagai media ornamentasi, kertas sebagai penunjang elemen estetis pada interior desain, dan sebagai pelengkap kebutuhan masyarakat. Preskripsi pemikiran yang berbeda ini pada gilirannya telah membawa perbedaan pada persoalan desain produk berbahan kertas di Jepang dan Indonesia.

Tri Suerni, NIM. 27100011

ABSTRAK

Kode Visual Arsitektur Indo-Eropa di Semarang (Studi Kasus : Karya-karya Thomas Karsten)

Kode visual, sebagai bagian dari kode semiotik, adalah aturan kombinasi tanda, yang mengatur bentuk atau rupa, baik yang bersifat dua atau tiga dimensi. Kode visual itu mengatur bagian-bagian fungsional bangunan dan unsur-unsur lainnya, khususnya tentang bagaimana tanda-tanda arsitektural dibentuk dan diorganisasikan sebagai ciri khas atau tanda kenal yang bermakna.

Arsitektur kolonial sebagai salah satu unsur asing yang masuk ke Indonesia, dan salah satunya adalah karya Thomas Karsten, khususnya yang terdapat di Semarang. Arsitektur Indo-Eropa sebagai salah satu gaya arsitektur masa kolonial di Indonesia yang menggunakan perpaduan antara ciri arsitektur Eropa (Belanda) dan arsitektur tradisional (khususnya Jawa), menghasilkan bentuk baru, yang tampak pada atap, konstruksi, bahan, fasad atau unsur lain yang disesuaikan iklim tropis dan budaya di Indonesia. Arsitektur dapat dipandang sebagai bentuk bangunan yang terdiri dari unsur-unsur arsitektur (kata-kata) yang ditata menurut aturan (tata bahasa dan sintaksis) agar masyarakat dalam suatu kebudayaan tertentu cepat memahami dan menafsirkan apa yang disampaikan oleh karya arsitektur tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jenis tanda dan kode, relasi tanda dan kode, arti denotatif dan konotatif, relasi antar kode visual, dan dari temuan di atas diklasifikasikan kode arsitektur Indo-Eropa dengan studi kasus. Penelitian ini mengambil studi kasus lima karya master pieces Thomas Karsten di Semarang dengan struktur bangunan yang masih asli. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis teks (textual analisys) yaitu arsitektur dipandang sebagai teks atau kumpulan tanda-tanda yang diorganisasikan dan menghasilkan makna tertentu.

Temuan penelitian ini menunjukkan, bahwa perbedaan kode-kode visual arsitektur lebih banyak dibandingkan persamaannya. Tingkat percampuran budaya, sebagai ciri arsitektur Indo-Eropa, pada kelima bangunan tampak pada ketiga jenis kode visual. Ada persamaan kode teknik pada kelima bangunan, sebagai ciri arsitektur Indo-Eropa, yaitu pada bentuk baru arsitektur yang dihasilkan. Persamaan kode teknik pada perkantoran dan fasilitas umum/sosial, adalah terdapatnya selasar yang mengelilinginya dan konstruksi rangka dengan dinding sebagai pengisi, serta bukaan-bukaan dindingnya. Kode sintaksnya tampak pada pembayangan atau permainan gelap-terang pada dinding. Pada fasilitas sosial budaya, kode sintaks yang bercirikan arsitektur Indo-Eropa tampak pada konstruksi rangka, dan bentuk ventilasi serta jendela, sehingga menghasilkan bentuk baru. Berdasarkan klasifikasi hasil percampuran Eropa (Belanda) dan unsur lokal memiliki kadar percampuran yang berbeda. Ada kantor yang memiliki dominasi Eropa lebih menonjol daripada unsur lokal. Kantor lain memiliki kadar percampuran Barat dan lokal yang seimbang. Bangunan teater memiliki perbandingan unsur lokal lebih besar daripada unsur Barat/Eropa. Pasar lebih banyak menerapkan langgam modern yang tampak fungsional/rasional.