Magister Desain Angkatan 1992-1996

TRI PRASETYO UTOMO, NIM. 27193006

ABSTRAK

Pengaruh Bentuk Rumah Tradisional Jawa Pada Fenomena Arsitektur Masa Kini di Surakarta

(Suatu Telaah Desain)

Desain rumah tradisional Jawa di daerah Surakarta mempunyai karakteristik yang berbeda dengan rumah-rumah tradisional Jawa di daerah Jawa lainnya seperti di daerah Pesisir Utara, Banyumas, Kedu dan Jawa Timur, kecuali daerah Yogyakarta. Hal ini disebabkan karena kedua daerah tersebut (Surakarta dan Yogyakarta) sama-sama merupakan daerah bekas kerajaan. Bentuk rumah tradisional Jawa yang banyak berkembang di daerah Surakarta adalah beratap ‘Joglo’. Di samping itu juga berkembang desain rumah dengan bentuk atap ‘Limasan’, ‘Kampung’, ‘Panggang Pe’ yang banyak terdapat di daerah pedesaan. Sedangkan bangunan berbentuk atap ‘Tajug’ pada umumnya digunakan untuk bangunan masjid dan makam.

Sejarah perkembangan arsitektur di daerah Jawa tengah, khususnya di Surakarta menunjukkan bahwa unsur tradisional Jawa cukup kuat pengaruhnya dalam setiap periode perkembangan, baik pada masa Hindu, masa Islam, masa Penjajahan bahkan pada masa Kemerdekaan (periode modern). Sebelum pengaruh Hindu masuk ke Jawa, rumah asli penduduk Jawa telah berkembang, yaitu seperti yang yang sekarang disebut rumah tradisional Jawa. Berdasarkan pada sejarah perkembangannya, rumah tradisional Jawa yang paling tua adalah adalah rumah bentuk ‘Kampung’ yang diikuti oleh bentuk ‘Limasan’. Pada masa Hindu, pengaruh unsur tradisional Jawa tercermin pada bentuk bangunan candi yang berkembang di Jawa Tengah, seperi candi Prambanan, candi Borobudur dan candi Ratu Baka. Sedangkan pada masa Islam, pengaruh tersebut terlihat pada desain bangunan-bangunan masjid, sebagai contoh adalah masjid Demak, masjid Kudus dan masjid Agung Surakarta. Pengaruh unsur tradisional Jawa pada masa Penjajahan tampak jelas pada desain bangunan Kolonial yang berkembang di Surakarta, misalnya : stasiun kereta api Solo Balapan, pasar Gedhe, keraton Kasunanan dan keraton Mangkunegaran. Perkembangan arsitektur di daerah Surakarta pada masa Kemerdekaan juga tidak terlepas dari pengaruh unsur tradisional Jawa. Hal ini tercermin pada desain bangunan modern yang berkembang pada masa sekarang.

Dalam penelitian ini, telaah ditekankan pada perkembangan arsitektur yang terjadi selama masa kemerdekaan. Pengaruh bentuk rumah tradisional Jawa pada fenomena arsitektur mamsa kini tercermin dari bentuk atapnya. Namun, pengaruh ini pada umumnya tidak diikuti oleh pola tata ruang, struktur dan konstruksi serta proporsi bangunannya. Hal ini disebabkan karena fungsi bangunan masa kini sudah bergeser dari kultur masyarakat tradisional Jawa, sehingga penerapan konsep ruang lama tidak lagi relevan . Sedangkan pemanfaatan bentuk atap tradisional Jawa (dalam hal ini atap ‘Joglo’) lebih merupakan penyesuaian desain bangunan masa kini terhadap lingkungan di Surakarta.

Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, fenomena arsitektur masa kini di daerah Surakarta yang menerapkan unsur tradisional Jawa, terdapat desain bangunan yang hanya memanfaatkan bentuk atapnya dan ada pula yang terpengaruh pada pola tata ruang, struktur dan konstruksi, serta proporsi bangunannya. Sebagian besar bentuk bangunan dalam studi kasus menggunakan atap ‘Joglo’. Perinciannya adalah 13 massa bangunan beratap ‘Joglo’, 6 massa bangunan beratap ‘Tajug’, 2 massa bangunan baratap ‘Limasan’, 5 massa bangunan beratap ‘Kampung’ dan tidak ada yang beratap ‘Panggang Pe’. Untuk desain bangunan yang proporsinya mendekati rumah tradisional Jawa adalah Hotel Sheraton, Bandara Adi Sumarno, Pendapa Taman Budaya Surakarta, Gedung Wanita dan Kantor Balaikota. Seangkan desain bangunan yang pola tata ruang dipengaruhi oleh konsep ruang Jawa adalah : a). Pendapa terdapat pada bangunan Kantor Balaikota, Gedung Wanita, Bandara Adi Sumarmo, Pendapa TBS dan Hotel Sheraton; b). Griya Ageng pada Gedung Pusat STSI dan Gedung Pusat UNS. Dari hasil penelitian ini berarti terdapat 8 kasus desain bangunan yang hanya menerapkan bentuk atap tradisional Jawa yaitu terdiri dari : 4 bank, 2 pertokoan, 1 hotel, 1 kantor. Sedangkan yang menerapkan beberapa unsur tradisional Jawa terdapat 7 kasus desain bangunan yaitu : 3 kantor, 2 gedung serbaguna, 1 hotel dan 1 bandar udara.

GERALDINA S. PRIJATMOKO, NIM. 27194011

Abstrak

Kajian Ruang-Dalam Rumah Bubungan Tinggi di Kalimantan Selatan dan Kemungkinan Pengembangannya.

Studi Kasus : Rumah Kayu Gaya Banjar

Rumah asli Banjar atau Rumah Bubungan Tinggi atau rumah Baanjung adalah bentuk rumah kediaman yang dikembangkan oleh masyarakat Banjar yang bertempat tinggal di Tanah Banjar yang menggunakan Bahasa Banjar sebagai bahasa pergaulan sehari-hari.

Prakarsa merajakan Raden Samudera datang dari Patih Masih dengan mendapat dukungan keempat patih lainnya yaitu Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung dan Patih Kuin, karena tidak ingin lagi desanya Bandar Oloh Masih/Banjarmasih terus menerus mengantar pupuhan/ipeti ke Negaradaha di bawah kekuasaan Pangeran Tumenggung. Minat merajakan didukung oleh janji kepada Maharaja Sukarama yang berwasiat agar cucunya yaitu Raden Samudera harus dijadikan raja.

Tindakan Patih Masih selanjutnya adalah merebut bandar Muara Bahan sebagai upaya memperkuat ekonomi kerajaan dan setelah itu membawa pingah penduduknya yang pedagang termasuk pula sebagian orang Banjar Batang Banyu dan orang Banjar Pahuluan menghilir ke muara Sungai Barito sebagai penduduk bandar yang baru di samping penduduk asli yang telah ada sebelumnya yaitu suku Dayak Ngaju/Biaju dan orang-orang pendatang dari suku bangsa Melayu.

Maka kemudian rumahnya Patih Masih, rumah tetuhanya orang Melayu itupun diperbesar, diperindah dan disempurnakan menjadi rumah keraton untuk rumah kediamannya Pangeran Samudera yang dirajakan oleh sekalian penduduk desa Banjarmasih pada awal abad ke 16.

Desa Banjarmasih yang terletak di antara Sungai Barito dengan anak sungainya yaitu Sungai Sigaling, Sungai Pandai dan Sungai Kuin dengan anak sungainya yaitu Sungai Karamat, Sungai Jgabaya, dan Sungai Pangeran tempat rumah Patih Masih ini berada tepatnya di desa Kuin Carucuk Sekarang inilah cikal bakalnya pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di bawah pemerintahan Pangeran Samudera (1595-1620). Bandar ini kemudian berkembang menjadi bandar perniagaan yang baru dan ramai setelah Palembang dan Makassar ditunjang oleh adanya hasil hutan, perkebunan lada, dan hasil bumi terutama emas dan intan yang dimonopoli oleh kaum bangsawan Banjar.

Sebagai suatu wilayah Banjarmasih merupakan pusat migrasi berbagai suku bangsa yang terdiri dari suku bangsa Melayu, Jawa, Bugis dan orang asing lainnya seperti Cina, India dan Arab. Sebagai pusat kebudayaan di pantai selatan Kalimantan, Banjarmasih adalah hasil proses akulturasi dan transformasi kebudayaan kelompok suku Dayak Bukit yang mendapat pengaruh unsur kebudayaan Melayu, Jawa dan Bugis.

Setelah Pangeran Samudera bergelar Sultan Suriansyah atas bantuan Kesultanan Demak, agama Islam secara resmi dianut oleh raja-raja Banjar periode Banjarmasih dan kemudian dijalankan secara konsekwen di bawah dinasti Sultan Banjar di Kesultanan Kayu Tangi Martapura.

Wujud awal rumah keraton di muara Sungai Barito dalam bentuk rumah Balai Laki yang besar sebagai rumah induk dengan bubungannya yang tinggi kemudian mendapatkan bentuknya seperti wujudnya belakangan ini yaitu rumah Bubungan Tinggi yang mendapat tambahan dua buah anjung di kanan dan kiri rumah induk, tidaklah terlepas dari perjalanan sejarahnya yang panjang. Dapatlah dikatakan asal-usul rumah Bubungan Tinggi (1) dilatarbelakangi lingkungan alam dan kondisi Tanah Banjar, (2) disejajarkan dengan lahirnya suku bangsa Banjar itu sendiri, (3) adanya kegiatan perdaganyan hasil hutan dan hasil buminya, (4) perluasan pusat kekuasaan yang berkaitan erat dengan proses alami pembentukan permukaan bumi dan upaya mencari sumber kehidupan agar dapat bertahan hidup, dan (5) sistem nilai masyarakat Banjar akibat transformasi budaya berbagai etnis.

Rumah Bubungan Tinggi sebagai rumah asli Manjar kemudian menjadi ciri rumah kesultanan dan rumah Baanjung model rumah tiruan dari rumah kesultanan yang dikembangkan oleh masyarakat Banjar yang belakangan berkembang menjadi berbagai tipe rumah Banjar dan menjadi ciri rumah rakyat kebanyakan. Rumah asli Banjar disebut rumah Bubungan Tinggi karena bentuk atapnya yang tinggi dengan kemiringan yang tajam di bagian tengah induk. Rumah ini disebut pula rumah Baanjung karena ia mempunyai dua buah anjung di kanan dan kiri rumah induk sehingga wujud rumah secara keseluruhan membentuk dua buah kotak yang saling bersilang.

Dari niatnya, dari kondisi tanahnya, dari cara mengukurnya, dari pemakainan bahan bangunannya, dari cara mendirikan atau membangunnya, dan dari cra mengelola ruang-dalamnya wujud rumah asli Banjar ini dikehendaki akan memberikan jati diri rumah atau perwatakan-perwatakan tertentu yang memang sangat diminati oleh pemilik atau penghuninya. Perwatakan rumah juga muncul berkenaan dengan jati diri pemilik dengan pemahaman konsep siapa aku siapa ikam, jangan malalain biar kada jadi sambatan.

Dari tanda-tanda yang diwujudkan oleh jati diri rumah dan jati diri pemilik secara langsung ada pengaruhnya terhadap praktek pengukuran yang kemudian tercermin dari wujud rumah/massa bangunan dan tatanan ruang dalamnya yang berkaitan erat dengan status sosial penghuni atau kedudukannya dalam organisasi masyarakat Banjar. Sistem nilai masyarakat Banjar tercermin dari wujud rumah kediaman yang (1) berorientasi sosial sebagai paksaan atau ketentuan sosial yang harus dipenuhi agar tidak menjadi bahan cemoohan; (2) rumah kediaman sebagai tipe ideal sebuah ikatan kekerabatan dalam paham bubuhan agar kewibawaan dan keunggulan bubuhan terpelihara; (3) rumah kediaman sebagai paham realistis dalam hal kemampuan ekonomi keluarga; dan (4) etos kerja.

Pada dasarnya penelitian ini mengarah kepada kajian tata ruang-dalam rumah Bubungan Tinggi dan kemungkinan pengembngannya dengan studi kasus rumah kayu gaya Banjar. Keberadaan wujud fisik tata ruang-dalam rumah kediaman orang Banjar sebagai arsitektur rakyat dikaji esensinya untuk mengenal nilai-nilai yang mendasari perwujudan tersebut sehingga terbuka kemungkinan pengembangannya dalam konteks desain.

Kemungkinan pengembangan tata ruang-dalam rumah kayu gaya Banjar yang diangkat dari nilai-nilai budaya Banjar diawali dengan upaya menemukan hubungan wujud tata ruang-dalam rumah kediaman orang Banjar yang awalnya dari muara Sungai Barito dengan sumbernya di Kesultanan Kayu Tangi Martapura. Kemudian dikaji seberapa jauh adanya etnik suku bangsa yang ikut mendukung pembentukan tata ruang-dalam rumah kayu gaya Banjar.

Lebih lanjut adalah mengidentifikasi pola dasar tata ruang-dalam rumah kesultanan yang disebut rumah Bubungan Tinggi dan mengidentifikasi pola dasar tata ruang-dalam rumah rakyat yang disebut rumah Baanjung. Dari kedua pola dasar tata ruang-dalam rumah asli Banjar ini dicari kesamaan dan kebedaannya. Kemudian diteliti sampai sejauh mana pengembangan pola dasar tata ruang-dalam rumah kesultanan dan pengembangan pola dasar tata ruang-dalam rumah rakyat agar dapat dikenali nilai-nilai hakikinya. Dengan dikenalinya nilai-nilai hakiki/esensialnya, terbuka pula kemungkinan memperoleh pembakuan atau memperoleh satu model baku tta ruang-dalam rumah kayu gaya Banjar yang ideal sebagai titik tolak pengembangan tata ruang-dalam rumah kediaman sekarang yang berjiwa Banjar.

Analisis tata ruang-dalam didekati dengan metoda deskriptif-kualitatif-eksploratif melalui telaah historis dari aspek sosial desain. Dari semua kajian yang dikenali sebagai temuan melalui studi proporsi façade rumah Banjar, tawing halat, dan melalui telaah geomtetris hiasannya, memungkinkan pengembangan desain tata ruang-dalam bertitik tolak atau berangkat dari sini untuk selanjutnya dapat membuka program penelitian baru.

Hasil Kajian menunjukkan adanya nilai-nilai yang layak dipertahankan, nilai-nilai karena pengaruh kebudayaan dan dinamikanya yang perlu diantisipasi, nilai-nilai yang layak untuk dikembangkan dan direkomendasikan sebagai penelitian lanjutan, dan nilai-nilai yang tidak layak dipertahankan tidak dimaksudkan untuk dikembangkan.

Nilai-nilai yang layak untuk direkomendasikan ke arah penelitian lanjutan tampaknya ada kaitannya dengan asal-usul orang Banjar sebagai kaum anak air menurut teori kepulauan dan adanya benang merah yang memungkinkan wujud rumah asli Banjar memiliki kesamaan dengan rumah kerabatnya orang Melayu yang ada di Semenanjung Melayu dan Sumatera dan mungkin pula memiliki kesamaan dengan rumah kerabatnya di Jawa.

Hubungan kaum anak air sebagai keturunan orang kepulauan dengan menilik asal permukiman nenek moyang orang Banjar yang menunjukkan dekatnya pengaruh air dan laut tidak mustahil wujud rumah kediaman orang Banjar yang panjang dengan bubungannya yang tinggi mendapat inspirasi dari bentuk perahu. Selain itu wujud rumah kediaman orang Banjar yang didirikan di atas tiang-tiang dan tongkat yang relatif tinggi sehingga membentuk kolong yang memberikan jarak fisik pada tanah tempat rumah berpijak, mengandung makna simbolik rumah kediaman adalah pusat atau tengah, tempat yang netral untuk bermukim sebagai bagian dari konsep poros dalam pandangan dualisme kosmik Kaharingan/Balian, tentang alam atas dan alam bawah. Dari wujud rumah asli Banjar yang panjangnya ibarat naga dan lebarnya ibarat gajah, terkandung pula makna tentang kemampuan dan keunggulan bubuhan kulawarga yang dilambangkan oleh makhluk dunia bawah melalui binatang naga, atau ular air yang sakti dan binatang gajah yang besar dan wibawa.

Pengembangan desain yang digali dari nilai-nilai ideal Banjar pada dasarnya adalah upaya untuk mewujudkan tafsiran-tafsiran yang tersurat dan tersirat yang diwujudkan oleh tata ruang-dalam rumah kediaman yang datang dan terbentuk melalui kearifan nenek moyang orang Banjar. Kemungkinan pengembangan desain tata ruang-dalam disejajarkan dengan upaya merintis kepada program penelitian lanjutan secara lebih mendalam dapat diangkat dari nilai-nilai hakiki keberadaan tatanan ruang-dalam rumah kediaman orang Banjar yang memberikan makna ruang-dalam, yang memberikan hierarki, yang memberikan poros dan orientasi.

Nilai fisik dan nilai simbolik yang tercermin pada wujud tata ruang-dalam rumah dan perwatakannya, melalui pemaknaan ruang yang memberi nilai tambah pada ruang-dalam agar tidak hanya sekedar fungsi, melalui konsep linier organisasi ruang-dalam, orientasi melalui konsep poros sehingga dikenal arah kanan-kiri yang diwujudkan oleh anjung kanan-anjung kiri, yang memberikan arah vertikal melalui ketinggian bubungann, dan arah horisontal melalui denah cacak burung, yang secara keseluruhan merupakan konsep perancangan yang memungkinkan diangkat sebagai bagian dari pengembangan desain tata ruang-dalam rumah kediaman sekarang.

Upaya pengembangan desain tata ruang-dalam rumah kayu gaya Banjar dapat mendorong kesadaran untuk meningkatkan kecintaan terhadap rumah kayu gaya Banjar dan merawat rumah gaya Banjar yang masih ada yang kini dalam kondisi memprihatinkan. Upaya pengembangan desain tata ruang-dalam selanjutnya mendorong kesadaran untuk mengangkat nilai-nilai hakiki dari wujud rumah kayu gaya Banjar dan pentingnya sebagai bagian dari perancangan tata ruang-dalam rumah kediaman sekarang, mendorong kepada penghargaan hasta karya pengrajin yang secara langsung mendorong pula kepada kemungkinan membuka lapangan pekerjaan baru.

Demikianlah pada hakekatnya nilai-nilai yang layak dipertahankan dan nilai-nilai apa saja yang perlu disikapi untuk selanjutnya dapat menjadi bahan pemikiran yang ditindak-lanjuti ke arah program penelitian baru, dan untuk memperoleh pembakuan model tata ruang0dalam rumah kayu gaya Banjar dalam kaitannya dengan pengembangan desain rumah kediaman sekarang yang berjiwa Banjar yang disejajarkan dengan perubahan pandangan hidup dan tingkat kecerdasan orang Banjar yang kian menuju modern.

RIAMA MASLAN SIHOMBING, NIM. 27194001

ABSTRAK

Citraan Wanita di Internet : Kajian Tanda dan Kode Visual

Hampir di seluruh dunia, terjadi fenomena meluasnya kajian wanita di Internet dan bertambahnya jumlah wanita pemakai Internet. Wanita dapat ‘berbicara’ di Internet tanpa hambatan tolok ukur kelas, ras, gender.

Internet dan World Wide Web menjadi media untuk mengekspresikan diri bagi wanita.

Website bukan merupakan dunia yang sesungguhnya, tetapi sebuah dunia virtual yang diwujudkan dari tanda-tanda. Tanda-tanda yang digunakan dalam Website adalah bentuk-bentuk visual yang masing-masingnya memberikan pesan dan makna.

Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji secara deskriptif tanda dan kode visual : citraan wanita pada homepage di Internet, dengan analisa semiotik (dan aspek-aspek yang saling berhubungan) dengan memahami tanda-tanda dan kode visual yang ada pada homepage yang menggunakan citraan wanita. Dan mengetahui keterkaitan antara citraan wanita dan aspek-aspek sosial dan kebudayaan yang melatarbelakanginya, khususnya masalah gender.

Internet memberi peluang besar bagi setiap orang untuk berekspresi dengan idiom, bahasa tanda serta ungkapan visual yang lebih bebas. Bahasa-bahasa posmodernisme seperti : kitsch, pastiche, mendapat tempat yang luas di Internet.

Ketidakpastian nilai dan makna yang ada dalam citraan wanita dalam Internet, menunjukkan bahwa Internet adalah bagian dari budaya postmodernisme, dimana tanda-tanda diputarbalikan. Penanda dan petanda digunakan untuk melecehkan konvensi-konvensi yang ada mengenai gender. Tanda-tanda mengenai gender yang selama ini telah baku dalam hegemoni patrikart-maskulinitas, kini di dekonstruksi.

JOLANDA SRISUSANA ATMADJAJA, NIM. 27194009

ABSTRAK

Kajian Citra Melalui Pendekatan Estetika Bentuk pada Bangunan Museum di Taman Mini Indonesia Indah

Citra desain secara ideal bersifat kontekstual dalam arti ditentukan oleh ruang lingkup perancangan yang berkait dengan aspek pertimbangan desain (fungsi, struktur, dan estetika) dan aspek lingkungan seperti letak geografis, poliitik, ekonomi, sosial. Citra desain tampak antara lain melalui bentuk. Dengan demikian kajian bentuk seperti estetika bentuk yang meliputi kajian kritis, semiotik karakter unsur rupa dan prinsip desain yang mendasari komposisi dalam proses perancangan dapat menjadi salah satu pendekatan citra kontekstual.

Keragaman citra desain pada bangunan publik museum yang tampak melalui bentuk bangunan merupakan salah satu kasus kajian citra kontekstual. Ditinjau dari sejarah museum, perkembangan citra pada bangunan museum ditentukan oleh kondisi sosial, politik dan kebudayaan yang melingkupinya. Perluasan fungsi museum dari fungsi koleksi menuju fungsi pendidikan dan rekreasi serta jenis materi koleksi yang ditampilkan merupakan faktor-faktor yang menentukan perkembangan citra pada bangunan museum tersebut. Pada awal perkembangan museum citra yang muncul adalah tertutup dan pasif. Perkembangan citra museum pada saat ini mengarah pada keterbukaan dan kedinamisan. Hal ini tampak pula melalui desain bangunan museum. Perkembangan citra pada bangunan museum ini terjadi pula di Indonesia, sebagai contoh pada bangunan museum di taman Mini Indonesia Indah, yang didirikan antara tahun 1975 sampai 1998.

Kajian terhadap kasus bangunan museum TMII menunjukkan keberadaan hubungan antara estetika bentuk bangunan yang bersifat filosofis dengan aspek pertimbangan desain lain yang bersifat teknis yaitu fungsi dan aspek struktur sebagai terapan fisiknya. Dengan demikian pemantapan dan pengembangan aspek citra merupakan hal mendasar yang perlu terus dilakukan, khususnya aspek citra yang bersifat kontekstual, baik ditinjau dari ruang lingkup aspek pertimbangan desain, yaitu fungsi, bentuk, struktur, maupun ditinjau dari ruang lingkup kondisi alam, sosial, politik, ekonomi, budaya. Pengembangan desain terarah sesuai konteksnya. Berbagai pendekatan dapat dilakukan untuk mencapai citra kontekstual seperti pendekatan estetika bentuk dengan kajian semiotik karakter unsur rupa dan prinsip desain dasar komposisi, pendekatan bentuk Broadbent (Pragmatik, Tipologik, Analogik, Kanonik/Geometrik/Sintaktik), dll. sebagai pengarah transformasi bentuk sesuai dengan citra kontekstual yang diharapkan.

A.A. GDE RAI REMAWA, NIM. 27195003

ABSTRAK

Standardisasi Bangunan Rumah Tinggal Sebagai Pengembangan Tata Ruang Dalam (Interior) Pada Arsitektur Tradisional Bali.

Studi kasus Bale gede/Saka Roras)

Hal mendasar dalam proses modernisasi pada masyarakat adalah pergantian teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-cara modern. Modernisasi adalah suatu proses transformasi kompleks dan merupakan perubahan budaya masyarakat pada segala aspek-aspeknya. Kompleksnya gejala ini tidak dapat dirumuskan dalam sebuah definisi tetap, tetapi secara umum dapat didefinisikan sebagai penerapan pengetahuan ilmiah kepada semua aktivitas pada semua bidang kehidupan. Meningkat dan bertambahnya pengetahuan ilmiah adalah faktor penting dalam proses modernisasi. Modern atau kurang modernnya masyarakat dapat dilihat dari lebih atau kurngnya penerapan pengetahuan dengan cara yang bertanggungjawab secara ilmiah. Ini tidak hanya mencakup pengetahuan teknik dan ekonomi saja, tetapi pengetahuan di segala bidang kehidupan, termasuk dalam perancangan interior dan arsitektur.

Kecenderungan manusia untuk menyesuaikan keperluan dan tuntutan hidupnya dengan “kemajuan” sering menjadi masalah dalam meningkatkan dan mengembangkan kualitas hidup tersebut. Hal ini tidak saja terjadi pada pola hidupnya, tetapi juga pada bidang “arsitektur” termasuk bangunan tradisional Bale Gede sebagai bagian arsitektur rumah tinggal tradisional Bali. Transformasi bangunan tradisional Bali telah terjadi dimana-mana seperti : di Hotel, bungalows, cottages, villa, rumah tinggal dan bahkan akhir-akhir ini telah dieksport sebagai komoditi yang diandalkan. Dipihak lain arsitektur tradisional Bali memiliki filosofi dan konsepsi sebagai pedoman tata nilai normatif dalam merancang bangunan yang harus dijaga kelestariannya. Konsep gegulak sebagai penjelmaan ukuran pemilik dan sistem konstruksi rangka pada struktur bangunan adalah sistem nilai masa lalu dan teknologi tradisional yang dipergunakan pada masa itu.

Fenomena pergeseran nilai budaya terutama pada penggunaan sistem ukuran bangunan mengalami berbagai permasalahan dalam hal ketepatan dan kecepatan. Hal ini disebabkan oleh adanya pemikiran terhadap nilai ekonomi dan efisiensi pada masyarakat maju. Ketepatan sistem ukuran pada asta kosali saat ini sudah tidak relevan lagi dengan kemajuan masyarakat industri. Gejala produksi massa dan konsumsi massa yang saling terkait pada era industrialisasi ini mengurangi gerak dari perkembangan arsitektur rumah tinggal tradisional Bali. Masyarakat bahkan ada yang langsung membeli ‘bangunan jadi’ pada perusahaan bangunan tanpa memperhitungkan ukuran pemiliknya sebagaimana yang diatur dalam asta kosali. Bervariasinya ukuran bangunan yang didasari asta kosali dan belum adanya standar dalam satuan centimeter menjadi permasalahan dalam proses produksi. Ironisnya pemakaian ukuran dengan satuan centimeter dalam pembuatan rumah tinggal tradisional Bali telah memasyarakat dan diyakini ketepatannya. Satuan modern ini mampu mempercepat proses kerja di segala bidang dan menentukan dalam proses perancangan dan pelaksanaan bangunan. Berdasarkan ketidakjelasan penggunaan sistem ukuran inilah, penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan yang sedang marak di lingkungan masyarakat Bali dewasa ini. Langkah yang dilakukan adalah dengan membuat standar jelas dalam satuan centimeter, tanpa mengurangi tingkat proporsional bangunan arsitektur rumah tinggal tradisional Bali jaman dahulu. Hal ini dilakukan dengan analisis statistik terhadap penyimpangan ukuran yang terjadi, baik dengan mencari koefisien variasi, standar deviasi maupun nilai bakunya. Dengan analisis statistik di atas maka eksistensi nilai-nilai lama yang luhur, unik, dengan bentuk yang proporsional dapat dipertahankan dan ditempatkan sesuai dengan nilainya.

YAN YAN SUNARYA, NIM. 27195010

Kajian Awal Gaya Busana (Fashion) di Indonesia Pasca Tahun 1980 (Mencari Faktor-faktor Pengaruh Desain Modern)

Pemahaman tentang desain bukan semata menyimak karya desain sebagai barang mati, tetapi merupakan kupasan terpadu, meliputi nilai-nilai budaya dan perubahan ekonomi yang menyertainya, serta merupakan tatanan peradaban yang hidup dan bentuk gabungan interaktif sinergis antara manusia, alam dan lingkungan sosialnya.

Membahas perkembangan desain di Barat tidak bisa dipisahkan dari momentum Revolusi Industri pertengahan abad ke 18 di Eropa, melahirkan desain dalam konteks pengertian modern, yang dihasilkan melalui metode berpikir berlandaskan ilmu pengetahuan bersifat rasional dan pragmatis. Selanjutnya telah memungkinkan timbulnya industrialisasi yang terkait dalam dua gejala sebagai konsekuensi industrialisasi : produksi dan konsumsi massa, kemudian menimbulkan kebangkitan desain di Eropa dan Amerika.

Memaparkan perkembangan desain di Barat, menurut kepada alur pembabakan sejarah desain Modernisme ke Postmodernisme dengan rincian : Modernisme; mendefinisikan lalu menguraikan kemunculan Modernisme di Barat, terutama pada awal abad ke-20, Pasca Perang Dunia II dan Modernisme Tekstil (Fashion/gaya Busana). Postmodernisme; merujuk berbagai pendapat pemikir di Barat, kemudian difokuskan menjadi Postmodernisme sebagai gaya.

Selanjutnya merinci perkembangan desain Pop-Modernisme pasca Perang Dunia II hingga Post-Pop, yang merupakan acuan dalam upaya menginventarisir bahasa rupa Modernisme dan Postmodernisme pada gaya busana, meliputi : bentuk dan motif, sebagai studi kasus guna dibandingkan dengan gaya busana di Indonesia. Kemudian gaya busana di Indonesia yang diteliti, menurut jenis busana siap pakai buatan desainer fashion (busana) Indonesia. Ditambahkan pula tentang pembahasan singkat kondisi Postmodernisme di Indonesia.

Dengan demikian, terdapat hubungan langsung dan tidak langsung – melalui metode penelitian deskriptif-analitis, antara perkembangan desain modern Barat dengan pengaruhnya terhadap desain di Indonesia. Ihwal ini dapat diterangkan melalui kemiripan bahasa rupa pada masing-masing gaya busananya, walaupun berada pada periode yang berbeda. Kondisi itulah yang menjadi salah satu fenomena perkembangan desain modern (dalam hal ini gaya busana) di Indonesia. Disinilah letak dasar pembuktian tesis tentang : “Kajian Awal Gaya Busana (Fashion) di Indonesia Pasca tahun 1980 (Mencari faktor-faktor Pengaruh Desain Modern)”, yang penulis teliti dan uraikan.

MANSUR, NIM. 27196006

Arsitektur Mesjid Tua Palopo Sulawesi Selatan : Kajian Desain dalam Konteks Kebudayaan

Mansur, 1999, “Arsitektur Mesjid Tua Palopo Sulawesi Selatan : Kajian Deain dalam Konteks Kebudyaan”, Tesis, Program Magister Seni Rupa dan Desain, FSRD ITB, XIII, 264 halaman, 153 gambar, 4 di ataranya berupa gambar peta, 3 lampiran. Bibliografi; 76 judul buku (1959-1999), informan 19 orang.

Melalui penelitian ini, penulis mencoba mengungkap kembali konsep desain artifak dalam kebudayaan Bugis yang dibuat pada masa transisi, yaitu dari kebudayaan yang diwarnai oleh sistem kepercayaan lama menuju kebudayaan yang bernuansa Islam pada abad XVII M.

Faktor kedinamisan kebudayaan Bugis yang menerima perubahan sebagai bagian dari “pangngadereng” memungkinkan karya arsitekturnya mengalami inovasi sesuai tuntutan zaman. Msekipun nilai-nilai utama dalam kebudayaan yang terefleksi pada perwujudan arsitektur tetap dipertahankan. Oleh sebab itu, perwujudan desain arsitekturnya identik dengan corak kebudayaan saat itu.

Kajian desain arsitektur Mesjid Tua Palopo dalam konteks kebudayaan, merupakan fokus utama dalam peneltian ini. Inti permasalahan dalam penelitian ini adalah perwujudan konsep desain arsitektur Mesjid Tua Palopo. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan utama yang dikemukakan di atas dengan maksud untuk mengungkap konsep desain arsitektur mesjid yang dirancang pada masa transisi tersebut. Untuk melihat permasalahan dengan jelas, dilakukan melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan desain dalam konteks kebudayaan. Adapun alnalisis kajian, ditempuh melalui empat tingkatan, yakni : deskripsi, analisis, interpretasi dan pengambilan kesimpulan.

Dari permasalahan di atas diasumsikan bahwa proses transformasi budaya merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap perubahan konsep desain arsitektur Bugis pada masa itu. Adanya upaya mengsosialisasikan nilai-nilai syariat Islam dalam kebudayaan setempat agar tidak menimbulkan konflik dalam masyarakat, melahirkan paradigma baru dalam aspek kehidupan orang Bugis, termasuk dalam konsep desain arsitekturnya. Hal itu terjadi karena lahirnya suatu bentuk akulturasi, antara kebudayaan lokal (pra Islam) dan nilai-nilai syariat Islam, serta unsur-unsur dari kebudayaan asing (Hindu –Indonesia). Lahirnya bentuk akulturasi pada desain arsitektur saat iru, karena agama Islam masuk di daerah Bugis Luwu pada abad XVII, disaat penduduk setempat masih sangat kuat berpegang pada sistem kepercayaan lama yang mereka sebut attoriolong, disisi lain, keharusan masyarakat unruk taat dan patuh pada nilai-nilai ajaran Islam. Dari dasar itulah sehingga terjadi perubahan desain yang berusaha mengakumulasi konsep kebudayaan lokal dan sesuai dengan tuntutan syariat Islam.

Meskipun unsur-unsur lama pada desain arsitektur mengalami perubahan seiring dinamika perkembangan kebudayaan di daerah Bugis. Namup perubahan itu hanya pada aspek fisik bangunan atau yang melekat saja, sedangkan nilai-nilai yang merupakan inti “pangngadereng” dalam kebudayaan Bugis yang berakar pada pandangan kosmogonisnya cenderung dipertahankan. Hal ini sangt menonjol terlihat pada; struktur bangunan secara keseluruhan yang terdiri dari tiga susunan mengikuti konsep rumah panggung, struktur atap mesjid dan hiasannya yang terdiri dari tiga susun, tiang penyangga yang terdiri dari tiga susun, meliputi : Pallangga (umpak), alliri posi (tiang pusat), dan soddu. Demikian pula dinding bangunan terdiri dari tiga susun yang diantarai oleh bentuk pelipit. Hal yang sama juga terlihat pada pewarnaan tiang bangunan yang bersusun tiga dari atas ke bawah, mulai dari warna hijjau, putih dan coklat Selain itu, konsepsi wara dan palili (pusat dan yang mengelilingi pusat) yang juga berakar pada pemahaman kosmogonis tampaknya merupakan unsur penting dalam arsitektur mesjid tersebut, terlihat pada komposisi alliri posi (tiang pusat) yang dikelilingi oleh 4 tiang pembantu. Konsep estetika bangunan, masih mengacu pada estetika bugis, yaitu bagaimana “seharusnya” dalam arti seharusnya mengikuti sistem pengetahuan, sistem kosmogonis, dan sistem norma. Demikian pemilihan bahan dan konstruksi kayu bangunan, merupakan konsep desain kebudayaan lokal. Tetapi konstruksi batu pada dinding bangunan adalah bentuk desain yang baru sama sekali, lebih menyerupai konstruksi candi dalam kebudyaan Hindu.

Berangkat dari kenyataan di atas, terdapat tiga aspek yang menonjol dalam konsep desain arsitektur mesjid tersebut, antara lain :

adanya bentuk akulturasi, baik pada bentuk, warna dan makna filosofisnya

adanya inovasi desain yang dipengaruhi oleh unsur-unsur kebudayaan Hindu Indonesia

adanya inovasi desain yang merupakan pengembangan dari unsur-unsur kebudayaan lokal yang menyesuaikan dengan nuansa

Islam.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa konsep desain arsitektur mesjid

awal masuknya Islam, mengalami akulturasi antara konsep lama yang berakar pada kebudayaan asli dan konsep desain arsitektur yang bernuansa Islam. Hasil akulturasi tersebut merupakan inovasi dalam memperkaya khasanah arsitektur tradisional yang dapat menjadi warisan bagi perkembangan arsitektur selanjutnya hingga bangunn modern saat ini.

Terjadinya akulturasi pada arsitektur tradisional, unsur-unsur kebudayaan lokal tetap lebih dominan mewarnai konsep desainnya yang menunjukkan kekhasan setiap daerah. Dalam arsitektur tradisional tidak ditemui adanya dikotomi antara fungsi benda, sifat material dan konsep desainnya, sehingga hasil akhirnya mencapai kewajaran sesuai dengan keberadaan karya itu sendiri. Meskipun bengunan mesjid awal masuknya Islam dirancang bukan semata-mata untuk keindahan, namun hasil akhirnya tetap estetis. Keindahannya menyatu dengan nilai-nilai kebudayaan lokal dan syariat Islam.

Gejala-gejala yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa lahirnya konsep desain arsitektur Islam merupakan adaptasi dari karya-karya arsitektur lokal yang sudah barang tentu tidak terlepas dari pengaruh unsur-unsur tradisi.

RUDI IRAWANTO, NIM. 27196012

Fenomena Kejawen Dalam Ragam Hias Flora dan Fauna pada Kerajinan Tradisional di Jawa Timur

Kejawen merupakan wujud kebudayaan idiil masyarakat Jawa. Sejarah kebudayaan Kejawen berhubungan dengan perkembangan kebudayaan Jawa tersebut, yang diwarnai pengeruh-pengaruh kepercayaan asli dan agama-agama yang pernah berkembang di Jawa. Kejawen pada gilirannya mempengaruhi pola sikap dan tindakan masyarakat Jawa dalam menghasilkan kebudayaan fisik, termasuk di dalamnnya dihasilkannya karya seni kerajinan tradisional. Kecenderungan pengaruh paham Kejawen dalam seni kerajinan tradisional dapat dolihat pada pola dan ragam hias yang dihasilkan

Ragam hias flora dan fauna yang dijadikan bahasan dalam penelitian ini diambil dari ragam hias batik Trenggalek dan batik Tuban. Data ragam hias batik Trenggalek diambil dari desa Surodakan, Sumbergedong dan Sawahan di kecamatan Trenggalek. Data ragam hias batik Tuban didapat dari desa Gaji, Kedungrejo, Margorejo, Karanglo dan Temayang di Kecamatan Kerek. Batik Trenggalek mewakili komunitas pedalaman sedangkan batik Tuban mewakili komunitas pesisiran. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif komparatif. Pengambilan data dilakukan secara purposif dan dianalisa dari sudut antropologi dan sejarah.

Pemaduan 2 unsur kebudayaan atau lebih merupakan ciri khas kebudayaan nusantara yang bersifat dualisme dwi tunggal. Sifat ini tetap bertahan hingga masa Mataram. Agama Islam yang datang ke Jawa mengalami penjinakan dan disesuaikan dengan adat yang berkembang di Jawa. Pada pertengahan abad ke VIII kerajaan Mataram secara politis telah dikuasai Belanda, khususnya kawasan pesisir utara. Kekuasaan Mataram yang terbatas menyebabkan ide-ide disalurkan melalui lapangan kebudayaan> Fenomena ini melahirkan tradisi besar Jawa yang disebut Kejawen.

Konsep-konsep tentang dunia yang bersumber dari agama Hindu/Budha mengalami penyesuaian dengan konsep-konsep dalam Islam. Kelahiran dunia pada masa prasejarah diyakini sebagai perpaduan antara dunia atas dan dunia bawah. Benda-benda bekal kubur yang ditemukan, khususnya di Jawa Timur memperlihatkan ragam hias yang mengindikasikan simbol-simbol tentang dunia atas. Dunia atas merupakan alam para dewa dan roh, sedang dunia bawah merupakan tempat tinggal manusia. Pencapaian dunia atas memerlukan medium yang pada gilirannya melahirkan konsep dunia tengah. Dunia tengah menjadi medium perantara untuk menuju dunia atas.

Konsep dari masa prasejarah tersebut mendapt atribut Hindu pada masa Hindu dan akhirnya memiliki atribut Islam pada masa Islam. Tingkatan dunia tersebut memiliki sistem simbol yang berbeda. Sistem simbol tersebut dibangun berdasarkan simbol-simbol dalam religi.

Simbol-simbol yang muncul pada masing-maing tingkat dunia pada karya kerajinan divisualisasikan melalui ragam hias. Wujud-wujud di alam digunakan sebagai ungkapan simbolisnya. Penyebutan dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah dalam kepercayaan Jawa dikenal dengan istilah triloka. Konsep ini dibangun atas dasar kepercayaan Hindu/Budha. Triloka terdapat di alam semesta dan di dalam tubuh manusia. Triloka di alam semesta disebut dengan jagad gedhe (Makrokosmos) sedangkan triloka dalam tubuh manusia disebut dengan jagad cilik (Mikrokosmos). Konsep tentang jagad gedhe dan jagad cilik ini menjadi landasan dalam pola pikir Kejawen. Konsep jagad gedhe dan jagad cilik menjadi acuan dalam pola dan tingkah laku masyarakat Jawa.

Masyarakat Jawa melihat bahwa keselarasan di alam telah tercipta. Keselarasan ini menempatkan jagad gedhe dan jagad cilik pada posisi masing-masing. Gangguan terhadap jagad cilik akan mengganggu keselarasan kosmos secara keseluruhan. Fenomena ini menyebabkan penjagaan keselarasan menjadi penting. Salah satu sikap yang dinilai mengganggu keselarasan adalah pengubahan terhadap pakem. Pakem merupakan warisan nenek moyang yang harus dijaga. Ketidakmampuan menjaga pakem, diasumsikan sebagai keetidakmampuan menguasai jagad cilik.

Fenomena tersebut menyebabkan setiap aktivitas manusia selalu berhubungan dengan jagad gedhe yang pada gilirannya berhubungan dengan zat Allah. Kriteria etis atau estetis selalu berakhir pada kedekatannya dengan zat Allah.

Predikat baik dan buruk yang menggiring pada atribut estetis selalu bermuara pada prinsip-prinsip ketuhanan. Pada masyarakat Jawa keindahan tidak berdiri sendiri tetapi terkait dengan keberadaan kosmos secara keseluruhan. Pakem dalam berkarya seni, termasuk didalamnya dalam karya ragam hias selalu bermuara pada konsep-konsep ketuhanan tersebut, sehingga pengubahan terhadap pakem dilihat sebagai pengingkaran terhadap prinsip-prinsip kosmos.

Salah satu aspek utama dalam pemahaman kebudayaan Jawa adalah pemahaman terhadap rasa. Rasa merupakan suatu pengertian yang dalam tentang ilmu keindahan timur.

Manusia yang ideal. Dalam arti mampu menguasai sifat-sifat potensialnya, harus bisa mengolah rasa. Rasa dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu rasa sejati, rasa kadim dan rasa luar. Rasa sejati yang berada di dalam hati, yang menjadi pengertian gaib, rasa kadim yang menjadi rasa perasaan yang membedakan unsur benar atau salah, dan rasa luar yang berada di panca indra, yang dapat menunjukan kadar halus dan kasar.

Pemahaman ragam hias batik dapat didekati dari konsep rasa tersebut. Rasa menjadi inti kebudayaan Kejawen. Simbol-simbol yang muncul pada ragam hias tidak hadir semata-mata untuk memenuhi kebutuhan keindahan tetapi miliki konotasi dengan prinsip-prinsip ketuhanan. Prinsip-prinsip ketuhanan tersebut dijalin berdasarkan simbol-simbol dalam religi.

Ragam hias flora dan fauna yang terdapat pada masing-masing kawasan mencerminkan kadar pengaruh paha Kejawen pada komunitas tersebut. Ragam hias batik di kawasan pedalaman lebih banyak menggunakan pola non geometri dengan dominasi bentuk ragam hias flora. Flora yang digunakan tercermin dari nama ragam hias tersebut.

Ragam hias fauna dipedalaman tidak bervariatif. Sebagian besar merupakan ragam hias jenis burung. Ragam hias fauna yng muncul pada ragam hias pedalaman antara lain merak, burung garuda dan burung merpati. Ragam hias burung garuda pada umumnya hanya berbentuk sayap (mirong atau sawat). Perwujudan burung dalam ragam hias mengingatkan pada konsep kepercayaan pra sejarah. Ragam hias burung difungsikan sebagai kendaraan pelepasan arwah.

Pada ragam kawasan pesisiran didominasi bentuk flora. Pada konteks ini jenis tumbuhannya tidak terlalu dipentingkan mengingat yang diutamakan pada ragam hias pesisiran adalah stilasi bentuk-bentuk alamiah, menjadi pola-pola yang cenderung geometris. Bentuk-bentuk ragam hias fauna telah mengalami stilasi sehingga mengaburkan bentuk realisnya. Jenis fauna yang terdapat pada ragam hias batik antara lain merak dan burung Srigunting.

Munculnya wujud burung dalam ragam hias, baik di pedalaman maupun di pesisiran mengindikasikan kedekatan masyarakat Jawa terhadap simbolisme yang berhubungan dengan fauna tersebut. Burung dalam simbolisme prasejarah menjadi simbol pelepasan roh. Pada mitologi Hindu simbol burung dikaitkan dengan dengan wujud burung garuda. Kepercayaan terhadap burung sebagai kendaraan menuju alam arwah atau alam roh tetap bertahan hingga masa Islam, walaupun menggunakan simbol-simbol dalam agama Islam.

Makna simbolis pada ragam hias yang berkaitan dengan konsep-konsep Kejawen lebih dominan pada ragam hias kawasan pedalaman dibanding dengan kawasan pesisiran, walaupun sebagian besar simbol-simbol tersebut telah mengalami penyesuaian dengan kondisi setempat. Penjabaran prinsip keselarasan pada ragam hias batik pedalaman diwujudkan melalui perpaduan antara pola geometris dan non geometris, seangkan pada batik pesisiran melalui pola geometris yang menghasilkan pola berulang dan tanpa batas.

ZAINI RAIS, NIM. 27196002

Abstrak

Peranan Desainer pada Industri Tekstil Cetak di Bandung dan Sekitarnya

Terbukti betapa pentingnya desainer yang dapat menciptakan desain orisinil dalam industri tekstil cetak. Sementara industri tekstil cetak di Bandung dan sekitarnya masih berkutat mebuat desain dengan cara mengandalkan pesanan dari costumer yang datang membawa contoh kain dan sekali-sekali membawa contoh desain untuk diproduksi. Keberadaan desainer di sini tidak lebih dari tukang gambar atau menjiplak dari contoh kain atau desain yang dibawa costumer. Oleh sebab itu perlu segera diadakan tim untuk mengatur desain yaitu manajemen desain.

Dalam manajemen desain, desainer harus mempunyai kepentingan tentang tanggung jawab dalam mengambil suatu kebijakan desain (design policy). Manajemen desain juga bertanggung jawab untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen yang sesuai dengan tujuan perusahaan. Fungsi utama yang dilakukan oleh seorang pimpinan desainer dalam organisasi adalah mengatur elemen tugas-tugas dan siapa yang bertugas. Kemudian mengontrol hasil pekerjaan.

Dari kenyataan di lapangan yang telah terbiasa dilakukan, tidak mungkin digantikan secara drastis dengan hal-hal yang sangat idealis secara langsung. Namun perlu ada jalan tengah yang ditempuh berupa dukungan terhadap potensi keterampilan yang dimiliki seperti kekuatan tim kerja, sambil mengerjakan pola-pola penunjang manajemen desain yang mengutamakan segi praktis, efektif dan efisien. Kompromi atau jalan tengah tersebut dilakukan dengan membuat usulan-usulan sebagai pemecahan permasalahan desain berupa model-model peranan desainer dalam berbagai hal pekerjaan dan berbagai sistem dengan bagian-bagian lain yang mempunyai kaitan dengan desainer tekstil cetak.

ROSA KARNITA, NIM. 27196010

Abstrak

Representasi Nilai-nilai Budaya Dalam Iklan Rokok pada Televisi Swasta Indonesia

Membicarakan iklan televisi melalui perspektif kebudayaan merupakan hal yang tak akan habis untuk dibicarakan karena menyangkut permasalahan yang luas dan rumit. Iklan bertujuan untuk memberikan rangsangan kepada khalayak sasarannya agar tercipta kondisi jual beli. Iklan televisipun demikian halnya. Untuk menjangkau sasaran yang lebih luas, akan lebih efektif bagi pengiklan bila menggunakan media ini. Sementara bila ditinjau dari sudut pandang kebudayaan, iklan-iklan televisi dipandang lebih banyak mengandung sisi negatif daripada sisi positifnya.

Dari sekian banyak iklan produk konsumsi yang muncul di televisi, peneliti tertarik untuk meneliti iklan-iklan rokok yang kini semakin banyak muncul di televisi. Iklan rokok alam mempresentasikan produknya memiliki cara yang berbeda dengan produk lain, karena banyak aturan yang mengikat untuk mengiklankan rokok di televisi berkaitan dengan masalah kesehatan.

Posisi yang penuh tekanan tersebut mengakibatkan pengiklan mencari berbagai cara untuk mengiklankan produknya tidak seperti yang diperlakukan untuk produksi selain rokok. Alhasil, iklan-iklan rokok tampil dengan citra-citra yang mencerminkan produknya, khalayak sasarannya atau perusahaannya. Ide-ide kreatif yang muncul di balik tekanan-tekanan tersebut ternyata malah membuat iklan-iklan rokok lebih sukses dalam mempengaruhi orang untuk merokok. Pendekatan emosional yang digunakan oleh pengiklan sangat cocok untuk mempengaruhi orang untuk merokok, karena kebutuhan untuk merokok juga bersifat emosional. Nampaknya gejala ini belum didasari sepenuhnya oleh pemerintah kita disamping permasalahan dilematis mengenai rokok yang sulit dikendalikan oleh mereka.

Berdasarkan fenomena di atas, maka peneliti berusaha mengangkat iklan-iklan rokok pada media televisi untuk diteliti dengan menggunakan pendekatan semiotik untuk tujuan mempresentasikan nilai-nilai budaya yang terdapat dalam iklan-iklan rokok pada media televisi, sehingga hasil penelitian ini dapat membuktikan dugaan-dugaan negatif terhadap iklan-iklan rokok yang muncul di televisi

YUSUF NURDIN, NIM. 27196015

Srategi Pencitraan Sebagai Pendekatan Pasar : Studi Pendekatan Semiotika pada Desain Kemasan Kopi. 1999

AGUS KARYA SUHADA, NIM. 27196007

Pengembangan Desain Alat Penyemprot Hama Melalui Interaksi Perguruan Tinggi dan Industri Kecil

Karakteristik Industri Kecil di Indonesia tumbuh dengan sifat-sifat kemandirian. Sifat-sifat kemandirian industri kecil tersebut secara umum, berkembang atas dasar kemampuan dan inisiatif mereka. Kemampuan dan inisiatif merupakan modal daar yang pertama yang dimiliki pengusaha kecil. Sedangkan sifat-sifat kemandirian adalah ciri-ciri umumpengusaha kecil. Karakteristik seperti demikian merupakan suatu potensi yang harus dibangun terus, sehingga dapat berkembang lebih luas.

Bentuk kemandirian di dalam konteks pengusaha kecil diukur atas dasar potensi yang dimiliki, seperti : sumber daya alam yang melimpah, adanya komunitas masyarakat setempat, adanya mata pencaharian sebagai pemenuhan kelangsungan hidup. Akan tetapi di balik semua potensi tersebut, iklim usaha saat ini tidak kondusif. Situasi perubahan politik ekonomi kurang menguntungkan bagi dunia usaha. Kondisi tersebut sudah tentu akan menjadi kendala dalam pelebaran bidang usahanya. Sebab dengan karakteristik dari sifat-sifat kemandirian pengusaha kecil di Indonesia, memiliki keterbatasan juga. Diantaranya; Keterbatasan tentang pengembangan iptek, karena hampir sebagaian besar pengusaha kecil tidak memiliki R & D. Kemudian keterbatasan lain, tentang strategi mereka dalam menghadapi ancaman dari luar. Sejauh yang diketahui bahwa usaha kecil pada umumnya tidak memiliki program sebagau rencana usahanya. Tentunya ini bisa dipahami sebab rata-rata pendidikan mereka kurang begitu memadai. Bahwa sebenarnya mereka membutuhkan informasi dari luar komunitas sosial dan transfer teknologi untuk kepentingan usahanya. Akan tetapi prasarana yang bisa mendukung mereka tidak cukup. Sedangkan perubahan jaman menuntut sesuatu yang dinamis dan mempunyai unsur kebaruan. Maka dirasakan perlunya peran perguruan tinggi, terhadap permasalahan yang dihadapi mereka.

Atas dasar permasalahan tersebut, diperlukan langkah-langkah kegiatan yang bersifat nyata (real) untuk diwujudkan. Dengan penerapan metode interaktif, suatu permodelan eksperimen yang paling mudah dipahami oleh masyarakat industri kecil. Akan tetapi kegiatan ini bisa berjalan dengan baik, apabila memiliki unsur kerjasama saling menguntungkan (mutual benefit).

Pendekatan metode interaktif merupakan salah satu cara kegiatan, dalam membuat hubungan kerjasama yang dilakukan secara sinergi. Langkah-langkah yang akan dilakukan adalah dengan mengadakan komunikasi antara masyarakat industri kecil dan pihak perguruan tinggi. Tentunya bukan hal yang mudah untuk membuat komunikasi dengan pengusaha kecil dalam mewujudkan suatu program. Sebab berkomunikasi dengan mereka dalam penyampaian suatu gagasan, tidak hanya bisa dilakukan dengan bahasa lisan atau tulisan saja. Mereka lebih mudah memahami, apabila penyampaian gagasan tersebut dilakukan dengan bahasa visual. Hal ini bisa dimengerti, karena pada umumnya wawasan yang dimiliki mereka tidak mendukung. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara-cara tertentu supaya gagasan dan kreativitas mereka bisa tumbuh. Cara yang paling memungkinkan adalah dengan mengadakan kegiatan eksperimen (action research) dalam bentuk perancangan produk. Jelas cara-cara demikian bisa lebih efektif dan bisa menumbuhkan minat berkreasi serta yang paling mudah untuk dipahami. Dengan demikian akan terjadi saling mengisi gagasan sesuai dengan pengalamannya. Dalam konteks kegiatan ini, masukan sangat dibutuhkan sebab hasil rancangan harus bisa diproduksi dengan ketersediaan teknologi yang mereka miliki. Sehingga dapat dimanfaatkan secara langsung dan nyata, untuk tujuan pengembangan usahanya.