Magister Seni Rupa Angkatan-1999

Yabu Mallabasa, NIM 27099010

Bangunan Makam Kuno Raja-raja Makassar di Sulawesi Selatan

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji eksistensi bangunan makam kuno peninggalan kerajaan Islam Makassar (abad XVII-XIX). Banyak hal yang terungkap di dalamnya, seperti latar belakang sosial-budaya, adat istiadat, agama dan kepercayaan, status sosial, citarasa keindahan, teknologi dan keterampilan, dan lain sebagainya. Semua itu menarik untuk dikaji guna menelusuri konsepsi pemikiran yang mendasarinya, nilai-nilai filosofis dan simbolik-estetisnya. Selain itu, juga ditelusuri unsur-unsur budaya luar yang mempengaruhinya. Data dan informasi ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi budaya, teknologi dan seni guna mentransformasikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Penelitian ini adalah penelitian lapangan, dilakukan pada situs pemakaman kuno raja-raja Gowa dan Binamu. Teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui studi lapangan dan studi kepustakaan. Dalam pengumpulan datanya digunakan pendekatan inter-disiplin ilmu. Teknik analisis dan penyajian datanya dilakukan melalui analisis deskriptif-kualitatif setelah diinterpretasi terlebih dahulu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) motivasi yang mendasari konsepsi pemikiran mengenai rekayasa rancang bangun arsitektur makam kuno raja-raja Makassar, erat kaitannya dengan tradisi penghormatan terhadap leluhur serta upaya untuk menggambarkan fenomena sosial-budaya dan sistem budaya – yang juga mengacu pada pandangan kosmologi masyarakat setempat; (2) bangunan makam kuno raja-raja Makassar, secara morfologis memiliki karakteristik yang spesifik dan unik sebagai ciri khasnya – yang jarang ditemukan persamaannya di daerah lain di luar Sulawesi Selatan; (3) bangunan makam kuno raja-raja Makassar, khususnya tipe makam berundak,nisan arca, serta relief manusia pada makam raja-raja Binamu mencerminkan kesinambungan unsur-unsur pra-Islam yang juga tidak lepas dari pengaruh konteks sosial –budaya dalam ruang dan waktu yang berbeda, serta unsur-unsur budaya luar berbaur dengan unsur-unsur lokal melalui proses transformasi budaya; (4) kekayaan variasi bentuk (tipologi) makam raja-raja Makassar, mencerminkan keragaman citarasa keindahan yang berkembang pada zamannya, sedangkan elemen estetis yang bernuansa Islami merupakan pengaruh budaya luar yang dominan jika dibandingkan dengan unsur-unsur budaya asing lainnya; dan (5) bangunan makam kuno raja-raja Nakassar merupakan ungkapan estetik yang sarat dengan nilai-nilai filosofis serta simbol-simbol estetis yang diapresiasikan melalui lambang-lambang tarekat, tauhid dan akidah islamiyah.

Ariesa Pandanwangi, NIM. 27099002

Bahasa Rupa Batik Trusmi

Tesis ini berangkat dari ketertarikan penulis pada kemiripan antara senilukis tradisional Cina dengan Batik Trusmi, yang memiliki unsur narasi di Cirebon.Keduanya sama-sama menggambarkan unsur narasi yang digambarkan dengan beberapa tahapan. Adanya kesamaan ini menjadi daya tarik penulis untuk menelitinya lebih lanjut.

“Bahasa Rupa Batik Trusmi” judul ini mengungkapkan bahasa rupa Batik Trusmi yang memiliki unsur narasi. Penelitian ini mengkaji bahasa rupa batik Trusmi dan tradisi seni lukis Cina serta hubungannya dengan seni lukiskaca di Trusmi Wetan. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui Bahasa Rupa Batik Trusmi yang diilhami oleh warisan leluhur, untuk dipergunakan melangkah kemasa kini, dan untuk keperluan masa yang akan datang.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui tudi literatur, observasi dan mengutamakan data langsung berupa hasil wawancara, survei, dokumentasi tertulis dan data visual.Analisis data menggunakan model interaktif, yaitu proses penyeleksian data dilakukan sejak awal penelitian, kemudian disajikan dalam teks naratif, tabel, dan gambar atau foto.

Hasil penelitian ini adalah ditemukannya cara baca Bahasa Rupa Batik Trusmi. Bahasa Rupa Batik Trusmi yang diceritakan walaupun terdapat hubungan dengan seni lukis tradisional Cina,tetapi unsur lokal tetap berperan. Persamaan bahasa rupa batik Trusmi dengan lukisan Cina yakni pada susunan latar yang menggambarkan ruang. Perbedaannya pada batik Trusmi secara estetis berupa pengulangan pola yang disusun secara vertikal dan horizontal,karena berkaitan dengan busana kain panjang/jarit.

Bahasa rupa yang diceritakan adalah benda-benda seni rupa keraton, dan lingkungan alam yang dikeramatkan. Setelah terjadi hubungan dengan Cina bahasa rupa batik yang awalnya berasal dari istana pada akhirnya menjadi milik rakyat. Hal ini membuktikan bahwa transformasi budaya menyebabkan pergeseran nilai sakral ke profan. Sehingga pada akhirnya bahasa rupa batik Trusmi menjadi local genius bangsa kita.

Made Bambang Oka Sudira, NIM.27099007

Makna dan Fungsi Seni Lukis Wayang Kamasan pada Bangunan Suci di Kabupaten Klungkung Bali

Seni Lukis Wayang Kamasan adalah salah satu bentuk karya seni klasik yang dianggap penting dalam kebudayaan Bali. Sementara karya seni ini tidak dapat dipisahkan dari nilai keagamaan, terutama nilai ritual. Banyak aspek yang berkaitan dengan keberadaan seni lukis wayang Kamasan, diantaranya adalah aspek filosofi, spiritual, teknis, ekonomi, sosial dan budaya. Diantara berbagai aspek tersebut, khususnya aspek spiritual-kultural merupakan aspek yang menonjol pada lukisan wayang Kamasan.

Penelitian ini memfokuskan diri pada aspek makna dan fungsi. Untuk memahami makna dan fungsi tersebut, dalam penelitian ini digunakan metode penelitian hermeneutik yang berdasarkan pada sebuah teks yaitu teks tulisan yang terdapat dari lontar-lontar, teks visual berupa gambar-gambar dan teks verbal berupa tanggapan atau pendapat dari seniman, budayawan dan agamawan.

Di Pura Klungkung Bali dipasang dua jenis lukisan wayang Kamasan yaitu Ider-ider dan Parba. Ider-ider dipasang disisi atap bawah bangunan suci dan Parba dipasang pada dinding dalam bangunan suci. Melalui dua jenis lukisan wayang tersebut, maka hasil dari penelitian ini adalah : (1) Makna lukisan wayang Kamasan sebagai kegiatan ritual adalah salah satu sumber pengetahuan atau pendidikan dan sebagai pedoman hidup. Sedangkan fungsinya adalah untuk mengenang jasa-jasa para leluhur, menurunkan para dewa dan dewi, memahami ajaran-ajaran keagamaan, hiasan upacara dan sebagainya. (2) cara menggambar lukisan wayang Kamasan dimulai dari pembagian bidang gambar kemudian membuat bentuk-bentuk seperti figur/tokoh wayang, batu-batuan, pohon-pohonan, awan-awanan (aon-aon), binatang dan sebagainya. Penggambaran bentuk-bentuk di atas berdasarkan pada pemahaman teks sastra (lontar-lontar). (3) untuk cara membaca ider-ider dimulai dari arah kiri ke kanan. Parba cara membacanya berbeda-beda seperti cerita Bhima Swarga dimulai dari bagian bawah kiri ke kanan, bagian tengah tetap dari kiri ke kanan dan bagian atas juga dari kiri ke kanan. Cerita Pemutaran Mandara Giri dimulai dari tengah (pusat), ke tokoh kiri dan kanan, ke bawah, ke atas dan berakhir di tengah (pusat). Cerita sinta Labuh Geni dimulai dari tokoh kiri ke kanan bawah dilanjutkan ke kiri dan kanan atas dan berakhirnya di tengah bawah. Cerita Garuda Mencari Air Suci Kehidupan dimulai dari tengah (pusat), ke kiri, ke bawah sesuai dengan berlawanan perputaran arah jarum jam. Pemaknaan cara membaca lukisan wayang yang dimulai dari kiri ke kanan disebut Purwadaksina. Dalam Seni Lukis Wayang Kamasan terdapat simbol, makna dan fungsi tokoh, binatang, pohon, batu-batuan, air dan sebagainya. Setiap gerakan juga mempunyai makna. Cara penempatan tokoh penting-tidak penting, baik-jahat, tua-muda, laki-perempuan, kalah-menang, datang duluan-datang belakangan, diceritakan duluan dan belakangan, flash back, kuat-tidak kuat, kesatria-raja-biasa, tamu-tuan rumah, orang luar-orang dalam, terdapat pada setiap srakenan (adegan cerita).

Suharno, NIM. 27000510

Seni Rupa Sebagai Media Transendensi

Studi ini untuk mendapatkan jawaban dari tiga masalah pokok, yaitu bagaimana konsep transendensi dalam lakon Dewa Ruci, siapa tokoh Dewa Ruci itu, bagaimana wujud dan maknanya, dalam hubungannya dengan esensi lakon Dewa Ruci, serta mengapa tokoh wayang Dewa Ruci dapat digunakan sebagai media transendensi. Untuk membedah hal tersebut, penelitian ini menempatkan konsep hubungan manusia dengan Tuhan dari kebudayaan Jawa sebagai alat analisis. Adapun data penelitian diperoleh dari studi pustaka, pengamatan terhadap lakon Dewa Ruci serta wujud tokoh Bima dan Dewa Ruci khususnya gaya Yogyakarta, serta wawancara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa transendensi dalam lakon Dewa Ruci berciri pantheisme-monisme. Tuhan tidak tergambarkan, namun Ia adalah dzat yang imanen sekaligus transenden. Manusia dapat mengalami penghayatan manunggal dengan-Nya melalui usahanya sendiri. Paham yang demikian tidak lepas dari sejarah kerohanian yang berkembang di Jawa yaitu mulai dari agama asli,Hindu, Budha, hingga Islam.

Tokoh Dewa Ruci adalah wujud perupaan dari konsep di atas. Wujudnya yang dibuat mirip dengan Bima namun dalam ukuran yang kecil, adalah manivestasi dari konsep Manunggaling Kawula Gusti dalam Lakon Dewa Ruci, yang nampak pada momentum pertemuan Bima dengan Dewa Ruci, di mana Bima masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci. Momentum ini melambangkan manusia adalah mikrokosmos terhadap dzat Ilahi, seperti setetes air memasuki samudera raya.

Sebagai karya seni rupa yang merupakan perwujudan dari konsep transendensi pantheisme-monisme, wujud tokoh wayang Dewa Ruci pada dasarnya adalah sebuah bahasa transendensi.Oleh karenanya, pada titik tertentu orang dapat menempatkannya sebagai media transendensi, sesuai dengan kemampuannya dalam membaca bahasa tersebut.

Zariul Antosa, NIM. 27099011

Bentuk, Fungsi dan Makna pada Rumah Lontiok di Kampar

Penelitian ini dilakukan terdorong oleh keunikan bentuk, serta nilai-nilai yang simbolik yang terkandung pada rumah tradisional Lontiok. Pengolahan material, pilihan bentuk, penggunaan ragam hias dan maknanya diduga berhubungan erat dengan nilai adat serta nilai sosial masyarakat Kampar. Hal ini sangat menarik perhatian penulis untuk menelitinya lebih jauh.

Bentuk, fungsi dan makna rumah Lontiok, merupakan kajian yang bertujuan untuk mengungkap, mendiskripsikan serta mendokumentasikan tentang bentuk rumah tradisional Lontiok, fungsi dan maknanya yang merupakan warisan budaya masa lalu, untuk keperluan masa yang akan datang.

Penelitian ini menggunakan metoda diskriptif kualitatif dengan pendekatan kebudayaan sebagai pijakan untuk menganalisis. Data primer diperoleh melalui observasi terhadap 11 buah rumah Lontiok yang belum banyak mengalami perubahan sedangkan data sekunder didapatkan melalui wawancara dengan nara sumber, serta kajian terhadap literatur yang terkait. Data dikumpulkan kemudian dianalisis dengan model analisis interaktif yaitu proses penyeleksian data berlangsung dari awal penelitian dan direduksi untuk kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif, tabel, gambar serta rekaman visual. Selanjutnya data ini diinterpretasikan sehingga menghadirkan sebuah kesimpulan.

Penelitian ini menemukan : bentuk rumah Lontiok berasal dari bentuk perahu, hal ini tercermin dari sebutan pada bagian-bagian rumah tersebut seperti : bawah, tengah, ujung, pangkah, serta turun, naik. Dinding depan dan belakang dibuat miring keluar dan kaki dinding serta tutup didinding dibuat melengkung sehingga bentuknya menyerupai sebuah perahu yang diletakkan di atas tiang-tiang. Rumah Lontiok berfungsi sebagai rumah adat dan rumah tempat tinggal. Dibangun dalam satu prosesi panjang yang melibatkan masyarakat luas serta upacara. Struktur bangunannya terdiri atas bagian bawah (kolong), bagian tengah dan bagian atas. Pembagian ini dipengaruhi oleh pemikiran kosmologi tradisi masyarakat Indonesia yang membagi alam atas tiga lapisan yaitu : lapisan atas sebagai tempat tinggal dewa, lapisan tengah sebagai tempat tinggal manusia dan lapisan bawah alam kejahatan. Bagian bawah difungsikan sebagai tempat penyimpanan alat kerja, kayu bakar, hasil kebon, bagian tengah sebagai tempat tinggal manusia yang merupakan harmoni hubungan dunia atas dan dunia bawah, sedangkan bagian atas dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang berharga dan benda-benda pusaka. Ragam hias yang digunakan pada rumah Lontiok terdiri dari bentuk stilasi tumbuh-tumbuhaan, binatang serta bentuk geometris terlihat pada motif bunga kundur,akar pakis, selembayung yang distilasi dari bentuk kepala kerbau, lebah bergantung, pucuk rebung, bintang dan lain-lain. Makna tersimpan dibalik bentuk bangunan, ragam hias, simbol-simbol yang terdapat pada komponen bangunan yang hanya dapat dipahami dalam konteks budaya masyarakat Kampar.

Santoso Haryono, NIM. 27000508

Penataan Panggung Wayang Wong Sriwedari di Surakarta

Penelitian ilmiah dengan judul Penataan Panggung Wayang Wong Sriwedari memfokuskaan tentang kajian estetik simbul dan makna Tata Teknik Pentas Wayang Wong Sriwedari Surakarta.

Penelitian ini bertujuan : (1) Mencari data informasi secara empirik dan teoritik sekitar latar belakang tentang panggung pementasan wayang wong Sriwedari di Surakarta. (2) Mencari data informasi secara empirik dan teoritik tentang keberadaan tata teknik pentas panggung wayang wong Sriwedari di Surakarta. (3) Menganalisis secara deskriptif konsep tata teknik pentas panggung wayang wong Sriwedari.

Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan metodologi deskripsi kualitatif dengan langkah-langkah : Menentukan sumber data, teknik pengumpulan data , menggunakan analisis interpretatif dengan pendekatan visualisasi bentuk terutama pada pola lantai dan setting pada penataan panggung wayang wong Sriwedari Surakarta. Sedangkan wayang wong pendhapa Siswo Among Begso Yogyakarta digunakan sebagai penjelasan historisnya.

Hasil yang dicapai : (1) Bahwa penataan panggung wayang wong Sriwedari mengacu pada penataan ruang di Pendhapa. Kedua, panggung tersebut memiliki kesamaan tata letak ruang di keraton. (2) Pembagian pola lantai tiga wilayah pada penataan panggungnya memiliki kesamaan dengan tiga pembagian kosmologi gunungan pada wayang kulit. (3) Pola lantai penataan panggung memiliki garis kesamaan pada garis-garis kiblat, pradaksina, lingga yoni dalam hubungannya mikrokosmos dan makrokosmos.

Nurdian Ichsan, NIM. 27099009

Seni Rupa Indonesia Masa 1990-an

Penelitian ini mengambil kajian Seni Rupa Indonesia masa 1990-an yang ruang mediasinya berada dalam wilayah regional.Objek yang dikaji dalam penelitian ini adalah perbicangan atau wacana seputar fenomena seni rupa tersebut. Penelitian ini mempergunakan konsep medan sosial seni (artwork) sebagai sudut pandangnya. Konsep ini merupakan pendekatan yang didasari oleh kacamata sosiologis dalam memahami fenomena seni rupa.

Penelitian ini melakukan analisa teks dalam korelasinya dengan konteks. Konteks adalah relasi antar teks tersebut, relasi dengan teks lain, serta ruang dan waktu kemunculannya. Untuk melakukan itu penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutik sebagai jalan melakukan interpretasi teks. Lebih spesifik, cara penelitian ini mempertemukan berbagai konteks teks tersebut menggunakan pendekatan hermeneutik circle.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sudut pandang sosiologi, yang kemudian menurunkan konsep medan sosial, akhirnya melahirkan teori institusional seni lebih strategis dan memadai dalam memahami fenomena seni rupa Indonesia masa 1990-an. Dengan cara demikian, medan sosial seni regional ‘diperlakukan’ sebagai ‘lembaga sosial’ dan dapat diperiksa paradigma, ideologi dan mekanisme yang berjalan di dalamnya. Dengan demikian terjelaskan mengapa ada ketidakcocokan antara fenomena tersebut dengan kondisi dan situasi seni rupa Indonesia.

Jupriani, NIM. 27099008

Pergeseran Motif Hias dan Warna Antakesuma Suji pada Pelaminan dan Busana Penganten di Naras Kabupaten Pariaman

Penelitian ini berawal dari ketertarikan penulis terhadap fenomena yang terjadi pada pelaminan dan busana penganten di Naras Pariaman. Perubahan alat dan bahan serta teknik antakesuma suji yang memperindah bentuk perangkat adat tersebut diduga berkaitan erat dengan pergeseran corak (warna dan motif hias) yang melekat pada pelaminan dan busana penganten tersebut.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengungkapkan, mendeskripsikan, menganalisis serta mendokumentasikan tentang pergeseran motif hias dan warna pada pelaminan dan busana penganten masa lalu dan masa kini yang dikategorikan dalam tiga hal yaitu : bentuk, nilai estetis, serta kesinambungannya. Dalam upaya memfokuskan tujuan penelitian maka data yang diambil hanya yang diproduksi desa Naras dengan mengambil dua perangkat pelaminan dan busana penganten yang berhiaskan sulaman tradisi dan dua perangkat yang diperindah oleh sulaman mesin.

Penelitian ini menggunakan metoda deskriptif kualitatif dengan pendekatan kebudayaan dan estetis sebagai pijakan untuk menganalisis. Data primer diperoleh melalui observasi terhadap dua set elemen pelaminan dan busana penganten yang mendapat perlakuan sulaman tradisi dan sulaman mesin. Sementara data sekunder didapatkan melalui wawancara dengan nara sumber dan kajian terhadap literatur yang terkait dengan fokus penelitian. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan model analisis Interaktif, yaitu : Proses analisa dimulai ketika mereduksi data.Dengan kata lain dari semua elemen pelaminan dan busana penganten yang terkumpul, hanya yang diberi pelakuan sulaman tradisi dan sulaman mesin dijadikan data. Proses analisa dilanjutkan dengan cara mengelompokkan data sejenis dan disajikan dalam bentuk teks naratif, rekaman visual melalui foto ataupun gambar/sketsa kejadian dari hasil pengamatan sendiri, dan tabel-tabel.

Hasil temuan dalam penelitian ini adalah : (1) Motif hias yang memperindah tampilan pelaminan dan busana penganten dapat dikategorikan dalam empat kelompok yaitu : fauna, flora geometris, dan alam benda. Berdasarkan bentuk dan posisinya dalam setiap elemen, motif hias tersebut dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu : motif pinggir dan tengah untuk pelaminan dan motif pinggir, tengah dan tabur untuk busana pengamten. (2) Ditinjau dari konsep estetika Minangkabau, pelaminan dan busana penganten masa lalu sangat indah jika dilihat dari sisi motif hias dan warna dan penataannya. Sementara pelaminan dan busana penganten masa kini tampilannya cenderung disesuaikan dengan selera pasar sehingga tidak dapat dibedah dengan konsep estetika masyarakat setempat. (3) Terdapat kesinambungan, diskontinuitas atau kesenjangan, serta motif hias dan warna baru dalam pelaminan dan busana penganten di Naras.

Ilham Khoiri, NIM.27000507

Telaah Wacana Seni Rupa Modern Islam di Indonesia(1970-2000)

Tesis ini berusaha untuk menelaah wacana seni rupa modern Islam di Indonesia terutama yang muncul sejak 1970 dan berkembang sampai tahun 2000. Sasaran yang dikaji adalah gagasan-gagasan yang diperbincangkan yang berhubungan dengan seni rupa Islam di Indonesia yang didorong oleh variabel-variabel pendukungnya.

Dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif dalam bentuk deskriptif-analitis, maka penelitian ini berupaya mendiskripsikan dan menganalisis beberapa wacana seni rupa modern Islam di Indonesia. Pendekatan sosial-historis dipilih untuk merunut sejarah pertumbuhan seni rupa Islam di Indonesia, memaparkan perkembangan beberapa wacana seni rupa Islam, serta menelaahnya secara mendalam dan menyeluruh.

Wacana seni rupa modern Islam muncul pada tahun 1970 ditandai oleh gairah seniman-seniman modernis untuk memasukkan unsur-unsur spiritualitas-religius Islam ke dalam karyanya, yang kemudian memicu trend lukisan kaligrafi Arab-Islam. Gairah ini mendorong pertumbuhan karya-karya seni rupa modern Islam yang pada tahun 1990-an tampil secara beragam baik dalam wujud, tema maupun penyajian, yang memicu penyelenggaraan sejumah pameran, terutama Festival Istiqlal I (1991) dan II (1995). Seni Rupa Islam lantas menjadi fenomena menarik: dikaji dalam berbagai diskusi, dipaparkan lewat sejumlah buku; diteliti secara akademis; dan diulas berbagai media massa.

Beberapa wacana seni rupa modern Islam di Indonesia (1970-2000) pada dasarnya berkaitan dengan seniman (creator), karya (creation), dan proses kreasi (process of creation). Wacana tersebut berpangkal pada upaya terus menerus untuk merumuskan identitas seni rupa Islam. Ternyata, rumusan ini tidak terjawab secara mutlak dan mufakat, disamping karena pluralitas pewacana, keragaman karya,dinamika zaman, juga disebabkan oleh universalitas Islam itu sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits yang multi-interpretasi. Sungguhpun demikian, diantara relativitas tafsir tersebut, terdapat substansi yang selalu dipegang bersama;bahwa seni rupa Islam, bagaimanapun konsep dan wujudnya, merupakan manifestasi visual dari tauhid sebagai pusat teologis Islam yang menempatkaan Allah Swt sebagai asal dan tujuan segala sesuatu.

Telaah yang ada menandaskan bahwa wacana seni rupa modern Islam di Indonesia (1970-2000) memiliki beberapa kecenderungan, antara lain : berkembang secara sporadis, berelasi dengan dinamika sosial-politik-ekonomi yang terjadi di Indonesia; bergerak dalam wilayah yang rawan konflik karena melibatkan banyak pihak yang masing-masing merasa berhak untuk turut serta; masih dalam proses perumusan yang terus menerus; dan memperlihatkan keterputusan antara semangat seni rupa Islam pada masa klasik dengan perkembangan wacananya pada masa modern, sehingga gagasannya kadang tampak tidak berpijak pada tradisi asli Nusantara.

Budiman Dermawan Nataatmadja, NIM.27000509

Unsur Simbolik pada Ragam Hias Perangkat Alat Gamelan

Tesis ini disusun dari keingintahuan penulis tentang ragam hias yang ada pada perangkat gamelan Sunda yang merupakan pencerapan dari perangkat gamelan Jawa. Jenis perangkat gamelan yang ada di daerah Pasundan ada 11 waditra (instrumen) tapi yang diteliti hanya lima waditra yaitu : kakanco goong, ancak saron, ancak bonang, ancak gambang, kendang dan rehalnya. Penelitian ini berfokus pada unsur-unsur visual dan makna simbolik pada hiasan yang terdapat pada waditra-waditra di atas.

Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda kwalitatif. Data diperoleh melalui studi literatur, observasi dan diutamakan data langsung berupa wawancara, survey, dokumen tertulis dan visual. Analisis data menggunakan model interaktif yaitu proses penyeleksian data dilakukan sejak awal penelitian kemudian disajikan dalam teknik naratif, gambar dan foto.

Penemuan hasil penelitian ini adalah, ditemukannya makna simboldari ragam hias yang digunakan pada kakanco goong, ancak saron, ancak bonang, ancang gambang, kendang dan rehal. Walaupun gamelan asalnya dari Jawa namun makna dan simbol yang terkandung dalam ragam hias gamelan Sunda tersebut sudah lepas sama sekali dan berbeda dengan aslinya dari Jawa.Jenis motif hias ular naga yang terdapat pada bidang tebeng kakanco goong di Pasundan kepalanya selalu berhadapan dengan mulut terbuka menghadapi motif kembang beukah ditengah-tengah bidang tebeng tersebut, motif tersebut sebagai simbol dunia bawah yang naik ke dunia atas. Bentuk dan maknanya berlawanan dengan bentuk dan makna yang terdapat gantungan gong di Jawa, motif hias ular naga yang ada pada gantungan gong di Jawa, posisinya selalu bertolak belakang, bagianekornya selalu ada di tengah, hal tersebut merupakan simbol dunia bawah yang turun dari dunia atas.

Gamelan sebagai penghubung antara dunia atas dan dunia bawah tercermin dalam pembagian bidang pada tiap-tiap waditra-nya, yaitu bagian lelemah, awak dan sirah. Selain itu pemakaian motif pilin dan pilin berganda yang terkadang berubah bentuk menjadi motif hias eluk paku dan motif hias kembang ngareuy, merupakan cerminan simbol penyatuan atau perkawinan antara dunia atas dan dunia bawah. Dari simbol-simbol tersebut maka keberadaan gamelan Sunda bukan hanya merupakan alat musik sebagai media hiburan saja akan tetapi lebih dari itu gamelan diarahkan pula pada harmoni dua dunia melalui medium musik.

Hendrawan Riyanto, NIM. 27099005

Form Follows Myth (Interpretasi Mitos Kosmogoni dan Mitos Asal-Usul Dalam Karya Seni Rupa-Rits Kini)

Tulisan ini adalah pengantar karya Tugas Akhir. Sebagai medium informasi, tulisan ini berisi penggalian wujud gagasan dan proses kreatif aplikasinya ke dalam wujud-rupa karya.

Wujud-gagasan digali dari penelusuran alam pikiran masyarakat Indonesia Arkhaic, yang diasumsikan masih hidup dan berkembang dalam ruang kebudayaan Indonesia kini. Jejak-jejaknya terlihat dari masih berfungsinya mitos, dukun dan ritus dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia.

Untuk menelusuri alam pikiran tersebut, mitos dijadikan wacana penggalian tatanan dasar nilai-nilai yang membentuk mentalitas kebudayaan, tempat alam pikiran termanifestasikan.Disamping itu mitos dalam penggalian wujud rupa simboliknya, menjadi wacana gagasan dasar rupa karya.

Penggalian wujud-gagasan dan wujud-benda (simbol) dilakukan dengan penelitian menggunakan metode kualitatif, fenomenologis dan inter-disiplin : antropologis, historis, sosiologis, melalui kaji-pustaka, wawancara dan observasi partisipatif.

Aplikasi wujud-gagasan ke dalam wujud rupa karya merupakan proses-kreasi atas dasar interpretasi dari hasil penelitian.Bangun karya juga merupakan hasil dari pilihan model mentalitas budaya sistem idealistik, campuran dari sistem ideasional dan sistem inderawi.

Hasil penelitian berupa alam pikiran untuk kembali ke ruang “Asal-Mula” (Roh, dewa, Tuhan). Aktivitas sakral ini ada dalam mitos-mitos utama yaitu : mitos Kosmogoni (pembentukan alam semesta) dan mitos Asal-Usul (terjadinya manusia), direpresentasikan dalam ritus pembangunan rumah dan aplikasi azas “Dwi Tunggal” (pasangan-oposisi) dalam aktivitas hidup sehari-hari masyarakat.

Presentasi karya dibuat dalam bentuk rupa (benda0 dan pertunjukan (gerak, bunyi) :

· Rupa difokuskan pada interpretasi mitos “Kosmogoni” dan mitos “Asal-Usul” dalam bentuk tanda-tanda komunal (simbol) dan tanda individual (bentuk asosiatif).

· Pertunjukan difokuskan kepada aktivitas ritus (kebaktian) ruang “Asal-Mula”, dalam bentuk kolaborasi dengan seniman /partisipan.

Gustiyan Rachmadi, NIM.27099004

Ragam Hias pada Umek Jang : Kajian Bentuk dan Makna Ragam Hias Berdasarkan Latar Belakang Sosial Budaya Suku Rejang di Rejang Lebong

Penelitian ini secara umum untuk menggali nilai-nilai tradisi rumah tradisional Rejang dengan berusaha mengungkapkan konsepsi dan nilai-nilai budaya Rejang yang ada. Secara khusus : 1. Mengungkapkan makna simbolik yang ada dalam Ragam Hias; 2. Mendeskripsikan komponen pada rumah tradisional Rejang seperti : tiang, tangga, dinding, ruang dan atap; 3. Mendeskripsikan tata cara dan upacara dalam pembuatan sebuah rumah tradisional Rejang. Data dan informasi ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi budaya, seni dan teknologi guna mentransformasikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Penelitian ini adalah penelitian lapangan, dilakukan pada dua lokasi penelitian yakni : Gunung alam dan Muara Aman. Teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui studi lapangan dan studi kepustakaan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kebudayaan, konsep kebudayaan merupakan faktor utama di dalam menempatkan permasalahan. Penelitian bersifat deskripsi dengan analisis pada pendekatan bentuk, sedangkan alat pengumpulan data dilakukan metode dokumentasi, observasi dan wawancara.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Sistem kepercayaan, sistem nilai, pengetahuan dan aturan, serta simbol yang dimiliki masyarakat Rejang mendasari konsepsi mengenai rumah tradisional, mulai dari aturan pembuatan, upacara, memilih bahan, penataan ruang sampai ke bentuk tiang; (2) Pada Ragam Hias yang menggambarkan manusia sangat erat kaitannya dengan kepercayaan suku Rejang yang percaya akan kekuatan roh nenek moyang, dan bentuk mengacu pada gaya primitif yang lebih mementingkan kepentingan sakral; (3) Ragam Hias tumbuh-tumbuhan yang terdapat pada rumah memperlihatkan adanya pengaruh budaya Minang dan tidak diterapkannya beberapa motif makhluk hidup pada rumah Muara Aman, disebabkan pengaruh konteks budaya dalam ruang waktu yang berbeda; (4) Motif pada rumah tradisional Rejang merupakan tanda yang mengandung makna simbolik dari adat istiadat Rejang.

Hery Santosa, NIM.27099006

Unsur Visual Komik Crayon Shinchan Bagi Pembaca di Indonesia

Tesis ini berisi kajian tentang unsur visual komik Crayon Shinchan yang dikaitkan dengan pengalaman pembaca dalam membaca komik lain dan pengalaman perilaku (perilaku sendiri dan perilaku orang-orang di sekitarnya). Komik Crayon Shinchan yang dikaji ini diperuntukkan bagi pembaca dewasa tapi digemari juga oleh anak-anak, diterbitkan oleh PT Indorestu Pacific dalam versi bahasa Indonesia volume 1 sampai volume 20 yang diterbitkan pada awal tahun 2000 sampai tahun 2002.

Penelitian ini menggunakan analisis tipologis, yang menghasilkan klasifikasi atas unsur-unsur visual dalam komik Crayon Shinchan. Wujud unsur-unsur visual yang meliputi karakter tubuh (bentuk tubuh), komposisi gambar sebagai penggambaran adegan perilaku, efek visual, efek bunyi, gesture, dan mimik wajah, mendukung terwujudnya karakter tokoh dan situasi adegan interaksi di dalam komik ini.

Adegan per adegan dalam komik Crayon Shinchan memperlihatkan dominannya perilaku “nakal” Shinnosuke Nohara alias Crayon Shinchan sebagai tokoh utama saat berinteraksi dengan tokoh pendukung dan benda-benda lain di sekitarnya. Perilaku Crayon Shinchan bisa terwujud dan terasa tingkat kenakalannya dikarenakan ada situasi yang memungkinkan dari lingkungannya.

Pembaca komik Crayon Shinchan memiliki berbagai pengalaman perilaku dan pengalaman membaca komik lainnya. Pengalaman membaca komik lain akan menghasilkan perbandingan-perbandingan antara unsur visual di dalam komik Crayon Shinchan dengan berbagai komik lain yang telah dibacanya, hal ini menyebabkan pembaca memiliki persepsi unik terhadap komik Crayon Shinchan.

Pengalaman perilaku pembaca komik Crayon Shinchan di masa lalu meliputi pengalaman pribadi yang betul-betul dialami oleh dirinya, juga pengalaman mengenai orang lain disekitarnya. Berbagai rentetan pengalaman perilaku pembaca tersebut ternyata selaras dengan aadegan-adegan visual yang menggambarkan perilaku Shinnosuke. Dengan membaca komik Crayon Shinchan, responden bisa mengimajinasikan berbagai pengalaman masa lalu yang telah dilaluinya (rememory). Hal inilah yang menjadikan Crayon Shinchan sebagai center of interest bagi para pembaca komik Crayon Shinchan.